
"Kau mengapa menyuruh Ioan untuk minum?!" tanya Eveline dengan suara tertahan.
"Dia kan laki, jadi harus ikut kayak aku jangan ikut kayak dengan si badjingan itu." Vano tertawa kecil dan memegang kepalanya yang sedikit pusing.
Plakk!!
"Terus saja menyebut Ayahmu badjingan, Ayah kamu itu nggak salah apa-apa!" Eveline sedikit emosi.
Vano hanya cengengesan tidak jelas.
"Kamu mau wine ya?" Vano menyedorkan winenya, Eveline menggeleng dan Vano merangkulnya.
"Dulu Mama aku juga suka minum. Oh, rasa wine ini sangat enak!" Vano kembali cengengesan.
"Emang aku harus ngikutin gitu?"
Vano membuang wine itu, dia membungnya sembarangan.
"Jangan buang ke sana nanti kebakar, bunganya bis--" ucapan Eveline tercekal karena Vano sudah menjentikkan jarinya hingga wine itu terbakar.
Vano menarik pinggang Eveline dan mengarahkan wajahnya ke leher Eveline, Vano menghisap darah Eveline untuk menetralisirkan mabuknya.
Sekitar 5 menit Vano melepaskan taringnya lalu beralih ke bibir peach Eveline, dia ******* habis bibir peach Eveline.
Saat Eveline dan Vano larut dalam berciuman ada seseorang yang melompatkan batu berbungkus sebuah kertas tepat ke kepala Eveline.
"Awwww!" pekiknya.
__ADS_1
Vano langsung melepaskan ciumannya dan mengedarkan pandangannya mencari orang yang telah berani melempar batu ke Istrinya, namun dia tidak melihat siapa pun. Tidak ingin menyerah, Vano pergi mencari orang itu sementara Eveline membaca surat pada batu tadi meski kepalanya berdarah dan sakit.
'Sahabatmu itu, keduanya ada di Kerajaanku. Jika kau ingin mereka baik-baik saja maka temui aku**!'
Eveline termenung setelah membaca isi surat itu.
"Apa maksudnya? Dan... siapa dia?" gumam Eveline.
Tiba-tiba Vano datang, Eveline langsung menyembunyikan kertasnya.
"Kamu nggak apa-apa 'kan Honay?" tanya Vano sedikit panik.
"Aku nggak apa-apa, cuma kepala aku sakit!"
Vano melihat ke arah kening Sang Istri dan itu menambah kepanikannya.
Vano langsung menggendong Eveline ala brydal style menuju kamarnya, Vano mendudukkan Eveline di tepi kasur.
"Tunggu di situ!" titahnya seraya pergi.
Vano kembali dengan obat P3K untuk mengobati luka di kening Eveline.
"Van... aku hauss!" lirih Eveline setelah diobati.
"Tadi disuruh minum wine nggak mau, huh!" Vano mendengkus sebal.
"Ini serius, akau haus!"
__ADS_1
Tampa basa-basi lagi, Eveline langsung menarik Vano dan langsung menghiap darahnya, dahaganya sungguh tidak bisa Evelyn tahan. Setelah selesai dengan kegiatannya, Eveline ingin beranjak dari sana namun Vano malah mendekapnya dan menggulingkan badannya.
Lagi-lagi Vano mencium habis bibir peach Eveline, Eveline sendiri terkejut setelah resleting gaunnya dibuka oleh Vano.
"Vano!"
"Ooh, ayolah Eve!"
"Coba saja kalau kau bisa!"
***
Tasya Pov...
Surat yang kudapat semakin membuatku takut dan juga membuatku lebih waspada, ternyata bukan aku saja yang diteror ternyata Carey juga ikut diteror. Malam ini, aku juga Carey masing-masing mendapat surat yang menyuruh untuk menemui Pria misterius itu di halte depan, karena dia bilang Eveline dalam bahaya dan dia hampir dibunuh.
Jadi aku dan Carey panik, sekitar 5 menit orang misterius itu datang. Aku tidak tahu rupanya karena dia memakai topeng, aku dan Carey masuk ke dalam mobilnya itu.
"Inikah orang misterius itu, Tasya?" tanya Carey berbisik padaku.
"Aku pun tidak tahu, Rey."
Aku bergidik ngeri sesampainya di tempat itu, aku merasa ada yang tidak beres dengan keadaan di sini, tempat ini sangat seram.
Carey berjalan di depanku, aku sangat takut...
**Hayoo, apa yang akan terjadi? Tunggu kelanjutan kisahnya ya...
__ADS_1
Jangan lupa beri dukungan ya pada CTV ya Reades yang setia, Vote, komen, dan like sangat mendukung CTV**.