Couple Soulmate

Couple Soulmate
55


__ADS_3

Author pov.      


"Ini peringatan terakhir untuk kalian semua." Mira, Syakila, Hana dan Kiandra hanya menganggukkan kepalanya lesuh mendengar penurmturan dari sang rektor.


Katanya tadi Viola sendirilah yang akan mengurus kasus mereka tapi dosen satu itu malah menyerahkan mereka langsung pada sang rekror. Dan akhirnya tadi mereka hanya bisa mengatakan iya dan menganggukkan kepala saja.


"Jika kalian membuat onar lagi, maka saya terpaksa akan mengeluarkan kalian dari sini. Saya tidak mau karna mahasiswa yang tak berkualitas kampus ini jadi tercemar. Kalian mengerti!! " Kembali para gadis itu menganggukkan kepalanya. Walau dalam hati mereka ingin sekali menyumpah serapahi sang rektor yang mengatai mereka tak berkualitas.


Tidak sepenuhnya salah rektor itu sik, ada campur tangan Viola yang sudah menjelek jelekkan mereka sebelum ia pergi tadi. Jadinya sang rektor menganggap mereka si pembuat onar dan pemberontak.


Setelah dipersilahkan untuk pergi, mereka langsung pergi dari ruangan rektor tersebut.


"Rasanya gue pengen ke dukun santet ajah." tutur Hana kesal.


Kiandra menatap Hana ngeri, pasalnya keinginan gadis itu yang cukup ekstrim, "Ngapain ****. "


"Gue mau nyantet tuh rektor ama si Viola yang sok kecantikan itu. " ujar Hana dengan ekspresi kesal. Ia mengepal tangannya dan meninjukannya pelan pada telapak tangan kirinya. Membuat Mira, Kiandra dan Syakila terkekeh melihatnya.


"Gue setuju bangett!! " Mira terkekeh. Mira menghentikan tawanya tiba tiba saat ia mengingat sesuatu. "Eh, temani gue keruangan Pak Marcus dong. "


"Lah, ngapain? " Kiandra menatap Mira bingung.


"Ihhh, tadi kan gue sama Syaki di panggil. "


Spontan Syakila langsung menepuk jidatnya pelan, "oh iyaa!!! "


"Yaudah, tapi kalian duluan aja. Gua sama Hana mau manggilin si Lily."


"Oke."


.........


        "Gimana nih Sya. Gue ngak berani masuk. Lo ajah dehh yang masuk, nanti kalo ada yang perlu baru panggil gue. " Mira menatap Syakila penuh harap.


"Wahh, ide lo bagus yahh. Ngumpanin teman sendiri, Gue bangga bangettt! " Syakila berkata dramatis lalu menatap Mira dengan malas.


Mira melayangkan cengirannya lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "yaudah kita sama sama ajah."


"Dari tadi kek. " Syakila mendengus dan Mira kembali cengengesan.


Mira mengetuk pintu itu dengan kuat, mungkin efek takut.


'Masuk !' Titah Marcus dari dalam.


Mira perlahan masuk di ikuti Syakila dari belakang. Mira menatap Marcus yang duduk disofa ruangannya bersama Viola dan Rafael.


'Cihh, dasar pelakor! ' dewi batin Mira menatap tak suka pada Viola.


"Loh kok kalian kesini? " Viola menatap Mira dan Syakila bertanya tanya. Wajahnya ia usahakan tetap terlihat ramah dan anggun membuat Mira dan Syakila yang melihatnya ingin muntah saja.


"Bukan urusan ibuuu." Jawab Mira dengan nada riang dan senyum dibibirnya, begitu pula dengan Syakila yang ikut tersenyum saat di tatap oleh Viola. Meraka membalas sang dosen kedokteran itu seperti yang dosen itu lakukan. Bermuka dua.


Viola menatap dua makhluk pengganggu itu dengan tak suka, sedangkan Marcus dan Rafael menatap mereka datar.


"Perkembangan rencana bazar kalian sudah bagaimana? " Tanya Marcus to the point.


Mira dan Syakila saling bertatapan sebentar lalu mereka mengedip edipkan mata, bingung untuk menjawab apa. Selama beberapa minggu ini mereka hanya pokus pada permasalahan pribadi mereka dan tentunya melupakan tugas serta masalah kampus dan itu berlaku untuk bazar.


Marcus menghela nafas, ia sudah yakin Syakila dan yang lainnya tidak akan fokus pada bazar ini karena sang istri sudah cerita jika mereka sedang ada masalah. Maka dari itu ia memanggil Mira dan Syakila kesini untuk mengingatkan mereka, "sudah saya duga! "


Marcus kembali menghela nafas, ia menatap Mira dan Syakila, "sebenarnya proposal kalian sudah diterima. Tapi persiapan kalian sama sekali belum ada padahal hari H nya sudah dekat. " Marcus mengambil jedah sebentar.


"Tadi saya sudah bicarakan ini dengan Nathan dan Tiger, jadi kalian temui mereka saja untuk membahas bazar ini. Saya malas bicara sama kalian. "


Mira dan Syakila kembali saling berpandangan dan melotot tak percaya. Mira mendengus tak suka sambil menatap Marcus. Andai saja ditangannya ada panci, ia pasti akan memukulkannya ke kepala suami nya yang songong minta ampun itu.


" Permisi Pak! "Ketus Mira seraya berjalan keluar dengan menyeret Syakila yang menatapnya kebingungan.


.........


      


     "Sialan!! " umpat Mira setelah ia keluar dari ruangan suaminya itu.


"Siapa yang sialan! " Mira langsung menatap Syakila,"Pak Marcus lah. " Ujarnya dengan bersedekap.


Syakila mengedip edipkan matanya. Ia ingin sekali mengatakan bahwa bukan ia yang bertanya tadi, namun sekarang lidahnya kaku bahkan sekujur tubuhnya kaku karna Rafael tengah berdiri tepat dibelakannya dengan jarak yang begitu dekat. Andai Syakila mundur satu langkah pendek sajah ia yakin pasti akan menabrak dada bidang pria itu. Bahkan sekarang aroma khas pria itu sudah memenuhi indra penciuman nya yang gilanya sangat memabukkan bagi Syakila.


Mira menatap raud wajah kaku Syakila, ia mengernyit bingung. Namun semuanya terjawab saat ia mendongak menemukan Rafael tepat dibelakang gadis itu. Ahh, hebatnya Mira, padahal Rafael didepan mata nya tapi ia tak melihatnya. Syakila saja yang membelakanginya tahu.


Mira membulatkan matanya saat sadar bahwa yang bertanya padanya tadi bukan suara Syakila, "gue tadi ngomong sama siapa Sya? " tanya nya.


Syakila menggaruk pipinya pelan, tapi gerakannya terhenti saat tangannya dijauhkan oleh Rafael dari pipinya. Syakila menatap Rafael  yang masih dibelakannya. Rafaeal menatapnya dengan tajam kemudian gadis itu menoleh perlahan pada Mira, "Pak Marcus. " ucapnya singkat.


Mira membulatkan matanya. Jadi tadi ia mengumpat dan...,


Dengan perlahan Mira menoleh pada arah sampingnya menemukan Marcus yang menatapnya tajam.


Mira cengengesan, "hehehee, hai Pak." ia melambaikan tangannya pada Marcus yang masih menatapnya tajam.


Mira yang melihat ekspresi Marcus yang tak berubah menegung salivanya kasar.


'Maaf Sya.'  Batinnya entah bermaksud apa.


Tiba tiba Mira menepuk jidatnya pelan, "astaga!!!! Gue belom bayar bakso gue di kantin." tukasnya dengan pura pura panik. Kemudian gadis itu berlalu begitu saja membuat Syakila yang ditinggal melogo tak percaya.


"Kan tadi dia ngak kekantin." guman Syakila pelan dengan raud kebingungan. Namun masih bisa didengar Marcus dan Rafael tentunya.


"Jadi, " Syakila menoleh pada Marcus.


"Alasan mu apa, Kiki? " Syakila mengeryit. Aiss, sekarang ia sedikit lemot sebab berada didekat Rafael.


Syakila tiba tiba membulatkan matanya saat tau maksud kalimat dari Marcus itu, "jadi tadi si Mira cuma alibi doang. Anjaiii!! " Batin gadis itu.


Syakila menatap Marcus dan Rafael yang sudah berpindah tempat ke sampingnya lalu gadis itu tersenyum kaku pada ke dua pria dewasa itu.


'Gimana mau kabur cobak!! Kalau gue kayak dikawal gini. Trus buk Viola kemana sik,'  dewi batin gadis itu.

__ADS_1


...............


   Syakila berjalan kikuk diantara Marcus dan Rafael. Selama perjalanan gadis itu tidak berhenti menyumpah serapahi Mira yang sudah meninggalkannya. Awas saja nanti, jika Syakila menemuinya. Siap siap saja, Mira akan mendapat balasan dari Syakila yang bar bar.


Baik Marcus dan Rafael memilih diam sedari tadi membuat Syakila semakin canggung diantara mereka berdua. Padahal para mahasiswi yang melihatnya ingin sekali berada di posisi Syakila.


Syakila mencuri curi pandang pada dua pria dewasa yang mengekangnya, melihat situasi aman karna dua pria itu tengah sibuk dengan ponsel masing masing. Syakila langsung berlari sekencang mungkin.


"Yeii, bebass!! " teriak gadis itu senang.


Marcus mendengus kesal melihat Syakila yang kabur dan lagi lagi gadis itu bisa melarikan diri darinya. Sedangkan Rafael, pria itu hanya menatap datar pada gadisnya yang telah melarikan diri.


Syakila berhenti berlari saat jaraknya dengan dua pria dewasa yang tadi mengekannya sudah jauh. Syakila menoleh kebelakang, ia masih bisa melihat dua pria itu dari jauh. Syakila tersenyum senang, sekarang dirinya hanya perlu menemui para sahabatnya dan membalaskan Mira.


"Tunggu kau Mira!! " gumannya pelan, dan segera berjalan dengan girang.


...............


      Syakila sudah mencari para sahabat nya dikantin dan diruangan namun mereka tak ada disana.Tak mungkin para sahabatnya meninggalkannya, setidaknya jika itu terjadi mereka pasti mengabari Syakila.


Opsi terakhir adalah perpustakaan. Kemungkinan  mereka ada disana dan mungkin juga Nathan dan Tiger juga ada di sana karna Syakila yakin Mira dan yang lainnya kini tenagh membahas masalah bazar mereka.


Syakila berjalan menuju perpus dengan riang, sesekali gadis itu menyapa mahasiswa/i yang ia kenal. Gadis itu juga melempar senyum manisnya pada mahasiswa yang menyapanya. Bersikap ramah adalah dirinya.


Syakila memasuki perpus dan pandangan pertama yang ia lihat adalah para sahabatnya. Benar kan tebakannya kalau sahabatnya itu ada di perpustakaan dan kini tengah sibuk, mungkin membahas bazar.


"Wahh, rajinnya. " ujarnya mengambil tempat disamping Kiandra sambil menyandarkan tubuhnya santai.


Mira dan yang lainnya menoleh pada Syakila. Mira yang tahu Syakila tengah menatapnya kesal melayangkan cengirannya, sedangkan Syakila mendengus kesal.


"Bagus sekali, Syakila. Lo datang pas kita udah selesai ngebahas tugas bazarnya." Kiandra tersenyum namun menatap kesal pada Syakila membuat Syakila menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Hehee, maaf. Tapi salahkan Mira yang lari dan meninggalkan gue dengan para pria killer itu. " Syakila kini menatap Mira malas bercampur kesal.


"Hehehehe, maaf. " Mira cengengesan.


Syakila menatap Mira jengah, "Maaf katamu?? " Ujarnya dengan menatap Mira tajam.


Mira yang ditatap seperti itu menelan salivah nya kasar, lalu gadis itu tiba tiba berdiri dari tempatnya, "gu..gu gue pergi ke toilet dulu. " ujarnya sambil menunjuk entah kemana, epek gugup. Kemudian gadis itu pergi dengan cepat dari sana.


"Jangan kabur Mira," bisik Syakila tepat ditelinga Mira saat gadis itu sudah diluar perpus.


Spontan Mira menatap Syakila horor, "eh..si si siapa yang ingin lari? " Ujarnya kaku sambil menatap Syakila takut. Syakila menatap tajam pada Mira membuat gadis itu meremang.


"Oke oke, gue salah. Sebagai tanda minta maafnya gue traktir lo beli es krim." perkataan Mira bagaikan mantra bagi Syakila yang tadinya jutek berubah menjadi riang mendengar kata es krim.


"Benarkah?? " Syakila menatap Mira dengan senang dan riang, Mira menganggukkan kepalanya.


Syakila langsung memeluk gadis itu, melupakan dendamnya pada Mira. Yang dipikirannya sekarang hanyalah es krim rasa vanilla kesukaannya.


"Vanilla yahh. " ujar Syakila. Mira kembali menganggukkan kepalanya dan tersenyum senang. Huhh, sekarang Mira legah urusannya dengan Syakila selesai.


"Kita pulang, yuk! " ajak Hana yang baru datang bersama yang lainnya.


Syakila mengertitkan keningnya, "bazarnya? "


Syakila mengusap pipinya yang di cubit Kiandra pelan lalu memandang gadis itu kesal.


Tiger menatap Kiandra dan Syakila gelik, begitu juga dengan Nathan.


"Sya, lo tadi sama bang Rafael? " Syakila menatap Nathan lalu menganggukkan kepalanya.


Mira, Hana, Kiandra dan Lily saling bertatapan lalu menatap Nathan bertanya tanya, "Pak Rafael abang nya kak Nathan? " tanya Hana sengan wajah konyolnya.


Nathan hanya menganggukkan kepalanya. Para gadis itu kecuali syakila melogo kaget.


"Kok bisa? " Mira memasang wajah tak percayanya sembari menatap Nathan cengang.


"Yahh, ****. Udah dari sono nya dodol! " Kesal Syakila mulai jengah melihat kekonyolan Mira dan yang lainnya.


"Memangnya ada masalah kalau Rafael abang gue? " Nathan yang juga mulai jengah bertanya dengan nada kesal yang begitu kentara.


Para gadis itu kecuali Syakila saling toleh menoleh lalu menggeleng bersamaan.


"Baru tau gueh." ujar Hana masih dengan wajah syok bercampur percaya tidak percaya. Karna mereka sering berkumpul bersama dimana Rafael dan Nathan ada disana namun mereka tidak terlihat akrab atau layaknya abang adek. Yah, itu sik penilaian dari Hana.


"Pantas saja kak Nathan ganteng. Orang abangnya ajah naujubillah gantengnya. " ujar Kiandra sambil mengelus dagunya menilai.


"Gue juga ganteng kok." Ucap Tiger tak terima Kiandra hanya memuji nathan saja.


Kiandra terkekeh, "hehehe, iya iya pacar gue juga ganteng. "


Tiger yang mendengar perkataan dari Kiandra teraebut tersenyum bangga. Sedangkan yang lainnya malah terkekeh karna melihat tingkah dan ekspresi dari Tiger yang begitu kekanak kanakan.


Syuuurrrrr


"Yei, hujann!! " Seru Syakila senang sembari mendekatkan tangannya pada air hujan.


"Seneng bener lo, Sya." Komentar Tiger yang melihat betapa bahagianya Syakila yang bermain air hujan.


Syakila menoleh pada Tiger dengan wajah bahagia dan senyum semringanya.


"Ialah. " ujarnya lalu berlari dab berhenti dibawah hujan yang sudah membasahi tubuhnya.


Ia meloncat loncat kecil di genangan air, seperti anaka kecil. Kemudian ia menengadah keatas dengan mata tertutup, ia tersenyum~ merasakan rintikan hunjan yang menerpa wajahnya.


Dari atas, seseorang memperhatikan Syakila yang sedang bermain di bawah guyuran air hujan dengan intens.


Pria itu menatap datar pada Syakila yang sedang bermain hujan. Rafael tersenyum tipis saat gadis yang bermain hujan itu menjahili para sahabatnya dengan memercikkan bahkan menyiramkannya dengan air.


"Kenapa kau tak menikahinya saja, El? " tanya Marcus tiba tiba dengan ikut menatap para mahasiswanya yang begitu bahagia di bawah guyuran hujan.


"Hanya menunggu waktu. " jawab Rafael tanpa menatap Marcus, karna ia masih betah berlama lama menatap lion queen nya.


Marcus memilih mengacungkan bahunya dan tak menanggapinya lagi. Sekarang Ia memilih memandangi istrinya yang beberapa kali di jahili oleh Syakila.


Kadang kadang ia terkekeh melihat tingkah  kekanak kanakan Mira dan sahabatnya. Ia begitu menikmati pemandang dibawah sana, melihat istrinya yang begitu bahagia dibawah guyuran hujan.

__ADS_1


Namun wajah bahagianya berubah jadi kawatir saat Mira nya bersin.


"Ha..hahahaccu." Mira spontan mengusap hidungnya karna gatal. "udah ahh." ucapnya kemudian dengan berjalan ke teras.


Melihat Mira yang sudah berhenti bermain, Hana dan yang lainnya juga ikut berhenti dan menyusul gadis itu.


Mira memeluk dirinya sendiri karna merasa kedinginan. Padahal saat bermain hujan tadi, ia sama sekali tidak merasa kedinginan tapi sekarang kenapa saat berhenti ia malah merasa kedinginan.


Mira langsung menoleh kesampingnya saat seseorang memasangkan  jas ke tubuhnya. "Tubuhmu tidak sekuat itu untuk bisa bermain hujan lama lama." tegur Marcus dengan nada datar. Ia membenarkan posisi jas di tubuh Mira lalu memeluk istrinya dari belakang, membagi kehangatan pada istrinya.


Mira menoleh pada Marcus, "tapi kan main hujan itu seru." ujarnya dengan suara gemetar karna kedinginan.


"Ngenyel kamu. " Marcus mempererat pelukannya saat tubuh istrinya gemetar karna menggigil kedinginan.


"Widihh, cuci mata ini namanya Sya. " Komentar Hana yang baru datang melihat pemandangan Marcus yang memeluk Mira.


Syakila menaikkan alisnya, lalu mengetuk jarinya pada  dagu pelan,"bukan cuci mata, Han. Tapi pencemaran mata."


Marcus yang mendengarnya hanya mendengus, sedangkan Mira sudah memerah karna malu. Ia berusaha lepas dari rengkuhan Marcus namun pria itu begitu erat memeluk dirinya membuatnya hanya bisa pasrah di olok olok oleh Hana dan tentunya Syakila.


"Kita pulang yuk!! " Ajak Lily kemudian yang mendapat anggukan dari Syakila dan Hana.


Saat semua orang berjalan melangkah menuju mobil, Hana dan Syakila malah diam ditempat. Kiandra yang merasa ada yang kurang menoleh ke belakang.


"Heii tayoo, kok lo berdua masih diam. Ayokk! " Teriaknya agar bisa didengar dua makhluk yang masih disebrang sana.


Hana dan Syakila saling menoleh sebentar lalu kembali menatap Kiandra, "duluan ajah. Kita masih ada perlu. " teriak Hana agar bisa didengar Kiandra.


Kiandra mengacukan bahunya. Marcus menoleh pada kiandra, "Hana dan Kiki kenapa masih disana? " tanyanya.


"Katanya masih ada perlu, Pak. " jawab Kiandra seadanya. Marcus menganggukkan kepalanya lalu menyalakan mobilnya dan segera meninggalkan tempat itu.


.............


    "Ini mas. " Mira meletakkan kopi di depan Marcus. Marcus langsung menyerup kopi buatan istrinya. Sekarang mereka tengah ada dikontrakan para sahabat Mira, lebih tepatnya diteras. Karna tadi mengantar Kiandra dan Lily jadi mereka berkunjung sekalian menunggu hujan reda.


Begitu juga dengan Rafael yang juga memilih ikut bergabung disana. Selain hujan, alasannya juga karna adiknya Nathan yang juga ingin disana. Dan satu lagi karna Syakila yang belum pulang juga.


Mira menarik ujung lengan kemeja Marcus pelan membuat Marcus menoleh sambil menaikkan alis padanya, "i...itu, pak Rafael mau minum apa? "


Marcus menghela nafas lalu menoleh pada sahabat kakunya itu.


"Biar syakila saja. " Ujar Rafael datar sebelum Marcus mengeluarkan suaranya.


Marcus hanya mendengus, dalam hati ia menyumpah serapai sahabatnya itu. Selain memaksa kehendaknya pada Syakila sekarang pria itu seperti sangat tergantung pada Syakila. Apa apa masti Syakila, padahal gadis itu masih belum ada ikatan dengannya.


Dan marcus yakin sekali jika suatu kelak nanti  smSyakila menjadi istri Rafael, pasti pria itu akan lengket sekali pada istrinya.


"Astaga!!! " Mira menepuk jidatnya melihat Hana dan Syakila yang berjalan kearah mereka sambil memakan es krim. Kedua gadis itu sudah tidak memakai alas kaki lagi.


"Hai!! " sapa keduanya begitu sampai didepan Mira yang bersedekap sambil menatap tajam.


Mira mendengus, "lo bedua kaga takut sakit apa makan es krim padahal cuaca dingin begini?  " Galaknya bak emak emak yang memarahi anak nya yang ketahuan berbuat nakal.


Dengan santai Syakila kembali menggigit es krimnya lalu menoleh dan tersenyum pebsodent pada Marcus dan Rafael yang menatap mereka datar.


"Hai. " sapanya kembali bak orang gila. Itu trik dari Syakila agar tak dimarahi.


Marcus dan Rafael sama sama mengeryit menatap aneh pada Syakila yang masih tersenyum pebsodent.


Mira mengeryit, "kalian kenapa sik kayak orang stress begini? "


"Ellehhh palingan juga biar ngak kita marahin, makanya pura pura ****. Cih, trik pasaran. " Ucap Kiandra yang baru datang.


Mira menatap kedua makhluk astral didepannya itu dengan datar, "trus sepatu lo pada dimana? "


Hana dan Syakila kembali melayangkan cengiran konyol khas mereka.


"Kita gadein. " jawab mereka bersamaan.


Baik marcus maupun Rafael mengeryit bingung. Mira, kiandra, Tiger, Lily dan Nathan juga ikut mengeryit bingung.


"Gadein? " Beo Kiandra dengan nada kebingungan.


Hana dan syakila kembali melayangkan cengirannya, "iya. Tadi kita mau beli es krim pas bayar ehh lupa!!  kita ngak punya duit. Tas kita kan dibawa ama Lily, jadi kita ngutang di minimarket depan. Karna harus ada jaminannya, jadi sebagai jaminan kita tinggalin sepatu kita disana. Hehehee. "


Tiger dan Marcus langsung tertawa gelik, sedangkan Nathan memilih hanya tersenyum gelik. Sisahnya hanya melogo, kecuali Rafael yang memilih memandang Syakila dengan intens. Lion queen nya itu memang sangat unik.


Marcus menghentikan tawanya, ia menepuk pelan pundak Rafael membuat pria itu menoleh padanya, "ck ck ck, calon istri seorang miliarder ternyata suka berhutang. "


Rafael menatap Marcus dengan alis terangkat lalu menatap Syakila yang juga menatapnya dengan bingung.


"Dih, Pak Marcus ngomong apa sik? Calon istri siapa juga lagi yang suka ngutang." cerocos Syakila benar benar tak paham arah perkataan Marcus tadi. Sudah ia katakan kan, kalau ia sedikit lemot jika berada di sekitar Rafael.


Marcus kembali terkekeh, "Calon istri Rafael."


Syakila yang tadinya fokus pada es krimnya langsung menoleh pada Marcus. Ada perasaan aneh saat Marcus mengatakan calon istri Rafael. Perasaan itu seperti seakan tak rela dan tak terima jika Rafael sudah memiliki calon istri. Syakila menatap Rafael yang juga menatapnya dengan datar.


'Pantas saja akhir akhir ini Pak Rafael sering menghilang. Penyebabnya Karna Pak Rafael akan menikah, toh.' Batin Syakila terhenyak.


Syakila memilih acuh, ia memilih kembali memakan es krinya. Mungkin rasa aneh dihatinya akan hilang jika ia memakan es krim.


"Calon Rafael itu kamu loh, Ki. "


Seketika syakila terbatuk tersedak es krim. Hana yang di sampingnya, menepuk nepuk punggung Syakila pelan.


"Ngelantur, Pak. Mana mau Pak Rafael ama cewek ingusan kayak aku. Makan ajah masih di ambilin. Bangun ajah masih suka telat. " ucap Syakila dengan tak rela mengatai dirinya sendiri. Ia melirik lirik Rafael, takut pria itu marah karna yahh pria itu memang pemarah.


Tiba tiba Syakila tertawa hambar, niat nya sik mengalihkan pembicaraan, "hahahahaa, kayaknya otak Pak Marcus beku deh makanya suka ngomong ngelantur."


"Oh ya Mir, tolong suaminya nanti direbus dulu biar otaknya encer. Gue ganti baju dulu, by. " tambah Syakila dan segera berlalu dari sana.


"Menyebalkan. " guman Marcus jengkel dengan Syakila yang masih bisa didengar oleh Rafael.


"Rasakan! " ucap Rafael dengan senyum miring di wajah tampannya membuat Marcus semakin jengkel.


jan lupa like, vote dan komen yahhh.

__ADS_1


sengaja di banyak banyakin, biar cepat end. Wkwkwkwk..😁😂😂😌


__ADS_2