
"Kamu kenapa Eve?" tanya Vano bingung, pasalnya Eveline terus menjerit-jerit dan mengadu kesakitan.
"Kaki aku,, kayaknya terkilir! Sakit banget Vano!!" jerit Eveline dan air matanya mulai mengalir.
Vano menyeka air mata Eveline.
"Ganti dulu bajumu Sayang, nanti masuk angin."
Eveline hanya mengangguk dan Vano menggendong Eveline menuju kamar mandi, sekitar 15 menit kemudian everything sudah selesai mengganti bajunya dan selalu kembali menggendongnya ke atas kasur.
Vano memanggil tabib untuk mengobati kaki Eveline, kaki Eveline diperban. Sesuai kata tabib, kaki Eveline terjepit dan terkilir jadi rasanya sakit.
Tabib memberi obat pereda sakit dan juga dibius tidur jadi Eveline tertidur pulas sekarang.
"Baguslah jikalau begini, dia tidak akan kabur-kabur lagi." Vano tersenyum puas.
Di hati Vano sebenarnya kasihan namun di sisi lain dia juga merasa senang dengan keadaan Eveline.
"Kasihan tapi senang? Ah, aku ini gila!" Vano tertawa kecil.
Vano mengecup kening Eveline dan berbaring di samping Eveline, memeluknya dan tidur bersama.
***
Di pagi hari yang cerah...
Eveline lebih dulu bangun dari pada Vano, lagi-lagi Eveline meringis kesakitan.
"Vano, Vano bangun! Ish, kebo banget sih mana sakit banget lagi!"
Eveline menepuk-nepuk pipi Vano dengan keras, Vano yang terganggu tidurnya akhirnya bangun.
"Ada apa Sayang?" tanyanya dengan nada orang baru bangun.
"Kaki aku sakit!" keluh Eveline tak main-main.
__ADS_1
Vano langsung sigap duduk sambil menatap khawatir Eveline.
"Kaki mananya yang sakit?"
"Kaki kiriku yang keseleo kemarin, sakit Vano!" Eveline menjerit tertahan.
"Ooh, iya kamu harus minum obat agar kakimu tidak sakit, tunggu di sini."
"Cuman obat? Kenapa bukan diurut aja biar cepetan sembuh? Aku nggak mau minum obatnya, obat rasanya pahit kayak kenyataan hidup!" Eveline menggerutu kesal.
Vano mengerutkan dahi dengan ucapan Eveline.
"Ahh, kau memang keras kepala Eve! Aku akan turun mengambil sarapan untukmu."
"Tap-"
Vano meleset cepat karena tak mau lagi mendengar ucapan-ucapan Eveline.
Memang sedari kecil Eveline tak suka meminum obat, dia akan memilih kabur dari rumah dari pada meminum obat. Jikalau saat ini kaki nya tak sakit mungkin Eveline akan kabur.
Vano memaksa Eveline memakan roti juga meminun susu namun Eveline terus menolak bahkan menutup mulutnya.
"Nggak! Aku nggak mau!"
"Eve kumohon, jangan kamu terus menyiksaku dengan melihatmu kesakitan seperti ini aku nggak tega lihat Istriku kesakitan," ucap Vano membujuk Eveline.
Eveline meraih roti dan memakannya 5 gigitan dan meminum susunya 2 teguk, biar sedikit namun cukup membuat Vano senang.
"Aku aja tega kok lihat diri aku kayak gini."
"Berarti kamu nggak sayang sama diri kamu sendiri."
Vano memberikan segelas air putih kepada Eveline dan 3 butir obat.
"Aku nggak mau!" tolak Eveline sambil menutup mulutnya dengan kedua telepak tangan.
__ADS_1
"Nggak pahit Sayang, udah cepat minum," ucap Vano yang mulai merasa geram.
Eveline mengambil obat di tangan Vano, saat Eveline ingin meminum obatnya dia sempat menciumnya dahulu, dengan ragu Eveline menatap Vano dan mendapat anggukan.
Selesai Eveline menelan obat itu dia merasa ingin memuntahkannya kembali namun dengan sigap Vano menyambar mulutnya, menciumnya dengan ganas hingga Eveline tak jadi memuntahkannya.
"Nah kalau begini nggak jadi dimuntahin bukan? Ha ha ha!" Vano tertawa lepas.
Eveline menutup wajahnya yang memanas menahan malu.
"Istirahatlah Eve, aku ada urusan kamu di sini aja jangan kemana-mana nanti aku akan memanggil beberapa Dayang perawat untukmu."
"Nggak usah banyak! Aku mau Ayuan aja yang merawatku."
"Tapi Eve, Pelayan Ayuan adalah Pelayan bagian masak jadi nggak bisa merawatmu."
Eveline menatap Vano tajam.
"Pokoknya aku mau Ayuan yang merawatku!" kekeh Eveline.
"Baiklah, baiklah aku keluar dulu." Vano hanya menghela nafas pasrah dengan keras kepala Eveline.
***
"Sudah saatnya aku ke Lembah Terlarang untuk menobatkan Eveline sebagai Ratu Manhive." Gumam Vano pelan.
Esok pagi, Vano akan pergi bersama Asistennya Beno ke Lembah Terlarang untuk mengambil sesuatu di sana.
Lembah Terlarang adalah Lembah yang sangat berbahaya, sudah banyak Vampire yang mencoba menerobos ke sana namun tak ada yang kembali lagi.
Lembah Terlarang dijaga oleh Naga Miytnusura yang sangat ganas dan kuat bersama para kelompoknya dan benda yang akan diambil oleh Vano ada pada Naga Miytnusura.
Vano pergi ke ruang kerjanya untuk menulis sebuah surat dan menipkannya pada Pelayan Ayuan yang akan diberikan pada Eveline saat 3 hari Vano belum kembali dari Lembah Terlarang.
Addoh, Author capek nulis kisahnya mana reguler likenya tembus lagi. Maaf ya kawan belum bisa nulis 10 Chapter ini aja Author nulis buat nepatin.
__ADS_1
Tetap like buat beri dukungan pada karya ini.