Cool Tuan Vampire

Cool Tuan Vampire
Syarat Eveline


__ADS_3

Ioan sudah tidak kuat lagi menahan haus darahnya melihat darah dari rusa itu menetes secara bergantian di hadapannya.


"Ambil lah, Ioan!" Eveline untuk yang kedua kalinya menyedorkan rusa besar itu ke hadapan Ioan.


Ioan tersenyum canggung dan meraih rusa itu dari tangan Eveline dan kemudian membelakangi Eveline untuk meminum darah rusa.


"Aku Vampire tapi merasa tidak terlalu tertarik dengan bau darah huh, sedikit aneh." Eveline mengelus kukunya yang bersimbah darah rusa.


"Ioan kalau sudah selesai kita pulang ke Istana sebab ini sudah terlalu larut malam dan pasti banyak hantunya!" Eveline melihat-lihat sekitar dengan takut.


Ioan yang sedang fokus meminum darah mendadak tersendak mendengar ucapan dari Eveline.


"Aha, sorry, Ioan. Lanjutkan-lanjutkan, he he he." Eveline sedikit merasa bersalah.


Ioan menjatuhkan rusa yang sudah tandas darahnya ke tanah dan kemudian kembali menghadap Eveline.


"Ayo pulang!" Eveline mengangguk dan mengikuti Ioan dari belakang.


Saat mereka tiba di dalam Istana, Ioan dan Eveline melihat Vano yang sedang memarahi seorang Pelayan dan ingin menghabisinya, melihat itu Eveline tidak tinggal diam. Eveline berlari dan memeluk tubuh si Pelayan.


Vano sungguh kaget dengan kelakuan Eveline hampir saja dia menggunakan seluruh kekuatannya untuk membasmi Pelayan lalai di hadapannya itu.


"Kenapa hah?! Kenapa kau tak jadi menyerangnya?! Lakukan, ayo lakukan saja! Kenapa kau sehari saja tidak bisa berperilaku halus kepada semua Pelayan dan termasuk Ayahmu sendiri?" Eveline sungguh kesal kenapa Vano.


Eveline bangkit bersama Pelayan itu dan menyuruhnya pergi.


"Jangan harap kau bisa dapatkan maaf dariku, Vano!" Eveline berlalu pergi menuju kamarnya.


Vano mematung di tempatnya, mendadak hatinya perih dan sakit melihat Istrinya meneteskan air mata di hadapannya sebelum dia berbalk pergi.


Eveline berdiri di depan pintu kamarnya dengan kedua mata yang sudah berair, mata iris merah Eveline menyala serta kedua tangannya yang sudah memanjang kukunya.


"Buka!!"


Pintu kamar langsung terbuka sendiri sesuai keinginan Eveline.


DARRRRTT...


Pintu kamar kembali tertutup dengan keras membuat para Pelayan yang cukup dekat terkejut.


"Hiks... hiks... memang betul yang dikatakan oleh Julian kalau Vano itu memang Vampire Iblis!" Eveline menyeka air matanya dengan kasar.


Kedua pipi Eveline tergores dalam dan mengalirkan darah yang berbau bunga levender akibat kuku Eveline.


"Aku menyesal bangkit dari kematian jika takdir hidupku seperti ini, aku menyesal!!" Eveline sangat emosi membuat kukunya bertambah panjang serta tajam.


SRETT


SREETT!


Darah mengalir keluar dari goresan di pipi Eveline yang baru saja dia cakar sendiri dengan kukunya.


Eveline berdiri dan melangkah cepat menuju depan cermin, dia mengamati wajah tirusnya yang penuh luka gores.

__ADS_1


Eveline mulai memejamkan kedua matanya dan seketika itu pula semua luka goresnya hilang tampa bekas di seluruh pipinya.


"Ah, kenapa aku harus selemah ini dan bersifat bodoh? Ayolah, Eve! Kau pasti bisa mengubah takdirmu!" Eveline tersenyum tipis dan mengelus kedua pipinya.


Tidak lama Vano memasuki kamar tersebut tampa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Eveline tentu terkejut namun exspresi wajahnya kembali dingin. Vano duduk di dekat Eveline.


Eveline tidak membuka pembicaraan hingga Vano sendiri yang membuka pembicaraannya.


"Maafkan aku, Eve." Vano mengucapkannya dengan tulus.


"Hah, kau tidak dengar tadi? Aku tidak akan memaafkanmu." Eveline meninggalkan Vano dan berjalan menuju balkon kamarnya.


Vano menyusul Eveline dan memeluknya dari belakang.


"Yakin tidak mau memaafkan aku?" Vano bertanya lembut.


"Yakin!"


"Ohoho, baik! Aku akan di sini terus memelukmu sampai kau mau memaafkan aku." Vano meletakkan dagunya di bahu Eveline.


Eveline geram dibuat Vano, dia mulai berontak agar Vano melepaskan dirinya.


"Lepaskan aku!!"


Vano menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak mau melepaskan.


"Lepaskan aku, Levano Stevan Manhive!!" Eveline bertambah geram.


Eveline menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan gusar.


"Aku akan memberimu maaf jika mau menuruti satu syaratnya." Eveline mengembangkan senyum licik.


"Harus ada syaratnya ya? Apa itu?" Vano mulai penasaran namun dia sendiri berharap syaratnya tidak merepotkan.


"Syaratnya, kau harus bisa bersikap yang humoris, romantis, dan tidak pemarah serta tidak menakutkan. Tidak lama cuma satu hari saja dan kalau bisa selamanya."


"Oke, kalau itu yang bisa memberi maaf untuk kesalahan aku, tapi kau benar-benar memaafkan diriku ini?" Vano sedikit bernafas lega karena syaratnya tidak merepotkan dan mudah dia lakukan.


"Ya, dengan senang hati." Eveline mendorong Vano hingga pelukan Vano terlepas.


"Yes! I am promise Eve." Vano kembali memeluk Eveline dari depan dan mencium kening Eveline.


Saat ciuman itu ini ke bawah, Eveline mendadak menguap dan meleset ke atas kasurnya.


"Hoaam... aku sungguh sangat mengantuk sekali dan kau Vano tidur di sofa!" Eveline langsung menyelimuti dirinya dengan selimut.


Eveline terlelap tidur, namun kembali terbangun karena merasakan ada sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya serta terasa hembusan nafas di leher Eveline.


Eveline menengok ke arah belakang dan ternyata itu adalah Vano.


"Kau Kenapa di sini? Kau tidur saja di sofa Vano! " Eveline mendorong tubuh Vano namun nihil tubuh Vano tidak bergerak sedikitpun.

__ADS_1


"Nggak, Eve! Aku tidak mau, aku ingin tidur di sini dengan Istri tercinta aku. Kamu bilang tadi aku harus romantis 'kan?" tanya Vano kedua mata terpejam namun suaranya masih saja terdengar lembut.


"Argh! Kan bukan dengan diriku kau bersikap romantis tapi dengan para Pelayan, Prajurit, serta Ayah kau saja!" Eveline mulai sesak nafas dan merasa frustasi.


"Untuk apa aku bersikap romantis kepada mereka? Yang bisa mendapat kasih sayang dan keromantisan aku itu cuma dirimu, Eve." Suara Vano terdengar santai dan tampa beban berbanding terbalik dengan Eveline yang semakin frustasi.


"Arghh! Sudah, aku ingin tidur saja daripada berdebat dengan orang sinting!"


Eveline tidur membelakangi Vano yang mengembangkan senyum kemenangan.


Eveline dan Vano tidur dengan lelapnya tampa menyadari ada seseorang Vampire yang memperhatikan Eveline.


"Ternyata masih ada keturunan si Vampire tua itu di sini, Tuan Glade aku datang untuk cucumu, ha ha ha!"


Vampire itu meninggalkan sesuatu di dalam kamar sebelum melompat turun dari samping jendela dan pergi dari kediaman Kerajaan Manhive.


Dipagi hari yang indah...


Vano belum juga bangun tetapi Eveline sudah bangun dengan mata yang setengah terbuka.


"Hum." Eveline menguap kecil dan mengucek kedua matanya dan betapa kagetnya dia ketika mendapati wajah Vano tepat di depam wajahnya.


"Arrrrgghhhh!!" Eveline berteriak keras hingga membuat Vano terbangun dengan kaget pula.


Eveline meloncat turun dari atas kasur dengan nafas yang tidak beraturan.


"Kenapa kau tidur di sini hah?! Kamarmu ada di sebelah!" Eveline yang sudah berdiri di samping ranjang memarahi Vano.


"Ck, aku hanya tidur di sini, Eve."


"Bohong! Pasti kau berbuat macam-macam denganku bukan?!" Eveline menunjuk Vano dengan nada orang ketakutan.


Vano menatap Eveline dengan tatapan jahil membuat kedua alis Eveline mengerut.


"Ohoho, jadi kau ingin aku berbuat macam-macam ya?" Vano menyeringai dan berhasil membuat wajah Eveline berubah menjadi buruk.


"Argh! Sekarang pergi kau dari kamarku!"


"Kamarmu? Kamar kita Sayang." Vano melangkah menuju kamar mandi dengan seringaiannya.


"Jangan lama-lama! Jika lama... keluar aku akan mencabik-cabikmu!" Eveline memperagakan cara mencabik.


Tidak lama Vano berteriak dari kamar mandi.


"Eve samponya habis tolong ambilkan!" Vano menongolkan kepalanya.


"Ya, sudah tidak usah keramas!" Eveline berjalan pelan mengambil sampo dan memberikannya pada Vano.


Eveline berjalan menuju balkon dan duduk di sana.


"Eh, apa ini?"


Eveline yang berniat duduk menjadi tidak jadi, dia malah mengambil sesuatu di samping jendela.

__ADS_1


Eveline mengamati benda berbentuk buku kecil dengan gambar burung gagak yang sedang bertengger.


'BLACKING'


__ADS_2