Cool Tuan Vampire

Cool Tuan Vampire
Jurus Andalan


__ADS_3

Mentari pagi memancarkan sinarnya hingga menembus tirai-tirai horden, menyilaukan mata 2 insan yang tengah tertidur pulas di balik selimut tebal dan tak memakai sehelai benang pun.


Vano mengerjab-erjabkan matanya dan dia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, sekitar 15 menitan dia selesai dengan ritual mandinya.


"Ya, ampun!" desahnya pelan, Vano menggelengkan kepalanya menatap keadaan kamarnya yang tidak beda jauh dengan kapal pecah akibat antraksi semalam.


Eveline bangun dari tidurnya setelah Vano selesai memberi membereskan kamar.


"Jangan bangun dulu, Eve," ucap Vano mengingatkan.


Lalu Vano menggendong Eveline dengan selimutnya ke kamar mandi, sekitar 10 menit Eveline selesai dengan ritual mandinya damn Vano kembali menggendongnya.


"Vano?" panggilnya.


"Iya, Sayang, ini apa?" tanya Vano sambil memberikan sebuah surat.


Eveline membulatkan matanya, dia yakin sudah menyimpan surat itu di tempat aman namun Vano tetap menemukannya, untungnya surat itu sudah tidak bisa Vano baca lagi karena sebagian dari tulisannya menghitam terkena air minum yang tumpah.


"Ehh, itu bukan apa-apa! Kau tahu? Waktu itu Daniel datang kemari dan memberikan surat itu, jadi aku menyimpannya," ucap Eveline berbohong.


Vano hanya mengangguk mengerti.


"Eve, aku akan ke bawah untuk sarapan."


"Iya, ya sudah iya sarapan," ucap Eveline dengan suara linglung.

__ADS_1


Vano justru mengerutkan dahinya, seperti ada yang ditutup-tutupi dari dirinya. Agar Eveline jujur, Vano memakai jurus andalannya dan dengan cepat dia menarik pinggang Eveline.


"Ada yang kau sembunyikan dariku, Sayang?" tanya Vano.


"Engg... nggak! Aku nggak ada rahasia apa-apa kok!" Eveline gelagapan dan keringat dingin mengalir pelan di punggungnya.


"Aku bisa melihatnya Sayang," ucap Vano semakin yakin.


"Nggak ada! Kamu enggmmm--" ucapan Eveline tersengkal karena Vano ******* bibirnya dengan tiba-tiba lalu dimenit kemudian melepaskan nya.


"Mau jujur atau aku cium lagi?!" tanya Vano mulai merasa geram.


"Aish! Beneran nggak ada Vano!"


Lalu Vano kembali mencium bibir Eveline dengan rakus dan menidurkan Eveline di kasur King Zise, sehabis itu Vano melepas rengngutannya.


"Aku nggak ada rahasia apa-apa Vano Stevan Manhive!" Eveline menekan setiap kata-katanya.


"Berarti kamu mau kejadian tadi malam terulang lagi ya?" tanya Vano dengan tatapan menggodanya.


"Aku... aku benar-benar nggak ada rahasia apa-apa," ucap Eveline, keringat dingin semakin mengalir di punggungnya.


"Kamu bohong!"


Vano langsung mencium bibir peach Eveline dengan sangat rakus, ciuman itu tidak melewatkan leher Eveline yang jenjang, Vano membuat bercak-bercak merah menyala di leher putih itu.

__ADS_1


"Vano... udah! Iya, iya nanti aku kasih tahu!"


"Nggak! Nanti kamu bohong," ucap Vano dan kembali ke aktivitas awalnya.


"Udah Vano, aku geli! Iya, iya aku kasih tahu jujur," ucap Eveline semakin tak tertahan dengan kelakuan Vano.


Ucapan Eveline membuat Vano menghentikan kegiatannya dan beranjak dari atas sana, Eveline duduk di tepi ranjang.


"Jadi, kemarin ak--" ucapan Eveline kembali terhenti karena suara ketukan pintu kamar yang sangat keras.


"Arggh! Dasar kebiasaan!" Vano mengeram kesal.


Vano sudah tahu kalau di balik pintu itu pastinya Ioan Adiknya, tidak ada yang berani berbuat seperti itu kecuali Ioan.


Vano pergi membuka pintu, kupingnya serasa mau pecah dengan suara ketukan itu.


"Ada apa, Hah?!" tanya Vano dengan tatapan dingin.


"Ada Daniel yang ingin bertemu dengan Kakakku yang ganas."


"Mau apa pagi dia?" tanya Vano dingin dan tampa banyak basa-basi dia pergi menemui Daniel di Aula besar.


*Hayoo, apa yang Daniel mau? Bentar lagi akan ada kesedihan besar yang terjadi peperangan tunggal akan terjadi haha, penasaran? Ikuti terus kisah CTV ya.


Terima kasih atas semua semangat dan dukungan kawan semua, Author sangat senang.

__ADS_1


Jangan lupa jaga kesehatan ya Kawan, jumpa lagi di episod selanjutnya.


Baca juga karya Author lainnya ya, hehe*.


__ADS_2