Cool Tuan Vampire

Cool Tuan Vampire
Kekacaun Di Istana/Tuan Manhive


__ADS_3

Eveline dan Vano terkejut melihat keadaan Istananya yang berantakan serta kacau balau, Perajurit juga sudah banyak yang tumbang di sekitar Istana.


"Apa yang terjadi?" Eveline belum memahami keadaan Istana.


"Siapa yang menyusup dan membuat Istanaku seperti ini?!" Vano berteriak geram.


"Hay, Levano." Bersamaan dengan itu, seseorang memanggil Vano.


Vano melihat ke arah sumber suara yang begitu Vano kenali.


"Kauu...." Vano menunjuk sambil membulatkan matanya.


" Iya, Nak sudah lama tidak berjumpa. Apa kau tidak rindu dengan Ayah kesayanganmu ini?" tanyanya yang ternyata adalah Tuan Manhive, Ayah dari Vano.


"Cuihh! Aku tidak akan pernah rindu dengan seseorang pecundang sepertimu! " Vano begitu geram dan ingin langsung menghampiri Tuan Manhive.


"Tunggu, Vano! Tadi dia bilang dirinya adalah Ayahmu? Lalu kenapa kau berperilaku kasar dengan orang tuamu!!" Eveline bertanya dengan tajam.


"Dia telah membunuh Ibuku, Eve! Ratu Calsea!" Vano membentak dengan amarah yang meluap-luap.


"Bukan aku yang membuatnya meninggal, tapi memang Ibumu sudah harus mati di medan perang Putraku tersayang. " Tuan Manhive memasang wajah sok tersakiti.


"Lalu siapa yang membuat keadaan istanaku menjadi seperti ini, Hah?!" Vano bertanya dengan nada yang masih sama, terdengar kasar.


"Vano stop!! Stop berperilaku kasar terhadap orang tuamu, jika kau menyakiti mereka maka sama saja jika kau menyakiti diriku! " Eveline angkat bicara, dia sungguh tidak tahan mendengar nada bicara Vano.


"Benar apa yang dikatakan, Menantuku. Jika aku boleh tahu siapa namamu gadis manis?" Tuan Manhive mengangkat dagu Eveline dengan satu jari.


"Namaku Eveline."


Vano dengan kasar menepis jari telunjuk Tuan Manhive dari dagu Eveline.


"Jangan menyentuh Istriku!!" Vano memberi peringatan.


Tuan Manhive sedang menimbang-nimbang pemikirannya.


"Kauu... kauu... cucu dari Tuan Glade bukan?" tanya Tuan Manhive kepada Eveline.


Eveline memberi anggukan kepala tanda membenarkan ucapan dari Tuan Manhive.


"Oh, iya Ayah...,"

__ADS_1


"Jangan pernah memanggilnya Ayah, Eve!" Vano melirik tajam kepada Eveline. Hal itu membuat Eveline sedikit terkejut.


Vano menyuruh beberapa pelayan untuk membereskan kekacauan yang dibuat oleh Tuan Manhive.


"Kau sungguh beruntung Vano bisa memiliki apa yang tidak bisa dimiliki oleh vampir lain." Tuan Manhive sedikit merasa bangga.


"Jangan hiraukan ucapan, Ayahku. Ayo, kita ke kamar saja!" Vano menarik tangan Eveline namun Eveline menarik kembali tangannya.


"Kamarmu dan kamarku berbeda, bodoh!!" Eveline menahan kekesalannya.


"Apa?! Kalian tidur terpisah? Bagaimana bisa?!" Tuan Manhive syok mendengar ucapan dari Eveline.


Eveline dan Vano membelalakkan matanya dan saling bertukar pandangan.


"Tidak! Kalian harus tidur bersama dan tidak boleh berpisah! " Tuan Manhive melipat tangannya.


"Nggak! Nggak seperti itu maksudku, aku... aku... aku dan Vano juga dari kemarin t-t-idur bersama, he he he ya-h, kami tidur bersama." Eveline terbata-bata, dia sungguh merasa gugup.


"Ayah tidak percaya! Pokoknya kalian harus tidur bersama." Tuan Manhive memberi senyum dingin dan langsung berlalu pergi.


"Apa-apaan coba?! Malas banget aku tidur dengan si nyamuk kebun!" Eveline berlagak jijik.


"Itu semua gara-gara kau!!"


"Baik kalau begitu... nanti malam kau tidak usah tidur di dalam kamar, kau tidur di sofa saja!" Eveline langsung meninggalkan Vano.


Vano membelalakkan matanya saat kala Eveline menyebut dirinya tidur di sofa sedang Eveline sudah pergi mencari Ioan yang entah kemana.


"Ioan... Ioan... yuuhuu! Aissh, kemana Adik Vampire Iblis itu pergi?!"


Eveline bertanya kepada para Pelayan yang dia temui namun tidak ada satupun yang tahu keberadaan Ioan.


"Ehmm, aku di sini, ha ha ha!" Ioan datang dari balik tirai Istana dan mengagetkan Eveline.


"Astaga kaget aku! Em, Ioan ayo latihan!"


Ioan mengangguk dan membuat Eveline menjadi bersemangat.


Sesuai dengan janji mereka, Ioan akan melatih Eveline di belakang Istana Kerajaan Manhive.


"Eve, kamu pilih latihan apa dulu? Pedang atau penajaman indra pendengaran?" tanya Ioan ketika mereka berdua sudah tiba di belakang Istana.

__ADS_1


Eveline melihat-lihat pedang yang terlihat sangat tajam di tangan kanan Ioan, melihatnya saja membuat Eveline bergidik ngeri jadi Eveline memilih pelatihan ketajaman indra pendengaran saja.


"Baiklah jika itu maumu, pertama-tama kau harus menemukan seekor rusa yang berkeliaran di dalam hutan ini tapi kau tidak boleh berpindah tempat selain di atas batu itu kau hanya boleh memasang telingamu tajam-tajam, mengerti? " Ioan memberi tahu cara-cara dari pelatihan ketajaman indra pendengaran kepada Eveline.


Eveline menghela nafas pelan sebelum mulai berlari secepat kilat menuju atas batu besar yang Ioan maksud.


"Ini pasti mudah! Ayolah, Eveline kau pasti bisa melakukannya!" Eveline menyemangati dirinya sendiri.


Ioan tersenyum kecil melihat Eveline yang mulai memasang telinganya untuk mencari keberadaan rusa dari jarak jauh dalam hutan.


Bagi Ioan, dia tidak usah memasang telinga seperti Eveline tapi dia sudah bisa langsung menangkap rusa yang ada di dalam hutan.


Eveline sendiri mulai fokus, dia sudah bisa mendengar suara burung-burung kecil yang sedang berkicau dari jarak jauh, tikus hutan yang sedang makan buah, dan terakhir suara air yang menetes dari atas pohon.


Mata iris merah Eveline menyala, dia memandang ke satu arah dengan mengembangkan senyum lebar Eveline mulai berlari menuju arah itu.


Ioan ingin mencegah Eveline namun sudah terlambat karena Eveline sudah menghilang dari rimbunya pepohonan. Ioan hanya bisa menunggu Eveline kembali.


"Ah, semoga saja dia tidak menginjak perbatasan antara Kerajaan Manhive dengan Kerajaan Vampire licik itu!! " Ioan mulai sedikit cemas.


SLINGGG...


"Hey, Ioan aku sudah berhasil menemukan rusa!" Eveline tiba di hadapan Ioan dengan seekor rusa yang berukuran besar di tangannya, Eveline mencekik rusa itu.


Ioan mulai mengamati rusa yang ada di tangan Eveline sebelum dia memberi senyum bangga.


"Kau hebat Eveline! Ini adalah rusa yang sangat sulit ditemukan karena selain rusa ini tidak bisa didengar suara langkah kakinya dia juga sangat cepat dalam berlari bahkan aku tidak bisa menangkapnya selain Vano dan juga kau, Eve!" Ioan tersenyum bangga kepada Eveline.


"Ya, kau benar kalau rusa ini sangat cepat dalam berlari tapi bagiku dia hanya berlari seperti kelinci." Eveline memamerkan senyum sombong.


"Hum, satu lagi darah dari rusa itu sangat enak bagi Vampire." Ioan mengelus leher rusa itu.


"Benarkah? Jika begitu ambil saja rusa ini, aku juga tidak membutuhkannya." Eveline menyedorkan rusa itu di depan wajah Ioan.


"Ah, aku sedang tidak haus, Eve." Ioan menolak halus.


Eveline menarik kembali uluran rusa itu dan memanjangkan kukunya.


"Sedang tidak haus ya?" tanya Eveline tidak yakin karena jelas-jelas urat-urat leher Ioan kembang-kempis menandakan ia sedang haus darah dari rusa itu.


KREEKKK...

__ADS_1


Sekali cengkraman leher rusa yang masih digenggam Eveline berlubang dan mengalirkan darah segar karena kuku tangan Eveline.


__ADS_2