
Eveline hanya tersenyum penuh kemenangan sebelum menuju kamar mandi dan Vano menuju pintu.
"Ada apa lagi, hah?!" tanya Vano dengan mata melotot, momennya di gagalkan oleh Asistennya sendiri Beno.
"Aku hanya ingin memberikan ini, Tuan Raja," ucap Beno memberikan kalung dengan hiasan cincin permata naga, Vano meraba-raba lehernya dan ternyata kalung cincin permata naga itu tidak ada di lehernya.
Vano memang menukar kalung Eveline, dia memakai kalung cincin permata naga sedangkan Eveline memakai kalung Naga hitam.
"Untung saja kau menemukannya, sudah tak ada perlu? Sekarang kau pergi mengganggu saja, huh!" Vano mendengkus sebal.
Beno pun pergi dengan perasaan bingung dengan sikap Vano, Beno tidak tahu kenapa dia disebut pengganggu.
Dhukk!!
Vano menutup keras pintu kamarnya.
"Jika bukan Asistenku sudah aku kutuk dia!"
Eveline keluar dari kamar mandi dengan piyamanya, Eveline terkejut saat ada yang memeluknya dari belakang.
"Eve," panggil Vano sambil menghirup wangi tubuh Eveline.
"Ada apa? Udah aku mau tidur," ucap Eveline melepaskan pelukan Vano dan menidurkan tubuhnya di kasur diikuti Vano, Vano memeluk Eveline.
"Good night," ucap Eveline sambil menghadap ke arah Vano.
"Cuman good night aja?" tanya Vano mengeratkan pelukannya.
"Terus harus apa?" Eveline balas bertanya, Vano hanya menggeleng pelan dan tidur.
**
__ADS_1
Pagi hari pun menyapa indahnya hari, Eveline dan Vano sudah berada di ruang meja makan bersama Cerey, Tasya tak lupa si Ioan.
Makan pagi berlangsung dengan hangat.
"Eve, kami berdua berniat untuk pulang sore ini," ucap Carey saat semuanya sudah selesai makan.
"Sebaiknya jangan dulu, setidaknya sampai Luke benar-benar sudah lenyap dari dunia ini!" peringat Vano.
"Tapi sampai kapan?" tanya Tasya.
"Nanti secepatnya akan aku kabari." Jawab Vano dan langsung beranjak pergi.
Vano pergi ke Aula besar ingin duduk di atas Singgasananya, namun saat Vano ingin menduduki Singgasananya dia sudah melihat Daniel duduk di kursi tamu sambil meminum segelas wine.
"Sejak kapan kau ada di sini?" tanya Vano dingin.
"Kurasa Adikmu sudah memberi tahumu jika aku akan kembali ke sini pagi-pagi sekali." Jawab Daniel.
"Ah, itu aku juga masih memikirkannya, tapi santai santai saja lah."
Meja Makan...
"Eve, aku dan Tasya mau berjalan-jalan di sekitar Kerajaan ditemani Ayuan, boleh?" tanya Carey meminta persetujuan.
"Tentu boleh Cerey, kalian bebas anggap aja Istana ini seperti punya kalian sendiri." Eveline menyetujui dengan antusias.
Dan Carey juga Tasya pergi berjalan-jalan di temani oleh Ayuan dengan wajah bahagia.
"Aku nyusul mereka ahhh!" kata Ioan ingin beranjak pergi dari sana.
"Ioan, kau laki-laki jangan macam-macam dengan Sahabatku!"
__ADS_1
"Aku pergi dulu!"
"Dasar Ioan!"
Eveline tersenyum-senyum sendiri, dia bisa melihat rasa cinta di mata Ioan.
Tiba-tiba ada seorang Pelayan yang menghampiri Eveline dengan membawa segelas jus mangga favorit Eveline.
"Ratu Eve, silahkan diminum jus nya."
Eveline mengerutkan dahinya, dia tidak memesan jus mangga dan terlebih Pelayan itu tidak pernah dilihatnya.
'Ah, mungkin dia Pelayan minuman baru.'
Eveline tersenyum menerima jus mangga itu dan langsung menenggaknya hingga habis.
Pelayan tadi langsung pergi entah kemana, tiba-tiba kepala Eveline terasa sangat berat lalu Evelyn memutuskan untuk pergi ke kamar merebahkan tubuhnya sebentar.
Belum sempat Eveline mengapai ranjangnya dia lebih dulu pingsan, sekitar 20 menit Eveline baru bangun dan saat itu pula kepala nya sangat sakit serta perutnya terasa sakit melilit-lilit.
Eveline dengan tenaga yang tersisa turun menuju Aula besar untuk menemui Vano, meski tertatih Eveline tetap turun dengan memegangi perutnya yang sakit.
Eveline menuruni tangga dengan perlahan-lahan, namun saat di tengah-tengah tangga Eveline merasa dirinya sudah tak kuat lagi, dia langsung tergolek lemas dan terguling ke bawah.
"Eve!"
Halo, crazy up tetap menunggu para Reades setia Author, hehe.
Yang memberi komentar pertama Author punya hadiah untuknya.
Bentar lagi CTV akan libur, karena Author kehabisan kuota. Maaf ya...
__ADS_1