Couple Soulmate

Couple Soulmate
56


__ADS_3

Syakila kini tengah di teras kontrakannya sedang memandang hamparan bintang di langit. Ia menikmati angin malam serta indahnya kerlap kerlip bintang yang ditemani oleh secangkir coklat hangat. Para sahabatnya sudah terlebih dahulu tidur, jadi hanya ia sendiri diluar.


"Huuuh. " ia menghela napas ~ memikirkan masalah yang beberapa minggu ini selalu menemaninya.


Syakila memasang earphone ke telinganya, musik adalah penenang baginya. Memandangi bintang sambil mendengar musik perlahan lahan membuat Syakila mengantung. Matanya yang mengantuk menatap ke langit dengan sayu, sesekali bahkan ia hampir terpejam.


Namun tiba tiba matanya menjadi terang serta melotot kaget melihat wajah Rafael yang menunduk menatap nya.


Gadis manis bersurai hitam pekat itu spontan meletakkan tangannya di dada karna terkejut.


"Astaga!! "Kagetnya.


Rafael hanya menatap nya datar, lalu pria itu duduk disamping Syakila. Beberapa menit hanya terjadi keheningan, ingin sekali Syakila mengeluarkan suara namun selalu diurungkannya saat ia kembali asyik menatap bintang.


"Kamu menyukai bintang? " Tanya Rafael dengan menatap Syakila yang begitu asyik memandangi hamparan bintang dilangit.


Syakila menoleh pada Rafael, "iyah." Ucap gadis itu dengan senyum manis dibibirnya.


"Bulan juga. Tapi bulan sabit doang. " Tambahnya kembali asyik melihat bintang.


"Kenapa? " Syakila kembali menoleh pada Rafael yang bertanya padanya. Rafael menatap Syakila dengan intens membuat Syakila dilanda rasa grogi, namun kali ini ia masih bisa mengendalikan dirinya.


"Kenapa harus bintang dan bulan yang kamu sukai? " tambah Rafael bertanya.


Syakila mengedip edipkan matanya, karna pertanyaan Rafael yang menurutnya aneh, "memangnya rasa suka bisa di tentukan pada siapapun dan apapun ? " Syakila balik bertanya.


Rafael menggelengkan kepalanya kemudian ia tersenyum miring pada gadis itu, "baiklah, kamu benar. Tapi bulan dan bintang hanya bisa bersama di saat malam hari. Di ibaratkan kisah cinta, mereka hanya bisa bersama diwaktu tertentu saja. "


"Siapa bilang?! " Sengkal gadis itu tak terima, "Bintang dan bulan bisa bersama selamanya, tanpa ada pemisah. Baik malam maupun siang, pagi, sore. Dan setiap saat mereka tetap bersama diatas tempat orang mengadu dan berserah diri pada tuhan, di atas tempat orang melaksanakan kewajiban mereka pada tuhan, di atas tempat orang  mendapatkan kedamaian dan ketenangan jiwa didalamnya. " Syakila berkata masih dengan mata yang menatap binar pada bintang dilangit.


Rafael mengeryitkan keningnya mendengar penuturan dari syakila, namun tak lama ia tersenyum setelah tahu maksud dari ucapan Syakila.


"Mesjid?! " tebaknya yang langsung membuat Syakila menoleh padanya.


Syakila menganggukkan kepalanya sambil tersenyum senang, "iyah. Hanya di atas mesjid, bulan dan bintang selalu bersama. " Gadis itu tersenyum lebar membuat Rafael semakin terpesona pada gadis manis itu.


"Kalau begitu kamu salah." Ucap Rafael tiba tiba membuat Syakila mengerutkan keningnya. Rafael yang melihat ekspresi dari Syakila yang kebingungan terkekeh pelan, kemudian ia mengambil sesuatu dari kantongnya dan memasangkan benda berkilau itu di leher syakila.


"Karna sekarang, di sini bulan dan bintang juga akan selalu bersama." Ucapnya dengan suara rendah yang bengitu mengalun indah ditelinga Syakila sambil menunjukkan bandul bulan dan bintang pada kalung yang ia pasangkan dileher Syakila.


Syakila menganga, antara terkejut dan senang. Dengan gerakan pelan ia meraih bandul kalung dilehernya itu. Ia menatap binar pada bandul berbentuk bintang dan bulan itu, bulan yang terlihat seperti memeluk bintang persis dengan bulan dan bintang yang ada diatas mesjid. Bedanya bulan dan bintang dibandul kalung pemberian Rafael ini terdapat berlian yang membuatnya semakin cantik.


"Kamu suka? " Syakila menganggukkan kepalanya antusias. Namun saat ia menyadari sesuatu ia langsung menoleh pada Rafael, "Tapi...-"


Belum sempat kalimatnya selesai Rafael sudah lebih dahulu memotongnya, "untukmu. Dan kamu tahu saya tidak suka ditolak." Rafael berkata dengan tegas sambil menatap Syakila yang juga menatapnya dengan dalam.


Mereka terdiam beberapa saat, Syakila yang asyik dengan kalung pemberian Rafael, sedangkan Rafael yang betah menatap gadis itu. Ia bahagia melihat Syakila yang begitu menyukai pemberiannya. Ia ikut tersenyum saat melihat Syakila tersenyum senang saat gadis itu mengamati bandul kalungnya kembali.


"I love you, Syakila Pasya Ahmad." Ucap Rafael tiba tiba.


Tangan Syakila yang memainkan bandul kalunnya spontan terhenti. Syakila menatap Rafael, ia mengedip edipkan matanya terlalu terkejut dengan perkataan Rafael tadi. Namun ada yang aneh pada tubuhnya, kali ini respon tubuhnya bukan lagi kekakuhan. Tapi rasa hangat yang menjalar keseluru tubuhnya hingga meresap dalam hatinya.


Syakila memilih diam karna ia tak tahu harus berkata apa. Ia hanya menatap tepat pada mata hitam Rafael yang begitu menghanyutkan nya.


Rafael tersenyum, kemudian tangannya terulur untuk membelai wajah Syakila. Syakila masih diam tak protes pada sentuhan Rafael di wajahnya, "kamu masih kecil. Jadi sekarang kamu tidak perlu membalas perasaanku. Fokus pada pendidikanmu. Tapi saat kamu sudah dewasa nanti kamu harus dan sudah mencintaiku."


Rafael terkekeh kecil, menyadari bagaimana ia begitu memaksakan kehenadaknya pada gadis nya itu, " Kamu tahu kan saya tidak suka dengan penolakan." tambahnya dengan suara rendahnya.


Syakila menatap Rafael lalu menganggukkan kepalanya patuh seperti seorang yang terkena hipnotis.


Rafael tersenyum melihat Syakila yang patuh padanya, "bagus! " Ujarnya.


Rafael menatap kalung dileher Syakila membuat Syakila ikut menatapnya, "kuharap jika kita bertemu kembali lagi, kamu masih memakainya."


Syakila mengeryit karna merasa aneh dengan perkataan Rafael, tapi bodohnya ia malah menganggukkan kepalanya.


Rafael tiba tiba mencium keningnya, "Saya pergi. " ujarnya dan seraya bangkit dari samping Syakila. Sebelum ia benar benar pergi, ia menatap wajah gadis yang membuatnya tergila gila itu dengan dalam.


Syakila menghapus bulir air matanya yang tiba tiba jatuh. Ia menatap air mata ditangannya bingung. Ia bingung kenapa air matanya jatuh.


Setelah kepergian Rafael, Syakila merasa ada yang hilang dalam hidupnya. Kepergian Rafael tadi seolah olah membawa kebahagiannya ikut pergi. Entah apa yang terjadi dengan hati gadis itu, namun tiba tiba ia merasa hatinya seolah kosong dan hampa. Seakan akan ia dan Rafael tidak akan bertemu kembali lagi.


Syakila mengacungkan bahunya, memilih mengabaikan hatinya yang berduka tanpa sebab. Ia menatap bandul kalungnya lalu beralih pada langit yang masih memamerkan bintang bintang. Syakila menghela nafas, kemudian ia berdiri dan masuk ke kontrakannya.


Dorrrr.


"Astaga!!! " kaget Syakila saat memasuki kontrakannya. Gadis manis itu mengelus dada karna kaget lalu menatap berang pada para sahabatnya itu.


Hana menatap Syakila dengan jahil, "cieee, yang baru lagi romantisan ama Pak Rafael."


"Cieeeee, Pak Rafael bilang apaan yah tadi? " Kiandra menatap Syakila dengan alis yang ia turun naikkan, menggoda hagis itu.


"I love you, Syakila Pasya Ahmad. Cuit cuittttt!! " Hana berkata dengan nada menggoda. Kemudian ia menatap Syakila dengan alis yang ia naik turunkan.


Syakila hanya mendengus kesal, pasti tadi sahabat sahabatnya itu menguping pembicaraannya dengan Rafael. Malas meladeni sahabatnya itu, ia segera berlalu dari sana menuju kamarnya.


"Kebelet mimpiin Pak Rafael yah Sya, makanya mau tidur?" Teriak Hana dengan kekehan gelik dibibirnya tak tahu jika Syakila dikamarnya sedang menangis.

__ADS_1


.........


     Syakila menenggelamkan wajahnya pada bantal, ia menangis sesenggukan disana. Ia merasa sangat sedih namun ia tak tahu apa penyebabnya. Yang jelas ia hanya ingin menumpahkan air matanya malam ini dan menghilangkan perasaan aneh di hatinya yang tiba tiba begitu sesak dan sakit.


     Syakila menghapus air matanya lalu memutar tubuhnya menghadap langit langit kamarnya. Ia dengan segenap kekuatannya berusaha agar menarik dirinya yang berada dalam putaran duka yang entah berasal dari mana.


"Kok gue sedih, yah. Padahal tadi Kak Rafael kan ngungkapin perasaannya ama gue?! " Gumannya dengan raud wajah kebingungan yang begitu kentara.


...................


    Syakila memasang wajah juteknya, bahkan dikampus pun ia masih mempertahankan ekspresi yang tak enak dipandang itu. Intinya hari ini ia tak mood karna Hana dan Kiandra yang terus menggodanya semenjak masih dikontrakan, dan sekarang Mira juga ikut ikutan menggodanya. Sedangkan Lily, gadis itu belum berani berbicara pada Syakila. Ia masih malu serta takut pada Syakila.


"Gue lagi ngak mood, Han. Udah dong!! " rengek Syakila pada Hana saat gadis itu kembali menggodanya.


Kiandra mendengus namun ia juga menyetujui kalau Syakila memang sedang tidak dalam mood yang baik.


"Lo aneh, Sya. Dimana mana orang habis ditembak ama cowok setampan dan se mapan Pak Rafael itu senang. Lah lo malah kayak orang yang hilang harapan gini." tukasnya dengan nada sebal.


Syakila berdecak," gue juga ngak tau gue kenapa. Intinya gue lagi ngak mood buat ngapa ngapain." Syakila kemudian meletakkan kepalanya di meja, dengan lesu ia menatap sekelilingnya.


"Pms kali!! " tebak Hana sambil memakan somainya.


"Entah." Syakila berkata dengan nada malas. Ia kemudian memejamkan matanya, mungkin tidur di kantin bisa merilekskan otaknya dan hati nya yang masih nyut nyutan. Namun niatnya harus ia urungkan saat seseorang memanggil namanya


"Sya." Syakila menoleh pada Nathan, orang yang memanggilnya.


"Aku mau ngomong sama kamu." ujarnya dengan gaya cool dan angkuh nya.


Syakila tak menjawab namun ia segera berdiri. Melihat reaksi Syakila, Nathan segera berjalan duluan dan di ikuti oleh Syakila dari belakang. Mereka berhenti dan duduk di taman kampus yang kebetulan lumayan sepih.


Nathan menatap pada Syakila serius," Bang Rafael pergi, Sya." Tukasnya to the point.


Syakila yang menoleh kesana kemari  langsung menoleh cepat pada Nathan dengan ekspresi terkejut dan bingung.


"Bang Rafael pergi ke LA untuk ngurus bisnisnya disana." Nathan mematap Syakila yang berekspresi sangat terkejut.


"Kapan? " Syakila bertanya dengan suara pelan, karna tiba tiba tenggorokannya serasa tercekik saat ia mengeluarkan suara.


Nathan memandang syakila senduh.Ia sangat yakin gadis yang ia sayangi ini sekarang tengah merasakan perasaan tak rela dan sedih, "tadi malam setelah menemuimu. "


"Tapi...-"


Ucapan Syakila dipotong oleh nathan, "Bang Rafael tak memberi tahumu karna ia takut melihat ekspresimu yang bahagia jika ia memberitahumu. Karna yang ia tahu selama ini, kamu berada disampingnya hanya karna paksaannya. Jadi jika Bang Rafael pergi jadi kamu akan merasa begitu bahagia."


'Teori darimana, tuh.' Dewi batin Syakila tak terima.


Ia menatap syakila dengan tersenyum, "tapi sepertinya dia salah, karna yang aku lihat bukanlah raut bahagia melainkan raut kehilangan dan tak rela."


Spontan Syakila menoleh pada Nathan, "cih, sok tau banget sik." Ketusnya malah membuaat Nathan terkekeh gelik.


"Kuharap nanti malam kamu tak menangis." Ucap Nathan dengan nada gelik.


Syakila mendelik tak suka, "si..siapa yang mau nangis?? " Gadis itu menatap Nathan kesal.


Nathan menghentikan kekehannya. Ia mengambil sesuatu dari ranselnya lalu memasukkannya ke dalam tas Syakila.


"itu tissu buat kamu. Mudah mudahan membantu disaat kamu nangis nanti. "


Syakila membulatkan matanya syok. Ia berdiri dengan menatap galak pada nathan, lalu memukul pria itu bertubi tubi, "gue bunuh juga lo. " kesal gadis itu.


Nathan yang dipukuli malah tertawa terbahak bahak, "iya Sya. Pukul ajah aku, anggap ajah samsak peluapan emosi. Luapin ajah Sya rasa sakit kamu karna ditinggal Bang Rafael. "


Syakila yang mendengarnya semakin menguatkan pukulannya pada Nathan. Setelah ia merasa puas barulah ia berhenti memukuli Nathan.


"Udah? " tanya Nathan ketika Syakila sudah tak memukulinya lagi. Syakila hanya menganggukkan kepalanya lesuh.


"ayok!! Aku teraktir makan es krim. " ajak Nathan membuat Syakila menatapnya dengan binar. Gadis manis bersurai hitam itu langsung berdiri dengan semangat membuat Nathan kembali terkekeh.


Sebenarnya Nathan juga merasakan apa yang ditasakan oleh Syakila, merasakan kehilangan. Rafael adalah panutannya, sanjungannya, pahlawannya, idolanya jadi tidak mungkin Nathan tidak merasa kehilangan jika abang nya itu pergi. Namun ia lelaki, dan lelaki pantang memperlihatkan kesedihannya dan lagi pula jika ia ikut ikutan seperti Syakila lalu siapa yang akan menghibur Syakila nanti seperti yang ia lakukan tadi.


...............


    Lily memberanikan diri untuk mendekati Syakila yang sekarang ini tengah duduk diteras kontrakan mereka. Ia meneguk salivanya kasar melihat Syakila yang terdiam menatap hamparan bintang.


Lily menghirup udara rakus, lalu mengeluarkannya perlahan setelah itu ia memberanikan diri untuk menyapa gadis itu, "Syaki."


Syakila tak menyahut, gadis itu asyik dengan pemikirannya sendiri. Lily meneguk salivanya kasar karna tak mendapat sahutan dari Syakila. Kemudian ia menoleh kebelakang dimana Hana, Hiandra dan Mira menyuruhnya maju mendekati Syakila. Lily mengaggukkan kepalanya ragu lalu menatap Syakila lagi, ia duduk disamping gadis itu dan sepertinya Syakila tak menyadarinya.


"Syaki." Panggilnya kali ini dengan menepuk pelan pundak Syakila.


Syakila sedikit tersentak, pertanda gadis itu tadi sedang melamun. Syakila menoleh dan menatap Lily bertanya tanya,.


"Apa, Li? "  tanyannya datar.


Lily kembali menegug salivanya kasar, "Lily..Lily.. Lily minta maaf sama Syaki. Lily salah karna udah nuduh Syaki pembohong. Lily salah karna udah percaya sama orang lain dari pada sahabat Lily sendiri. Lily minta maaf karna Lily udah nyakitin perasaan Syaki dengan bilang Syakila bukan sahabat...-"


Lily terdiam karna tiba tiba Syakila memeluknya. Bahkan Lily dapat rasakan jika gadis itu sedang menangis.

__ADS_1


"Syaki maafin Lily kok, asal Lily juga maafin Syaki yang udah bentak bentak Lily dan buat salah paham Lily. " Ucap Syakila dengan meniru gaya bicara Lily. Ia mencekat air matanya, lalu terkekeh.


Air mata Lily turun tanpa ia perintah, ia begitu bahagai malam ini karna Syaki sahabatnya mau memaafkannya. Dan dengan antusias, Lily menganggukkan kepalanya sambil tersenyum senang.


Melihat Syakila dan Lily yang berpelukan dengan deruh air mata, Hana, Mira dan Kiandra keluar dari persembunyiannya. Tanpa basa basi mereka langsung memeluk Syakila dan Hana.


Setelah selesai berpelukan, mereka tertawa entah karna apa. Intinya mereka bahagia.


.............


    Syakila kembali menangis sesenggukan dalam kamarnya. Sekarang ia sudah tahu penyebab mengapa ia merasa sedih tadi malam dan alasannya adalah batinnya yang lebih tahu duluan jika Rafael akan meninggalkannya.


Ia tak peduli kenapa ia sedih ditinggalkan oleh Rafael yang notabe nya tak memiliki hubungan ataupun ikatan dengannya. Intinya hatinya gelisah, sakit, nyut nyutan bahkan sesak akibat ditinggal Rafael.


Syakila mengambil tissu pemberian Nathan tadi siang padanya. Syakila tertawa hambar saat menatap tissu ditangannya. Tissu pemberian Nathan benar benar berguna dan tebakan Nathan benar jika ia menangis malam ini.


Syakila membuang tissunya asal asalan, dan kembali me lap air matanya cepat.


"Syaki!! Buka dong pintunya."


Syakila mengabaikan teriakan Hana dari luar kamarnya. Ia menatap kalung dilehernya, air mata nya kembali jatuh. Kata kata romantis Rafael kembali berputar dikepalanya membuat Syakila tersenyum tapi dalam keadaan menangis.


Syakila sekarang sadar jika Rafael sudah mempengaruhi kehidupannya. Syakila sadar jika Rafael berharga, Syakila sadar jika Rafael telah mencuri hatinya.


Tapi kenapa setelah pria itu pergi barulah Syakila menyadarinya. Kenapa harus setelah pria itu pergi, kenapa ia tidak menyadarinya sedari awal. Setidaknya dengan begitu hatinya bisa mempersiapkannya.


Ditinggalkan seseorang disaat kau baru menyadari betapa berharganya dia untuk mu itu lebih menyakitkan disaat kau ditinggalkan seseorang tapi kau sudah tahu apa artinya dia untukmu sedari awal.


Dan rasa sakitnya akan semakin menyakitkan jika kau baru merasakan kehadiran sosoknya setelah dia pergi, seperti yang Syakila rasakan saat ini.


"Sya!! Kita masuk yah!!


Syakila menatap pintunya sendu. Ia mengambil tussi kemudian me- lap air matanya. Ia memperbaiki penampilannya kemudian berjalan ke arah pintu untuk membukanya.


Kiandra menatap jejeran tissu yang berserakan di lantai kamar Syakila. Kemudian ia menghela nafas dan mendudukkan bokongnya di tempat tidur Syakila.


Mira menatap Syakila dengan serius, " Pak Rafael pergi ke LA, Sya. "


"Gue udah tau. " ketus Syakila tak suka jika Mira malah membahas Rafael yang hanya membuat hatinya meringis.


"Trus lo sedih? " Hana bertanya seraya menatap Syakila yang memalingkan wajahnya agar Hana tak melihat ekspresinya.


"Ngak lah." Ucap syakila dengan nada yang ia buat buat kesal.


"Tapi lo habis nangis, Sya. " Kiandra menayap Syakila dengan mata memicing.


"Mana ada?? " Sengkal Syakila sambil menatap Kiandra protes.


"Tapi itu kan tissu bekas air mata, Syaki." Lily memgangkat tissu bekas air mata Syakila.


Syakila meringis, ia menggaruk pipinya salah tingkah, " itu..itu.. nangis bukan karna Kak maksudnya Pak Rafael tapi karna nilai gue. " Sengkalnya.


"Nilai Syaki kan bagus. Nilai di matkul nya Bu Nita ajah dapat A. Kenapa Syaki sedih coba karna nilai? " Lily menatap Syakila dengan tampang polosnya.


"Iya ituh, gue terharu ama Buk Nita yang ngasih gue nilai 'A' padahal gue selalu buat onar di matkul nya. " alibi Syakila dengan ekspresi yang ia buat buat terharu.


"Bacot, njirr!! " ucap Kiandra dengan kekehan gelik.


"Terharu dari mana, Sya. Palingan si dosen kebacotan takut lo teror makanya dia langsung ngasih lo nilai 'A'. "


"Gue ajah yang dikasih nilai c plus plus ngak terharu tuh. "


"Jujur ajah lah Sya! "


"Gue tahu Sya, lo sedih banget ditinggal pergi sama king tampan eh Pak Rafael maksudnya. Padahal baru tadi malam Pak Rafael ngungkapin perasaannya ke elo, malah udah ditinggal bae. Kasihan yah Sya. " Hana berkata dengan senduh. Ia tidak pura pura atau suara yang sengaja dibuat senduh. Tapi itu murni karna hatinya juga meringis dengan kisah percintaan Syakila.


Bagai bintang dan bulan, dimalam itu Rafael menyatakan cinta pada Syakila dan esoknya setelah hari bersinar Rafael sudah pergi meninggalkan Syakila. Tapi menyakitkannya kisah Syakila dan Rafael, mereka tak akan bertemu dimalam malam berikutnya lagi. Kapan mereka bertemu kembali mungkin mereka juga tak tahu, hanya tuhan yang tahu.


Tanpa sadar bulir air mata Syakila kembali jatuh karna mendengar perkataan Hana tadi. Benar, dirinya dan Rafael bagaikan bintang dan bulan di langit. Namun bintang dan bulan lebih beruntung dibandingkan dirinya. Bintang dan bulan akan kembali bertemu dimalam hari nya lagi tak seperti dirinya yang mungkin saja nanti sudah melupakan bagaimana wajah Rafael baru mereka kembali bertemu, bak orang asing kembali.


Syakila yang sadar air matanya jatuh, cepat cepat menghapusnya sebelum para sahabatnya menyadarinya. Namun sepertinya terlambat, karna Hana sudah melihatnya.


Hana memicingkan matanya menatap pada Syakila, "ituh air mata loh Sya. Ngaku ajah kali kalo lo ngerasa kehilangan ama Pak Rafael. "


Syakila mengedip edipkan matanya, ia kemudian berdecak dengan menatap hana malas, "tuduh ajah sepuasmu, Han. "


"Syaki emang nangis kok. Lily liat sendiri." Lily berujar dengan yakin.S


yakila kembali berdecak dan menatap malas pada Lily, "au ah gelap. " Syakila membaringkan dirinya lalu menutup wajahnya dengan bantal.


Mira menghela nafas lelah, ia menatap dan para sahabatnya saling melempar pandangan. Kemudian mereka memutuskan untuk pergi dari kamar Syakila. Mungkin gadis itu butuh kesendirian.


jan lupa like, vote dan komen yahh.


kaciann yahh si Syaki. Wkwkwkwk...😁😂😂


ceritanya mau end inih!!😏

__ADS_1


__ADS_2