Cool Tuan Vampire

Cool Tuan Vampire
Psycopath Vs Raja Vampire Terganas


__ADS_3

Bzikkkgh


Suara pukulan seseorang terdengar jelas di telinga Eveline, Eveline tidak berani membuka matanya namun ia begitu penasaran.


Akhirnya Eveline pun membuka matanya perlahan lalu melihat siapa yang telah menyelamatkan nyawanya sungguh Eveline sangat berhutang Budi kepada seseorang itu.


Eveline membelalakkan matanya ketika ia tahu bahwa Vanolah yang telah menyelamatkan nyawanya.


Vano Pov ~~~


Dia kenapa belum pulang? Kan sudah tengah malam begini, Masa dia belum pulang dari kuliah? Apa ia menginap di rumah temannya? Mengapa perasaanku mendadak tidak enak begini? Ada baiknya aku mencari dia saja. Jika dia terluka aku juga terluka.


Di jalanan London yang sudah sangat sepi, pandanganku tiba-tiba tertuju pada seorang Pria yang ingin menusukkan benda tajamnya kepada seorang gadis yang sedang tersungkur.


Aku bisa mencium bau darahnya dari sini, dari bau darahnya aku tahu itu adalah Eveline Istriku.


Aku langsung menghampiri Eveline dan memberi pelajaran pada Psycopath kurang ajar itu. Siapa suruh mengganggu Istri orang. ~~~


Pertarungan diantara keduanya selesai hingga Psycopath itu sudah tidak berdaya nafasnya sudah ke senin ke kamis dan kamis ke senin.


Eveline berdiri dengan gontai serta nafas yang tidak beraturan juga keringat bercucuran di pelipisnya.


Eveline tersenyum dan langsung memeluk Vano dengan erat.


"Sudah tidak apa-apa, tenang aku ada di sini makanya kalau sudah pulang kuliah ya, langsung pulang jangan keluyuran dan tidak tahu waktu begini."


Vano mengngomeli Eveline dengan lembut sambil membalas pelukan erat Eveline.


"Makasih, Vano!"


Eveline langsung tidak sadarkan diri karena sudah sangat capek dan lesu. Eveline pingsan di pelukan Vano.


Vano langsung membawa Eveline terbang dengan cepat untuk pulang, ia lalu menidurkan Eveline di kasurnya.


Vano melihat wajah Eveline dengan lekat-lekat wajahnya sangat lelah seperti banyak sekali beban di pikirannya. Dari situ Vano mulai mengikat pikirannya kepada Eveline dengan cara ia mengosongkan pikirannya sendiri dan langsung mengambil semua memori yang ada di benak Eveline.


Saat Vano ingin keluar untuk mematikan lampu, Eveline sudah terbangun dari pingsannya.


"Vano kamu ingin ke mana? " tanya Eveline dengan nada pelan.


"Sudah Kamu tidur saja, kamu terlalu capek jadi istirahat saja. " Nada dingin Vano membuat Eveline sendu.

__ADS_1


Namun Eveline batu, Ia lalu mendudukkan dirinya di tepi ranjang.


"Van sini deh."


Eveline memanggil Vano dan memintanya duduk di sebelahnya.


"Apa?" tanya Vano dingin.


" Terima kasih sudah menyelamatkan nyawaku kalau nggak ada kamu mungkin aku sudah tidak ada lagi di...,"


Eveline tidak melanjutkan ucapannya ketika jari telunjuk kamu sudah ada di depan bibirnya.


"Sttth... kamu Jangan berbicara seperti itu, karena ketika kamu mati aku juga mati," ucap Vano yang tiba-tiba kalut dengan keadaan, yang tadinya marah karena Eveline sangat batu diperingatkan menjadi kalut dengan keadaannya.


"Tadi kamu bilang balas budi ya?" tanya Vano yang tiba-tiba semangat serta menaikkan 2 alisnya.


"Dasar kalau soal begituan cepat banget! " batin Eveline namun sekarang Vano dapat mendengarnya.


"Ya, iya cepat kalau soal seperti itu," sahut Vano cepat.


"Kamu bisa baca pikiran aku aku ya? " tanya Eveline dengan curiga.


"Iya, dong apa yang aku tidak bisa," ucap Vano dengan mengedipkan sebelah matanya ke arah Eveline.


"Sudah duduk di sini saja, Eve."


Vano menepuk-nepuk pahanya menyuruh agar Eveline duduk di sana.


"Untuk apa?" tanya Eveline bingung.


" Udah duduk saja dulu," ucap Vano meyakinkan.


Dengan ragu-ragu Eveline duduk di atas paha Vano dengan menghadap samping.


" Jangan ke samping kamunya. " protes Vano kepada Eveline.


"Menghadap mana? jangan macam-macam ya!!" ancam Eveline kepada Vano dengan tatapan sinis.


Dan vany mengangguk, Eveline lalu mengikuti kata-kata Vano dengan mengubah posisinya menjadi berhadap-hadapan dengan Vano.


Vano kemudian memeluk Eveline dan menyibak rambutnya hal itu membuat Eveline sudah tahu apa yang akan dilakukan Vano kepadanya ya, buat apa lagi kalau bukan menghisap darahnya.

__ADS_1


Vano menghisap darah Eveline hanya sedikit dan kemudian menghentikan aktivitasnya, Vano kembali memandang wajah cantik Eveline dengan dekat-dekat. fan memandang wajah Eveline dengan dekat hingga tidak ada jarak diantara wajah mereka, Eveline menundukkan kepalanya karena merasa gugup dan malu.


Lalu Vano memberikan kalimat yang membuat kedua mata Eveline melotot jantungnya menjadi lebih cepat dari sebelumnya.


'I LOVE YOU EVELINE '


15 kata di atas cukup untuk membuat jantung Eveline berdetak kencang dan membuat kedua pipinya memanas.


Eveline langsung berpindah-pindah tempat menjadi beberapa jarak dari samping Vano.


"Apa maksud dari ucapanmu tadi? "tanya Eveline dengan tatapan penasaran.


" Nggak ada maksud apa-apa kok, hanya aku mengungkapkan apa yang harus dikatakan," jawab Vano kepada Eveline.


"Terus?" tanya Eveline dengan mengangkat satu alisnya ke arah Vano.


"Ya, nggak ada terus-terus, aku hanya mengungkapkan apa yang sebenarnya aku rasa sama kamu kalau soal rasa kamu ke aku... aku tidak tahu karena itu urusan kamu. karena cinta tidak akan bisa dipaksakan."


Setelah mengatakan hal itu kepada Eveline, Vano melangkah pergi Tapi sebelum itu ia tidak lupa mengecup kening Eveline yang langsung membuat Eveline terdiam layaknya patung.


Seminggu lebih Vano, Evelyn, Ioan tidak banyak keluar rumah jika tidak Eveline tidak berangkat kuliah.


Tepat pada hari minggu hari dimana semua anak-anak kuliah maupun sekolahan libur ya memang itu adalah hari libur.


Eveline bangun agak kesiangan, Eveline bangun dengan menguncir rambutnya yang panjang ke atas dan berjalan ke ruang tamu untuk menonton televisi dan ternyata di sana sudah ada Yuan yang sudah lebih dulu menonton televisi, Eveline duduk di sebelah Ioan ikut menonton televisi.


"Eh, Eve kamu sudah bangun? " tanya yowan dan berhasil membuat Eveline tertawa pelan.


"Ha ha ha, Ioan... Ioan sudah lihat aku aku sudah bangun masih bertanya dengan pertanyaan konyol pula, ha ha ha aduh, lucunya ampun, ha ha ha ha ha!!"


Tawa paling lucu Eveline menggema di ruang tamu bahkan suara televisi dikalahkan oleh suara tawa Eveline, berbalik dengan exspresi Ioan yang menutup sebelah wajahnya dengan satu telapak tangan mencoba menutupi mikik wajahnya yang sudah merah muda karena malu pada Eveline.


"Aduh, maaf, Eve soalnya aku kira tadi kamu Kakakku jadi... begitulah aku bertanya hal konyol itu padamu, he he he he." Ioan ikut tertawa-tawa kecil mencoba mengusir rasa malu dan agar tawa Eveline sedikit pudar.


Benar saja, Eveline berhenti tertawa keras ia kemudian keadaan menjadi hening.


Eveline dan Ioan mengalihkan perhatian mereka ke arah pintu tempat dimana Vano berdiri dengan pakaian yang sudah rapi.


"Mau kemana?" tanya Ioan dengan tatapan bingung.


"Kita harus pulang ke alam ghaib sekarang, Kerajaan Darah Dingin ingin mengadakan peperangan dengan Kerajaan kita," jawab Vano dingin.

__ADS_1


Dukungan kalian sangat Author tunggu, di part sebelumnya akan ada cerita seru antara peperangan dan keadaan disana.


__ADS_2