
Sampainya didepan pintu ruangan sang dosen killer mereka berhenti, berdebat siapa yang akan masuk duluan. Karna bagaimanapun ruangan dan orang yang akan mereka kunjungi adalah seorang dan dosen yang paling menakutkan di kampus mereka.
"Sya, lo duluan lah. Lo kan udah sering kesini. " Syakila bersedekap, menatap sahabatnya bergantian yang terus menyuruhnya duluan.
"Ogahh!! Gue pernah mendapat pengalaman buruk disini. Jadi gue kagak mau." bantahnya, ia juga kurang berani masuk duluan ke ruangan Marcus mengingat ia dan Rafael pernah bertemu disana.
Mira datang dengan nafas yang ter engah engah karna berlari mengejar sahabatnya yang berjalan layaknya orang kesetanan.
"Hos.. hos..,, ka..kalian ngapain disini?! " ia menyekat keringat dipelipisnya.
Syakila tersenyum jahil, ia menatap Mira membuat gadis itu mengeryit bingung.
Brukkk!!
Marcus dan orang yang ada diruangan itu menoleh ke arah pintu, tepatnya pada Mira yang melototkan matanya.
Mira menegug salivanya kasar, lalu menggaruk pipinya kala Marcus menatapnya tajam.
"Hai!! " sapanya dengan ekspresi konyol dan kaku. Tak ada yang meresponnya hanya ada tatapan aneh dari penghuni ruangan itu.
"Tidak bisa mengetuk pintu dulu? " Marcus menatapnya tajam, mengabaikan sapaan gadis yang sudah resmi jadi tunangannya itu.
Mira kembali meneguk salivanya kasar, dalam hati ia sudah habis habisan menyumpah serapah Syakila yang sudah dua kali melakukan jebakan batman padanya.
"Ada perlu apa? " Tanya Marcus, kali ini dengan tatapan datarnya.
Mira celingak celinguk, gelisah ditempatnya. Karna ia tak tau alasan apa yang akan ia beri pada Marcus, sebab memang ia tak tahu tujuan teman temannya kemari yang ia ingat hanya kata demo yang sempat ia dengar dari sahabatnya.
"Demo." ucap nya spontan. Ia melotot, menyadari kata yang keluar dari mulutnya.
"Demo? " Beo Marcus mengeryit, menatap calon istrinya itu bingung.
Ia kembali mengingat Ketika Mira datang keruangan dengan keadaan yang sama, diamana Mira datang dengan tiba tiba tanpa mengetuk pintu dan membuka pintu kuat kuat. Ia ingat saat Mira datang tiba tiba pasti dibalik semua itu adalah ...-
"Syakila! " Gumannya membuat seorang yang duduk didepannya menatapnya.
Marcus menatap Mira datar, "kamu datang sendiri? "
Mira menggeleng dan segera keluar dari sana dan kembali muncul dengan mendorong para sahabatnya masuk.
"Dugaanku benar. " Marcus menatap makhluk menyebalkan didepannya.
"Hai Pak Memar!! " Ucap Syakila, Lily, Hana dan Kiandra bersaman sesuai latihan mereka diluar tadi.
Marcus yang mendengarnya mendengus sebal. Bahkan Lily, Hana dan Kiandra yang ia tahu takut padanya ikut ikutan kurang ajar sekarang.
"Kami datang kesini untuk..-" Hana melirik Syakila.
"Demo kepada Bapak. " Syakila melirik Kiandra.
"Karna Bapak...-" Kindra menoleh pada Lily.
"Tlah melarang Mira menggunakan hp selama sakit. " Kini giliran Lily yang melirik Kiandra.
"Membuat Mira..-" giliran Kiandra yang melirik Syakila.
"Tidak bisa..-" giliran Syakila yang melirik Hana.
"Mengabari kami..-" Hana, Syakila dan Kiandra menoleh pada Lily sesuai dengan latihan mereka sebelum masuk.
"Kalau Mira sedang sakit." ucap Lily mengakhiri unjuk rasa kekonyolan mereka.
Marcus yang menyaksikan semuanya mengangkat alisnya, sedangkan tamu tamunya yang tidak lain adalah Nathan, Tiger, Bowo, Rafka, Atif, dan Nita sudah tertawa gelik melihat tingkah kekonyolan mahasiswa sang dosen killer tersebut.
Sedangkan Rafael yang juga ada di ruangan itu hanya mendengus melihat betapa konyolnya gadisnya itu. Tapi dalam hati ia tertawa gelik karna tak menyangka kekonyolan gadisnya sudah berada di stadium akhir.
Lain dengan Mira yang menepuk jidat merasa malu atas tingkah para sahabatnya.
'Amsyongg dah!! mau ditaruh dimana nih muka. Ya Allah punya teman kok gini amat. ' Ucapnya membatin.
"Sudah selesai? " tanya Marcus.
Lily, Syakila, Hana dan Kiandra saling berpandangan lalu dengan bersamaan mereka menganggukkan kepala mereka.
"Belum! " ralat Syakila cepat. Karna inti dari demo abstrak mereka belum terlaksana.
"Kita belum...-" Syakila melirik Kiandra.
"Nge hakimin bapak." Ucap Kiandra , lagi lagi sesui latihan mereka tapi kali ini sedikit lewat jalur naska.
Marcus menautkan alisnya, "kalian mau apa? " ia menatap ke empat mahasiswi yang katanya sedang demo padanya itu dengan datar.
"Kami mau nilai A." tutur Kiandra cepat.
Syakila mengedip edip kan mata nya, merasa ada sesuatu yang salah dengan ucapan Kiandra. Ia melotot setelah menemukan letak kesalahan Kiandra.
"****, dialog lo salah. Bukan nilai A tapi gebukin." bisiknya pada Kiandra.
"Kalau mau dapat nilai A jangan kurang ajar sama dosen. Dan kalian sekarang sudah termasuk mahasiswa yang kura..-"
Kiandra langsung memotong ucapan Marcus, "bukan nilai A pak!! "
"Kami mau ngehakimi Bapak dengan gebukin Bapak." tambah Syakila dan mengangkat botol aqua untuk memukul Marcus nanti. Ditangan Hana, Lily, Kia juga sudah ada botol masing masing.
__ADS_1
Marcus menautkan alisnya, lalu terkekeh gelik entah karna apa.
"Gebukin Rafael ajah, Ki. " ucapnya santai.
"Rafael? " Syakila mengeryit bingung.
Marcus melirik Rafael yang duduk didepannya mengisyaratkan agar Syakila menoleh.
Syakila menoleh menemukan Rafael yang sedang menatapnnya dengan gaya boss yang terkesan angkuh dan penuh aura intiminasi. Bahkan disana juga ada Nathan, Tiger, Bowo, Rafka yang melambaikan tangan padanya, Nita sang dosen ngebacot, dan Teman Rafael yang ia belum tau namanya.
"Anjirr!! " Ucapnya spontan, kaget dengan makhluk disana. Apalagi Rafael juga ada disana.
Sangking kagetnya ia sampe tergelonjak kaget membuat ia terbentur pada Kiandra dan akhirnya jatuh ke lantai.
"Aduhh, Sya. Kalo mau jatuh bilang dong, " kesal Kiandra yang juga terjatuh, "pakek dudukin kaki gue lagih." tambahnya.
Syakila melihat kearah kaki Kiandra yang ia dudukin, lalu segera berdiri dan melayangkan cengiran pada Kiandra.
"Maaf, ndra. " ia mengulurkan tangannya yang dibalas Kiandra lalu membantu gadis itu berdiri.
"Jadi Kiki! kamu masih ingin menggebukin Rafael. Yah, selagi orangnya masih disini. " Marcus menatap Syakila dengan senyum kemenangam, lalu menatap sang calon istri mengisyaratkan gadis itu untuk duduk disampinggya dan dengan patuh Mira berjalan dan duduk disamping Marcus.
Syakila, Lily, Hana dan Kindra melogo melihat Mira yang sudah duduk disamping Marcus. Tak terima karna hanya Mira saja yang disuruh untuk duduk. Padahal mereka sama sama sudah letih berdiri. Apalagi Kiandra yang kakinya sempat didudukin oleh Syakila.
"Apa? Kalian ingin protes lagi. Hanya ada satu tempat kosong lagi, di samping Rafael. Jika kalian ingin duduk silahkan di samping Rafael. Oh, Syakila kau ingin duduk? " Marcus tersenyum gelik melihat ekspresi konyol dari Syakila.
Syakila menatap kearah Rafael yang sibuk dengan ponsel mahalnya, lalu menatap pada Nita yang ia beri gelar sang dosen kebacotan yang kini tengah menatap memuja pada pria disekelilingnya apalagi pada Rafael, jika lama lama mungkin dosen kebacotan itu bisa bisa illeran.
"Cih, dosen kebacotan ada disini guys."gumannya pelan pada sahabatnya. Ia bersedekap memandang Nita tak suka, apalagi saat dosen itu senyum senyum tidak jelas ke arah Rafael.
"Tebar pesona geng's. " tutur Hana pelan, ikut bersedekap meniruh Syakila.
"Ilmu kegenitannya keluar tuh, girl's." Kiandra juga ikut bersedekap.
"Gaya centilnya sedang dioperasikan, guys gengs girls." Spontan Syakila, Hana, dan Kiandra menoleh pada Lily. Terkejut gadis itu ikut ikutan.
"Apa? " Tanya Lily dengan tampang polos. Syakila, Hana, dan Kiandra menggeleng bersamaan lalu kembali menatap tak suka pada Nita sang dosen kebacotan.
Nita yang merasa sedang diperhatikan, menoleh. Menemukan Mahasiswa perempuan yang ia ketahui si pembuat onar di matkulnya tengah menatapnya.
"Kalian ngapain natap saya!! " galaknya.
"Dih, pede amat!! " Syakila melotot seraya menutup mulutnya karna keceplosan, ia memukul mulutnya pelan lalu merutuki mulutnya yang tak ada rem.
'Mati...guahh. Nilai ku dipertaruhkan.' dewi batinnya.
"Apa kamu bilang!!! " teriak Nita dengan lantang. Bowo, Rafka, Tiger, Mira dan Nathan bahkan sampe menutup telinga. Sedangkan Atif, Marcus dan Rafael hanya memansang tampang datar saja.
"Saya dengar kamu bilang apa, yah." galaknya menatap Hana dan Syakila bergantian dengan tak suka.
"Eh salah paham buk alien. Eh, " Kiandra memukul mulutnya karna salah menyebut nama sang dosen.
Niatnya mau membantu Syakila dan Hana malah ikut terkena masalahh.
'Gegara si Syaki nih yang suka nyebut dosen tuh alien. Gue jadi ikut ikutan. ' Batinnya sambil memukul pelan mulut lancangnya.
"Kamu ngatain saya, hah!? " kali ini Kia yang mendapat giliran dimarahi sang dosen kebacotan.
Lily menatap sahabatnya iba, ia takut untuk mengeluarkan suara karna takut juga keceplosan seperti para sahabatnya itu. Ia hanya bisa menatap dan menyaksikan raut gelisah para sahabatnya.
"Kamu juga, mau ngatain saya kan. Ayo ngaku!! " Sakartis Nita pada Lily, membuat gadis imut itu tergelonjak kaget.
Lily gelagapan,"e..e..enggak buk. Lily ngak ada niat buat ngatain ibu." ucapnya.
"Alahh, dasar munafik! Saya tahu kamu itu cuma bohong. Lagian yah kalian ngak di mata kuliah saya, ngak di sini selalu buat onar. Kalian memang mahasiswa sampah yah. " Ucap Nita pedas, melampau batas.
Marcus yang juga merupakan dosen bahkan sampai kaget dengan kata kata Nita barusan. Ia akui, Syakila dan teman temannya sudah keterlaluan karna mengatai dosen mereka sendiri bahkan didepan dosen itu sendiri walau dikategorikan keceblosan sik. Tapi Nita yang sudah berpendidikan tinggi dan sudah menjadi dosen yang secara garis besar adalah panutan dan sumber ilmu dari mahasiswa pantaskah berkata kasar seperti tak berpendidikan pada mahasiswanya bahkan sampai mengatakan mahasiswanya sampah.
"Oh, mahasiswa sampah yah buk. " Ucap Lily dan Kiandra lesuh. Ingin protes dan menghajar sang dosen tapi takut nilai, cuii!!
Hana dan Syakila saling berpandangan dan tersenyum sinting membuat yang melihatnya jadi ngeri sendiri, terutama Rafael yang kebingungan dengan tingka Syakila.
"Kalo kita mahasiswa sampah," Hana menekan kata sampannya.
"Trus ibu dong dosen sampahnya. " lanjut Syakila dengan menekan kata dosen sampah.
Nita menggeram, namun tak bisa menemukan kata yang pas untuk membumkam perkatan mahasiswa didepannya itu. Karna ia tahu Syakila tidak akan bisa dibungkamnya. Sebab ia dan Gadis serta temannya itu memang sudah sering berdebat dikelas saat mata kuliahnya.
"Kalau begitu kalian siap siap jumpa sama saya tahun depan. " Ucap Nita bagaikan petir disiang bolong.
Hana, Kindra dan Lily menegug salivanya kasar. Berakhir sudah harapan mereka jadi mahasiswa teladan. Dan welcome to the princess of nilai E. Rasanya mereka ingin menagis sajah, tapi malu karna diruangan itu banyak cogannya.
Beda lagi dengan Syakila yang terkekeh gelik membuat yang lainnya menatapnya horor.
"Hehehhe, ibu takut rindu yah kalo kita nanti ngak ketemu disemester depan makanya ibu nyuruh kita ngulang tahun depan. Kita sik yes ajah ngulang tahun depan, apalagi kan matkul ibu itu favorit kita. Ummm, sangking favorit kita sampe sampe bikin ibu suka ngelus dada ngadepin kita, main lempar lempar spidol ama kita pas lagi belajar, tebak tebakan bahasa alien, trus yang tak terlupakan itu ibu yang sampe merajuk ngak mau masuk ke ruangan kita lagih. Ibu memang benar nyuruh kita tahun depan ngulang, karna dengan begitu ibu bakalan ngak rindu lagi ama kita trus kelas juga bakalan rame karna ada kita. Kalo ibu mau bolos ngajar ibu tinggal bilang ajah, kita siap bikin ibu kesel setengah mati trus out deh dari ruangan." diakhir kalimat Syakila tersenyum manis, senang akhirnya cerita kenangan mereka dengan sang dosen kebacotan akhirnya selesai.
"Tidak jadi." ucap Nita menyesali perkataannya ingin membuat Syakila dan teman temannya mengulang. Bisa bisa ia yang bete setengah mati dan kesialan jika para gadis itu mengulang tahun depan lagi.
Rafael tersenyum miring melihat betapa licik dan cerdiknya Syakila sang lion queen nya. Marcus tersenyum gelik, tahu bahwa gadis itu punya banyak cara mengalahkan lawannya bahkan dirinya sendiri kecuali satu orang yang Marcus tahu itu hanya Rafael, sahabatnya.
Sedangkan Atif melogo tak percaya pada memandangan didepannya itu, gadis yang ia kenal bernama Syakila itu sungguh keren karna bisa membungkam mulut dosen yang menurutnya kebanyakan bicara saja.
"Kalian disini mau apa lagi. Keluar sanah? " Nita bersedekap menatap kesal pada Syakila, Hana, Lily dan Kiandra.
__ADS_1
"Kamu juga!! " ucap Nita pada Mira dengan wajah galaknya, membuat gadis itu tergelonjak.
Bukannya pergi, para gadis itu malah kekueh tetap berdiri diri disana. Mengabaikan tatapan mengerikan yang dikeluarkan sang dosen.
"KELUAR!! " Teriak Nita, membuat semua yang disana spontan menutup telinganya. Kecuali Marcus, Rafael, dan Atif yang bersembunyi dibalik topeng muka datarnya.
"Ngak usah teriak buk! " Hana mengusap kasar telinganya, kesal pada dosen berparas cantik namun sayang terlalu genit itu.
"Kita ngak budek." tutur Kiandra dengan nada kesal.
Nita berdecik, menatap sinis pada empat gadis di depannya, "kalo kalian ngak budek, silahkan keluar. "
Syakila menaikkan alisnya, "kita emang ngak budek. Ibu ajah yang amnesia dadakan. "
"Ini ntuh ruangan Pak Mema eh maaf Pak Marcus. Jadi ibu ngak berhak ngusir kita." tambah Kiandra dengan bersedekap menatap sang dosen jengkel.
Katakan mereka kurang ajar, tapi itulah mereka. Sekumpulan gadis yang tak segan menunjukkan ketidak sukaan mereka pada seseorang, termasuk dosen yang mereka panggil dengan dosen kebacotan.
Nita terdiam menahan malu dan kesal, lalu tanpa sepatah kata pun ia melangkah pergi dari sana. Namun ia masih sempat melayangkan senyuman terbaiknya pada Rafael.
Syakila yang melihatnya memutar bola mata malas, ia berdecak tak suka, "ck. Dasar ular betina!" gumannya pelan.
"Permisi Pak Marcus!"
Mereka semua menoleh ke arah pintu, mendapatkan seorang pria dewasa dan pemuda sedang berdiri disana.
"Ya? " sahut Marcus singkat.
"Saya hanya ingin melihat keadaan ruangan Pak Marcus, tadi saya dengar ada keributan disini Pak." setelah mengatakan tujuannya mendatangangi ruangan Marcus, pria itu tersenyum ramah.
"Oh, hanya terjadi insiden kecil saja, Pak Aril. " jelas Marcus kini merasa tak enak. Tak enak karna keributan diruangannya mengganggu ruangan dosen disebelahnya lagi.
Aril tersenyum ramah, "kalau begitu saya permisi Pak."
"Mari Syakila dan..." Aril menatap satu persatu sahabat Syakila karna lupa pada nama gadis gadis itu.
"Hana yang cuantik Pak."
"Kiandra yang beauty Pak."
"Lily yang sonia eh ummm imut aja Pak. Hehehe. " diakhir kalimat gadis imut itu terkekeh.
"Sya...-"
"Kalo kamu saya tahu, Syakila yang manis dan comel kan. " Potong Aril. Ia tersenyum ramah yang dibalas cengiran oleh Syakila.
"Saya permisi. " pamit Aril kembali.
Hana, Kiandra, Lily, dan Syakila melambaikan tangannya pada sang dosen ramah dan tampan tersebut dengan senyum yang merekah dibibir para gadis itu.
"Sudah ada mawar putih. Jangan cari mawar merah. Sudah ada pak Aril manis tinggalkan Pak Memar. Cap cuss...!! " setelah menyelesaikan lirik lagunya, Hana segera berlari keluar dari sana. Niatnya sik ingin mengejar Aril sang dosen ramah dan tampan tersebut.
Bukan ingin menggenitinya, hanya saja ada kesenangan tersendiri bagi gadis itu untuk menggoda dan merecoki sang dosen ramah itu.
"Akgohh ikut, sayyy! " Kiandra ikut berlalu dari ruangan itu.
"Lily juga ikut ikutan ajah."
Syakila menatap Mira yang melogo, "Mir! Lo ngak ikut kita? "
Mira menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Lalu melirik pada Marcus yang pura pura sibuk dengan Tiger, "i..iyah."
Mira berdiri berniat menyusul Syakila, namun tangannya dicekal terlebih dahulu oleh Marcus.
"Diam ditempat mu." ucap Marcus dingin membuat Mira kembali duduk dan menatap Syakila berharap gadis itu mengerti.
Syakila memutar bola matanya malas, lalu berdecak.
"Duluan, Mir. " ucap nya tak semangat, Kemudian berlalu dari sana.
Di luar ruangan gadis itu berteriak, "woi, tungguin gue nyet. "
"Teman lo heboh amat yah Mir. " ujar Tiger terkekeh setelah Syakila pergi.
Mira hanya melayangkan cengirannya. Mungkin Tiger belum tahu saja kalau ia bahkan lebih heboh dari pada sahabat sahabatnya jika saja sang calon suami tidak menahannya tadi.
"Hana mulutnya lama lama kayak toa mesjid ajah." tutur Rafka terkekeh.
"Syakila tuh, jadi cewek bar bar nauju billah." timpal Bowo tak terima Hananya dijelek jelekkan.
"Bukan urusan lo Syakila bar bar." Nathan berkata datar, benar benar tak suka Syakila yang sudah ia jaga di jelek jelekkan didepannya.
Bowo menatap tak suka pada Nathan, ia berdecak dan memilih mengabaikan Nathan. Takut emosi lama lama bila meladeni pemuda es itu.
Nathan menatap sang kakak yang juga tengah menatapnya tajam, membuat nyalinya menciut. Ia masih mengingat pukulan keras yang ia terima dipipih kanannya beberapa minggu lalu dari sang kakak. Jadi lebih baik sekarang ia cari aman.
...........
oke, jangan lupa vote dan comen yahhh.
ini part nya sengaja di banyakin, soalnya author ngak up lagi sampe lebaran. lagi malas soalnya wkwkwkwk..😂😂😂
ok readers ku yang comel dan tuampan, jan lupa vote dan comen yahh😁
__ADS_1