Cool Tuan Vampire

Cool Tuan Vampire
Psycopath


__ADS_3

Pagi hari telah tiba, Eveline bangun pagi-pagi tidak seperti biasanya. Disibaknya selimut tebal lalu bangkit mandi lalu ke dapur.


Eveline menyiapkan roti serta susu karena hari ini ia kuliah lalu bekerja sebagai Pelayan cafe.


Tidak lama, Vano turun menuruni tangga dan diikuti oleh Sang Adik yang mengucek-ngucek matanya.


"Wah, roti?" Ioan bertanya dengan bingung diakhir kalimat.


"Ya, adanya cuma itu jadi... makan itu saja nanti sehabis pulang kerja aku mau belanja perlengkapan rumah." Eveline sibuk mengolesi selai nanas pada roti.


Ioan menghela nafas pelan lalu duduk di hadapan Eveline dan mulai makan roti begitu pun dengan Vano.


"Eh, disini kalian tidak bisa minum darah loh karena ini dunia manusia," ucap Eveline memperingatkan.


"Yah, lemas dong!" Ioan menghela nafas lesu.


Eveline mengerutkan dahi dengan perkataan Ioan.


"Kan kalian makan dan minum meski... minumnya bukan darah."


"Beda, kalau makan makanan manusia itu masuk ketenaga saja kalau minum darah baru berenergi." Jelas Ioan dan Vano hanya mendengar saja.


"Terus bagaimana dong? Kan asupan kalian cuma satu....,"


Seketika Vano dan Ioan menatap Eveline dengan alis terangkat.


"Siapa?!" tanya Vano tajam.


"Aku!"


Dengan percaya diri Eveline menyahut dengan jari telunjuk menunjuk dadanya sendiri.


"Nggak! Kamu adalah milikku dan darahmu hanya aku yang boleh minum yang lain tidak boleh!" bantah Vano dengan tatapan tajam.


"Egois! Ya, sudah, Ioan nanti aku mampir di rumah sakit untuk melihat setokan darah aku bisa beralasan sedang butuh darah nanti ada kurir yang kemari."


Ioan mengangguk setuju, Eveline kemudian berangkat kuliah soal perapian alat makan Vano yang urus.


Vano kembali ke kamarnya sementara Ioan duduk santai di ruang tamu sambil menonton televisi.


Eveline kuliah ....


Aku berjalan terburu-buru menuju perpustakaan sebelum perpustakaan kehabisan meja bagian pojok.


Sepi, memang keadaan perpustakaan sedang sepi jika masih pagi-pagi begini. Aku menuju lemari penyimpanan buku-buku dan memilih apa yang aku perlukan.

__ADS_1


Ketemu! Aku menemukan sebuah buku yang sedikit tebal ya, sekitar 3 cm itu yang aku ambil. Segera aku menuju meja pojok perpustakaan, disana hanya ada Guru penjaga perpustakaan yang selalu stay disana.


Aku fokus membaca buku kesukaanku ini hingga aku merasa ada yang sedang memperhatikan aku dari jarak jauh. Ah, palingan itu si nyamuk kebun yang ikut padaku.


Pikiranku semakin tidak enak saja, aku memilih meminjam buku ini dan ke kelas dan ternyata sudah ada kedua Sahabatku disana Carey dan juga Tasya.


"Eveline! Ya, ampun aku takut banget tahu pas kamu kesasar di hutan itu." Tasya langsung memeluk Eveline yang baru datang.


"Aku nggak kesasar kok! Cuma aku habis pipis terus aku nyari kalian tapi kalian nggak ada ya, sudah aku langsung ke rumah Saudara saja." Bohong Eveline karena tidak mungkin ia mengatakan sebenarnya.


" Bukannya kamu tidak punya saudara ya, Eve?" tanya Carey.


Saat itu Evelyn tidak tahu ingin menjawab apa untung saja otaknya cerdas.


"Oh, itu... itu teman, Mama aku yang sudah aku anggap seperti Saudara aku sendiri jadi kalian ini yang aku anggap Sahabat." Jelas Eveline dengan senyum canggung.


"Oh, gitu ya?"


"Hmmm...,"


Tidak lama Dosen datang dengan membawa anak baru, dia seorang laki-laki.


"Hello, selamat pagiii...," sapa Sang Dosen dan dibalas seruan oleh anak-anak kelas Eveline.


Demikianlah Sang murid memperkenalkan namanya.


"Hey, namaku Gheo Adji Pratama." Singkatnya.


"Baiklah, Gheo kamu duduk di sebelah, Eveline."


Duduklah Gheo di sebelah Eveline atas anjuran Sang Dosen. Pelajaran akhirnya dimulai.


Bel pulang akhirnya berbunyi, anak-anak kuliahan berhamburan pulang. Eveline sendiri tidak langsung pulang namun memanjakan perut dan mulut di kantin campus.


"Bu, nasi kuningnya satu sama jus alpukat satu!" Eveline memesan makanan dan minuman.


sambil menunggu pesanannya datang Eveline membaca buku yang tadi di berjudul 'THE LEGEND OF VAMPIRE' Iya membaca buku itu karena ceritanya sangat menarik dan disitu menceritakan sebuah vampir yang sudah legenda.


Tidak lama makanan datang tapi yang mengantarkan bukan Ibu kantin. melainkan adalah si anak baru tadi si Gheo.


Eveline melihat ke arah anak baru, Gheo dengan tatapan aneh.


"Gheo...," gumam Eveline.


"Ya, Eveline masih ingat aku 'kan? Teman SMA kamu yang dulu pernah suka sama kamu." Tanya Gheo mengingat masa lampau.

__ADS_1


Eveline memutar kembali ingatannya, sedangkan Gheo duduk di sebelah Eveline dan meletakkan nampan di atas meja.


"Ya, astaga kamu, Gheo yang suka mengirim surat kepada aku setiap hari sampai dimarahi oleh Guru?" tanya Eveline tertawa-tawa ketika mengingat masa itu.


" Akhirnya ingat juga aku kira kamu sudah lupa, Eveline he he he." Tawa kecil Gheo ciptakan.


"Ya, tidak lah, Gheo aku tidak akan lupa sama orang yang sudah berjuang mati-matian buat aku."


Gheo menjadi berbinar mendengar ucapan Eveline.


"Berarti kamu masih menghargai pengorbanan aku, dong?"


"Apa-apaan kamu? Aku itu tidak ingin memikirkan masalah seperti itu dulu aku ingin sukses dulu terus itu pacaran atau langsung menikah nggak apa-apa karena aku sudah kerja."


Gheo mendadak masam dengan jawaban dari Eveline.


"Kamu masih sama dengan, Eveline yang aku kenal, he he he." Senyum paksa Gheo lakukan.


Eveline hanya tertawa sebentar lalu memakan pesanannya sementara Gheo menumpuk kedua tangan dan memperhatikan Eveline yang sedang makan.


"Eh, Gheo aku pergi dulu ya, mau kerja soalnya." Eveline membuka suara.


"Hmm...,"


Gheo tidak menganggap lebih karena dia sedang fokus pada laptop untuk menyelesaikan tugasnya.


Eveline langsung menuju cafe kopi tempat biasanya ia kerja sebulan yang lalu, tiba disana Eveline langsung saja mengganti baju ala Pelayan cafe kopi.


Jam selesai bekerja 22:34....


Eveline membereskan semua gelas-gelas kotor di cafe itu sebelum ia beres-beres untuk pulang ke rumah.


Sudah 2 jam lamanya Eveline menunggu di halte bus namun satu pun tidak ada bus yang lewat, hal itu membuat Eveline memutuskan untuk berjalan kaki saja sampai rumah.


Eveline merasa ada yang mengikutinya dari belakang PS ia berbalik ke belakang untuk melihat dan ternyata itu adalah orang yang melihatnya di perpustakaan tadi di pikiran Eveline bukan lagi Vano maupun Ioan yang mengikutinya melainkan Eveline berpikir itu adalah seorang Psycopath.


Eveline berlari sekuat tenaga namun orang itu terlalu dekat dengannya, Eveline terus melihat ke belakang tanpa ia sadari Evelyn pun terjatuh di depan supermarket yang sudah tutup. Sepanjang jalanan sudah gelap-gulita dan hari pun sudah semakin larut dan sudah tengah malam.


Eveline melihat orang itu yang sepertinya ingin menancapkan benda tajamnya ke Eveline. Eveline memejamkan matanya karena sudah sangat takut dan berkeringat dingin.


Tiba-tiba...


Bzikkkkjjh


Suara pukulan seseorang terdengar jelas di telinga Eveline, Eveline tidak berani membuka matanya namun ia begitu penasaran.

__ADS_1


__ADS_2