
"*Tapi Li, ini kan kamar aku juga. " ucap Hana hati hati takut menyinggung perasaan Lily kembali.
"Lily ngak peduli, sekarang Hana KELUAR!!"
Dengan buru buru Hana beranjak dari sana dengan menutup telinganya, tak menyangka Lily akan semenyeramkan itu kalau sudah marah*.
...............
"Gue saranin yah Mir, lo itu harus hati hati ama buk Nita yang super duper centil itu." Mira menautkan alisnya menatap Kiandra bingung, tak tahu maksud dari perkataan gadis itu barusan.
"Maksudnya?"
"Ck, buk Nita itu suka ngedoda. Apalagi pria tampan dan mapan seperti Pak Marcus and the geng s. "
"Marcus and the gang's? " beo Mira.
"Ck, maksud gue tuh kayaknya target buk Nita selanjutnya itu Pak Markus, Pak Rafael ama Pak Atif. "
"Oh. "
"Oh doang, njirr!!! Lo ngak takut kecolongan apa? " heboh gadis bersurai coklat gelap itu.
"Ngak juga, buk Nita mah bukan saingan akgohh." Ujar Mira dengan pedenya membuat Kiandra mendengus.
"Um...kita ambil yang mana yah. Shampo anti ketombe atau perawatan rambut rusak? " Mira mengangkat dua botol shampo didepan Kiandra.
Mereka berdua kini sedang berada di mini market untuk belanja keperluan mereka sehari hari. Mira memang kembali akan tinggal dengan mereka dikarenakan ingin menghabiskan waktu bersama para sahabatnya sebelum ia benar benar resmi menjadi istri Marcus.
Kiandra memutar bola matanya malas, "shampo anti kutu ajah sekalian." Ucapnya asal.
"Yehh!! Ngak ada sukimin. Yang ada shampo anti kejombloan, nih buat lo." Dengan kesal Mira menaruh shampo anti ketombe ke tangan Kiandra dan berlalu dari sana.
"****, gua ditinggalin. Woi Mir!! tunggu napa." Kiandra berteriak.
"****!!" Mira menggerutu, kesal karna mungkin efek dari pms.
Buhgg!
"Eh sory sory! " Ucap Mira merasa bersalah, karna tak sengaja menabrak bahu seorang wanita.
Wanita itu mendongak, ia tersenyum manis membuat Mira yang juga seorang wanita terpesona akan senyum milik wanita didepannya itu.
"Tidak apa apa." ucap wanita itu ramah.
Mira tersenyum canggung, selain cantik ternyata wanita yang ia tabrak itu juga sangat ramah menurutnya, "sekali lagi maaf yah Kak."
"Iya, lain kali hati hati yah. Permisi! " sebelum pergi wanita itu masih sempat melayangkan senyum manis nya.
"Siapa, Mir? " tanya Kia yang baru datang.
Mira menoleh pada Kia, "ngak tau, tapi sumpah tuh cewek cantik banget!! anggun lagi, kayak bidadari gituh. "
Kia mengusap dagu nya, ia menatap punggung wanita yang ditabrak Mira tadi, "humm, gue jadi penasaran ama tuh cewek. " tutur nya.
Mereka kembali berjalan menelusuri rak rak makanan, "gilak!! Seyumannya tuh manis banget. Betis ama senyum Syakila kalo lagi seneng." Mira kembali memuji wanita yang ditabraknya tadi, membuat Kia yang menjadi pendengar mulai bosan dan jengah.
"Manisan senyum Syakila kemana mana lah. Yah, walau tu anak kadang rada errornya. " balas Kia yang mulai panas karna Mira sedari tadi masih membicarakan wanita yang ia tabrak.
Mira memasukkan beberapa macam cemilan secara asal asalan ke dalam keranjang belanjaan mereka, "umm, sepertinya gue harus liat senyum Syaki deh habis pulang dari sini. Biar gue buktiin senyum siapa yang paling manis."
Kiandra menatap horor pada Mira, "pliss deh jangan gilak!! " ucapnya.
.........................
"Ck, kita telat!! " Pekik Hana tertahan. Ia menatap nanar pada pintu kelas yang ditutup.
Kiandra menghembus nafas pasrah, "padahal kita udah janji ngak bakalan telat lagi di matkul pak Marcus."
Mira, Lily dan Hana menganggukkan kepala mereka dengan lesuh. Mungkin pagi ini akan menjadi pagi terburuk para gadis untuk kesekian kalinya.
Syakila menguap, ia benar benar merasa ngantuk. Tadi memang ia tidak terlamabat bangun, tapi semalam ia terlalu larut untuk tidur. Ia tidur setalah jam 2 pagi, karena ia masih bergelut dalam pikirannya. Dan efek dari begadang nya adalah ia yang masih merasa kantuk berat, mungkin jika bukan karna Hana yang datang pada jam 4 pagi untuk pindah tidur dari ruang tamu mungkin Syakila sekarang masih di pembaringan.
Yah, semalam Hana tidur di ruang tamu dikarenakan Lily yang merajuk padanya. Tapi tenang, sekarang mereka sudah damai alias baikan. Masalah nya sekarang mereka terlambat dan tak ada satupun diantara mereka yang berniat untuk menemui sang dosen didalam sana.
"Mir, lo masuk duluan gih! " Suruh Hana dengan mendorong pelan bahu Mira.
Mira mengangkat alisnya, "lah kenapa harus gue?! " protes gadis itu.
"Lo tunangan si Pak Memar eh pak Marcus maksudnya. Jadi nanti kalo lo yang masuk duluan kita bakalan gak di semprot pake herbisida atau disuruh nutup pintu dari luar. " jelas Kiandra yang mendapat anggukan dari Lily dan Hana. Sedangkan Syakila lebih memilih bersandar didinding dan menahan kantuk nya.
"Teori dari mana yang anda sebutkan tadi? " spontan mereka semua menoleh kesumber suara, termasuk Syakila dengan mata sayunya.
Disana, tepat dipintu sudah berdiri Marcus dengan bersedekap menatap mereka dengan datar dan saat tatapannya bertemu dengan sang tunangan ia menatapnya tajam.
"Eh Pak Marcus! " Hana tersenyum kaku dengan berdiri dengan kaku juga.
Marcus mengabaikannya, lebih memilih menatap Mira yang sudah bergerak gelisah, "jadi kalian melanggar perjanjian yang sudah disepakati bersama? "
Mira mendongak menatap Marcus dengan muka memales andalannya, "maaf Pak!! Kali ini ajah Pak bolehin kita masuk. Besok besok kita berusaha ngak telat. " ia berkata penuh harap.
__ADS_1
"Basi!! " Ucap Marcus dengan nada datar.
"Please Pak!! Hari ini saya sama Kiandra presentasi. Kalo Bapak ngusir kita, nilai kita hangus dong Pak. Pliss, Pak!! " Mohon Mira.
"Saya tidak peduli. Toh itu karna kesalahan kalian."
"Pak!!! " Kali ini Mira mengeluarkan puppy eyes nya, ia menautkan tangannya di depan wajah nya.
Marcus berdecak, tak tahan melihat ekspresi menggemaskan tunangannya itu. Rasanya ingin sekali ia membawa gadis itu ke KUA.
"Kali ini saya toleran. Tapi kalian tetap mendapatkan sanksi. Setelah mata kuliah saya selesai kalian harus membersihkan ruang saya."
Dengan cepat mereka hanya mengaggukkan kepalanya. Menurut mereka membereskan ruangan Marcus itu bukan hukuman yang sulit. Pasalnya ruangan Marcus kan terkenal bersih dan rafi.
"Masuk!!"
.................
"Kita kekanti dulu, guys. Habis dari kantin baru ke ruangan Pak killer. " usul Hana yang mendapat persetujuan penuh dari Syakila yang sudah sangat kelaparan.
Kiandra berpikir sejenak mempertimbangkan saran dari Hana, "oke deh, lagian kita hari ini cuma masuk 2 sks ajah, matkul Pak Marcus doang."
"Oke deh. " Mira mengacungkan dua jempol nya sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Tapi kan kata Pak Marcus setelah keluar langsung keruangannya. Trus kalo kita kekantin nati Pak Marcus nungguin giamanah, trus hukuman kita ditambah gimana?? " tutur Lily yang takut dihukum lebih berat karna melanggar kesepakatan mereka dengan sang dosen lagi.
"Tenang Li, kalo kita dimarahin tinggal nyuruh Mira ajah yang tanaganin. " Ucap Hana dengan menarik tangan Lily dan mempercepat langkah mereka.
Sampainya di kantin, mereka duduk di tempat biasa. Mira pergi untuk memesan makanan dan tak lama ia datang mebawa pesanannya.
"Widihhh!!! " Syakila menatap makanan pesanannya dengan mata berbinar. "Selamat makan!! " ucap nya lalu melahap makanan nya.
"Ada dosen baru, guys."
"Cewek apa cowok ?"
"Cewek."
"Cantik, njirrr!! Bodinya adu hai."
"Eh, serius?? "
"Iya, masa gue boong."
"Yah...ada saingan baru dong buat dapetin Pak Marcus."
"Gosipnya tuh dosen ngajar disini buat ngejar cintanya."
"Siapa??"
"Muda mudahan bukan Pak Marcus."
"Gosipnya juga tuh dosen emang ngejer Pak Marcus."
"Anjirr! Saingan baru yang berat tuh."
"Trus tunangan pak Marcus itu giamana dong. Tuh dosen mau jadi pelakor? "
"Tapi gosip nya juga dosen baru tuh tunangan pak Marcus, karna sempat ada yang lihat mereka deket banget. "
"Lah tapi gosibnya tunangan Pak Marcus tuh salah satu mahasiswa disini. "
"Ya...kan gosib. Mana yang bener kita ngak tau."
"Trus tuh dosen masuk ke anak menejemen ngak? "
"Ngak lah, dosen baru tuh cuma masuk ke fakultas kedokteran doang. "
"Oh."
"Legah!! Setidaknya masih ada jarak diantara Pak Marcus dan dosen baru itu. Gue masih bisa caper deh.."
"Cihh..Pak Marcus itu milik gue."
"Pede."
Hana mendengus mendengar sekumpulan gadis disamping mereka yang sedang menggosip. Namun ia memilih diam mendengar karna gosip para gadis itu terlalu menarik. Mira juga melakukan hal yang sama dengan Hana, mendengarkan gosip ria dari pada para mahasiswi disamping mereka.
Entah kenapa, hati Mira sedikit cemas mendengarkan perkataan para gadis itu. Ia menjadi kawatir jika suatu saat nanti Marcus akan kepincut dengan dosen baru yang katanya itu cantik dan seksi.
"Jangan didengar, Mir! Gosip murahan doang! " Syakila berkata masih dengan fokus pada makanannya.
Mira menoleh pada Syakila yang memakan lahap baksonya. Kemudian gadis itu mengangguk dan kembali memakan mi gorengnya. Ia senang dengan sikap Syakila yang seakan lupa dunia saat menikmati makanan, namun nyatanya gadis itu tetap perasa dan memperhatikan sekitarnya terutama sahabatnya.
.......................
"Ketuk Mir !! " Perintah para gadis itu pada Mira untuk mengetuk pintu ruangan sang dosen killer.
"Iya, sabar dong!! " Kesal Mira, ia segera mendekati pintu yang entah mengapa sangat menyeramkan baginya, tangannya terulur mengetuk pintu. Namut gadis cantik bersurai coklat itu tiba tiba berbalik badan membuat para sahabatnya gereget dengannya.
__ADS_1
"Jangan dorong gue!! " peringat Mira dengan waswas, takut Syakila mendorongnya seperti sebelumnya.
"Iyahh!! " ucap Lily, Hana, Kiandra dan Syakila setengah kesal dan gemas dengan Mira yang seolah olah mengulur waktu, membuat mereka geregetan sendiri.
Mira dengan gerakan kaku mengetuk pelan pintu itu, tangannya sudah gemetar membayangkan Marcus yang sudah kesetanan didalam sana karna mereka yang duluan kekantian.
"Yang kuat, dodol wajid! "geregat Hana.
Namun Mira malah mengetuk nya lebih pelan dari sebelumnya, ketukannya bahkan tak mengeluarkan suara. Syakila yang sudah geregetan sejak tadi melakukan aksinya seperti yang kemarin kemarin. Ia mendorong Mira tak terlalu kuat tapi berhasil mendorong pintu itu juga membuat Mira terdorong masuk.
Marcus yang sedang menghabiskan waktu dengan berbinacang dengan para sahabatnya dan mahasiswa yang sengaja ia undang sambil menunggu mahasiswi yang akan ia kenakan hukuman menautkan alis melihat Mira yang lagi lagi muncul dengan gaya tiba tiba.
"Lagi? " ucapnya dengan menatap Mira datar. Sedangkan gadis itu hanya berdiri kaku dengan cecengesan.
"Yang lainnya mana? " Tanya Marcus.
"Di..luar Pak."
Dan tak lama Kia, Hana, Lily dan Syakila muncul secara bersamaan dengan menyapa Marcus serentak, "siang menjelang sore, Pak! "
Marcus hanya berdehem, "hmm."
"Jadi mereka yang sedang kau tunggu, Cus." Marcus kembali berdehem sembari menatap Atif.
"Kalian benar benar tidak tahu cara menghargai waktu. Tadi saya menyuruh kalian datang kesini setelah selesai dengan mata kuliah saya. Tapi kalian baru datang, " Marcus mencek hp nya untuk melihat jam sekarang.
"Sekarang sudah jam 15:15 dan tadi mata kuliah saya selesai sekitar 10:40. "
Hana, Lily, Mira, Kia dan Syakila saling berpandangan. Mereka saling menegug saliva kasar, sulit menemukan alasan yang pas sebagai alibi.
"Baiklah, karna mood saya sedang baik jadi kalian akan tetap membersihkan ruangan ini. Dan saya tak akan menambahi hukuman kalian." ucap Marcus dengan datar, membuat Lily, Hana, dan Kiandra menghela nafas legah.
Sedangkan Mira dan Syakila menatap Marcus dengan alis terangkat. Curiga pada sang dosen yang berniat terselubung. Tapi mereka memilih bungkam, takut jika Marcus berubah pikiran dan menambah hukuman pada mereka.
Mereka mulai aksi membersihkan ruangan sang dosen dengan merapikan buku buku dan kertas kertas dimeja sang dosen. Sedangkan sang dosen dan para sahabat serta mawasiswa yang tak mereka tahu apa tujuannya disini duduk di sofa sambil bersantai.
Selesai dengan merapikan buku dan kertas, mereka beralih dengan menyapu ruangan itu. Dan tak lama akhirnya ruangan sang dosen sudah selesai mereka rafikan dan bersihkan.
Mereka sama sama merapikan pakain mereka yang sedikit berantakan lalu menyekat keringat, "sudah selesai Pak! "
"Humm! " Marcus berdehem.
"Kami izin keluar Pak! "
Marcus tersenyum lebar, membuat para gadis itu keheranan, "tolong pesan kan dulu makanan di kantin." ucap Marcus enteng, sedangkan para gadis itu sudah melogo menatap Marcus.
"Tap...-" belum sempat Mira protes, Marcus sudah memotong ucapannya.
"Tidak ada protes ! " Marcus menatap Mira dengan seringainya membuat Mira mendengus.
"Hai Kia," Kia mendengus menatap Tiger yang tersenyum pada nya.
"Gue sama Nathan pesen ayam gebrek ajah, trus minumnya jus jeruk yah." Lanjut Tiger.
Kia memutar bola mata malas, namun tetap mencatat pesanan dari Tiger dan Nathan. "Pak Marcus, Pak Rafael dan Pak Atif pesan apa? "
"Saya pesan sate kuah kacang sama kopi hitam. " pesen Marcus, Kia dengan cepat mencatat nya.
Kiandra menatap Atif, "saya pesen nasi goreng jangan pake mentimun sama jus mangga." Kiandra kembali mencatat pesenannya.
"Bapak? " tanya Kiandra pada Rafael.
"Ayam kecap! " Ucap Rafael singkat, padat dan jelas. Namun membuat para gadis itu kebingungan pasalnya tidak ada ayam kecap dikantin, lagian makanan itu adanya cuma dirumah saja atau beberapa resto dan cafe tapi intinya tidak ada di kantin kampus mereka. Sedangkan Marcus dan Atif mendengus, pasalnya Rafael yang terlalu menggemari satu menu itu sehingga tak ingin lepas dari makanan itu dan tak peduli apa kah itu tersedia atau tidak.
"Tapi ayam kecap ngak ada pa...-" Kiandra ingin protes namun kedulu dipotong oleh Rafael.
"Ayam kecap dan susu stroberi." Lanjut Rafael dengan menatap Kiandra tajam membuat gadis itu menciut dan tak berani protes. Kiandra bahkan sudah gemetar menulis pesanan Pria yang menyeramkan itu, namun sialnya sangat tampan itu.
Lily, Hana dan Mira melogo mendengar pesanan Rafael, tepatnya pesanan terakhir pria itu. Benarkah pria semenyeramkan dirinya yang penuh dengan aura pekat intimidasi suka denga susu stroberi? Patut di ragukan bukan?
Sedangkan Syakila sudah memutar tubuhnya membelakangi yang lainnya untuk menutupi dirinya yang sedang terkekeh gelik. Ia tak menyangka jika Rafael akan menyukai susu bahkan yang rasa stroberi pula.
Rafael menatap Syakila yang membelakanginya dengan datar, ia jelas tahu jika gadis sedang menertawakannya. "Saya mau Syakila yang memasak ayam kecap nya! "
Syakila yang mendengarnya, spontan berhenti terkekeh dan memutar badan menatap Rafael dengan mata melotot.
"Saya ngak bis...-"
Hana langsung memotong kalimat Syakila,"Pak Rafael menyuruh orang yang tepat. Syakila mah hobby masak apalagi masak ayam kecap, olahan ayam favorit nya. " Hana menatap Syakila jahil.
Rafael tidak menanggapinya lebih memilih menatap Syakila yang menggerutu sebal pada Hana.
"Kia! Gue pesen somay. Minumnya fanta."
"Gue sama ajah ama pesenen rafka. " Kiandra mengangguk, lalu segera mencatat pesanan dari Rafka dan Bowo.
Setelah itu mereka berlalu dari sana.
jan lupa vote, like, dan coment yahhh😉
__ADS_1