
Vano mengelus bekas gigitan laba-laba biru dan secara tiba-tiba kuku tangannya memanjang runcing di atas leher Eveline.
"Apa yang akan kau lakukan?! Apa kau sudah gila?!"
Ioan begitu terkejut dengan apa yang akan Vano lakukan, Ioan berpikir Vano akan menancapkan kuku tangannya ke leher Istrinya sendiri.
Vano bersiap menancapkan kuku tangannya ke lubang bekas gigitan laba-laba biru.
"Hentikan ********!"
Ioan menerjang Vano dan membuatnya terseret manabrak dinding.
"Apa yang kau lakukan, Adik bodoh? Keluar kau sekarang!"
Vano benar-benar murka dengan kelakuan Ioan, mata iris merahnya menyala menandakan kemarahannya memuncak.
"Kau yang mau apa?! Kau mau membunuh, Eveline, hah?!"
Vano mendekati Ioan dan pasti mencekik leher Sang Adik lalu tangan kanannya mengarah ke jendela, seketika itu jendela terbuka dan Vano melempar Ioan melalui jendela.
"Argh, maafkan aku, Ioan."
Vano mendekati Eveline dan mengarahkan kukunya ke leher Eveline lalu mengeluarkan sesuatu disana.
Tampak butiran biru gelap berhasil dikeluarkan Vano dari leher Eveline itu adalah racun paling mematikan milik laba-laba biru.
Sreettt
Tetes demi tetes darah membasai leher bekas gigitan laba-laba biru dan lama-kelamaan luka gigitan itu menghilang karena banyaknya tetesan darah Vano dari telunjuknya yang ia lukai tadi.
"Cepat bangun gadis menyebalkan." Kecupan lembut Vano lakukan pada kening Eveline.
Vano keluar setelah menyelimuti Eveline.
Sekitar 5 menit lamanya Eveline tertidur dan hari sudah menjelang malam. Eveline baru bangun dan langsung heran sendiri mengapa ia sudah tiba di rumahnya.
"Astaga, aku belum masak! Mereka pasti sudah kelaparan."
Satu loncatan Eveline bangkit dari kasur dan lari menuju dapur untuk masak makanan malam nanti.
"Eh, tunggu kemana si nyamuk kebun?"
Eveline berbelok arah menuju ruang tamu dan tidak jadi ke dapur.
"Wau, sudah bersih dan rapi. Rajin sekali kau ya, nyamuk kebun biasanya malas banget."
Vano memberi tatapan dingin kepada Eveline yang menurutnya sangat menyebalkan dan cerewet, seandainya Eveline adalah Pelayan mungkin sekarang sudah Vano basmi tampa sisa.
"Dasar dingin sudah seperti kulkas berjalan saja, huh!"
Pada saat Vano ingin membalas ucapan Eveline, bau hangus sudah menyerang area penciumannya.
"Bau hangus, arahnya dari dapur!"
Mereka berdua lari menuju dapur, Eveline panik jika rumahnya terjadi kebakaran.
"Astaga, Ioan apa yang kau lakukan dengan dapur ini?" tanya Vano.
__ADS_1
Ya, itu adalah Ioan yang sedang memasak namun sayang seribu sayang makanannya hangus.
Ioan langsung berbalik ke arah Vano dan Eveline dengan cengar-cengir serta menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
"He he he, itu... anu tadi aku ingin memasak makanan instan ini namun malah berbau gosong begini."
"Hmm, nggak apa-apa, Ioan. Kalau begitu kita makan di luar saja kan semua makanan instan itu sudah tidak layak lagi dimakan." Eveline memberi usul, karena di dapur sudah tidak ada lagi yang bisa dimasak.
"Sudah tahu tidak bisa masak." Vano memandang sinis Adiknya dan dibalas ancaman cakaran oleh Ioan.
"Ya, sudah aku sudah lapar."
Jadilah mereka semua berangkat untuk makan malam di luar.
Tidak ada warung maupun penjual makanan yang buka kecuali satu, warung nasi goreng.
"Makan nasi goreng mau nggak?" tanya Eveline.
Dua pemuda Vampire itu mengangguk setuju walau mereka tidak suka makan nasi goreng tapi perut mereka sudah berdendang lapar minta diisi.
Eveline dan dua pemuda Vampire itu langsung menuju ke arah penjual nasi goreng, baru saja mereka ingin duduk memesan, datang 5 orang yang sangat kasar yang memaksa penjual nasi goreng untuk melayani mereka.
"Bang bisa antri nggak? Kasihan itu, Masnya." Eveline membuka suara.
"Lu nggak tahu kami siapa disini?" bentak mereka dan sangat kasar.
"Ya, orang lah apa lagi? Setan!"
"Berani kau ya! Hajar dia!"
4 orang itu maju untuk menghajar Eveline namun Ioan dan Vano sudah lebih dulu menghajar mereka.
Pertarungan sengit terjadi 5 lawan 2 tapi tidak masalah bagi Vano maupun Ioan, mereka hanya butuh 3 jari tangan untuk mematahkan leher mereka.
"Mas saya pesan nasi gorengya 3 ya, pedes semua."
Buyar sudah lamunan dan keterpanahan Sang Penjual nasi goreng karena Eveline memesan nasi gorengnya.
"Ini, Neng."
3 piring nasi goreng panas dan berbau nikmat diterima Eveline, ia lalu duduk santai menikmati pertarungan Vano dan Ioan bagai menonton televisi.
Lagi-lagi si Penjual nasi goreng terpanah dengan cara pertarungan Vano dan Ioan yang sama sekali tidak bergerak di tempatnya sementara 5 orang kasar itu terombang-ambing dan terus menyerang Vano dan Ioan.
Cletakkk
Penjual nasi goreng menahan nafasnya melihat adengan sadis di hadapanya sebelum mengihkan pandangan ke bawah kaki karena sesuatu berambut menyentuh kakinya.
Brukkk
Hilang sudah kesadaran penjual nasi goreng ketika mengetahui sesuatu yang mengenai kakinya adalah kepala.
Cletakkk
Cletakkk
Cletakkk
__ADS_1
Cletakkk
4 kepala manusia jatuh ke tanah dan menggelinding menghampiri Eveline yang sudah dari tadi muntah dan ketakutan.
"Beres...,"
Vano dan Ioan tos tangan dan menghampiri Eveline dan duduk di sebelah Eveline.
"Kalian... membunuh? Hueekkk."
"Ya, cukup tiga jari untuk mencabut kepala mereka." Senyum menyeramkan Vano terbitkan.
Eveline tidak meneruskan makan sementara Vano dan Ioan makan dengan lahap tampa rasa mual.
Eveline melirik jam tangannya dan waktu sudah menunjukkan pukul 09:16 malam, ia pun mengajak dua Vampire itu untuk pulang.
"Mas ini uangnya saya pamit pulang."
Eveline menyelipkan uang 50 di jai Penjual nasi goreng lalu pergi.
Tidak lama mereka berjalan, mereka sudah sampai di rumah Eveline. Eveline tidur di kamar orang tuanya karena tidak mungkin ia membiarkan Vano maupun Ioan tidur disana, Eveline banyak menyimpan rahasia di dalam kamar itu.
Vano tidur di kamar Eveline sedangkan Ioan tidur di kamar tamu.
Sebenarnya Vano tidaklah tidur, jadi Vano lagi apa? Ya, Vano tidak bisa tidur karena ia terus memikirkan gadis yang sudah merubah sitatnya dalam hitungan hari saja.
Vano memikirkan apa dia sudah tidur atau tidak dan apa sekarang gadis itu sedang lapar atau... ah, Vano memilih datang ke kamar Eveline saja.
Kamar Eveline sudah gelap, Vano masuk dengan hati-hati takut Eveline terganggu tidur nyenyaknya.
Duduklah Vano di tepi ranjang dan dipandanginya wajah damai serta cantik Eveline yang tertidur dengan nyenyak.
Perasaan Vano menjadi tidak karuan, digoyang-goyangkannya bahu Eveline dengan pelan namun Eveline tidak kunjung bangun dan malah tangan Vano dipeluknya dengan erat.
Jadi susahlah Vano untuk membangunkan Eveline.
"Aissh, Eve... Eveline."
Mata Eveline mulai mengerjap-erjap perhalan tampaklah blue eyesnya, Eveline hanya bergumam kesal.
"Aissh, Vano sana tidur! Kalau mau minta darahnya besok saja aku capek!"
Eveline langsung membelakangi Vano, dari situ Vano kembali tersenyum dan ia putuskan untuk berbaring di sebelah Eveline.
Vano memeluk pinggang mungil Eveline, Eveline langsung membelalakkan matanya serta secepat kilat berbalik arah ke belakang dan mendapati wajah dingin Vano yang menatapnya sendu.
"Arggh! Sana pergi, Vano kenapa kau disini? Sana pergi!"
Eveline mendorong-dorong tubuh Vano agar pindah dari kasurnya.
"Nggak! Aku tidak mau pergi, aku mau minum."
"Kan aku sudah bilang besok saja, sekarang aku capek, lesu!"
Eveline benar-benar geram dengan Vano, didorongnya lebih keras tubuh Vano tapi nihil tidak bergeser sedikit pun.
Vano memeluk Eveline dan menyibak rambutnya hingga terlihatlah leher putih dan lembut Eveline.
__ADS_1
Ditancapkannya gigi taring Vano disana, Eveline sendiri diam saja pasrah dengan keadaannya.