
Vano menghajar Daniel dengan amarah yang sudah meluap-luap sedangkan Evelyn jatuh terduduk akibat darahnya yang sangat banyak disedot oleh Daniel Evelyn sudah lemah tak ada tenaga lagi dan akhirnya tergolek lemas.
Rasa sakit bekas tancapan taring Daniel sungguh Evelyn rasakan rasanya lebih sakit jika tertusuk oleh belati sekalipun.
"Keparat! Beraninya kau menghisap darah Istriku! Kurang ajar kau! Rencana apa lagi hah yang kau buat dengan Adikmu yang licik itu hah?!" tanya Vano, amarahnya sudah meluap-luap bagaikan Iblis nur jana.
Daniel mengelap darahnya di samping bibirnya, memang kini Daniel sudah tak berdaya namun dia masih sempat berbicara.
"Apa kau bilang? Istrimu? Cih, kau hanya memanfaatkan Eveline pecundang! Kau hanya mengiginkan darahnya bukan karena kau mencitainya!" Daniel tersenyum mengejek.
Vano kembali menghajar Daniel tampa ampun, perkataan Daniel sangat tidak Vano sukai.
"Jaga bicaramu bodoh! Aku sangat mencintainya, sangat mencintainya. Catat itu, aku lebih mencintai Eveline dari pada si murah Adikmu itu!"
Daniel tertawa lantang dan menatap Vano dari bawah ke atas lalu kembali tersenyum sinis.
"Oohh, benarkah Raja terhormat Vano? Jika kau mencintainya Mengapa kau tidak melakukannya? " tanya Daniel yang tak meneruskan perkataannya iya percaya Vano paham dengan sambungan katanya.
__ADS_1
"Kata siapa hah?! Jangan sok tahu kamu badjingan! " Vano geram, ia terpaksa berbohong.
Daniel langsung melenggang pergi dengan tertatih-tatih sementara Vano menghampiri Evelyn yang terkulai lemas bawah pohon.
"Eve... Eve... Eve Sayang bangun Eve!" Vano menepuk-nepuk pipi Eveline dengan perasaan panik.
Tampa basa-basi lagi Vano menggendong Eveline menuju Istana Kerajaan Manhive.
Sesampainya di Istana Vano membawa Eveline ke dalam kamar guna untuk menghindari tatapan cemas para Pelayan.
Vano menepuk-nepuk pipi Eveline dengan lembut namun Eveline tak kunjung bangun. Tampa sengaja Vano melihat bekas tancapan taring yang Vano yakini adalah bekas taring Daniel.
Beberapa tetesan darah langsung menyatu di lubang taring itu membuat lukanya lenyap tampa bekas, barulah Eveline sadar setelahnya.
"Eveline!"
Vano tersenyum bahagia melihat Istrinya telah sadar, namun hal itu tak berlangsung lama setelah Eveline menjauh dari Vano dengan mimik ketakutan di wajahnya.
__ADS_1
"Kenapa Eve? Kenapa kau menjadi seperti ini?" tanya Vano bingung, ia sebetulnya curiga terhadap apa yang dikatakan Daniel pada Eveline.
Dugaan Vano memang tak meleset namun pada kenyataannya tidak tahu apa yang dikatakan si licik itu.
"Pergi kau dari hadapanku! Kau... kau... ka-u! Aku tak ingin mengenalmu lagi! Enyahlah kau dari hadapanku!" Eveline berteriak histeris.
"Apa? Apa yang kau bicarakan Sayang?" Vano sendiri terkejut dengan perkataan Eveline.
"Sunggu menjijikkan dirimu ini! Kini aku tahu niat kau menikahiku! Kau... kau hanya menginginkan darahku saja bukan?" Eveline tetap berteriak dengan nada yang masih sama, Eveline tidak memperdulikan ucapan Vano.
Vano terdiam mendengarnya sebelum memeluk Eveline yang berada di atas kasur King Size.
Meski Eveline meronta tapi Vano tetap memeluknya erat, di dalam hati Vano ingin sekali membunuh Daniel hingga menjadi gumpalan daging dan memberikannya pada Naga yang ada di Lembah Terlarang.
"Apa yang sebenarnya membuat kau percaya dengan Daniel Sayang? Dia hanya lah Vampire licik yang tidak pernah berkata jujur."
Eveline tak menjawab dia hanya diam bagai patung tampa harapan lagi. Eh, masa patung punya harapan ha ha ha ( Author Eror ).
__ADS_1
Selamat membaca, khusus hari ini ada Crazy Up dari Author. Chapter pengganti dari hari libur tampa Chapter.