Cool Tuan Vampire

Cool Tuan Vampire
Sebuah Kutukan


__ADS_3

" Dia pikir aku apa? semaunya saja menyuruhku tadi saja dia tidak menjawab pertanyaanku! "


Ioan sedikit kesal tingkah Vano, kakaknya itu. Ioan mengikuti Vano menuju ruang kerjanya.


" Mau bicara apa? " tanya Ioan ketika mereka sudah sampai.


"Duduk!" perintah Vano dan akhirnya Ioan duduk di depan meja kerja Vano dan mereka saling berhadapan.


"Apa?" tanya Ioan singkat.


"Kau kenal dengan gadis itu?" tanya Vano memastikan.


"Ya, aku kenal," jawab Ioan singkat ia begitu malas.


"Siapa namanya?" tanya Vano untuk yang kedua kalinya.


"Namanya, Eveline," jawab Ioan ia tidak memberi tahu nama panjang Eveline karena ia tahu jika Vano mengetahuinya bisa bahaya.


Keheningan melanda mereka berdua hingga sekitar 15 menit, Vano membuka mulutnya untuk berbicara.


"Ioan apa kau masih ingat apa kata, Leluhur jika ada seorang manusia yang melihat seorang Vampire sedang menghisap darah?" tanya Vano dan seketika Ioan langsung menjadi serius.


"Ingat... para, Leluhur bilang, jika ada seorang manusia yang melihat Vampire sedang menghisap darah maka akan habis semua kekuatannya sedikit demi sedikit dan akhirnya lenyap dari dunia. Bertanda tangan di bawah, Tuan Glade," jawab Ioan lancar dan tepat.


"Arggghh, lalu apa semacam kutukan itu ada cara untuk menghilangkannya?" tanya Vano kepada Ioan.


"Ada... hanya satu, yaitu pernikahan," jawab Ioan dengan tatapan sinis.


"Apa?!" tanya Vano dengan nada suara frustasi.


"Memangnya siapa yang sudah melihatmu menghisap darah, Van?" tanya Ioan dengan serius.


"Eveline... dia yang sudah melihatku," jawab Vano pelan.


"Apa?!" tanya Ioan ia begitu terkejut mendengarnya.


"Eveline tuli!!" teriak Vano sedikit kesal pada Ioan.


"Seharusnya kau harus menikahinya dengan secepat mungkin," ucap Ioan memberi usul pada Vano.


"Apa kau gila?!" tanya Vano meninggikan nada suaranya.


"Dari pada kekuatanmu yang sangat kuat itu menghilang sedikit demi sedikit? Lalu kau diturunkan menjadi, Raja? Aku tidak ingin menjadi, Raja, Vano karena aku rasa... aku tidak cukup kuat," ucap Ioan sekaligus ia curhat.


"Kau menyumpahiku agar cepat mati? Oh, dasar lemah," kata Vano pedas pada akhir katanya.

__ADS_1


"Begini saja, kita tidak usah kembali ke dunia gaib dulu jadi... pernikahan kau dan, Eveline hanya ada aku, para Tetua, dan juga Beno yang tahu. Dengan begitu... tidak ada satu pun bangsa Vampire di dunia gaib yang tahu kalau kau... Raja Vampire yang pemarah dan paling ganas se bangsa Vampire menikah dengan manusia," ucap Ioan panjang kali lebar.


"Baiklah jika... itu yang bisa membuat kekuatanku bertahan aku akan menikahi manusia itu."


"Oke, besok pagi aku akan bicara pada, Eveline ketika ia sudah bangun dan sekarang aku ingin tidur," ucap Ioan dan langsung berjalan pergi dari ruangan si Raja ganas.


Ioan langsung menuju ke kamarnya dan menidurkan tubuhnya di sana.


Pagi hari telah tiba...


Eveline mengerjapkan kedua bola matanya yang indah, bola matanya yang berwarna biru sudah mulai terlihat. Ia meraba-raba tempat yang Iya tiduri seperti kasur empuk. Kasur ini terlalu besar untuk 1 orang.


Eveline baru sadar Ia langsung bangkit dengan kaget dan berkata...


" Astaga! aku di mana ini? Jangan-jangan aku diculik lagi?! "tanya Eveline mulai panik.


Eveline mulai mengingat kejadian semalam, ia pikir pasti Vano laki-laki misterius itu yang membawanya ke rumahnya.


Saat Eveline ingin menengok ke jendela, ia merasakan betapa sakitnya lehernya tapi tidak ada bekas apa-apa, aneh tapi nyata pikir Eveline.


Eveline memutuskan untuk turun dari ranjang King size itu untuk menuju ke balkon untuk menghirup udara segar.


"Ah, segar udaranya...," ucap Eveline sambil merentangkan kedua tangannya ke atas.


"Sejuk ya, udaranya?" tanya seseorang dari belakang.


Eveline berbalik badan menghadap ke yang punya suara, apa Eveline mengenalnya? ya, seseorang yang Eveline beri tahu nama yang sangat ia rahasiakan sejak Eveline lahir. Siapa lagi kalau bukan Yoan.


"Ioan?" senyum Eveline.


"Ya, Eve ini aku," ucap Ioan dengan penuh semangat.


"Kamu lagi apa disini?" tanya Eveline.


"Hmm, ini rumahku," jawab Ioan.


"Oh, begitu jadi... kamu yang tadi malam minum darah kelinci?" tanya Eveline memastikan.


"Oh, bukan aku. Itu, Kakakku Vano," jawab Ioan cepat.


Eveline berjalan menuju ke arah ranjang dan duduk di tepi ranjang dan diikuti oleh Ioan.


" Ioan, Kakakmu punya kelainan?" tanya Eveline hati-hati takut Ioan tersinggung.


"Tidak, Kakakku normal," jawab Ioan sambil menampilkan senyum canggung.

__ADS_1


"Benarkah? Kalau, Kakakmu normal terus kenapa dia minum darah?" Tanya Eveline lagi.


"Memangnya kamu tidak tahu kami apa?" tanya Ioan balik.


Eveline mengerutkan alisnya.


"Kalian manusia 'kan?"


"Aku memberi tahumu tapi... kau janji tidak menyebar-luaskannya ya, Eve?" tanya Ioan pelan.


"Ya, ia aku janji, Ioan tapi kamu juga tidak menyebar-luaskan namaku juga 'kan?" tanya Eveline.


"Ya, tidak, Eve. Kami itu adalah... Vampire aku dan Vano adalah Vampire," ucap Ioan.


"Oh, Vampire." Eveline menanggapi santai ia sama sekali tidak terkejut.


"Kenapa kamu tidak terkejut?" tanya Ioan sedikit heran.


"Kenapa harus terkejut? Tunggu, Ioan sebelum orang tuaku meninggal dunia mereka meninggalkan sebuah surat dan surat itu aku tidak tahu apa artinya dan kamukan Vampire, siapa tahu kamu mengerti apa artinya." Eveline memberikan sebuah surat yang sudah usang kepada Ioan.


"Memangnya kedua orang tua kamu Vampire?" tanya Ioan pura-pura tidak tahu.


"Bukan, Ioan. Menurutku cuma, Papaku yang Vampire karena... waktu itu aku melihatnya sedang minum darah di dalam sebuah kulkas," jawab Eveline yang tengah curhat dengan Ioan.


"Biar aku baca dulu." Ioan membuka surat usang itu.


Isi surat...


"Yang telah tiada akan bangkit kembali. Bangkit dengan kekuatan yang sangat kuat, kekuatan yang dikumpulkan selama beratus-ratus tahun lalu. Kendalikan atau musnah."


Tanda tangan, Robert Glade.


Setelah membaca surat itu, semakin yakinlah Ioan bahwa Eveline adalah Cucu dari Tuan Glade. Tapi ia tidak akan bilang dengan Sang Kakak, Vano. Ioan akan simpan pada akhir waktu yang tepat untuk memberi tahunya.


"Sudah tidak bacanya?" tanya Eveline.


"Sudah, Eve. Ya, aku tahu isi dari surat itu, Eve jadi begini maksudnya, akan ada seseorang yang meninggal akan bangkit kembali dan memiliki kekuatan yang sangat kuat dan jika seseorang itu bisa mengendalikan kekuatan itu maka ia akan baik-baik saja tapi... jika sebaliknya seseorang itu tidak bisa mengendalikannya maka ia akan musnah." Jelas Ioan panjang kali lebar menjelaskan arti dari surat itu.


"Seseorang itu siapa, Ioan? Apa itu aku?" tanya Eveline penasaran.


"Aku tidak tahu pasti, Eve," jawab Ioan.


"Oh, tahu tidak, Ioan? Tadi aku baru saja curhat denganmu, kamu jangan memberi tahu siapa-siapa ya, Ioan karena kamu sudah aku anggap kamu sebagai teman curhatku."


"Ya, aku janji, Eve."

__ADS_1


Ioan menatap Eveline serius dan hal itu membuat Eveline menjadi penasaran.


__ADS_2