Couple Soulmate

Couple Soulmate
53


__ADS_3

Lily keluar dari kamarnya karna ia haus. Ia berjalan kedapur, namun langkahnya berhenti saat matanya menangkap sosok Kiandra disana.


"Kia ngak ke kampus yah? " Tanyanya ramah, berusaha menyembunyikan perasaan sakit hatinya karna tamparan gadis itu semalam.


"Oh, gue pikir lo ngak bakalan mau ngomong sama gue yang uda jelas jelas nampar lo tadi malam. Soalnya Syaki ajah yang ngak ada salahnya lo diamin. " sarkastik gadis itu tanpa melihat lawan bicaranya. Dengan angkuh ia mengangkat gelas teh nya dan menyerup nya.


Lily menundukkan kepalanya, "kamu belain Syaki yah? "


Kiandra dengan anggunnya menyerup tehnya, berusaha menyembunyikan emosi, "Cih, iya lah. Dia kan sahabat gue."


"Tapi kan aku juga sahabat kamu. "


Kiandra menggeram, ia meletakkan cangkir gelasnya kasar. Lalu ia menghampiri Lily, "lo itu salah!! "


"Salah? " Lily menatap Kiandra dengan nanar, "kamu ngak bakalan ngerti apa yang aku rasain karna kamu ngak pernah ngerasainnya." lanjutnya dengan lirih dan kembali menunduk.


"GUE PERNAH MERASAKANNYA, BODOH." teriak Kiandra marah tepat didepan wajah Lily.


"Gue pernah ngerasain apa yang lo rasain ke Nathan. Dulu gue juga suka sama Nathan sampe gue salah paham sama Syakila. Gue pernah kayak lo yang bodoh merelakan ikatan persahabatan demi cinta yang tidak pasti. "


"Tapi gue sadar Nathan hanya mencintai Syaki bukan gue dan cinta itu ngak bisa dipaksakan. Syakila juga menjelaskan bahwa ia dan Nathan tidak lebih dari sahabatan dan gue percaya itu. Tidak seperti lo yang malah mempercayai omongan orang lain dibanding sahabat sendiri. "


Lily terdiam, ia berusaha membendung air matanya yang sudah mengumpul dan memaksa turun. Lily menatap Kiandra dengan mata berkaca kaca, "tapi...-"


Kiandra langsung memotong kalimatnya, "hanya karna cowok lo ngerusak persahabatan kita. Lo tahu ngak?!  gara gara lo Syakila pernah bertengkar dengan Nathan, lo tahu ngak?!  saat lo yang ngurung diri dikamar Syakila sangat menghawatirkanmu. Dia yang sering lindungin lo, dia peduli banget sama lo sampe gue dan Hana kadang kadang iri, bahkan dia ngak pernah ngomong kasar ama lo. Tapi, lo tahu diri ngak sih? Lo punya otak ngak buat bedain mana yang sayang dan mana yang benci! "


Selama kiandra membentak dan mencercanya, ia menangis sesenggukan. Hatinya bercampur aduk, antara rasa sakit dan tak menyangka.


Kiandra berdecak melihat gadis yang menurutnya sangat cengeng itu dengan tak suka, "seharusnya tadi gue yang nanya, lo itu nganggap kita sahabat ngak sik?! Kok lo lebih percaya ama orang lain dibanding kita yang jelas jelas sahabat lo. Persahabatan lo di ragukan. " Setelah mengatakan itu, kiandra melenggang pergi. Dan saat melewati gadis itu ia senganja menyenggolnya.


Lily teruyung kebelakang karna disenggol oleh Kiandra, ia membalikkan badannya lalu menatap kepergian Kiandra dengan mata yang ber air. Ia menundukkan kepalanya, benarkah ia yang salah? Benarkah ia merusak persahabatan nya?


Pikirannya kembali kacau saat memikirkan semua perkataan Kiandra tadi.


'Syakila perna bertengkar dengan nathan karna akuh.' Batinnya lirih.


...............


   "Baiklah cukup sekian pertemuan kita hari ini. Untuk tugas akhir semester kalian bisa kumpulkan ke Koko. Dan Koko nanti tolong antarkan ke ruangan saya. "

__ADS_1


"Baik pak." Koko berkata ragu karna sebentar lagi ia akan kembali mengunjungi ruangan angker sang dosen killer itu.


"Syakila, Mira. Kalian nanti keruangan saya. " setelah itu Marcus melenggang keluar. Ia berjalan menuju ruangan nya namun ditengah jalan ia bertemu dengan wanita yang akhir akhir ini jarang ia lihat karna beda fakultas dengan nya.


"Marcus! " Seru Viola dengan berjalan menghampiri Marcus.


"Aku mau bicara sama kamu. " ujarnya to the point. Marcus menganggukkan kepalanya.


"Diruangan saya! " titah Marcus dan Viola hanya mengangguk setuju.


.............


     Marcus memasuki ruangannya bersama viola, namun ia sedikit kaget dengan keberadaan Rafael disana. Tapi manusia datar akan selalu bisa menyembunyikan ekspresi bukan? Dan lagi pula ia tak kan heran jika Rafael bebas keluar masuk kampus dan juga ruangannya. Toh pemilik kampus ini Rafael sendiri dan Marcus juga pernah memberi duplikat kunci ruangannya.


Rafael menaikkan alisnya melihat Marcus yang datang bersama dengan seorang wanita yang tidak begitu asing.


"Selingkuhanmu? " Singkatnya dengan nada datar namun perkataannya begitu menyayat hati.


"Jangan asal menuduh." Marcus menatap malas Rafael. Tapi dalam hati Marcus sudah memaki maki pria itu, lalu ia mempersilahkan Viola duduk.


Viola menatap kagum pada Rafael, namun berusaha ia sembunyikan di wajah anggunnya. Kemudian gadis itu memperlihatkan senyum terbaiknya.


"Anda salah. Saya hanya teman Marcus saja. " ucapnya dengan nada sopan dan ramah.


Marcus mendengus melihat Rafael yang seenak jidat. Sedangkan Viola tersenyum kikuk karna sedikit malu.


.............


  Lily berjalan lesuh dikoridor kampus. Hana dan Kiandra tak mau berbicara, ditambah Syakila yang sama sekali tak sudi menatapnya. Harapannya hanya Mira, tapi gadis itu juga sahabat Hana, Syakila dan Kiandra. Jadi jelas saja Mira lebih memilih menghabiskan waktu dengan Hana, Syakila dan Kiandra.


Lily mendongak menatap orang yang menghadangnya jalannya dan mendapati Nathan yang menatapnya tajam.


"Ikut gue!! " Nathan segera menyeret gadis itu untuk mengikutinya. Untung keadaan koridor sedang sepih jadi tidak banyak yang memperhatikan mereka.


Lily berlari kecil bahkan kadang kadang langkahnya tersoek karna tak dapat mengimbangi langkah nathan. Nathan berhenti dan otomatis gadis itu juga otomatis, Nathan langsung menghadap Lily lalu menatap gadis itu marah dan tajam.


"Apa yang lo lakuin pada Syakila, hah? " Tanyanya to the point sembari menatap Lily marah.


Lily menegang, ia menatap Nathan kaget. Ia kaget dengan perkataan Nathan tadi, 'jadi kak nathan tahu. ' batinnya.

__ADS_1


"Jawab! " geram Nathan.


"Me..me memangnya Syaki kenapa? " Lily meremas jari jarinya kala sorot mata Nathan semakin menajam menatap nya.


"Jangan pura pura ngak tahu." ketus Nathan,"gue peringatin sama lo, jika lo tahu nya cuma nyakitin Syakila doang mending loh jahuin dia. Karna gue ngak suka apa yang gue jaga malah di sakiti. " tambah Nathan. Kemudian tampa ba bi bu, ia melenggang pergi meninggalkan Lily dengan hati yang tertohok.


'jika lo tau nya cuma nyakitin Syakila doang mending loh jahuin dia. '


Sekarang kalimat itu menambah daftar mengiyang di otaknya.


Lily menghela nafas lelah lalu melangkah kan kaki keruangannya, akhir akhir ini ekspresi wajahnya tidak seperti biasanya yang terlihat ceria dan semangat. Wajahnya lebih sering terlihat lesuh dan tak bersemangat, alasannya hanya karna permasalahan yang tak ia mengerti.


Ia duduk di kursi yang biasa ia tempati, namun kali ini berbeda karna biasanya ia duduk di kelilingi sahabatnya namun kali ini ia sendiri, benar benar sendiri. Karna Syakila, Mira, Hana dan Kiandra lebih memilih duduk berjauhan dengannya.


Ia menatap ke arah sahabatnya yang terlihat sangat asyik bercanda, kecuali seorang yaitu Syakila yang tak bersemangat. 'apa Syakila ngerasain seperti yang gue rasaii? '  Batinnya.


Prakk!


Lily yang kaget karna mendengar kursi yang terjatuh mendongak. Ia menatap Widia dan beberapa orang lainnya yang berdiri didepannya.


"Ada apa yah kak? " Lily menatap widia bertanya.


"Cik cik cik, menyedihkan sekali lo. Dijahui sahabat sendiri, ck ck ck ck.c" Widia bersedekap, ia berkata dengan nada mengejek. Teman teman Widia ikut tertawa mengejek.


"Maksud kakak apa? " Lily menatap polos Widia membuat ia muak.


"Itu kah sahabat yang pernah lo bangga banggain? Ck ck ck, menyedihkan. Mereka ninggalin lo dan lebih memilih Syakila. Mereka selama ini memang ngak nganggap lo ada sik, tapi lo nya ajah yang gak nyadar. Nahh, sekarang lo tahu kan rasanya ditinggalin. "


Lily berusaha tak menanggapi Widia. Sedangkan Widia belum puas sebelum melihat gadis didepannya ini hancur.


"Teman teman lo itu sebenarnya gak peduli ama lo, buktinya mereka lebih memihak ama si aki aki yang nyatanya udah ngerubut gebetan lu sendiri. Hahahaa, kasian deh lo. " kemudian Widia dan teman temannya tertawa yang ditelinga Lily begitu menyiksa.


Lily berdiri karna tersulut, "Syaki ngak gitu. Aku yang salah karna udah percaya sama kamu yang punya mulut busuk." ujarnya marah. Cukup saat hari itu saja Lily percaya dengan gadis bernama Widia ini, sekarang ia tidak akan lagi.


"Jaga ya tuh mulut! " peringat Widia yang geram mendengar perkataan Lily.


"Tapi memang benar kan kalau mulut kamu itu sampah busuk. Tahu nya cuma nyebar fitnah doang. " gencar lily sama sekali tak merasa takut. Ia ingat perkataan Syakila dan sahabatnya kalau ia harus melawan saat ada penindasan.


"Lo bodoh apa ****** sik?! Lo masih belain sahabat yang jelas jelas udah ngebohongi lo dan nusuk lo dari belakang. "

__ADS_1


"Aku udah bilang!! Syaki sama yang lainnya ngak pernah begitu. Udah lebih baik kakak pergi ajah. " Lily bersedekap, ia juga ingat perkataan sahabatnya kalau sedang berhadapan dengan musuh maka kita tidak boleh terlihat ketakutan walau sebenarnya kita sedang ketakutan.


jan lupa vote, like dan komen yahh😁😂


__ADS_2