Couple Soulmate

Couple Soulmate
37


__ADS_3

Author pov


************


Nathan dan Tiger duduk bergabung dengan para gadis yang akhir akhir ini dekat dengan mereka dalam atrian ikatan pertemanan.


Syakila menghentikan aktivitas makannya, ia menatap Nathan dengan mengeryit. Lily juga menatap Nathan penuh dengan tanda tanya.


"Kak Nathan kenapa? " Lily menatap Nathan kawatir, gadis itu mengilu saat menatap pada bekas ke unguan di pipi tirus pemuda itu.


Nathan tak menjawab, memilih menatap gadis itu datar.


"Ditanya malah diam. Pipi lo kenapa sik Kak? " Syakila menatap Nathan kesal namun juga ia menghawatirkan pemuda itu.


"Ck, bukan urusan mu! " ketus Nathan membuat Kiandra, Hana, dan Mira tersedak makanan mereka bersama. Karna baru kali ini mereka mendengar Nathan berkata ketus pada Syakila.


"Uhuk, uhuk. "


Dengan cepat Tiger menyodorkan botol minum yang sudah ia buka pada Kiandra.


"Pelan pelan." ucapnya saat Kiandra yang terburu buru menegug minuman itu.


Syakila mendengus pada Nathan,"dih, sensi amat. Kayak lagi pms ajah. "


"Emang! " Jawab Nathan cepat.


"Aku ngak suka kalo kamu dekat sama Rafka dan teman menyebalkannya. " lanjut pria itu dengan nada serius.


Hana menatap Nathan jengah, tak menyangka Nathan belum mengubah sifat possesive nya pada Syakila, "posesiv amat! "


"Apapun itu yang bersangkutan dengan Syakila! " tegas Nathan membuat Hana bungkam.


Lily menatap Nathan dengan senduh, rasanya sakit kala ia melihat sendiri betapa Nathan begitu menyayangi Syakila sampai pria itu begitu menjaganya. Sungguh ia berharap suatu saat nanti akan ada di possisi Syakila yang selalu di jaga oleh Nathan karna pria itu menyayanginya.


Sekarang Lily sedikit ragu dengan perkataan Syakila kemarin padanya, sepertinya Nathan begitu menyayagi Syakila. Bukan sebagai adik melainkan sebagai pujaan hati pemuda itu.


"Tanpa disuruh juga gue bakalan jaga jarak, Kak. Lo tahu kan masalah gue? " tutur Syakila membuat Lily yang melamun menatap Syakila.


"Humm! " Nathan hanya berdehem.


Syakila tersenyum senang, setidaknya sekarang  ada yang membantunya mengatasi masalahnya dan paham akan masalahnya. Kemudian gadis itu melanjutkan makannya, tak menyadari Lily yang menatapnya nanar.

__ADS_1


...........................


       Lily menghela nafas pelan, berusaha menetralkan perasaan yang berkecambuk didalam sana. Rasa nya sekarang ia benar benar bingung, antara mempercayai perkataan Syakila padanya atau merelakan Nathan untuk Syakila.


Ia melangkahkan kakinya melewati rak rak buku, tak ada minat sekalipun untuk menoleh pada deretan buku yang ia lewati. Hanya ada tatapan kosong dan langkah pelan menelusuri setiap rak yang entah sudah berapa kali ia lalui.


Lily melorotkan tubuhnya, menyandarkan punggungnya di rak. Ia duduk beralas lantai dingin di perpus. Jari lentik nya menelusuri jejeran buku di hadapannya, namun dengan pendangan lurus kedepan.


Tiba tiba jarinya terhenti, dikarenakan seseorang yang menangkap dan menggenggamnya membuat Lily menoleh.


Lily membelalakkan matanya mendapatkan Nathan disana yang tengah menatapnya datar. Seketika jantungnya berdegug kencang, efek berdekatan dengan pria bernama Nathan itu. Dengan cepat ia menarik tangannya saat menyadari tangannya masih ada di genggaman pria itu.


"Ada apa? " Nathan bertanya dengan suara berat khas nya.


Lily menatap Nathan dengan raut gugup diwajahnya, namun dengan cepat ia sembunyikan dengan senyum kaku di wajahnya. Tapi sayang, Nathan sempat menangkap raut wajah yang tak mengenakkan itu, apalagi ditambah dengan senyum kaku gadis itu.


"Katakan! " Nathan kembali bersuara, membuat Lily sedikit tersentak.


Lily berdiri, kemudian Nathan juga ikut berdiri. Kini posisi Nathan benar benar ada didepannya. Pria itu bahkan menatapnya tajam, menuntut penjelasan dari gadis imut di depannya itu.


Lily memberanikan diri membalas tatapan Nathan, membuat pria itu sedikit kaget namun disembunyikannya lewat wajah datar nya.


"Bu..bukan urusan Kakak! " ucap nya cepat dan segera berlalu dari sana.


"Gue ngak suka diabaikan." ucap Nathan penuh dengan penekanan disetiap kata, "dan lo barusan ngabaiin gue. "


Lily sekarang benar benar takut melihat Nathan. Ia menegug salivanya kasar, ia ingin menangis. Katakan ia cengeng, namun ia benar takut dengan Nathan yang seperti ini. Apalagi pria itu masih mencekal tangannya dengan kuat membuat Lily meringis menahan sakit.


Lily menarik paksa tangannya dari cekalan Nathan dan berhasil. Ia menatap Nathan dengan mata yang sudah berkaca kaca.


"Kenapa Kakak ngak boleh Lily abaikan? Memangnya Kakak siapa? " ucapnya dengan lantang.


"Gue emang bukan siapa siapa. Tapi lo ngak boleh ngabaiin gue karna lo yang memulainya duluan. " Nathan berkata penuh misteri membuat Lily yang ketakutan menjadi kebingungan.


"Me..memulai duluan? " Beo gadis itu dengan alis yang mengeryit.


Bukannya menjelaskan, Nathan malah tersenyum sinis kemudian berlalu dari sana meninggalkan Lily yang sedang kebingungan.


...............


   Lily menyandarkan punggungnya pada samping tempat tidurnya. Ia menatap pergelangan tangannya yang sedikit lebam karna cengkraman Nathan yang cukup kuat.

__ADS_1


Ia memikirkan perkataan Nathan tadi saat diperpus dan sampai sekarang gadis itu tak mengerti apa maksud dari pria itu. Apakah ia harus menanyakannya pada Syakila yang sudah mengenal lama Nathan atau mencari tahu sendiri.


Mungkin ia akan memilih obsi terakhir, karna sekarang ia sedikit ragu dengan Syakila. Bukan bermaksud menuduh Syakila yang membohonginya, tapi hanya saja ada perasaan tak suka pada Syakila yang begitu unggul di depannya soal Nathan.


Yah, ia harus cari tahu sendiri soal perkataan Nathan tadi. Ia yang sudah mencintai dalam diam, maka juga ia yang harus berjuang dalam diam. Sekarang Lily bertekat bulat akan mencari tahu semua tentang Nathan.


"Li! " Lily tergelonjak kaget, kemudian gadis itu menoleh ke arah pintu menemukan Syakila dan Hana yang tengah berdiri menatapnya keheranan.


Mata Syakila mengarah pada pergelangan tangan Lily, "tangan lo kenapa? "


Spontan Lily menyembunyikan tangannya.


Dengan langkah cepat Syakila dan Hana menghampiri gadis itu. Hana menarik paksa tangan kanan gadis itu, lalu menatap ke arah lecet di pergelangan gadis imut itu. Hana dan Syakila saling berpandangan sebentar lalu menatap Lily yang sudah gelisah dengan serius.


"Siapa yang buat! " Hana menatap Lily tepat pada mata gadis itu, membuat Lily semakin gelisah.


"Jawab, Li! "


Lily bergerak gelisah, ia menoleh kekanan kiri nya, "umm, bukan siapa siapa. Tadi cuma terjepit pintu kok. " bohong gadis itu.


"Siapa, Li?! " Hana menatap tajam Lily, menuntut gadis itu mengatakan yang sebenar nya.


"Kak..Nathan. " ucap Lily cepat.


"Nathan?? " Beo Hana, "lo kan ngak ada hubungan apa apa sama Kak Nathan, ngapain Kak Nathan lukain lo." tukas Hana sedikit tak percaya.


Lily menatap Hana kecewa, "jadi Hana ngak percaya sama Lily?! " ucap gadis itu dengan suara yang sedikit bergetar.


Hana terdiam, menatap Lily merasa bersalah. Sedangkan Syakila memilih meninggalkan ruangan itu tanpa sekatah apapun.


"Bu..bukan begitu Li...- "


Lily cepat memotong kalimat Hana, "udah Hana keluar dari kamar Lily. "


Hana menatap syok pada Lily, "Lily mau sendiri," lanjut gadis imut semakin membuat Hana syok.


"Tapi Li, ini kan kamar aku juga. " ucap Hana hati hati takut menyinggung perasaan Lily kembali.


"Lily ngak peduli, sekarang Hana KELUAR!!"


""

__ADS_1


jan lupa vote, like, dan coment yahhh😉


__ADS_2