
"Lepaskan aku Vano!" jerit Eveline meronta-ronta.
Biar Vano tak capek memeluk Eveline yang terus meronta-ronta itu, Vano menggulingkan tubuhnya jadi dia mengunci pergerakan Eveline.
"Awasssss! Ayuannn! Tolong!" Eveline berteriak namun apalah daya ruangan kamar itu kedap akan suara.
"Sekarang, jawab pertanyaan aku! Kamu diapain sama Daniel?" tanya Vano tajam.
"Aish, ngak diapa-apakan juga!" jawab Eveline jutek.
"Jangan bohong," ucap Vano semakin tajam.
Eveline menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya dengan kasar.
"Tadikan Daniel datang tuh bawa pedang sama jubah yang biasa kamu pakai, ya... aku pikir itu benar jadi aku berantakan semua isi kamar ini--"
"Lebay!" sahut Vano cepat membuat Eveline marah.
"Dasar ngak tahu diri! Coba aja waktu itu aku nggak nolongin dia pasti sekarang cuma tinggal nama dan aku nggak bakalan jadi mahluk seperti dia, biarkan saja aku menyusul Ayah sama Ibu!" batin Eveline tapi langsung dibaca oleh Vano.
"Memangnya kamu rela kalau aku mati waktu itu?" tanya Vano.
"Rela!" sahut Eveline, dia tidak terkejut atas pertanyaan Vano karena dia sudah tahu jika perkataan batinnya sudah dibaca oleh Vano.
"Benar kamu yakin?" tanya Vano lagi sambil menaikkan satu alisnya.
__ADS_1
"Ya, yakinlah," ucap Eveline jutek dan memutar bola mata malas.
Vano langsung bangkit dari atas tubuh Eveline dan menuju balkon kamarnya sedangkan Eveline memilih keluar mengambil minum.
"Dasar Istri nggak pengertian!" ketus Vano sebal.
Tak lama setelah Eveline keluar, Beno memasuki kamar tampa mengetuk pintu.
"Hormat Tuan Raja Vano," ucap Beno memberi hormat.
"Ah, ada apa Beno?" tanya Vano yang sebenarnya terkejut dengan kedatangan Asistennya yang tiba-tiba.
"Em, kapan acara penobatan Ratu Manhive dilaksanakan?"
"Besok malam dan ingat siapkan minuman yang sangat banyak," ucap Vano dan diangguki Beno.
Beno dengan cepat meleset melakukan tugasnya, takut Vano marah besar padanya.
Dulu Vano, Beno, Ioan juga Ayuan adalah Sahabat kecil, sejak kecil mereka selalu bersama namun karena sifat dingin Vano yang muncul saat kehilangan Ratu Chelsea tercinta membuat persahabatan mereka agak renggang.
Eveline memasuki kamar dengan membawa segelas air putih, saat masuk Eveline tak melihat Vano namun tidak terlalu Eveline ambil pusing, Eveline tidak tahu jika Vano bersembunyi di balik selimut tebal.
"Sudah menjadi kebiasaan si nyamuk kebon itu!" Eveline mendengkus sebal.
Eveline menidurkan dirinya di atas kasur tepat di samping Vano, Vano yang tahu Evelyn langsung memeluknya erat membuat Eveline kaget.
__ADS_1
"Udah dong jangan marah terus nanti cantiknya pudar," ucap Vano tepat di telinga Eveline, seperti berbisik yang membuat Eveline merasa geli.
"Siapa juga yang marah?"
"Benar nih nggak marah?"
"Iya,, emangnya apa gunanya aku marah?" tanya Eveline tertawa kecil.
Eveline berbalik badan menjadi menghadap Vano, jarak mereka sangatlah dekat.
Tiba-tiba saja leher Eveline terasa sakit dan perih, rasanya ada yang melilit-lilit di dalam sana.
"Awww... sakit!" keluh Eveline.
"Apa yang sakit Sayang?" tanya Vano panik dengan keadaan Eveline yang tiba-tiba mengerang kesakitan.
"Leher aku aduh, sakit banget Vano!"
Vano langsung mengerti kondisi Eveline sekarang, sekarang Eveline sedang dalam tahap meminum darah jadi dahaganya sangat kuat.
"Minumlah darahku agar lehermu tak sakit lagi Sayang."
Sungguh Eveline tak menolaknya, Eveline menaiki Vano lalu segera menghisap darahnya dengan rakus.
*Hey, Author lanjut karena dapat hotspot dari sepupu hehe, sungguh Author kekurangan kuota saat ini, Author mengharap ada kuota yang nyasar haha!
__ADS_1
Selamat berpuasa bagi yang melaksanakannya*....