Cool Tuan Vampire

Cool Tuan Vampire
Ratapan Dan Taring Lain


__ADS_3

Eveline mendengar juga melihat kejadian antara Vano dan Clarissa ia merasa jijik dengan keduanya. Sama-sama berjanjilah ini lah itu lah membuat Eveline harus bertindak sesuatu.


Eveline bertekad harus mengusir wanita itu dari kediaman Kerajaan Manhive, bukan karena apa, kalau wanita itu lama-lama di sini dia melakukan banyak drama nantinya.


"Mari kutunjukkan, Evaline yang versi lebay bin alay." Eveline langsung turun menemui Vano dan Clarissa.


"Hey, sayangku! " Eveline memeluk Vano dari samping, tentu membuat Vano sedikit terkejut.


'Ck, drama bodoh!"


Eveline menggerutu namun langsung dibaca oleh Vano yang membuatnya mengerti apa yang harus dilakukan.


"Ooh iya, Sayang. Kenapa? Kamu mau apa? " Vano membalas pelukan Eveline dan tersenyum semanis mungkin.


"Aku wanita ini pergi dari sini!! " Eveline memandang sinis ke arah Clarissa sambil melepaskan pelukannya dan membuat jarak sekitar lima langkah dari Vano dan Clarissa. Eveline juga melipat tangannya di depan dada.


Clarissa mendekati Vano dengan langkah demi langkah yang pasti dia mendekati Vano dekat-dekat dan dengan cepat Clarissa menangkup wajah Vano dan langsung dia mencium bibir Vano dengan arogannya.


Mata Eveline melotot begitupun juga dengan Vano, Eveline tidak habis pikir Clarissa bisa berbuat seperti itu.


Saat Vano berusaha ingin melepaskannya, Clarissa langsung mencengram tengkuknya.


Eveline mengepalkan tangannya dengan geram, dia menghampiri mereka berdua dan menarik tangan Clarissa sampai dia tersungkur. Amarah Eveline benar-benar memuncak.


Terlihat sekali bibir Clarissa berdarah karena ditarik paksa oleh Eveline dan juga terlihat bibir Vano juga berdarah, namun Eveline tidak mau peduli sama sekali.


"Beraninya kau wanita rendahan!! Beraninya kau mencium Suamiku di depan mataku sendiri!!"


Eveline menghampiri Clarissa dengan tangan yang mengepal keras, selanjutnya yang terjadi Clarissa terseret beberapa meter setelah ditendang oleh Eveline. Vano sendiri tidak bisa berbuat apa-apa.


"Eve...,"


"Diam kau laki-laki bodoh! Mau-maunya kau dicium dengan wanita rendahan ini! Apa kau ingin membelanya hah?! Bela saja! Aku sudah tidak peduli lagi." Eveline melirik tajam ke arah Vano dengan mata iris yang menyala merah darah.


"Eve...," Vano memanggil Eveline, berharap Istrinya mau menghentikan langkahya. Harapan tinggal harapan yang nyatanya Eveline tidak pernah menghentikan langkahnya bahkan menoleh pun tidak.


Clarissa sudah berdiri namun tidak terlalu stabil, tendangan Eveline membuatnya sedikit merasa sakit terlebih lagi kekuatannya tidak sebesar Vampire biasannya, hal itu menjadikan Clarissa lambat sembuh dari luka.


"Pergi kau dari sini bodoh dan jangan pernah kembali lagi ke Kerajaanku!" Vano menatap tajam Clarissa.


'Apa Eveline bersungguh-sungguh? Ah, hudupku lebih banyak berubah karena kehadiran Clarissa!'

__ADS_1


***


Eveline meleset menuju hutan belakang Istana Kerajaan Manhive dan kebetulan di sana ada Julian serta satu Wolf bersamanya.


Melihat kehadiran Eveline, Julian serta Wolf itu memberi hormat sampai Eveline menegur mereka.


"Ehehe, nggak usah kayak begitu juga kali, memangnya aku ini siapa?" Eveline menggaruk-garuk tangan kananya yang tak gatal.


"Kan kamu adalah Istri dari Raja Manhive dan sedikit lagi kamu jadi Ratu Manhive." Julian tersenyum hangat.


"Ah, hoax itu mah jangan dipercaya, Vano itu penipu."


Tiba-tiba Wolf yang bersama Julian berubah menjadi manusia umuran 8 tahun, sedikit membuat Eveline terkejut.


"Ratu habis nangis ya? Nama aku Jack, sepupunya Juliai." Jack tersenyum tipis kepada Eveline.


"Nggak kok. Jack nggak main sama teman-teman?" tanya Eveline balik, sebetulnya Eveline sedikit heran siapa yang dimaksud Juliai oleh Jack namun memilih tidak membahasnya.


"Ooh, iya aku lupa kalau Jack punya janji sama teman-teman, makasih Ratu, dadah Juliai!" Jack memberi hormat pada Eveline sebelum melambai dan memberi kiss jauh untuk Julian.


Eveline geleng-geleng kepala melihat tingkah Jack yang menurutnya sedikit konyol.


"Kenapa kamu menangis, Eve? Apa ada masalah?" Julian mengajak Eveline untuk duduk d bawah pohon rindang.


"Ceritalah, aku akan mendengarnya."


Eveline mendadak mendapat sedikit hiburan dengan tawaran Julian meski itu hanya berbagi cerita dan masalahnya tetapi setidaknya bisa mengurangi masalah Eveline.


"Kau kenal Clarissa, bukan?" tanya Eveline.


"Ya, kenal. Apa dia mengganggu Suamimu? Ah, jangan terlalu dipikirkan Eveline karena itu memang pekerjaan sehari-harinya. Menjadi wanita penggoda adalah hobynya."


"Bukan hanya menggoda, kalau Vano tergoda olehnya... aih, nggak apa-apa sana ambil saja. Tapi ini sudah kelewatan, Julian! Clarissa mencium Vano di hadapanku!" Eveline agak sewot dan tampa sadar sudah menancapkan kukunya di akar pohon.


"Waduh! Nekat banget Vampire penggoda itu! Kalau aku jadi kamu pasti sudah aku cabik-cabik si Clarissa itu."


"Dia sudah aku tendang." Eveline sedikit bangga dan Julian diam-diam mengusap lehernya karena bulu romannya sedikit merinding.


Jadilah Eveline dan Julian saling curhat dan mensaring cerita hidup mereka sesuai apa yang mereka rasakan sekarang.


30 MENIT KEMUDIAN...

__ADS_1


"Makasih ya, Eve." Julian tersenyum hangat pada Eveline.


"Untuk?"


"Sedang apa kau di sini?" Vano tiba-tiba datang membuat suasana terasa canggung bagi Julian.


Julian berdiri dan memberi hormat pada Vano namun Eveline tetap duduk santai di tempatnya.


"Kau yang sedang apa di sini? Sana saja temani Istri kamu!" ketus Eveline tampa menatap Vano.


"Julian...." Vano memberi tanda kepada Julian agar cepat pergi.


"Mari, Eve aku pulang dulu sampai jumpa lagi." Julian berpamitan, saat Julian berbalik badan tiba-tiba saja menahan tangannya.


"Bawa aku pergi dari sini, Julian." Eveline menatap Julian penuh harap.


Vano menyingkirkan tangan Eveline dari tangan Julian agar tidak terus memegangnya.


Julian tersenyum hangat dan langsung pergi dari hadapan Eveline juga Vano.


"Kenapa? Mau ngomong apa lagi? Aku kecewa sama kamu. Aku mengira kau akan menghindar tapi ternyata tidak! Sana urus saja Istrimu itu!" Eveline emosi dan mata iris merahnya masih terlihat menyala.


"Kamu serius?" tanya Vano lembut.


"Apa? Aku sudah belajar menerimamu dan belajar suka denganmu, tetapi apa? Kau menghancurkannya!" Eveline langsung meninggalkan Vano sendirian, Vano sedang larut dalam pikirannya sendiri.


Eveline kembali ke kamarnya dengan kedua mata yang mengalirkan bulir-bulir keristal bening, Eveline tidak peduli dengan pandangan para Pelayan yang dia temui.


Tiba di kamarnya, Eveline langsung menyelimuti dirinya dengan selimut tebal hingga tubuh mungilnya tidak tampak.


Tak lama dari itu, Vano datang menyusul Eveline tampa mengetuk pintunya.


"Eveline aku sudah mandi supaya semua kuman-kuman Clarissa hilang."


Eveline tetap diam.


"Soal ciuman itu... aku sudah menghindar namun tengkukku dicengkram oleh Clarissa. Kamu percaya denganku kan, Sayang?"


Eveline membuka sedikit selimutnya dan memandang dalam mata Vano, di sana Eveline tidak melihat ada kebohongan.


Sebentar lagi akan ada Peperangan, nantikan....

__ADS_1


__ADS_2