
Author pov
Syakila dan lily sekarang ada di depan mesjid tempat Hana dan Atif akan melaksanakan akat nikah. Hp Atif sudah ada ditangan Syakila untuk menghubungi keluarga dari Atif sendiri. Niatnya agar pernikahan itu gagal namun sampai sekarang orang tua dari Atif yang Syakila hubungi belum satupun yang mengangkat.
"Ngak ada yang ngangkat, Li. " Syakila berkata dengan suara cemas. Sekali lagi gadis itu menghubungi orang tau dari Atif dan kali ini berhasil.
'Sah' suara para saksi pernikahan Hana dan Atif dari dalam mesjid.
Tapi sepertinya sudah tidak ada gunanya lagi, karna ijab kabul nya sudah selesai. Syakila dan Lily menghela nafas lemas, mereka saling menatap satu sama lain lalu berpelukan antara sedih dan terharu karna sahabatnya sudah sah menjadi istri orang walau caranya sama sekali tidak mengenakkan.
"Halo, Atif. " Spontan Syakila dan Lily kembali menoleh pada hp di tangan Syakila.
Dengan ragu Syakila menyahut, "halo. "
"Eh, ini kok cewek. Kamu siapa trus Atifnya mana?! " Suara dari sebrang sana dengan cerewet.
"Anu, ini Syaki tan..tante. Itu Om Atif eh maksudnya Pak Atif lagi ada masalah. Makanya hp pak Atif ada di aku Tante."
"Lah, trus Atif nya mana toh nak. "
"Ada. Tapi lagi ngak bisa pegang hp. Mendingan Tante datang ajah kesini. Lokasinya Syaki kirim lewat sms Tan. "
"Kalau begitu Tante kesana, kamu kirim sekarang lokasinya. "
"Bai...-" belum sempat Syakila menyahut sambungannya sudah terputus. "Udah dimatiin." ujarnya.
Syakila langsung mengirimkan alamat nya, kemudian ia dan Lily menunggu kedatangan keluarga dari Atif.
.........
Lily dan Syakila mondar mandir tak tenang. Mereka sekarang gelisah harus menjelaskan apa nanti pada orang tua Atif.
Lily menepuk bahu syakila pelan saat ia melihat Mira dan Marcus yang datang berjalan ke arah mereka.
"Lily, Syaki." seru Mira, gadis itu juga menunjukkan raut wajah yang cemas.
Lily langsung memeluk Mira sedangkan Syaki hanya diam ditempatnya.
"Udah Sah, Mir. " cicit Syakila dengan menggigit kukunya karna gelisah bercampur khawatir.
__ADS_1
Mira membelalak lalu menatap suaminya yang malah terlihat santai. Mira berjalan menghampiri Syakila yang jelas jelas terlihat begitu gelisah.
"Gi..gimana ini. Orang tua Hana belum aku kasih tahu Mir." keluh gadis itu dengan suara bergetar ketakutan. Mira langsung memeluk Syakila untuk memberi gadis itu kekuatan.
"Kamu yang tenang dong, Sya. Aku jadi ikutan panik nih." Mira melepas pelukannya kemudian menatap Syakila dengan cemberut, membuat gadis itu jadi tersenyum.
"Eh, Marcus? Kamu disini juga. " baik Marcus maupun Mira dan yang lainnya menoleh pada orangtua didepan mereka.
"Oh, Tante Melan. Iya, saya disini juga." Marcus langsung menyalim tangan kedua orang tua dari sahabatnya itu. Begitu juga dengan istrinya dan dua mantan mahasiswinya itu.
"Trus Atif dimana, Cus? " Wanita paru baya itu juga terlihat khawatir, mungkin ikatan batin antara ibu dan anak.
Marcus langsung menatap Syakila, membuat Melan dan Rangga suaminya ikut menoleh pada Syakila. Syakila yang menjadi pusat perhatian menjadi kikuk sendiri, namun ia harus menjelaskan nya,"Pak Atif ada didalam, Tan."
Melan menatap Syakila dengan dahi mengerut, "kamu yang nelpon saya tadi? "
Syakila menganggukkan kepalanya, "i..iya Tan."
"Trus Atif kenapa, masalahnya apa nak? " Syakila menegug salivanya dengan paksa.
"Salah paham, Tan. Umm ki..kita kedalam ajah tan biar di omongin baik baik. " usul Syakila yang mendapat anggukan dari Melan.
.............
"Jadi begitu Mah." jelas Atif teramat santai. Seolah olah masalahnya dengan Hana itu hanyalah masalah sepele.
Melan menghela nafas frustasi sedangkan Rangga menatap putra bungsunya itu dengan senyum mengembangnya, "ayah sik ngak masalah. Menantu ayah cantik begini, lagian itu karma buat kamu yang sok sok an nolak pas disuruh nikah. "
Atif mendengus mendengarkan ayahnya, pria itu kemudian menatap Hana yang sudah sah menjadi istrinya. Seingatnya gadis itu berisik tapi sekarang malah kelihatan pendiam sekali. Gadis yang sudah sah menjadi istrinya sendiri itu hanya menundukkan kepalanya sambil menggenggam tangan sahabatnya.
Melan menatap Hana,"nama kamu siapa toh nak? " Tanya nya dengan suara ramah.
Hana mendongak, ia menatap Melan takut, "Ha..Hana Tante." ujarnya dengan suara pelan.
"Gadis ini bisa takut juga ternyata." Batin Atif sembari meneliti wajah hana yang gugub bercampur takut.
"Kamu panggilnya Mami dong, kan sekarang kamu anak nya Mami juga. "
Hana hanya tersenyum kaku, tapi dalam hatinya ia sedikit bersyukur setidaknya ibu mertuanya baik dan alhamdulillah tak semenyeramkan ibu mertua dalam film india 'gopi.
__ADS_1
"Tif, urusahan orang tua Hana. Ayah serakan ke kamu yah. " ayah Atif tersenyum lebar membuat Atif kembali mendengus.
.............
"Apa?? " Syok Aini, ibu Hana setelah mendengar penjelasan dari Atif tentang Hana yang sudah sah menjadi istrinya.
"Maaf atas kebodohan anak saya buk Aini." Atif menatap ibunya yang mengatainya bodoh dengan raut wajah kesal.
Aini hanya menanggapinya dengan senyuman,"tak apa toh, Mbak. Salah anak gadis saya juga yang lebay, ngapain coba nangis di pinggir jalan kayak orang gila ajah." Aini langsung menatap putrinya tajam, sedangkan Hana hanya bisa memasang wajah cemberutnya saja.
"Ma..maafin Syaki Tante dan Om, karna udah ngak bisa jaga Hana." Syakila menundukkan kepalanya merasa bersalah.
Aini langsung menghampiri gadis itu dan memeluknya,"duh..duh ponakan Tante yang paling cantik dan comel. Jangan sedih gini dong, kan Tante ikutan sedih."
Aini menatap Hana dengan galak, " kamu sik! " Ujarnya menyalahkan Hana membuat gadis itu membelalakkan matanya tak terima.
'Main cantik lo Sya. Gila bener, Mami gue langsung putar haluan.' Batin Hana dengan wajah cemberutnya.
"Assalamualaikum. "
"Waalaikumsalam." semua orang langsung menoleh pada seorang wanita parubaya yang masih terlihat cantik itu.
"Masyaallah Han!! Kamu ngak papa kan nak. Ada yang lecet, sini biar Tante lihat." Syakila memutar bola matanya jengah melihat ibunya dan Hana.
Hana tersenyum senang kemudian memeluk Aira, ibu dari Syakila."Aku ngak papa kok Tan." Ujarnya manja.
Aira menghela nafas lega, ia menatap putrinya lalu berjalan menghampirinya, "geser! Mami mau duduk." Syakila dengan wajah cemberutnya menggeser kesamping.
Mira, Lily dan Kiandra melambaikan tangannya sambil tersenyum senang saat bertatap muka dengan ibu Syakila yang dibalas dengan senyum hangat.
"Jadi gimana buk Aini? " Melan kembali membuka suara, membuat semua mata kini kembali tertuju padanya.
Aini berdehem sebentar, "saya terserah keluarga Mbak ajah. Asalkan putri saya diterima dan diperlakukan dengan baik, saya tidak masalah Mbak. Lagian ini juga karna kesalah pahaman. "
Melan dan Rangga tersenyum senang, keinginan mereka untuk mendapat menantu kini sidah di ijabah oleh Sang kuasa walau dengan cara yang sedikit ekstrim. Atif hanya diam menerima nasip, lagi pula Hana bukan lah gadis buruk jadi ia merasa tidak begitu masalah dengan pernikahannya. Sedangkan Hana merutuki nasip sialnya, dalam hatinya ia menyumpah serapahi mantan terindahnya itu yang telah teganya memutuskannya dan berakhir dengan menjadi istri dari paman nya sendiri.
Kedua keluarga itu membuat kesepakatan bahwa akan di adakan resepsi pernikahan Hana dan Atif dua minggu lagi. Dan selama dua minggu itu Hana akan tinggal di keluarga besar Atif namum dengan syarat di temani oleh Syakila, Lily dan Kiandra. Sebenarnya Hana enggan tinggal di keluarga Atif, ia lebih memili tinggal di kontrakan nya namun sang ibu tak membolehkannya karna takut anak gadis nya itu ceroboh dan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Maka dari itu ia memberikan pilihan pada Hana tinggal dengannya atau dengan mertuanya. Dan tentu saja Hana menolak tinggal dengan ibunya, bukan apa apa hanya saja ia tak suka menjadi bahan gosip di lingkungannya. Maka dari itu dengan berat hati ia memilih tinggal dengan Atif tapi dengan syarat teman temannya ikut dengannya sampai acara resepsi.
jan lupa like, komen dan vote yahh.
__ADS_1
mau end inih😁