
'Bagaimana bisa?' Batin gadis itu tak percaya.
Dapat Syakila lihat Rafael tengah menatapnya dengan datar, membuat Syakila bingung menebak apa yang sedang pria itu rasakan. Apakah pria itu sedang marah, kesal atau senang.
Tiba tiba Rafael menyeringai membuat mata Syakila yang melotot menjadi semakin membulatkan matanya, kemudian gadis itu menegug saliva nya kasar merasakan pertanda buruk dari senyum devil pria tampan itu.
Syakila kembali menoleh pada Hana lalu mengacungkan bahunya, pura pura merasa biasa saja dengan tatapan Rafael.
"B ajah." ucap gadis itu~menatap Hana dengan sedikit angkuh. Padahal nyatanya hatinya sekarang sudah was was tak tenang karna membayangkan kegilaan pria itu padanya lagi.
"Songong! " kesal Hana dengan bersedekap, memilih membuang wajah dari Syakila.
"Hana!" Hana dan lainnya menoleh ke sumber suara menemukan Bowo yang sedang tersenyum manis.
"Eh, hai. Ketemu lagi yah. " kikuk gadis bersurai coklat terang itu dan tak lupa dengan senyum canggungnya.
Syakila menoleh pada bahunya saat merasakan beban disana. Ia melihat sebuah tangan yang sudah bertengger manis di bahunya.
'Sialan!! ' umpat gadis itu dalam hati.
Cepat cepat Syakila menyingkirkan tangan itu kasar, lalu menatap tajam pada pemilik tangan tersebut.
"kalo tangannya ngak mau patah, mohon dikondisikan yah." Syakila berkata galak. Ia berdiri lalu menyeret kursinya menjauh dari pria itu yang tidak lain adalah Rafka.
Rafka terkekeh, "galak amat, neng." ucapnya santai mengabaikan ancaman Syakila dan tatapan tak suka dari Nathan dan Tiger.
Bowo menggelengkan kepalanya melihat Rafka dan Syakila, lalu ia memilih duduk di samping Tiger tepat dihadapan Hana.
Rafka menyeret bangkunya ke samping Syakila membuat gadis itu menatapnya kesal dan tak suka.
"Ngapain lo kesini. Kayak ngak ada tempat lain ajah. Sanah jau jauh! " Syakila mendorong kursi Rafka dan mengibaskan tangannya mengusir Rafka dari dekatnya.
Bukannya pergi Rafka malah keukeh duduk disampingnya dan dengan gaya sok polos ia menoleh pada Syakila yang menatapnya garang lalu tersenyum manis pada gadis itu.
"Kalian siapa sih?! Datang kok sok SKSD. " Ujar Kiandra pedas, tak suka dengan kedatangan dua mahluk itu.
Lily menganggukkan kepalanya setuju. Ia juga tak menyukai kedua pria itu apalagi pada pria yang merangkul Syakila tadi, benar benar menggambarkan pria yang tak punya etika.
"Oh, gue pacarnya Hana. " Bowo berujar datar, menatap Kiandra tak suka.
Hana menatap Bowo terkejut, pacar?? Yang benar sajah?! Mengenal pria itu saja hanya sebatas nama. Mana bisa hal tersebut sudah membuat mereka pacaran. Dan lagi, kapan pemuda ini mengajaknya pacaran?!
Bowo yang melihat gelagat keterkejutan Hana mendekatkan wajah nya dan membisikkan sesuatu, "nanti gue jelasin. "
Hana menatap Bowo dengan mata yang berkedip kedip kemudian ia menganggungkan kepalanya.
__ADS_1
"Beneran, Han? " Kiandra menatap Hana dengan mata menyipit. Hana menoleh pada Bowo sebentar lalu menganggukkan kepalanya ragu.
Kiandra menatap Hana tak percaya, lalu ia menghela napas kecewa. Ia memilih mengalihkan pandangannya dari Hana. Kiandra tak menyangka jika Hana akan menyembunyikan hal ini padanya dan para sahabatnya.
Hana menatap Syakila yang sedang menatap nya datar, pertanda gadis itu sedang merasa tak suka. Lalu ia menatap Kiandra yang bahkan membuang muka kesamping dan ia menoleh pada Lily, harapan terakhirnya.
Lily hanya tersenyum kikuk saat Hana menatapnya, ia juga merasakan apa yang dirasakan Syakila dan Kiandra pada Hana. Perasaan kecewa karna gadis itu tak terbuka pada mereka. Namum ia tak bisa diam mengabaikan Hana karna menurutnya gadis itu juga butu privasi.
"Se...selamat, Han. " ucapnya kaku dan tak lupa senyum kaku diwajahnya.
Hana hanya mengagukkan kepalanya seraya tersenyum kaku. Ia tahu bahwa apa yang ia lakukan tidak benar. Tapi entahlah, ia merasa sulit untuk berpikir sekarang.
"Wihh, rame." Spontan mereka semua menoleh pada Mira yang baru datang.
"Sya, lo dari mana tadi? " Tanya Mira sembari duduk di antara Syakila dan Lily.
Syakila tak menjawab, ia bahkan tak menoleh pada Mira. Gadis itu hanya diam sembari menatap Hana dengan tak suka serta mencari sesuatu pada Hana.
"Lah, kok pada diam?! " Mira menatap satu persatu sahabatnya.
"kalian siapa? " Mira menatap Bowo dan Rafka bergantian.
"Dia pacarnya Hana." Kiandra berkata ketus dengan menunjuk Bowo, "trus yang itu gue ngak tau siapa. " lanjutnya semakin ketus.
"Yei pada murung gitu. Kan bagus kalo Hana punya pacar. Itu artinya kita bisa dapat Pj. " Mira berusaha agar terlihat antusias. Ia berharap perkataannya tersebut bisa mencairkan suasana.
Kiandra dan Lily mendongak, menatap Mira. Sepertinya mereka tengah menimang-nimang perkataan Mira.
"Gak butuh! " Ucap Syakila tiba tiba, ia menatap Hana sinis.
Hana menelan salivanya kasar, tak menyangka Syakila akan semarah itu padanya. Jika sudah seperti ini, gadis itu ingin memilih menangis saja tapi terlalu malu juga karna masih ramai. Mata gadis itu bahkan sudah memerah mendengar nada bicara Syakila yang terkesan dingin. Hanya menunggu genangan itu penuh untuk melunjur membasahi pipinya.
"Kalo Pj nya cuma satu mangkok bakso doang." Lanjut Syakila masih menatap Hana dengan bersedekap dan datar. Kemudian gadis manis itu tersenyum dan tak lama terdengar kekehan dari mulutnya membuat yang lainnya ikut tertawa karna sempat menatap raut ketegangan di wajah Hana.
"SYAKI!!! " jerit Hana setelah otak nya paham maksud Syakila yang hanya bercanda. Padahal tadi gadis itu hampir menangis.
Ia sedikit kesal, namun juga sangat senang karna setidaknya temannya itu tidak marah betulan.
"Lo bisa ajah, Sya." Tiger terkekeh. Menurutnya gadis bernama Syakila itu memang benar-benar lucu.
"Isss!! " Hana menatap Tiger dan Syakila kesal. Kalau soal jahil memang kedua orang itu sangat kompak.
"Ngapain kalian masih disini?!" Nathan menatap Bowo dan Rafka tak suka.
Ia memang jenis orang yang terus terang akan mengungkapkan ketidak sukaannya pada seseorang. Contohnya pada Bowo dan Rafka yang menurutnya sejenis parasit yang harus disingkirkan.
__ADS_1
Tiba tiba semua berhenti tertawa, memilih diam dan menatap ke arah Nathan.
Bowo menatap Nathan datar, "bukan urusan lo." ujarnya dengan nada tak suka.
Nathan menaikkan alis nya, "siapa bilang lo urusan gue. Huh, lo terlalu pede." Nathan tertawa meremehkan, membuat emosi Bowo tersulut namun tetap ia tahan mengingat ini pesta dari sang dosen.
"Kalo ngak ada kepentingan lagi, mendingan lo berdua pergi. Karna gue ngak suka kalian ada disini, apalagi teman ***** lo yang suka ganggu Syaki." Kali ini nada bicara Nathan berubah jadi serius, tatapan matanya saja menajam. Seolah-olah ingin membunuh kedua pemuda tersebut terutama pria yang duduk di samping Syakila.
Bowo menggeram tak suka, ia berdiri dan memukul meja membuat penghuni meja itu kaget dan beberapa tamu menatap heran padanya, termasuk tiga pria dewasa di sebrang meja mereka.
"Memang nya lo siapa nya dia! " Bowo menatap Syakila dari atas sampai bawa, menilai gadis itu yang berhasil membuat pangeran es dikampus nya marah hanya karna dirinya.
"Mata lo bisa dijaga ngak! " geram Nathan tak suka jika Bowo menatap Syakila dengan menilai.
Pertengkaran kedua pemuda itu semakin menjadi tontonan menarik para tamu, bahkan musik yang mengisi acara pesta sudah dihentikan agar mendengar perdebatan kedua remaja tampan itu~penasaran akan hal yang menjadi sebab pertengkaran pria itu.
Syakila menoleh ke sekelilingnya, menyaksikan kini semua mata sudah tertuju pada mereka. Ia merasa tak enak, karna menjadi alasan pertengkaran Nathan dan Bowo. Apalagi sekarang gadis itu tahu bahwa salah satu temannya menyukai Nathan, membuat perasaan tak enak itu semakin menjadi-jadi.
Tak sengaja matanya bertemu dengan mata Rafael yang menatapnya dingin. Kali ini Syakila tahu kalau pria itu sedang marah, entah itu karna Nathan adiknya yang membuat onar atau karna ia sendiri yang duduk di samping pria lain.
Syakila mengalihkan perhatiannya saat mendengar penuturan Bowo.
"Huh bucin, lo." kini giliran Bowo yang tertawa meremehkan. Dan itu berhasil membuat amarah sang pangeran es tersulut. Nathan berdiri dan hampir melayangkan tinjunya jika Syakila dan Lily tidak menghentikannya dengan menahan lengan pria itu dan perlahan menarik Nathan menjauh dari Bowo.
"Kak Nathan jangan buat onar. Ini di tengah-tengah pesta bukan di tengah ring tinju." Lily menatap Nathan kesal sekaligus khawatir dan tanpa sadar ia telah memarahi pemuda itu.
Nathan menoleh pada gadis yang sudah berani memarahinya. Rasa marahnya kian memuncak karna mendengar ocehan tak bermutu milik gadis itu. Namun niat untuk balik memaki gadis itu ia urungkan saat matanya menangkap mimik kekhawatiran yang kentara diwajah Lily.
Tanpa sadar, Nathan melayangkan senyum tipis dibibirnya saat guratan kekhawatiran gadis itu tertangkap oleh indranya.
Lily mengeryit saat matanya sempat menangkap senyum tipis milik Nathan. Lily berusaha mengabaikan perasaannya yang tiba tiba berdepar karna melihat senyuman tersebut. Ia mengalihkan tatapannya ke lengan Nathan menemukan tangannya sendiri yang masih memegang lengan gadis itu. Dengan cepat ia menarik tangannya membuat Nathan yang melihatnya menaikkan alisnya.
"Bisa ngak, kalian berdua ngak usah pamer tenanga dengan adu jotos. Kalau mau pamer tenaga, nanti saat bantu bantu bersih di sini. " Syakila bersedekap menatap malas pada Nathan yang masih sempat sempatnya melayangkan tatapan sengit pada Bowo.
"Dia yang duluan! " ucap Bowo tak terima, membuat Nathan menggeram marah.
"Udah yahh, jangan kayak anak kecil." timpal Kiandra yang diangguki Mira, Lily, Syakila, Hana dan Tiger.
"Uda ah, kita mendingan cabut ajah males temenan sama orang yang suka pamer kekuatan. " Mira berkata sakartis, ia menarik tangan Syakila dan Lily yang kebetulan berada di samping kanan kirinya.
Lalu mereka melangkah pergi, tak terkecuali Tiger dan Rafka.
Nathan menatap kepergian Tiger dan yang lainnya, ia berdecak lalu melangkah mengikuti Tiger dan yang lainnya. Begitu juga dengan Bowo.
jan lupa vote dan coment yahh wan kawan.
__ADS_1