
Cahaya sinar matahari mulai menembus kesilauan paginya, ditutupi oleh selimut yang tebal di situlah ada Eveline. Ia tidak kunjung bangun karena merasakan lehernya yang sakit.
"Dasar keparat! Minta darah main paksa kan jadi sakit jadinya dasar seperti nyamuk saja dia tapi yang ini nyamuknya besar banget." Eveline mengumpat kesal di dalam selimut.
Tok
Tok
Tok
"Gerrrhhh, siapa sih yang mengetuk pintu kamar sepagi ini? Ganggu saja!"
Eveline terpaksa menyibak selimut tebal dan bangun duduk di tepi ranjang.
"Maaf, Nona kalau saya mengganggu. Nona dipanggil, Tuan untuk sarapan bersama," ucap seseorang Pelayan di balik pintu kamar.
"Iya, iya nanti aku turun tapi sebentar!" Eveline berteriak tampa membuka pintu karena sifat malasnya kumat.
Eveline merapikan tempat tidur dan bangkit menuju kamar mandi. Sekitar 20 menit, Eveline sudah selesai dengan ritual mandinya.
"Lagi-lagi tidak punya lengan!" keluhan malas keluar dari bibir Eveline.
Ia memakai Dress panjang selutut dan tentunya tampa ada lengan lagi berwarna merah darah.
Eveline tidak berdandan pagi ini, tampil natural saja. Ia langsung menuju ke bawah untuk sarapan.
Saat di bawah, Eveline melihat ada Ioan dan juga si nyamuk besar di meja makan. Si nyamuk besar, siapa lagi kalau bukan Vano.
Eveline langsung mengerucutkan bibirnya, ia rasa tidak punya selera makan melihat ada Vano di sana. Ia duduk di hadapan Ioan dan mulai memakan makanannya tampa ada satu kata pun keluar dari mulutnya.
Disaat Eveline ingin mengambil segelas air, terdapat satu bungkusan obat pill di samping gelasnya.
"Obat apa ini? Apa untuk aku?" batin Eveline terus bertanya-tanya.
"Minum!" Vano berseru menyuruh Eveline untuk meminum obat itu.
Eveline tidak menghiraukan seruan Vano, ia malah bangkit lalu meninggalkan meja makan. Sarapannya masih tersisa alias belum Eveline habiskan.
"Dia kenapa?" tanya Ioan sedikit heran karena kelakuan Eveline yang tidak seperti biasanya.
Vano mengangkat kedua bahunya tidak tahu mengapa Eveline menjadi seperti itu.
"Seharusnya kau memberi dia kebebasan saja kepada Istrimu, Vano agar dia tidak tertekan tinggal disini. Kau bisa tinggal di rumahnya dan kalau perlu... aku juga ikut, kan kalau kau tidak ada disini aku jadi kesepian. Ya, biarkan dia bebas layaknya remaja 19 tahun lain." Ioan mencoba memberi usul.
"Apa maksudmu, Ioan? Soal kesepian ada, Beno yang bersamamu dan beberapa, Pelayan lain."
"Ya, maksudku begitu. Pokoknya aku ingin ikut, Vano."
"Terserah, oh, apa usulanmu itu tidak berbahaya?" tanya Vano serius.
"Hey, kalau berbahaya kenapa aku perlu memberi usul," jawab Ioan sedikit kesal karena Vano terlalu menganggapnya bodoh.
__ADS_1
Vano hanya mengangguk dan langsung pergi dengan nampan yang berisikan makanan penutup, air mineral, dan juga obat yang tadi.
Vano berjalan menuju kamar Eveline dan mengetuknya.
Tok
Tok
Tok
Sedikit lama Vano menunggu sedikit lama menunggu, dan menjadi gusar sendiri Ia lalu membuka pintu tanpa menunggu Eveline yang membukanya.
" Kenapa masuk? Orang juga belum menjawab sama yang punya kamar, nanti orangnya cuma pakai handuk bagaimana ceritanya? " tanya Eveline yang menyambut dari balik pintu.
"Tidak apa-apa, kau kan, Istriku," jawab Vano dan menaruh nampan itu di meja dekat kasurnya.
Eveline menatap tajam Vano dengan tangan dilipat di depan dada, Eveline hanya memakai handuk yang hangat dicuaca London yang dingin.
"Dasar nyamuk kebun!" Eveline langsung memalingkan wajah.
"Apa?! Nyamuk kebun? Tidak ada panggilan lain selain itu?" Vano memberi tatapan sinis.
"Nggak. Itu julukan untuk orang yang suka menghisap darah, seperti nyamuk saja."
"Lah, nyamuknya kecil. Bagiku cuma debu," kata Vano dengan sombong.
"Cih, dasar sombong. iya, nyamuk memang kecil, tapi nyamuk kebun besarrrr banget seperti T-rex." Eveline mengada-ngada.
"Dasar Iblis jahanam!" ketus Eveline yang menyaksikan Vano yang memperagakan cara menghajar.
Namun Vano tidak menanggapi ucapan Eveline, ia malah langsung duduk di tepi ranjang dan memperhatikan wajah yang cemberut dengan sendu.
"Eve." Panggil Vano dan memegang tangan kanan Eveline namun segera ditepis oleh yang Empunya.
"Apa?!"
"Aku punya kabar gembira untukmu."
"Apa?!" ulang Eveline.
"Kamu boleh pulang ke rumah kamu tapi... dengan 3 syarat," ucap Vano dan mendapat binar-binar bahagia di mata Eveline.
Eveline sebentar lagi akan bebas dari sangkar kastel Vano.
"Harus ada syaratnya ya?" tanya Eveline dengan lesu dan dibalas anggukan dari Vano.
"Yang pertama, aku dan Adikku, Ioan akan ikut ke rumahmu, kedua seperti yang dibilang para Tetuah kamu tidak boleh selingkuh di belakang aku dan yang terakhir, kau bebas mau kemana saja asal ingat syarat yang kedua." Vano menjelaskannya dengan rinci.
Eveline yang sangat bahagia langsung memeluk Vano tapi hanya sebentar karena ia sadar apa yang dilakukannya.
"Lakukan saja setiap hari." Vano mengedipkan sebelah mata menggoda Eveline.
__ADS_1
"Nih, minum!"
Eveline yang merasa malu tidak banyak protes ketika Vano menyedorkan obat dan segelas air setelah makanan penutup dihabiskan Eveline.
"Besok peluk lagi," ucap Vano dan langsung pergi membawa nampan yang sudah kosong.
"Dasar nyamuk kebun percaya dirinya besar banget!" omel Eveline dan Vano mendengarnya.
Vano langsung berbalik ke arah Eveline lagi dan mengacak-ngacak rambut Eveline lalu kembali keluar.
Vano menongolkan kepalanya di pintu kamar Eveline dan berkata...
"Jadilah gadis yang baik." Lalu kembali melangkah.
"Ada apa dengannya? Ah, mungkin dia salah minum darah." Gumam Eveline yang merasa aneh dengan kelakuan Vano.
Eveline lalu beres-beres, ia memakai celana levis hitam dan baju kaos berwarna merah tua dengan kancing yang dibuka dua di bagian atas.
Eveline langsung turun ke bawah setelah ia siap, ya, lagi-lagi tampa make up. Di bawah Eveline tidak menemukan siapa-siapa.
"Ioan... Ioan... yuuhuu!"
Tiba-tiba saja Vano datang dari belakang Eveline.
"Ada apa mencari, Adikku?" tanyanya mengagetkan Eveline.
Eveline berbalik badan menghadap Vano.
"Bukan urusanmu, katanya aku boleh pulang ya, sudah ayo ikut aku." Eveline menagih janji.
"Ya, tidak sekarang nanti sore saja."
"Nggak aku maunya pulang sekarang!"
"Ya, sudah kau pulang saja sendiri sana," ucap Vano judes.
Eveline memandang dengan tatapan sinisnya.
"Ya, sudah aku pulang sendiri saja tapi jangan salahkan aku kalau aku ketemu sama banyak nyamuk kebun," ucap Eveline tidak main-main.
'Dasar nyamuk kebun tidak ada rasa kasihan-kasihannya betul sama aku!' batin Eveline bergejolak kesal.
'Ya, akan cuma bercanda lagi pula aku tidak akan rela, Istriku darahnya dimimun Vampire lain walau hanya setetes pun.' Batin Vano dengan matanya yang menatap Eveline penuh arti.
Vano lalu meraih tangan Eveline dan menariknya hingga mereka berpelukan, Vano memeluk Eveline dengan erat meski Eveline sedikit berontak tapi Vano tidak peduli.
"Baiklah aku antar tapi kita tunggu, Ioan dulu. Kau tunggu saja di kamar nanti aku panggil."
Eveline melepas pelukannya dan menaiki kembali tangga menuju kamar.
"Dasar tidak jelas!" ketus Eveline dan membuat Vano geleng-geleng kepala.
__ADS_1