Couple Soulmate

Couple Soulmate
25


__ADS_3

Mira berjalan mondar mandir, gelisah karna para sahabatnya belum kunjung datang.Ia bahkan menghiraukan keringat di pelipisnya yang kapan saja bisa merusak riasan wajah nya.


Mira berdecak sebal, padahal para sahabatnya itu sudah berjanji akan datang lebih awal, tapi nyatanya bahkan sampai sekarang batang hidung mereka saja belum jua muncul.


"Duh, Mir.Mama pusing lihat kamu dari tadi mondar mandir terus.Kamu kayak mau pawai ajah." Mira menatap sang ibu yang juga menatapnya dengan cemas.Ia berhenti dan melangkah kearah sang ibu.


"Mira lagi cemas mah.Syaki sama yang lainnya belum pada dateng mah."Ia menatap mamanya gelisah, menandakan gadis itu memang benar benar dilanda kecemasan.


Carmila menuntun sang anak agar duduk disampingnya.Ia mengelus sayang punggung sang putri,"kamu jangan cemas yah sayang.Karna mama yakin mereka pasti datang." Diakhir kalimat Carmila tersenyum hangat, memyalurkan semangatnya pada sang putri.


Mira menghela nafas pelan, ia menatap sang mama yang tersenyum hangat padanya membuat ia ikut tersenyum," Makasih, mah."


Carmila menganggukkan kepalanya,"kalau gitu kita turun yah, acara tunangan kamu sudah mau dimulai." Mira hanya menganggukkan kepalanya.


.............


      "*****, kita telat."pekik gadis cantik bersurai coklat itu.Ia menatap bangunan rumah didepannya yang sudah terlihat sangat ramai menandakan sedang ada acara.


Hana berdecak sebal, ia menatap Kia yang masih setia melihat keramaian."Gegara lo dan dandanan super lelet lo."


Kia spontan menoleh mendengar tudingan dari Hana,"What!!" Pekik gadis itu kembali.Ia ingin protes namun keduluan pendapat ceramah pedas dari Syakila.


"Jangan sok sok an pake bahasa alien dan sejenisnya jika cuma tau satu sampe tiga kata doang, ntar makhluk pengguna bahasa itu datang lo nya yang susah dan puyeng minta dikerokin." Usai mengeluarkan ceramah tak berpaedahnya, Syakila melangkah masuk ke rumah Mira meninggalkan para sahabatnya yang tengah meneriaki namanya.


...........


     Sampainya di dalam, Syakila, Hana,  Lily dan Kiandra berhenti tepat ditengah ruangan dan keramaian.Mereka bingung melangkahkan kaki melihat keramaian yang mengelilingi mereka, yang ada Syakila dan Hana sampai gagal fokus dengan hidangan di hadapan mereka.


"Anak konda gue meronta bahkan demo anarkis meminta diberi asupan gizi, mungkin disinilah saatnya perbaikan gizi."Syakila berkata sambil mengusap perut ratanya.


"Ha'a.Si caca ama si cici juga minta makanan." Hana melakukan hal yang sama dengan Syakila yaitu mengelus perut sambil menatap binar pada hidangan yang seolah memanggil nama mereka.


Lily terkekeh, sedangkan Kia sudah mendengus dengan menatap jengah pada kedua makhuk tuhan yang nafsu makannya dibatas overdosis,"Ck,kalian yaaah, kalo soal makanan bisa ngak jangan sampe gagal fokus.Ingat!! tujuan kita kesini buat Mira bukan makan."galaknya yang diabaikan oleh Syakila dan Hana.


Kia kembali mendengus, ia memilih menarik tangan dua insan yang sudah ia anggap gila karna makanan untuk mencari keberadaan alasan mereka disini.Lily dan Kia menajamkan penglihatan mereka dan tak berlangsung lama mereka menangkap.sosok sang dosen yang sudah dibaluti jas mewah yang membuat sang dosen semakin gagah nan menawan.Mereka berniat menghampiri sang dosen namun diurungkan kala melihat sosok yang mereka cari cari.Di tangga, Mira berjalan dengan anggun.Gadis itu benar benar sangat menakjubkan dengan gaun panjang silver senada dengan warna jas tunangannya dan heels hitam yang mempercantik tampilannya.Mira sungguh bagaikan sesosok tuan putri dari kerajaan dongeng membuat siapa saja yang melihatnya lupa berkedip.Bahkan Marcus sampai menahan nafas saat melihat penampilan sang tunangan yang begitu sangat memukau.


Sampainya dianak tangga terakhir, Mira disambut oleh Marcus.Kemudian mereka berjalan kearah panggung kecil yang sengaja dibuat.Dan dimulailah acara pertunangan Mira dan Marcus dengan mereka yang saling menyematkan cincin bergantian di jari manis sang pasangan.


Hana dan yang lainnya menghampiri Mira setelah mereka memastikan Mira tidak akan kedatangan tamu dan basa basinya."Mira!" Sang empunya nama menoleh.


Tanpa aba aba Hana langsung menerjang Mira, memeluk gadis itu erat.Mira teruyung kebelakang karna mendapat pelukan yang tak dia sangka dari Hana.Jika tubuhnya tidak di tahan Marcus dari belakang, bisa dipastikan ia dan Hana sudah tergeletak di lantai.


Mira mengelus punggung Hana pelan, lalu ia menatap sahabat yang lainnya yang hanya diam bak patung.Ia melepas pelukan Hana," Lah.Syaki, Kia ama Lily kok diam bae? Emang ngak mau pelukan yang ama gue." Gadis itu memasang wajah cemberutnya.

__ADS_1


Syaki, Kia dan Lily langsunng memeluknya.Mira tersenyum bahagia, sungguh hari ini ia sangat sangat merasa bahagia.Mereka melepas pelukannya dan tanpa sebab mereka tertawa bersama membuat Marcus yang sedari tadi hanya jadi penonton tak berbayar, mengeryit bingung.'dasa raneh' batinnya.


"Selamat yah Mira yang cantik dannn manis kayak bidadari dan tuan putri." Cerocos Hana, ia kemudian tercengir saat mendapati Marcus sang dosen menatapnya malas.


"Selamat yah ,Mir."Kia tersenyum hangat.


"Mira, selamat yah." Lily juga mengucapkan selamat, tak lupa juga senyum hangat yang dibalas Mira dengan senyuman tulus juga.


"Selamat buat Mira yang baik hati dan rajing menabung, semoga betah jadi tunangan pak dosen killer."di akhir kalimat Syakila melayangkan cengirannya.Mira hanya terkekeh, sedangkan Lily, Kiandra dan Hana sudah tertawa kecil membuat Marcus yang mendengarnya kepanasan.


'Tidak di kampus, tidak ditunangan saya.Kiki memang selalu menyebalkan,sangat.' Batin Marcus ingin menjerit, terlalu kesal dengan sang mahasiswi menyebalkannya.Dan entah kenapa tingkat menyebalkannya selalu bertambah di pertemuan seterusnya, termasuk dipertemuan saat ini.


Marcus menatap datar pada Syakila yang menjulurkan lidah padanya, ia berdecak semakin kesal.Tak lama Ia tersenyum senang saat mengingat kelemahan gadis itu,"Rafael!"panggilnya tiba tiba.


Dan Bravo!!


Syakila menatap Marcus horor, sedangkan yang ditatap sedang tersenyum menang.


Rafael yang merasa dirinya dipanggil, berbalik badan menghadap Marcus.Memang sedari tadi Rafael berada di belakang ,lebih tepatnya saling membelakangi dengan Marcus.Dirinya tengah berbicara pada salah satu tamu undangan Marcus yang kebetulan pernah menjadi partner bisnis nya.


"Ada apa?"Rafael menatap Marcus dengan datar.


"Sepertinya Syakila," Marcus menatap Syakila yang sudah memucat.Apalagi saat Rafael menoleh padanya, gadis itu semakin memucat." Ada apa Syakila.Kenapa kau terlihat pucat sekali?."Marcus berkata dengan nada mengejek, ia  melayangkan senyum kemenangannya membuat Syakila ingin menyumpah serapai dosennya itu.Untung Syakila masih ingat dosa.


"Efek lihat wajah bapak!"ketus gadis itu, tapi Marcus tetap mempertahankan senyum kemenangannya.


Syakila berhasil melenyapkan Rafael dari pikirannya kala melihat makanan yang berjejer rapi di meja panjang tepat didepannya.Ia menatap binar pada makanan yang seolah mengelilinginya.Karna di samping kanannya ada bermacam makanan berat dan di kirinya ada bermacam macam makanan manis dan penutup serta potongan buah.


Ia mengelus perutnya yang sudah meronta meminta diisi.Ia kembali menatap makanan yang menggoda dirinya, lalu perlahan matanya ia pejamkan.Gadis manis itu mengulas senyum manis dibibirnya, kemudian gadis itu menghirup aroma hidangan itu.Ia begitu meresapi setiap aroma makanan yang tercium indra nya.


Syakila mengeryit saat aroma selain makanan tertangkap indra penciumannya.Aroma itu jelas aroma parfum seorang pria dan Syakila pernah mencium aroma maskulin ini.Seketika mata Syakila terbuka saat ingat siapa pemilik aroma itu.Ia menelan salivanya kasar, dengan perlahan ia menoleh kebelakang dan mendapati Rafael yang sedang bersedekap menatap datar padanya.


Syakila menelan ludahnya kasar, batinnya menyumpah serapai Rafael yang tiba tiba datang menghancurkan imajinasinya didunia makanannya.Padahal yang lebih parah nya, Syakila belum mencobah bahkan menyentuh makanan di sekelilingnya.


"Ikut!!" Rafael mencekal lalu menarik tangan Syakila.Sedangkan gadis itu hanya bisa menurut saja.


.......


Syakila menggarut tengkuknya yang tak gatal, terlalu bingung dengan Rafael yang mebawanya ke apartemen pria itu.Gadis manis bersurai hitam pekat itu mendengus melihat Rafael yang mengabaikannya dan memilih fokus pada leptopnya .


"Pak, kita ngapain yah kesini?." Karna terlalu boring atau apa, tapi Syakila bertanya tanpa rasa gugup seperti biasa saat bersama pria itu.


"Rafael!"tegas pria itu, Rafael bahkan berkata dengan mata yang masih tertuju pada leptop nya.

__ADS_1


"Iya deh kak Rafael, kita kesini ngapain? bosan lohhh." Syakila menyandarkan punggungnya pada sofa yang sangat empuk menurutnya.Jika sofa ini ada di kontrakannya mungkin sofa ini akan menjadi tempat favorit gadis manis itu.


Rafael menatap Syakila datar, tak suka jika Syakila memanggilnya dengan embel embel apalah.Sedangkan gadis yang ditatap malah melayangkan cengirannya," cukup Rafael.Jangan memakai embel embel pak, kak atau apapun itu."suara rendah namun dingin nan menusuk milik Rafael, mengalun ditelinga gadis manis itu.


Syakila menegug salivanya kasar, kemudian menggaruk pipinya yang tak gatal.Syakila menghentikan tangan nya yang menggaruk pipinya karna tangannya di cekal oleh Rafael,"jangan melukai dirimu sendiri !" Rafael menatapnya tajam.


Syakila mengangguk,"i..iyah kak."


Syakila menatap Rafael yang semakin menatapnya tajam dan Syakila tau penyebabnya,"maaf, saya ngak bisa manggil kakak dengan nama saja.Terlalu ngak sopan."tuturnya.


Rafael diam, memilih melanjutkan pekerjaannya mengabaikan Syakila dengan sumpah serapanya yang hanya bisa dikeluarkan dalam hatinya saja.


Bosan didiami dan tak di gupris Rafael, Syakila memilih mengamati apart pria itu.Syakila melogo menyadari sekarang ia tengah berada di apart yang menurutnya sangat mewah dan elegan.Apartemen milik Rafael sungguh cocok dan disukai gadis itu, apalagi warna dominan di apart Rafael adalah warna favorit gadis manis itu yaitu warna abu abu.


Syakila tersenyum, menurutnya apart Rafael ini sangat tempat tinggal-able bangat.Bahkan kejenuhannya dan keboringannya langsung hilang hanya dengan menatap dan mengamati ruangan apart ini.Ia bahkan tak menyadari Rafael yang sudah selesai dengan pekerjaannya  dan kini sedang memgamatinya.


"Kau tersenyum." Kata Rafael tiba tiba, membuat Syakila spontan menoleh padanya.


Syakila mengeryit bingung,"a..apa salahnya."ucapnya menatap Rafael.


Rafael dan Syakila saling menatap beberapa detik.Kemudian Rafael tersenyum membuat Syakila terkejut sekaligus terpesona.Menyadari dirinya yang larut dalam pesona Rafael, Syakila segera membuang muka.Ia bergeser sedikit, mengedip edipkan matanya dan bersedekap, tak menyadari pergerakannya di amatai oleh Rafael.


Brug!!!


Syakila dan Rafael spontan menoleh pada pintu, memperlihatkan seorang pemuda sedang berdiri dengan terkejut disana.


"Syakila!" "Kak Nathan!". Seru mereka bersamaan.


Nathan menghampiri Syakila, ia menatap gadis itu heran lalu beralih pada pemilik apart itu," bang! Syaki kenapa ada disini?."


"Bukan urusanmu!"Rafael berkata datar.Kemudian Rafael menatap Nathan tajam menuntut penjelasan alasan Nathan datang ke apartnya.


Nathan menggaruk tengkuknya yang tak gatal," aku hanya ingin main kesini saja." Ia meremang kala melihat tatapan sang kakak semakin tajam.


Rafael mendengus, lalu beranjak dari sana meninggalkan dua insan yang menatap nya bingung.


Syakila menatap punggung Rafael yang akan memasuki ruangan yang Syakila tebak adalah ruang kerja pria itu.Kemudian gadis itu menatap Nathan penuh harapan.


Nathan menatap Syakila penuh dengan tanda tanya," kamu kenapa ada disini?"


Bukannya menjawab Syakila malah balik bertanya," kak Rafael abang kamu,yah? " Nathan mengaggukkan kepalanya.


"Oke.Gue bakalan jawab semua pertanyaan lo asal lo bawa gue pergi dari sini."tutur gadis itu memberi penawaran.

__ADS_1


Nathan menaikkan alisnya, ia menatap Syakila datar membuat yang ditatap mendengus kesal.Tak lama Nathan menganggukkan kepalanya.Dan penuh semangat, Syakila berdiri dan menarik Nathan pergi dari sana.


.....................


__ADS_2