Cool Tuan Vampire

Cool Tuan Vampire
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Vano dan Eveline sudah sampai di pintu Kerajaan Manhive namun mereka sudah disambut oleh pemandangan seorang gadis berjubah hijau sedang bersuha masuk tapi ditahan oleh prajurit Vano.


"Kenapa aku tidak boleh masuk? Aku adalah tunangan Vano!" gadis itu berusah menerobos masuk.


"Ah, Sayangku Vano... yuuuhuuu!" gadis itu terus berteriak-teriak.


Eveline mengerutkan dahi mendengar panggilan dari gadis itu yang mengatakan Suaminya Sayang.


"Siapa dia, Vano?!" Eveline menatap Vano tajam.


Vano mengangkat bahu acuh, namun segera memeluk pinggang kecil Eveline dan melangkah santai untuk memasuki kediaman Kerajaan Manhive.


Ketika melewati pintu Kerajaan Manhive dia melirik gadis yang tidak mengetahui keberadaan mereka karena sibuk dengan Prajurit.


"Ah, untuk saja Iblis licik itu tidak melihatku." Vano mengelus dadanya lega dan keringat dingin.


Eveline mengangkat alisnya.


"Kenapa kau? Memangnya dia siapa?" Eveline nyatanya penasaran siapa gadis Vampire yang di gerbang kediaman Kerajaan Manhive.


Vano menghela nafas gusar lalu menyuruh Eveline duduk di sebelahnya, tempat duduk seorang Ratu namun Eveline menolaknya dengan alasan dirinya belum pantas.


"Kau pantas Eve, karena kau adalah Istriku dan kau akan sebentar lagi jadi Ratu Manhive." Vano menarik tangan Eveline dan memaksannya untuk duduk di sampingnya.


"Sekarang katakan gadis itu siapa?" tanya Eveline tampa menoleh kepada Vano.


"Dia Clarissa Blacking, sesuai dengan nama belakangnya dia berasal dari Kerajaan Blacking." Vano menjawab sambil menopang dagunya.


Clarissa adalah Adik dari Daniel Blacking yang juga memiliki sifat licik dan jahat sama seperti Ayahnya juga Kakaknya.


Eveline tidak membahas lebih jauh, dia lebih memilih pergi ke kamarnya untuk mandi dan kemudian istirahat, mengejar penyusup dan berlari pulang membuatnya sedikit kelelahan.


"Ah, Vano di sini ternyata kau... ooh, Sayangku!"


Vano melotot mendengar sebuah teriakan dari Clarissa dia kemudian langsung lari menyusul Eveline ke kamar demi menghindari wanita murah itu.


Dengan nafas yang terengah-engah Vano menatap Evelind dengan penuh harapan, tepat pada saat itu Eveline sudah mandi dan memakai pakaiannya.


"Eve... tolong akuuu!" Vano memohon dengan penuh harap.


"Tolong apa? Ada siapa sih?" Eveline penasaran apa yang membuat Vano menjadi seperti itu.


Vano tidak menjawab dan malah langsung menarik Eveline di atas kasur.

__ADS_1


"Apa-apaan?!" Eveline terlihat kesal dengan tingkah Vano.


"Syutth... sudah kamu diam saja, sekarang kita akting lagi tidur bersama, cepat!" Vano menarik Eveline hingga mereka berdua terbaring di atas kasur.


"Memangnya ada apaan? Jangan mengambil kesempatan dengan berbohong padaku!" Eveline mengancam tajam, dia belum tahu apa yang sedang terjadi.


Eveline melepaskan diri dari Vano dan turun dari atas kasur dengan cepat.


"Itu... di depan ada anaknya Tuan Blacking, si Clarissa yang suka sampai kelewatan sama aku." Vano menjadi panik karena Eveline tidak mau mengerti juga.


"Cih, sok mantap sekali Vampire Iblis ini ya?" Eveline melipat tangannya di depan dada.


"Tolong Sayang. Tolong aku... aku nggak mau diajak jalan dengan dia!" Vano menghampiri Eveline dan langsung menggendongnya ala brydal style menuju kasur dan membaringkan tubuh mungil Eveline di sana.


"Heh, Vampire sok mantap! Ini terpaksa ya, Kau punya hutan budi dengan aku, ingat itu!" Eveline berbisik pelan dan kemudian memejamkan matanya bohong-bohongan.


Vano memeluk Eveline dan mencium keningnya dengan lembut.


Tidak lama kemudian, Clarissa masuk ke dalam kamar itu tampa mengetuk pintu sama sekali.


"Sayangg... kamu sedang apa dengan wanita murahan itu?!" Clarissa sangat histeris melihat Vano dan Eveline tidur dengan berpelukan mesra.


Clarissa lalu menghampiri Vano dan menginjak serta menggoyangkan tubuhnya sampai Vano mau bangun.


"Loh, Clarissa? Kau mau apa di sini? Sana keluar ganggu aktivitas aku saja!" Vano membuat dirinya seperti terggangu dan kesal dengan kehadiran Clarissa.


"Jaga ucapanmu, Rissa! Dia Istriku! Lihat kami sudah menikah, lihat cincin kami sama!" Vano menepis kasar telunjuk Clarissa. Urat-utat leher Vano muncul karena sangat marah dengan perkataan Clarissa.


"Emmh, ada apa sih ribut-ribut? Sayang, ada apa?" Eveline terbangun dan menangkup kedua pipi Vano.


'Kalau bukan karena ada Clarissa di sini, aku takkan mau berbuat seperti ini!' batin Eveline namun masih bisa dibaca oleh Vano, namun Vano hanya tersenyum manis.


"Ini, Sayang ada tamu tidak diundang yang datang di kamar kita. Maaf ya, kamu jadi terbangun." Vano ikut menangkup kedua pipi Eveline dan mencium sekilas bibirnya.


"Sudah, sana kau pergi! Nggak mengerti ya, kalau dari tadi disuruh pergi? Ooh, iya jangan lupa kunci pintunya." Vano mengibas-ngibaskan tangannya mengusir Clarissa.


Clarissa langsung pergi dari kamar itu dengan wajah yang masam serta kesal.


Vano masih memeluk Eveline, diam-diam tersenyum penuh kemenangan.


"Jadi... aku mesti bilang terima kasih dengan Clarissa kalau begini." Vano terkekeh pelan.


"Ooh, jadi kenapa kau menghindar dari dia kalau kau juga ingin bilang terima kasih, hah?!" Eveline memukul Vano kasar.

__ADS_1


"Karena... karena dialah yang membuat kamu menjadi romantis kayak tadi. Coba saja, Clarissa datang setiap hari... hum, nggak kebayang deh romantisnya kamu, ha ha ha!" Vano tersenyum semakin lebar membayangkannya.


Eveline langsung mencubit perut Vano dan membuatnya sedikit meringis kesakitan.


"Hihhh, percaya diri sangat kau jadi Vampire! Sudah begitu sok mantap sekali anda, aku seperti itu juga karena akting." Eveline kembali mencubit perut Vano tapi kali ini sedikit keras.


"Sebentar juga kamu akan seperti itu kok, Eve." Vano mengelus lembut pucuk kepala Eveline.


"Ya, sudah lepaskan aku, dikira tidak pengap apa?!" Eveline mendorong Vano dan membuat pelukan Vano lepas.


"Ayo keluar bareng supaya aku tidak diganggu dengan Vampire aneh itu."


"Kau duluan saja, nanti aku menyusul." Eveline sedikit acuh.


"Jangan, kamu harus jalan berdampingan dengan aku." Vano bangun dan berdiri di samping ranjang.


Eveline masih kembali berbaring dan pura-pura tidur.


"Ya, sudah kalau begitu, kau tunggu saja aku. Hoaam... ngantuk banget!" Eveline menutup tubuhnya dengan selimut.


"Tapi nanti kamu menyusul ya?" tanya Vano dan dibalas deheman oleh Eveline.


***


Vano berjalan menuju aula depan, terlihat Clarissa sedang termenung dan Vano tidak peduli itu. Namun na'as, saat Vano ingin duduk di singgasananya, Clarissa memanggil Vano dan otomatis Vano berhenti.


Tidak disangka-sangka oleh Vano, Clarissa bergelayut manja di lehernya layaknya wanita murah.


"Sayang... kamu belum menikah 'kan? Kamu janji akan menikah dengan aku kan Vano?" Clarissa terus merengek kepada Vano.


Vano melepas tangan Clarissa dari lehernya.


"Ck, aku sudah menikah dan aku sudah bahagia!" Vano langsung menuju atas singgasananya.


"Kau penipu, Vano! Kau bilang akan menikahiku!" Clarissa berlari mengejar Vano.


Sementara Vano menjadi bingung, kapan dia berjanji akan menikahi wanita itu? Jangankan menikahinya, melihat wajahnya saja membuat Vano jijik.


"Kapan aku berjanji padamu, hah?!"


***Hay, hay Reades...


Mungkin setelah beberapa hari aku tidak post cerita ini alasannya, kuotaku sudah mau habis hehe, tapi aku usahain deh.

__ADS_1


Oke, jangan lupa Vote dan Ikuti Author ya... satu Vote dapat bonus 2 Cerita dalam satu hari. Tip, bonus 5 cerita***.


Aku terimah kasih buat kalian yang sudah mau baca apalagi yang Vote serta like dan komen, aku merasa semangat membacanya. Makasih buat kalian semua.


__ADS_2