Couple Soulmate

Couple Soulmate
33


__ADS_3

Kiandra berjalan dengan kesal, ia menghentakkan kaki nya lalu menatap kebelakang dan tak menemukan siapapun yang mengejarnya. Padahal tadi ia mendengar Syakila memanggilnya dan mengira gadis itu mengejarnya.


Kiandra berdecak kesal, entah pada Syakila yang tak mengejarnya atau pada Hana yang bodoh menerima Bowo yang memanfaatkannya.


Kiandra menggerutu pada dirinya sendiri, "sialannnn!! "jeritnya tertahan.


"Dorrr!! "


"Aaaaa.." Kiandra menjerit kaget, ia mengelus dada dan menoleh pada orang yang mengagetkannnya.


Kiandra berdecak kesal. "Lo! " Ujarnya kesal.


Tiger tersenyum,"iya gue. Kenapa? Rindu? " Tiger menaik turunkan alisnya menggoda Kiandra, sedangkan gadis itu mendengus.


"Dih, rindu sama lo. Gak sudi!! " ucapnya ketus.


Tiger tertawa, lalu menarik gadis itu menuju ke halte untuk duduk, "lo kelihatan nya lagi kesal. " Tiger duduk tepat disamping gadis itu, menatap nya dengan intens membuat Kiandra jadi tidak nyaman dan gerogi.


"Bukan urusan lo!" Ketus Kiandra, menatap ke arah manapun asal bukan ke arah Tiger.


Tiger terkekeh membuat Kiandra menoleh padanya, "iya sik, bukan urusan gue. Tapi gue peduli ama lo. " tutur nya.


Kiandra terdiam, ia menatap Tiger yang juga tengah menatapnya dengan dalam.


"Gue ada masalah sama sahabat gue. " entah kenapa ia malah menceritakan keluhannya pada Tiger.


Tiger menaikkan alis nya, kemudian menopang dagu menunggu kelanjutan cerita Kiandra penuh minat.


Kiandra menghela nafas, "gue ngak suka jika Hana sama Bowo pacaran. Gue takut pria itu cuma manfaatin Hana doang, gue ngak mau Hana terluka. Tapi Syaki ama Lily malah ngedukung hubungan Hana. "


Tiger berpikir sejenak mendengar cerita dari Kiandra, "gue boleh komentar nih? " Kiandra hanya menganggukkan kepalanya.


"Menurut gue lo ngak salah, lo ngak setuju karna lo kawatir ama sahabat lo. Tapi Syaki dan Lily juga ngak salah, karna mereka hanya tidak ingin melukai perasaan Hana saja dengan menolak hubungan Hana dan Bowo. " Kiandra menatap serius pada Tiger yang juga menatapnya serius.


"Jadi sekarang gue ngelukai perasaan Hana, dong. " Raut wajah Kiandra berubah jadih murung. Ia merasa bersalah karna tanpa sengaja telah melukai hati sahabatnya.


"Giamana yah. Bisa jadi iya bisa jadi tidak. Tapi gue yakin Hana maklum dengan alasan lo menolak hungannya sama Bowo. Gue yakin ia tidak marah sama lo. Dan sekarang gue juga yakin mereka tengah mencari lo. " di akhir kalimat Tiger terseyum tulus yang entah mengapa membuat hati Kiandra menghangat.


Kiandra ikut tersenyum, ia menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan dari Tiger. Ia tak menyangka Tiger akan sebijak tadi, karna biasanya pria itu hanya tahu untuk menggodanya saja.


"Terimakasih." Kiandra semakin melebarkan senyumnya, tak tahu efek dari senyumnya membuat Tiger terpana.


Tiger menganggukkan kepalanya, ia dapat merasakan detak jantungnya yang berdegug kencang saat melihat senyuman dari Kiandra.


"Ayo! gue antar lo ketemu ama sahabat lo." Tiger berdiri, mengulurkan tangannya pada Kiandra. Gadis cantik itu menerima uluran tangan dari Tiger dan segera berdiri.


.........................


       "Kiandra kemana yah? " Lily berjalan sambil bermonolog sendiri, ia menatap sekelilingnya mencari keberadaan Kiandra.


"Aduh, sori sori. " ucapnya panik, ia menabrak seseorang karna terlalu fokus mencari Kiandra dan tak melihat jalannya.


Lily membelalak melihat siapa yang ia tabrak, "k..kak Nathan! " serunya kaget.


"Hummm." pria itu hanya berdehem, "sama siapa? " tanyanya membuat Lily memgeryit tak paham.


Lily menatap Nathan bingung, ia menggaruk pipinya yang tak gatal. Nathan menatap datar pada Lily.


"Lo disini sama siapa? " ulang Nathan bertanya dengan kata yang ia tambahi sedikit agar gadis didepannya itu paham.


"Oh, Lily sendiri. Lily lagi nyari Kiandra." jawab Lily, Nathan hanya menatapnya datar tak merespon.


"Panas, lo pulang!! " Lagi lagi Lily mengeryit, tak paham dengan perkataan Nathan.


Nathan berdecak, menatap datar Lily yang kelihatan bingung, " gue ngak suka lihat lo kepanasan, jadi lo mendingan pulang!" Nathan berkata datar.


Lily mengedipkan matanya,ia menahan bibir nya agar tak melengkungkan senyum.


Ia menatap Nathan ingin protes, walau Nathan berlaku manis padanya hari ini tapi ia juga tak boleh lupa bahwa ia sekarang tengah mencari keberadaan sahabatnnya. Belum sempat protes, Nathan sudah menariknya menuju mobil pria itu.


"Gue antar lo pulang. " ucap Nathan setelah mereka dalam mobil.


Lily membelalakkan matanya, "loh. Kindra gimana, Kak ? " Ucapnya panik. Tujuannya mencari Kindra bukan untuk pulang.


Nathan tak menggubris, memilih menjalankan mobilnya dengan fokus pada jalanan.


...............


   Syakila berjalan kaku ke arah adiknya yang sudah menatapnya datar. Hana juga mengikur dibelakangnya.


Ia mengumpulkan keberaniannya, dan memasang wajah galaknya.


"Lo ngapain disini? " galaknya pada sang adik saat ia sudah berdiri disamping Harun.


"Lo liat? " ketus Harun. Ia bersedekap memandang ke arah depan.


Syakila berdecak kesal, ia menoyor kepala sang adik membuat siempunya kepala mengadu kesakitan.


"Sakit, ****." Syakila melotot, menatap tajam Harun yang juga menatapnya tak kalah tajam.


"Eh, Kak Syaki." Syakila dan Harun memutuskan kontak mata dan menoleh pada teman Harun.

__ADS_1


Syakila menyuruh Harun bergeser sedikit agar ia dapat duduk di bangku yang sama dengan sang adik. Harun menurut, bagaimanapun ia tak akan tega melihat kakak kesayangannya kelehahan karna berdiri terlalu lama.


"Oh, lo yang waktu itu bantu gue kan? " Tebak Syakila, pemuda itu menganggukkan kepalanya lalu tersenyum ramah.


"Nama Aku Fian, Kak. " Syakila mengangguk sebagai respon.


"Nama gue Dimas, Kak. "


"Gue Dito, kak. "


"Thomas, Kak. "


"Gue..-" Harun langsung memotong perkataan temannya yang ingin memperkenalkan dirinya pada Syakila.


"Kakak gue ngak nanya! " Ketus Harun yang mendapat pukulan dari sang kakak.


"Hehehee, kakak lo cantik yah, Run. " Tutur salah satu teman Harun.


"Tadi kakak lo keren abis. "


"Aura kecantikannya keluar pas bertengkar ama wanita alien tadi. "


"Kakak lo emang the best lah. "


"Tapi sayang, dah punya pacar. "


" Tampan pulak, jadi minder akguh."


"Saingan beratt! mengalahkan rindu Dilan."


Harun langsung melayangkan tatatapan tajam pada satu persatu temannya membuat mereka memilih diam. Sedangkan Syakila hanya memutar bola mata malas.


"Gue ngak suka lo ngomongin Kakak gue. " Harun memperingati temannya dengan nada dingin.


Syakila menghela nafas lelah, lalu berdecak. Kemudian ia menatap Hana yang sedang senyum senyum pada Harun.


Sadar Syakila menatapnya, Hana memilih menghampiri adik kakak itu,"hai cogannya Hana." sapanya riang pada Harun, ia bahkan mencubit pipi pria itu.


Harun hanya tersenyum sebagai respon pada Hana.


"Senyumnya makin manis ajah nih." goda Hana pada Harun yang tak di gubris pria itu.


Sedangkan Syakila sudah ingin muntah melihat kekonyolan Hana.


"Lo ngapain disini." tanya Syakila kembali pada Harun.


"Nongkrong, lah. " Harun kembali menjawab Syakila dengan ketus.


"Harun pengen jumpa ama Kakak, katanya rindu ama Kakak. " jawab salah satu teman Harun membuat Harun melotot.


Syakila menaikkan alis lalu terkekeh, "ciee, yang lagi rindu. " Syakila berkata dengan nada menggoda, kemudian  merangkul Harun.


"Ck, Kakak apan sik." Harun menatap Syakila dengan raut kesal namun ada raut wajah yang terlihat malu, malu karna ketahuan merindu sang kakak. Harun bertekat setelah pulang dari sini, ia akan memberi pelajaran pada temannya dengan mulut embernya.


Hana dan Syakila sama-sama terkekeh melihat Harun yang sedang kesal dan menahan malu. Harun semakin kesal kala mendengar Syakila dan Hana yang menertawakan ia.


"Lo berdua bisa diam ngak! Kalo ngak gue bakalan aduin lo berdua. " ancamnya dengan memasang wajah datar.


Hana dan Syakila berhenti tertawa lalu mereka saling bertukar pandang, "ngaduin apa?"


"Gue bilangin ke nyokap kalo Kak Syaki disini asyik pacaran bukannya kuliah dengan benar. Gue juga bakalan ngaduin Kak Hana sama Om Ridho kalo Kak Hana juga asyik pacaran. " Harun berkata datar tanpa melihat ke arah Hana dan Syakila.


Hana dan Syakila kembali saling berpandangan lalu keduanya tertawa pecah.


"Anjay, adik lo manis baget Sya. Dia mau ngaduin kita. Hahahah.." Hana bahkan memegangi perutnya yang kram karna tertawa.


"Gilak!! Kayak anak TK ajah. Pake acara ngadu. "


Harun tertawa meremehkan, "terserah, tertawalah sepuas kalain. Tapi jangan nyesel uang bulanan kalian bakalan di potong. "


Hana dan Syakila mendadak berhenti tertawa. Mereka menatap horor pada Harun. Perkataan Harun tadi, bagaikan petir yang menyambar di siang bolong, sangat mengejutkan dan berbahaya.


"Kenapa pada diam. Ayo!! Lanjut ketawanya. " Harun tersenyum menang. Kini gilirannya yang tertawa, tertawa di atas penderiaan kakaknya. Mungkin sedikit jahat, tapi juga menyenangkan bagi Harun.


"Kejam amat lo sama Kakak cantik lo." ujar salah satu teman Harun yang bernama Fian.


"Bacot!! " ketus Harun.


Harun berdiri dan menghampiri meja berpenghuni tiga pria yang sedari tadi memperhatikan mereka.


Syakila melotot saat melihat Harun berjalan ke arah meja Rafael, ia segera berdiri dan menyusul sang adik yang di ikuti oleh Hana.


Syakila berlari dan henghadang jalan Harun dengan merentangkan kedua tangannya, "lo mau apa?" Ia melotot, menatap tajam sang adik.


Harun menaikkan alisnya, ia menoleh kesamping ,"itu ada jualan es krim rasa cokelat sama vanila. " spontan Syakila dan Hana ikut menoleh, memastikan perkataan Harun.


Harun tersenyum miring, Syakila belum berubah masih mudah dikelabuhi dengan alibi makanan. Ia segera melanjutkan langkahnya menuju meja dengan penghuni salah satu nya yang ia tahu pacar Syakila.


"Anjay, kita di **** begoin." Ucap Hana setelah sadar bahwa ia dan Syakila ditipu oleh Harun.


Syakila berdecak, lalu menghampiri Harun yang sudah bergabung dengan Rafael, Atif dan Bowo.

__ADS_1


'Mati, mati, mati!!!!!! ' Batin Syakila menjerit.


"Anda pacar kakak saya. " Rafael menaikkan alisnya menatap Harun datar.


Harun yang melihat respon pria dihadapannya sedikit menciut, apalagi pria itu penuh dengan aura intimidasi yang pekat.


Rafael mengalihkan tatapannya pada Syakila yang terlihat cemas dan sesekali menggerutu. Rafael kemudian kembali menatap Harun, ia tersenyum tipis dan menganggukan kepalanya.


"Oke, gue titip Kakak gue. Dia bawel, cerewet, jahil, galak dan banyak makan." Syakila melotot mendengar perkataan Harun, karna kesal dengan spontan Syakila menjitak kepala Harun.


"Haiss." ringis Harun.


"Satu lagi! Seperti yang Kakak ipar lihat, dia jahat terhadap adiknya dan semena-mena."


Syakila kembali melotot, bukan lagi pada Harun yang menjelek jelekkannya. Tapi pada panggilan Harun pada Rafael.


'Kakak ipar? Yang benar saja.' Batin Syakila tak terima.


Syakila bergerak gelisah, bahkan adiknya terlihat menyukai hubungannya dengan Rafael. Dan bisa-bisa Rafael yang ia cap sebagai king of the es serta tuan psycho itu akan besar kepala.


"Astaga, Syaki! Adik lo ajah tahu kalo pak Rafael emang the best banget. " Hana menatap Syakila dengan senyum girang.


Syakila hanya tersenyum kecut mendengar penuturan dari Hana. Harun dan Rafael kembali membicarakan seputar Syakila, sebenarnya hanya Harun saja yang banyak berbicara sedangkan Rafael hanya mendengar saja. Namun kali ini Rafael begitu penuh minat mendengarkan Harun karna yang mereka bahas adalah Syakila gadis spesial di kehidupan kedua pria itu.


Tiba tiba hp Hana dan Syakila berbunyi, membuat mereka jadi pusat perhatian di meja itu.


Syakila menatap nama dilayar ponselnya, begitu juga dengan Hana.


"Lily."


"Kiandra."


Guman mereka bersamaan lalu saling menoleh satu sama lain.


Hana dan Syakila sama sama berdiri dari tempat duduk masing masing, lalu menjauh untuk menganngat telpon dari sahabat mereka. Tak lama mereka kembali ketempat mereka semula.


Hana menatap Bowo tak enak lalu pada penghuni meja itu satu persatu," Wo, kita mau pulang. Soal nya Kiandra udah balik duluan."


"Biar gue antar! " Bowo menawarkan, menatap Hana dengan harap.


Hana menatap Syakila yang juga menatapnya mengisyaratkan'terserah lo'. Hana tak mungkin meninggalkan Syakila tapi tak enak bila menolak ajakan Bowo, sang pacar sandiwaranya.


"Ada Harun. " Ucap Syakila saat Hana kembali menoleh padanya.


Hana tersenyum lalu mengaggukkan kepalanya pada Syakila. Ia menatap Bowo, "baiklah. " ucapnya.


Bowo tersenyum dan segera berdiri, begitu juga dengan Hana. Setelah pamitan mereka berlalu dari sana.


"Saya izin pamit juga, Kak. " Syakila berdiri menatap sebentar pada Rafael yang tak merespon, lalu pada Harun.


"Run, ayokk! " ajaknya menarik sang adik agar berdiri.


Harun berdiri, "lah kenapa gue yang ngantar, kan ada pacar Kakak?! "


Syakila bersedekap, melototkan matanya menatap sang adik sangking kesalnya.


"Harun!!" geram Syakila.


Harun mengancungkan bahunya, kemudian berlalu dari sana. Ia menoleh pada sang kakak lalu tersenyum senang melihat sang kakak dengan raut wajah menahan kesal.


"Kalo lo ngak mau antar Kakak lo, biar gue ajah, Run." ujar salah satu teman Harun yang bernama Thomas.


"Gue juga bakalan antar Kak Syaki. "


"Gue juga ikut, bakalan jaga Kak Syaki agar ngak di ganggu ama cowok ngak benar."


Harun memutar bola mata jengah, sedangkan Syakila sudah senang karna teman Harun berpihak padanya.


"Gak ada. Kita pulang, Kakak gue ngak perlu lo jagain. Dia udah bar bar dari orok jadi ngak perlu. " Harun berkata datar. Lalu melangkah keluar dari cafe.


"Harun tega! " Harun menghentikan langkah kakinya kala mendengar sang kakak yang berkata dengan lirih. Ia memutar badan, menatap sang kakak yang juga menatapnya dengan raut wajah sedih ingin menangis.


Sebenarnya itu hanya alibi Syakila agar sang adik luluh dan Harun tahu itu, tapi sampai kapanpun ia tak akan tega melihat ekspresi sedih sang kakak.


Harun berdecak, "Ck, iya gue antar." Syakila tetap tak bergeming dari tempatnya, masih dengan raut wajah sedihnya.


"Sekalian gue traktir beli es krim vanila." ucap Harun yang membuat raut wajah Syakila berubah menjadi senang kelewat girang.


Syakila tersenyum lebar menatap sang adik dengan binar. Kemudian ia menoleh pada Rafael dan Atif, "saya pulang yah Kak Rafael dan ....-" Syakila menatap Atif yang ia tak tahu siapa namanya, "oh, teman nya Kak Rafael. " Ucap nya kemudian segera berlalu dari sana.


"Saya yang akan mengantarmu, Syakila." Syakila berhenti berjalan, seketika raut wajah nya berubah menjadi kakuk.


"Nah, lo sama kakak ipar ajah. Oke, kalo gitu adik lo yang tampan ini pulang dulu. Makan yang banyak Kakak ku, karna gue ngak suka lihat lo kurus kerempeng. " Harun tersenyum senang, setidaknya dompetnya  tidak jadi terkuras karna mentraktir sang kakak membeli es krim.


Syakila tak bisa ber kata kata, memilih melihat punggung sang adik yang kian menjauh dan teman adiknya yang melambaikan tangan padanya.


"Ayo!! " Syakila menoleh pada Rafael yang sudah berdiri disampingnya. Ia mengangguk lesu. Tak jadi deh ia mendapat es krim kesukannya, es krim rasa vanilla.


.........


jan lupa vote dan comen yahhh!!😉

__ADS_1


__ADS_2