Cool Tuan Vampire

Cool Tuan Vampire
Aku Butuh itu!


__ADS_3

Tangan kanan Vano memeluk pinggang mungil Eveline dan tangan kirinya menyingkirkan rambut Eveline hingga leher menggoda Eveline terlihat.


Vano mulai menancapkan taringnya disana dan ia kembali merasakan kenikmatan akan darah Eveline yang tiada duanya diantara darah yang lain. Kini Vano menjadi pecandu darah Eveline.


Dimenit kemudian, Vano melepas taringnya dan upacara pernikahan serta pengambilan kekuatan telah selesai.


"Kini kalian sudah terikat darah yang sah kalian tidak boleh saling menyakiti dan tidak boleh berjauhan, apabila kalian berjauhan dan satu diantara kalian tidak kuat, kalian akan meninggal dunia."


Para Tetuah memberi peringatan sekaligus mengakhiri acara pernikahan, Vano dan Eveline mengangguk paham.


Tidak terasa malam hari pun tiba, Eveline berniat untuk masuk ke dalam kamarnya yang kemarin ia tempati.


Betapa terkejutnya Eveline ketika mendapati kamarnya yang berubah drastis menjadi warna merah gelap dan ada sebuah lukisan seorang pemuda yang memegang cawan darah merah pekat.


"Apa-apaan ini?! Kenapa kamarku menjadi warna gelap seperti ini? Siapa yang mengubahnya? Laknat itu orang, memang dasar tidak jelas!"


Eveline mengomel-ngomel tidak jelas, ia terpaksa masuk dan omelannya masih terus terdengar.


"Kenapa?" tanya Vano yang duduk di tepi ranjang King zise.


"Hello, Tuan sombong, Tuan dingin, dan Tuan tidak asik ini kamar aku ya, kenapa kamu ubah seenak jidat kamu?!" Eveline protes berat.


"Hey, ini juga kastel, kastel aku jadi... terserah aku." Vano menjawab santai ia tidak mau kalah dengan Eveline.


Eveline menjadi kesal, ia lalu menghampiri Vano dan berdiri tepat di hadapanya.


"Dasar, Tuan tidak tahu diuntung sudah aku tolong malah tidak tahu diri!" Eveline memberi tatapan menantang.


"Siapa yang tidak tahu diri?!"


"Ya, jelas-jelas kamu! Masih untung kamu aku tolong kalau tidak kamu pasti sudah mati sekarang, tidak berguna!" Eveline meninggikan nada suaranya.


"Kamu yang tidak tahu diri! Sudah aku beri tempat tinggal malah tidak tahu diri." Vano tidak ingin kalah juga.


"Siapa juga yang tidak tahu diri? Awal-awalnya juga kamu, kamu kenapa merubah kamar aku?!" tanya Eveline semakin geram.


"Hah?! Kamarmu? Ini kamarku!"


"Dari pertama kamu bawa aku kesini, ini sudah menjadi kamarku dan tidak akan berubah titik!"


Eveline langsung melangkahkan kakinya menuju atas kasur King zise dan bersiap untuk tidur.


Namun gagal karena Vano menangkap pergelangan tangannya dan memberi tatapan tajam setajam silet. Eveline juga memberi tatapan tajam pula.


"Apa masih kurang debatnya? Sudahlah aku ingin tidur, Vano. Kamu tidur saja di kamarmu aku mengantuk, lepas!" Eveline memelas diakhir katanya.


"Kamu tidur di luar!" suara dingin Vano membuat Eveline merinding.


"Oke, kalau itu yang buat kamu senang aku tidur di luar. Tapi aku pastikan kau akan menyesal!"


Eveline langsung keluar dengan rasa kesal dan campur aduk yang mengisi kepalanya.


"Huh, buat apa menyesal? Gadis yang merepotkan." Vano bergumam dan mulai membaringkan tubuh tinggi tegapnya di kasur King Zise.




"Awas saja, Tuan Vano menyebalkan itu! Dasar Vampire jelek, Vampire judes, Vampire iblis! Memangnya dia kira aku takut? Ah, tidak akan aku takut padanya sampai kapan pun. Ya, Tuhan... cobaan apa lagi ini? Yang pertama, aku harus menikahi Vampire iblis dan tidak punya hati itu dan aku tidak boleh jauh\-jauh darinya. Ya, ampun... kepalaku seperti ingin meledak saja."

__ADS_1



Eveline mengomel tampa henti karena sangat kesalnya pada Vano, ia juga terus berjalan tidak tahu arah.



"Ioan apa itu kau?" Eveline bertanya hati\-hati takut mahluk lain yang dilihatnya di pekarangan bunga malam\-malam begini.



"Eh, Eve kenapa di luar? Kan kamu seharusnya bersama, Vano dan ya, ini adalah malam pertama kalian 'kan?" tanya Ioan ketika Eveline sudah tiba di hadapanya.



Tidak disangka\-sangka oleh Ioan jika pertanyaannya membuat Eveline merinding sekaligus risih.



"Hih, tidak akan pernah aku ingin mengenal dan tidak akan pernah terjadi aku malam pertama dengan Vampire iblis itu, Ioan. Karena... lagi pula aku menikahinya karena gara\-gara kamu, aku takut kamu kehilangan, Kakakmu," jawab Eveline dan juga ikutan duduk di pekarangan bunga dekat Ioan.



"Tapi... kamu tidak boleh seperti itu, Eve."



"Hmm, Ioan... kamu bisa tidak mengantarkan aku ke kamar kosong? Kamar aku dipakai oleh orang yang tidak tahu diri soalnya." Eveline mengucapkannya tampa takut dosa.



"Siapa? Vano?" tanya Ioan sedikit terkekeh kecil.




Akhirnya Eveline diberi tahu kamar yang ia harus tempati dan ia pun langsung masuk ke kamarnya dan langsung berbenah diri lalu tidur di kasur King Zise yang empuk dan terasa nyaman.



~~~~*Pukul 00.00 malam*~~~~



Suara angin bergemuruh di luar dan diikuti oleh terbukanya jendela balkon dengan sendirinya serta gorden bergoyang\-goyang.



Tiba\-tiba saja ada seseorang terjatuh yang terjatuh dari balkon. Seseorang itu berpostur tubuh tinggi tegap dan berjalan gontai menuju Eveline yang sedang tertidur di kamarnya.



Seseorang itu tiba\-tiba saja terjatuh saat jaraknya sudah sangat dekat dengan Eveline, secara otomatis Eveline langsung membuka matanya dan tersentak duduk kemudian ekspresinya berubah menjadi biasa saja.



"Oh, Tuan angkuh. Mau apa kemari?" tanya Eveline dengan nada malas.


__ADS_1


"A\-a\-ku bu\-t\-uh it\-u...," ucapan Vano terputus\-putus dan tangannya terus memegangi lehernya yang terasa panas dan sakit.



"Jangan harap aku ingin memberimu! Punyaku mahal!"



Eveline kembali menidurkan dirinya di kasur tampa memperdulikan Vano yang sudah sangat tersiksa.



"Eh!" Eveline kaget ketika tangan Vano menariknya dan memeluk dirinya erat.



"Aku i\-ngin... darahmu!"



Eveline merasakan kedua pipinya memanas karena ia kira Vano ingin meminta malam pertamanya namun nyatanya Vano hanya ingin minum darah karena merasa sangat haus darah akhir\-akhir ini.



"Au..."



Eveline memekik kecil merasakan taring tajam Vano menancap di lehernya dan mulai meminum darahnya.



Vano sendiri melakukannya dengan lembut takut Sang Istri merasa sakit karena dia.



Sesudah menyelesaikan ritualnya, Vano melepas taringnya dari leher Eveline. Darah Istrinya sangat nikmat dan bekerja cepat dalam menyembuhkan rasa hausnya terbukti dengan hilangnya rasa panas dan sakit di lehernya.



Vano mengangkat tubuh Eveline dan membawanya menuju kamar tempat Eveline sebelumnya, ia bisa melakukan itu karena Eveline sudah tertidur pulas di pelukannya tadi.



"Selamat malam gadisku yang menyebalkan."



Vano tersenyum manis dan ya, itu adalah pertama kalinya ia tersenyum dalam ratusan tahun lamanya setelah Sang Ibu Ratu Calsea meninggal.



Vano meniggalkan Eveline setelah ia memberi ciuman lembut di kening Eveline, Vano pergi keluar lewat jendela balkon.



**Enjoyyy guys... selamat membaca dikit lagi akan ada cerita seru dan menegangkan disini. Akan ada peperangan disini. Ikuti terus cerita Cool Tuan Vampire ya...


__ADS_1


Jangan lupa Follow Author dan Vote untuk mendukung cerita, hargai penulis walau itu kecil**...


__ADS_2