Cool Tuan Vampire

Cool Tuan Vampire
Peperangan Antar Kerajaan/Eveline Ikut Terlibat


__ADS_3

"Kita harus pulang ke alam gaib sekarang, Kerajaan Darah Dingin ingin mengadakan peperangan dengan Kerajaan kita," jawab Vano dingin.


"Sialan, sampah!" umpat kesal dari Ioan.


"Kapan kita akan berangkat?" tanya Ioan menyambung perkataanya.


"Sekarang, bodoh!" gertak Vano dengan tatapan tajamnya.


Ioan akhirnya bersiap-siap untuk keberangkatan mereka ke alam ghaib. Ioan naik ke atas untuk mandi.


Vano berlalu pergi sebelum Eveline menghentikan langkahnya.


"Aku ikut!" itulah yang dikatakan Eveline.


"Buat apa?" tanya Vano tampa berbalik ke arah Eveline.


Eveline langsung berdiri karena merasa Vano menganggapnya adalah manusia lemah.


"Apa? Apa kau mau bilang aku adalah manusia lemah hah?! Aku bisa kok ikut peperangan begitu, bagiku peperangan seperti itu kecil," ucap Eveline menyombongkan diri.


Mendengar itu Vano langsung berbalik secara sepontan.


"Tap...,"


"Pokoknya aku mau ikut titik!!" bantah Eveline memotong ucapan Vano.


Dan Vano sudah tidak bisa apa-apa lagi dengan wanita keras kepala seperti Eveline. Vano menggigit jari telunjuknya hingga berdarah dan Vano menyuruh Eveline untuk meminum darah itu.


Dengan ragu-ragu Eveline meminum darah dari jari telunjuk Vano walau hanya sedikit saja.


Tidak lama dari itu, Ioan datang menemui Vano dan juga Eveline. Meraka kemudian berangkat menuju alam ghaib dengan mengunakan portal dari Vano karena Ioan tidak bisa membuatnya karena energinya tidak cukup sebab kekurangan minum darah.


Tiba di Kerajaan Manhive, Eveline sangat terkagum dengan Istana yang dimiliki oleh Vano juga Ioan itu, Istananya begitu megah dan indah.


Eveline serta dua orang pemuda Vampire itu memasuki dalam Istana, di dalam banyak sekali tatapan aneh yang mengarah kepada Eveline ada pula yang berbisik-bisik.


"Itu kok mirip cucunya, Tuan Glade?" tanya bisikin seorang Pelayan kepada teman-temannya.


Ioan mendengar bisikan itu langsung memberi tatapan sinis kepada Pelayan itu dan seketika mereka semua kembali ke pekerjaan masing-masing.


Ioan juga mengantarkan Eveline ke kamarnya sebelum dia pergi menuju tempat Vano berada.


Eveline mendengar suara keributan dari luar ketika ia baru saja keluar dari kamar mandi, Eveline mendengar bahwa peperangan akan dilaksanakan sore ini.

__ADS_1


"Aku akan membuktikan kalau manusia itu tidak lemah! Aku akan ikut peperangan itu, lihat saja!" batin Eveline.


Vano berada di depan pintu kamar Eveline tepat saat Eveline berencana ikut peperangan itu, ia lalu membuka pintu dan masuk. Vano duduk di tepi ranjang dengan menyandarkan kepalanya di kepala ranjang.


Eveline yang sedang memilih baju di lemari terkejut ketika berbalik dan sudah mendapati Vano duduk di tepi ranjang.


"Buat apa?" tanya Vano dingin.


Eveline mengerutkan dahi bingung dengan pertanyaan Vano.


"Buat apanya? Orang baru juga selesai mandi juga, sana pergi!" Eveline mengusir-ngusir Vano.


Bukannya pergi, Vano malah menampilkan senyum evilsmirk (senyum jahat).


"Apa senyum-senyum?" tanya Eveline geram.


"Mau kemana sih kamu, hmm?" tanya Vano dengan menaikkan satu alisnya.


"Dibilang baru saja sudah mandi dan mau pakai baju!"


Eveline menghampiri Vano dan menarik tangannya keluar namun Vano tidak bergerak sama sekali, saat Eveline benar-benar menarik Vano. Eveline malah ditarik lebih dulu oleh Vano hingga membuatnya memeluk Vano.


Vano memandang lekat-lekat wajah Eveline lalu mencium keningnya.


"Kamu nggak usah ikut peperangan oke?"


"Nggak! Aku akan tetap ikut peperangan!"


Eveline dengan cepat menuju lemari dan membukanya tetapi lemari itu tertutup ya, Siapa lagi yang menutupnya kalau bukan Vano.


Vano mengunci pergerakan Evelyn dengan kedua tangannya ada di sisi kiri dan kanan pandangan Evelyn, Vano juga menempelkan hidungnya di hidung Evelyn.


"Kamu itu batu ya? kamu enggak usah ikut peperangan, kamu tinggal di istana saja jaga istana. Kamu nggak usah menunjukkan bahwa kamu itu kuat, kalau kamu itu juara. Karena kamu sudah menjadi juara di hati. " Vano berbicara dengan jarak dekat.


" pokoknya aku ikut!! " bantah Evelyn.


Eveline langsung melangkah pergi masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti baju sedangkan Vano berlalu pergi menemui para prajurit untuk menjaga Evelyn saat perang berlangsung.


Pukul 07:00 sore ...


Senja kian menyapa Eveline, Ioan dan juga Vano sudah ada di perbatasan itu.


Peperangan dimulai...

__ADS_1


Vano ke selatan, Ioan ke timur sedang Eveline tidak tahu ingin kemana karena ya rasanya nyalinya cuit. Namun di istana tadi nyalinya sangat besar sekali.


Eveline memakai memakai senjata samurai, Eveline belum membunuh satupun prajurit Vampire.


Satu prajurit Vampire dari Kerajaan Darah Dingin muncul di hadapan Eveline dan bersiap berperang dengannya.


Eveline tidak tinggal diam, ia menusuk Vampire itu namun sayang Vampire Darah Dingin sudah lebih dulu menusuk perut Eveline dengan belatinya.


Eveline langsung tersungkur menahan sakit karena Eveline hanya manusia biasa jadi luka tusukannya tidak tertutup.


"Auuh, ada apa ini? Kenapa dadaku sangat sakit? Ada apa ini, Tuhan?!"


Vano yang sedang melawan Raja Vampire Darah Dingin merasa dadanya sangat sakit seperti ditikam oleh belati.


Peperangan terus berlangsung hingga pada akhirnya peperangan dimenangkan oleh Kerajaan Manhive, Raja Vampire Darah Dingin tewas dengan sangat mengenaskan oleh tangan Vano.


Vano tiba-tiba baru ingat dengan Eveline, ia kemudiam mendatangi Ioan Adiknya untuk menanyakan keberadaan Eveline.


"Ioan, Eveline baik-baik saja bukan?" tanya Vano tetap santai.


"Aku tidak tahu, aku terpisah dengannya," jawab Ioan.


Dengan tatapan penuh amarah, Vano pergi mencari Eveline dengan mengendus-endus bau darahnya dan akhirnya ketemu. Vano menemukan Eveline yang sudah terbaring tidak berdaya dan juga luka ada dimana-mana.


Vano berlari dan menaruh kepala Eveline di pahanya.


"Eveline... Eve bangun Eve!!"


Eveline membuka matanya perlahan meski rasanya sudah tidak sanggup lagi.


"V-a-no, Vano... hehe, aku gagal buat kamu percaya kalau aku kuat." Eveline tertawa pelan dan sekali-kali memuntahkan darah dari mulutnya, Eveline menahan rasa sakitnya.


"Nggak! Aku tidak peduli kamu kalah atau tidak yang penting kamu bertahan, okay?" Vano mulai gelagapan.


"Nggak, aku rasa cukup sampai disini hidupku."


"Kamu harus kuat demi aku, Eve. Kamu tahu 'kan? Kalau kamu mati aku pun sama?" tanya Vano dengan suara parau, ia mulai merasa cemas.


"Vano, kamu itu Vampire kamu abadi sedangkan aku itu manusia biasa yang akan mati seperti ini." Suara Eveline hampir habis.


Vano menatap mata Eveline dengan sendu.


"I Love You Levano." Kata-kata terakhir Eveline sebelum sepenuhnya menutup matanya untuk selamanya.

__ADS_1


"Eveline....,"


Vano mulai meneteskan air mata, ini adalah terakhir ia meneteskan air mata setelah kepergian mendiang Ibunya Ratu Calsea. Dan kini ada seorang wanita yang menurutnya sangat spesial dan akan meninggalkan Vano lagi. Tidak, Vano tidak akan sudi.


__ADS_2