Cool Tuan Vampire

Cool Tuan Vampire
Jangan Hisap Darahku!


__ADS_3

Carey dan Tasya masih di depan hutan itu dengan perasaan yang masih gelisah.


" Bagaimana ini, Rey? Eveline belum muncul-muncul juga! " Tasya menggigit bibir bawahnya dan pandangannya masih tertuju pada dalam hutan.


"Ya, sudah kita pulang saja dulu dan sesuai perkataan, Kakek tadi... kita disuruh pulang," kata Carey dan sebenarnya ia sangat khawatir dengan keadaan Eveline.


"Hah, kenapa pulang, Rey?" tanya Tasya yang merasa kesal.


"Ya, lebih baik kita tunggu di rumah saja."


Tasya yang sedang malas berdebat hanya mengangguk setuju dan pada akhirnya mereka berdua pun pulang tampa Eveline.


***


Malam telah tiba, Eveline yang tidak tahu jalan pulang menuju tenda menjadi pusing sendiri.


"Carey... Tasya!!"


Eveline meneriaki nama kedua sahabatnya dan terus berjalan walau gelap gulita, merasa capek Eveline berhenti sebentar untuk mengatur nafasnya.


Disaat Eveline berhenti untuk mengatur nafas, ia mendengar suara gesekan daun-daun dirimbunnya semak-semak. Eveline begitu penasaran pada semak-semak itu ia kemudian mendekati dengan pelan-pelan namun pasti ia melihat...


1


2


3


"Kosong?"


Eveline tidak menjumpai sesuatu di balik semak-semak itu, namun seketika perhatiannya teralihkan pada seorang yang berpostur tubuh tinggi tegap sedang jongkok di balik pohon besar dan memegang seekor kelinci, tunggu... Eveline tidak salah melihat orang itu menghisap darah seekor kelinci itu.


Eveline ngeri dengan orang itu, Eveline berjalan mundur hingga akhirnya kakinya menginjak ranting pohon.


Lelaki itu melihat ke arah Eveline dan menghampirinya perlahan.


"Aduh, parah banget! Itu orang apa bukan? Jangan-jangan dia semacam, Sumanto orang makan orang. Astaga aku tidak ingin mati sia-sia disini hanya karena orang itu!" batin Eveline.


"Sedang apa kau?!"


Lelaki itu memandang Eveline dari atas karena Eveline terduduk di tanah.

__ADS_1


"Aduh, jawab apa ini?" batin Eveline "anu, Tuan tadi aku tidak sengaja melihat, Tuan lagi makan eh minum darah si kelinci itu," jawab Eveline sambil menatap ke bawah dan Eveline terduduknya ia tidak berani memandang orang di hadapanya.


Bisa jadi wajahnya hancur atau matanya keluar seperti film-film horor yang biasa Eveline lihat di televisi.


"Apa ini adalah si pemilik darah yang manis dan harum itu? Harum darahnya sangat membuatku ingin menghisapnya. Apa kau melihat semuanya?"


"T-t-idak, tidak kok, Tuan! Aku janji tidak akan beri tahu orang lain asal jangan apa-apain aku ya, Tuan!"


Eveline menangkupkan kedua tangan di depan dada tanda memohon, Eveline juga mulai mengangkat kepalanya yang tadinya hanya menunduk menjadi menatap lelaki di hadapanya.


Blussshhh


"Hah, hantu kok ganteng? Ini sama apa yang aku jumpai kemarin sore tapi... bedanya ini wajahnya seram sepertinya dia pemarah." Eveline berkata batin yang tidak-tidak.


Lelaki itu yang ternyata adalah Raja Vano menaikkan satu alisnya melihat semua perkataan Eveline yang baru Vano dengar selama ia menjadi Raja Vampire.


"Aku tidak akan menyakitimu asal kau mau memberkan darahmu setiap tengah malam untukku," ucap Vano sambil memegang dagu Eveline dengan satu tangan.


"Jangan hisap darahku, Tuan Vampire!" Eveline langsung menepis wajahnya.


"Kau mau aku bunuh disini?!" Vano meninggikan suaranya.


Eveline menelan ludah seketika, bulu-bulu halus di tubuhnya ia rasakan berdiri karena kengeriannya.


"Kalau begitu... aku ingin meminta darahmu sekarang boleh?" tanya Vano dengan wajah dingin.


"Bo-boleh," jawab Eveline gugup.


Vano mulai mendekatkan dirinya menuju Eveline, semakin dekat... semakin dekat hingga tidak ada jarak diantara mereka.


Deru nafas yang tidak beraturan Eveline pun Vano rasakan. Vano menyingkirkan rambut-rambut indah Eveline dan menampilkan lehernya yang indah, Vano mendekap tubuh mungil Eveline dan mulai menancapkan taringnya disana.


Eveline mendengar suara seperti orang yang sedang minum air putih yang berteguk-teguk.


Vano tercenggang saat darah itu memasuki ruang mulutnya, beda dengan darah yang tadi ia minum. Rasanya tidak akan pernah tertandingi dengan darah yang lain. Vano sangat menginginkan Eveline, ini adalah darah yang selama ini Vano cari.


Eveline memegang baju yang Vano kenakan hingga baju itu sedikit kusut karena Eveline memegangnya sangat erat, mungkin sakit.


Setelah puas, Vano menghentikan aktivitasnya yaitu menghisap darah Eveline. Vano adalah Raja mandiri Ia lebih suka mencari mangsanya sendiri daripada darah yang dihidangkan oleh pelayan di kastelnya.


Vano mengelap darah yang tersisa di bibirnya, terlihat sekali wajah Eveline berubah menjadi pucat Pasi, seketika Eveline berkata...

__ADS_1


" Oh, iya kelinci yang habis kamu minum darahnya mana? Kenapa tidak dikubur Kasihan dong kelincinya! "


Vano menaikkan satu alisnya karena baru kali ini ada orang yang peduli dengan apa yang baru saja Vano lakukan tadi.


"untuk apa?" tanya Vano dengan wajah dingin.


"Kasihan dia juga ingin hidup tenang di alam sana, "jawab Eveline.


Vano menunjuk ke arah samping pohon besar tempat di mana jenazah kelinci itu, Eveline kemudian berjalan menuju ke sana.


Eveline menghampiri jenazah kelinci tadi dan jongkok di dekat jenazah kelinci itu, Vano juga mengikuti Eveline yang Jongkok di dekat Eveline.


"Oh, tuan bisa tolong galikan sebuah lubang untuk kelinci ini?" tanya Eveline dan menggendong kelinci itu.


Vano menatap Eveline Baru kali ini ia melihat manusia yang seperti dia, yang sederhana dan peduli dengan sekitar. Eveline juga Vano anggap tidak peduli dengan harta dan tahta seperti halnya yang Vano jumpai dulu-dulunya.


"Tuan apa kau mendengarkanku tidak? " tanya Eveline menghilangkan Lamunan Vano.


"Berhenti memanggilku, Tuan namaku adalah Vano Stevan Manhive panggil saja aku aku, Vano mengerti?! "


"Mengerti, Tuan eh, Vano!"


Vano memandang tajam kearah Eveline sebelum ia membuatkan sebuah lubang untuk kelinci itu.


Akhirnya kelinci itu pun selesai dikuburkan dan sekarang tangan, baju, dan celana Eveline kotor dengan noda tanah.


"Hufffft... akhirnya juga menguburkannya," ucap Eveline sambil berdiri dan Vano juga ikut berdiri.


Eveline tiba-tiba merasakan kepalanya menjadi pusing dan jalannya pun menjadi gontai. Tampa sadar Eveline pun pingsan namun dengan sigap Vano menangkapnya dan membawanya ke kediaman Manhive, tempat kastel Vano.


Vano membawa Eveline ke kastelnya dan hanya ada Ioan di sana. Ioan mencegat jalan sang Kakak lalu berkata...


" Tunggu bukannya ini... adalah, Eveline? " tanya Ioan memastikan.


Vano hanya menaikkan satu alisnya tanpa berkata satu kata pun.


"Kau pasti bertemu dengannya di hutan 'kan?" lanjut Ioan.


sekali lagi Vano tidak menggubris pertanyaan dari Ioan iya langsung menuju ke lantai 2 untuk membaringkan Eveline di sebuah kamar.


Vano langsung membaringkan Eveline dan menyelimutinya setelah itu, langsung keluar dari kamar itu dan meminta kejelasan tentang pertanyaan Adiknya itu.

__ADS_1


Sesampainya di ruang tamu Vano melihat Ioan sedang memainkan piano.


"Ioan Aku ingin berbicara denganmu kau datang ke ruang kerjaku," ucap Vano dan langsung pergi ke ruang kerjanya.


__ADS_2