Couple Soulmate

Couple Soulmate
54


__ADS_3

"Aku udah bilang!! Syaki sama yang lainnya ngak pernah begitu. Udah lebih baik kakak pergi ajah. " Lily bersedekap, ia juga ingat perkataan sahabatnya kalau sedang berhadapan dengan musuh maka kita tidak boleh terlihat ketakutan walau sebenarnya kita sedang ketakutan.


Plakkk!!


Satu tamparan dari Widia mengenai pipi mulus Lily. "Jangan kurang ajar!! Lo itu lemah, jangan sok kuat ****. "


Plakk!


Widia kembali menampar Lily dengan keras, "itu buat lo nyang ngak tahu diri. "


Plak!!


"Itu balasan karna gara gara lo Nathan pernah nampar gue. "


Widia mengambil ancang ancang untuk menampar Lily kembali, "dan ini buat lo.."


Plakkk!!


"Yang ngebacot mulu. " Widia memegang pipinya yang terasa perih akibat tamparan keras dari Syakila, bahkan ia samapi tertoleh ke samping dikarenakan tamparan itu.


Sedangkan Lily melogo di tempatnya. Ia tak menyangka Syakila akan datang membantunya.


"Li, lo ngak papa? " Hana dan Mira menatap Lily dari atas sampai bawah, memastikan gadis itu benar benar dalam ke adaan baik baik saja.


Lily menganggukkan kepalanya kaku, ia masih tidak menyangka ia di selamatkan oleh Syakila dan itu persis seperti Nathan dulu.


"Kurang ajar loh! Ngapain lo ikut ikutan. " bentak Widia tak terima.


"Dia sahabat gue, *****! Jadi gue ngak bakalan diam kalo ada yang  nyakitin dia. " Syakila menatap Widia tajam, ia mengepal tangannya.


"Ouh sahabat?? Gue juga punya. Malahan sahabat gue cowo,...-"


"Nyomblangin?? Sori gue ngak jomblo. Lo kan yang jomblo, jadi buat lo ajah. " potong syakila cepat. Sontak perkataan nya membuat riuh kelas yang tadinya sepih karna merasa tegang.


"Sekalipun lo jomlo, gue juga bakalan ngak mau ama lo. Dasar cewek jadi jadian. " ujar salah satu teman Widia yang tak terima dengan perkataan Syakila.


"Lah, lo cowok apaan beraninya ama cewek. " balas Kiandra, Syakila dan Hana tersenyum mengejek membuat pria itu tersulut emosi.


Widia menggeram tak suka, ia angkat bicara berniat mencerca Syakila dan teman temannya. Namun sebelum ia bicara tamparan keras kembali mengenai pipinya.


Plakk!!


"Buat lo yang udah berani nyakitin Lily dan mulut sampah lo. " ujar syakila dengan datar.


Plak!!


"Itu bonus buat lo yang berusaha ngancurin persahabatan kami. " Syakila menatap datar pada Widia yang memegang pipinya yang sudah memerah.


"Anjengg!!! " bentak salah satu teman Widia pada Syakila. Sedangkan Widia masih memegang pipinya yang terasa perih karna tamparan Syakila yang terakhir itu sangat keras dan kuat.


"Apa!!! Woiii lo yang anjeng!! " lantang hana, yang tadinya ia memilih diam kini ikut campur. Ia tak terima jika Syakila dikatai kasar seperti itu."jangan karna lo cowok kita bakalan takut yah."


Hana mendekati cowok itu lalu mendorongnya namun tidak sampe tersungkur, "kami ngak lemah."


"Cihhh, dasar ayam kampus." Cibir cowok satunya lagi.


Bugh


Cowok itu langsung tertoleh ke samping saat mendapatkan tinjuan dari Hana. Cowok yang mendapat tinju tersebut tersulut, ia melayangkan tinjunya pada Hana yang masih menatap marah pada pria yang ia tinju.


...............


"Masuk! " Titah Marcus pada seorang mahasiswa yang meminta ijin untuk masuk keruangannya.


"I..ini saya mau ngantarin tugas Pak. " Koko langsung meletakkan tugas para teman seruangannya di meja kerja Marcus.


Marcus hanya berdehem, "hemm."

__ADS_1


"Kalau gitu saya pa..-" belum sempat koko menyelesaikan kalimatmya, Markus sudah memotongnya.


"Kau terlihat panik. Oh ya, Mira dan Syakila mana?! Saya kan menyuruh kalian datang kesini bersamaan." Marcus menyandarkan punggungnya di sandaran sembari menatap lawan bicaranya datar.


"Eh..itu pak, anu..itu.."


Marcus berdecak, "kalau bicara yang jelas! "


Koko melirik sebentar pada Rafael yang sibuk dengan ponsel mahalnya. Kemudian melirik wanita yang ia tahu dari gosip adalah istri Marcus sedang membaca buku. Kemudian Koko mencondongkonkan badannya kedepan membuat Marcus menautkan alisya, "anu Pak. Itu ada tamu jadi ngak enak Pak ngomongnya. "


"Kamu ngomong saja! " Marcus berkata sedikit kesal.


Koko kembali menegakkan badannya, ia menghirup nafas dalam dalam lalu menghembusnya perlahan membuat Marcus yang melihatnya mendengus. Kemudian koko memejamkan matanya dan membukanya kembali, " SyakiladanMirasertatigacecurutnyayangcantikitubertengkardenganseniordiruangkamiPak." ucap koko secepat kilat, setelah mengatakan itu ia menghembus napas legah.


Sedangkan Marcus yang mendengarnya langsung bergerak cepat menuju tempat istrinya yang katanya tadi bertengkar, ia jelas merasa kawatir. Koko yang ditinggal oleh Marcus berjalan kikuk ke pintu keluar.


Sementara Widia dan Rafael yang juga mendengarnya ikut menyusul. Sebenarnya Widia malas, namun ia penasaran pada Marcus yang terlihat begitu panik.


Marcus sampai di pintu ruangan yang terkunci itu, 'mungkin sengaja ' pikir Marcus.


Tak lama Koko, Rafael dan Widia juga sampai. Tak ingin membuang buang waktu ia membuka ruangan itu dengan paksa dan berhasil. Ia mengedarkan mata mencari cari sosok istrinya. Matanya berhenti saat melihat sosok yang dicarinya ia temukan. Ia dapat melihat Mira yang sedang memeluk Lily yang terlihat ketakutan.


'Syukurlah! ' Batin marcus. Padahal tadi ia sudah mengira jika istrinya itu sudah jambak jambakan dan untungnya istrinya itu baik baik saja. Namun mata Marcus membulat saat indranya menangkap seorang laki laki yang melayangkan tinjunya pada Hana.


Hana menoleh, ia membulatkan matanya sebentar kemudian menutup matanya. Ia meringsut saat tinju pria itu akan mengenainya, ia pasrah untuk menerima pukulan cowok tersebut. Melawan pun percuma, ia kalah cepat dan sedikit tak fokus.


Bugh!


Dengan secepat kilat, Syakila melayangkan tendangannya ke perut cowok yang hampir memukul Hana.


Cowok tersebut terpental terbentur keras dengan lantai. Ia jatuh bersamaan dengan kursi kursi disekitarnya, menimbulkan suara nyaring yang keras.


Semua mata yang melihatnya membulat, tak percaya. Mereka cengang dengan apa yang mereka lihat. Kemudian mata mereka menatap Syakila masih dengan sisah ketercengangan mereka.


Hana membuka matanya kemudian gadis itu langsung membulatkan matanya saat melihat cowok yang akan memukulnya malah sudah tergeletak dilantai. Hana kemudian menatap ke arah Syakila yang memasang wajah datar, oke! Sekarang Hana paham.


"Arkkk." ringis cowok tersebut sambil memegangi perurnya.


"Pintu disana." Ujar Syakila dengan menunjuk arah pintu tanpa melihatnya, saat teman Widia yang satu lagi maju dan menggeram padanya.


Cowok tersebut menciut saat melihat Syakila yang menatapannya tajam dan menusuk. Ia mundur dan memilih menghampiri temannya yang tergeletak memengangi perut.


"Lo gilak yahh!! " widia berteriak tepat didepan Syakila. Sedangkan gadis yang diteriakinya itu malah mengacungkan bahunya tak peduli.


"Kalau teman gue sampe kenapa napa, lo semua bakalan gue tuntut." geram Widia.


Syakila, Hana, Mira, dan Kiandra hanya menatapnya malas, bahkan dengan kurang ajarnya Kiandra sempat sempatnya menguap membuat Widia semakin marah.


Namun ia tak bisa berbuat apa apa, cowok saja bisa Syaki kalahkan. Apalagi dirinya yang sama sekali buta tentang ilmu beladiri, ilmu jambak jambakannya pun akan kalah dibandikan Syakila.


Niat nya sik tadi, ia membawa dua teman cowoknya agar teman teman Lily yang ia tahu bar bar itu tidak berkutik. Jika ia membawa teman cewek jelas ia kalah telak tapi nyatanya sama saja, ia tetap kalah.


Widia membantu memapah temannya itu, lalu gadis itu menatap benci pada kelima gadis di depannya itu.


"Nih, kami lebih suka ngeganti rugi ketimbang menerima uang ganti rugi. " Mira menyodorkan 10 lembar uang seratus ribu pada Widia. Dengan muka menahan marah dan kesal Widia merampas uang itu dan melangkah pergi sambil memapah temannya.


"Hati hati dijalan yahh!! " teriak Hana yang diabaikan Widia.


Setelah ketiga pembuat onar dalam kelas mereka itu pergi, Hana langsung menghampiri Syakila. Ia tersenyum kemudian menghadiahi gadis itu dengan cubitan dipipi gadis itu.


"Sumpah!! Lo keren banget tadi. " ujarnya yang mendapat dengusan dari Syakila.


Hana menepuk nepuk kepala Syakila pelan, "Mamak bangga sama kamu, Nak. Tolong! Bakat mu dipertahankan."


Syakila menghempas kesal tangan Hana dari kepalanya, "apaan sik Han?! " kesal gadis itu dengan menatap Hana jengkel.


Hana, Kiandra dan Mira terkekeh. Kemudian Hana kembali menatap Syakila, kali ini dengan pandangan berbinar takjub, "tendangan lo keren banget, Sya!! "

__ADS_1


"Bener! tuh cowok sampe kao gituh." tambah Kiandra.


"Ajarin gue kek gitu dong, Sya. Biar gue bisa kasih pelajaran ama Pak Marcus kalo macam macam. " Mira menatap binar pada syakila agar gadis itu mau menerima usulannya.


"Mengajari apa Mira! " ucap Marcus yang baru datang dengan kesal bercampur khawatir.


Mira dan yang lainnya menoleh, ia spontan membulatkan matanya. Begitu juga dengan Syakila yang memucat saat melihat tatapan tajam dari Rafael.


Syakila mengalihkan tatapannya bukan maksudnya untuk menghindari Rafael melainkan mencari dalang dari kedatangan dosen killer dan juga teman psycho nya itu. Mata Syakila berhenti pada Koko yang berjalan pelan pelan. Saat Koko menyadari ada yang memperhatikannya, ia segera mendongak menatap Syakila yang sudah menatapnya malas.


Koko menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "heheehehe terpaksa, Sya. " ujarnya cengar cengir.


Kiandra dan Hana mengumpat dalam hati, pasti sekarang masalah mereka bertambah lagi.


"Jelaskan! " titah Marcus pada istrinya. Mira menatap Marcus lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Gadis itu kemudian menghampiri Syakila lalu mendoronnya, "Syaki yang jelasin Pak."


Syakila melotot pada Mira, kemudian ia menggelengkan kepalanya pada Marcus. Ia mendorong bahu Hana, "Hana ajah Pak. "


Hana langsung menggelengkan kepalanya, "Kia sepertinya bersedia Pak."


"Eh kok gueee! " protes kiandra.


"Ya elo lah, "


"Si Mira dong. "


"Enak ajah, Hana Hana. "


"Ngak, Syaki tuh. "


"Lah, Kia dong. "


"Mana bisa..." Dan bla bla bla. Mereka malah asyik berdebat membuat ketiga manusia dewasa itu menatap mereka kesal.


Marcus memijit pangkal hidungnya, ia terlalu lelah dan jengah melihat perdebatan mahasiswi didepannya itu.


"Jelaskan! " Bentak nya tiba tiba membuat mereka terdiam.


Lily menatap para sahabatnya yang menundukkan kepalanya karna bentakan Marcus. Semua ini berasal darinya dan penyebabnya adalah ia jadi ia harus bisa bertanggung jawab, walau setidaknya hanya berupa penjelasan.


"Biar saya yang jelasin, Pak." Semua langsung menoleh pada Lily. Sedangkan Marcus hanya menatap gadis itu datar.


"Tadi Kak Widia datang kesini. Dia menjelek jelekkan Syakila, Mira, Hana sama Kiandra. Karna tidak terima saya mengatainya mulut sampah trus Kak Widia marah dan nampar saya Pak. Pada tamparan ke ke empat, malah Kak Widia yang kena karna di tampar oleh Syakila. Singkatnya dua teman cowok Kak Widia ngak terima dan ikut ikutan marah dan hampir mau mukul Hana kalau Syaki tidak menendang perutnya. " jelas Lily panjang lebar yang diangguki oleh sahabatnya membenarkan perkataan Lily.


"Tadi kita juga udah kasih uang berobat Pak." tambah Kiandra.


"Iya. Eh, tapi itu uang Mira loh Pak. Iya kan Mir?! " Hana menatap Mira dengan senyum mengembangnya. Marcus juga menatap Mira dengan mata memicing.


"Bukan." Bantah Mira cepat, membuat Hana menautkan alisnya bingung.


"Trus uang siapa dong? "


Mira menatap Hana dengan senyum pebsodent nya, "Uang lo, Han."


Hana menganga, ia menatap horor pada Mira. Sedangkan Mira malah melayangkan cengirannya,"Syakila yang nyodorin tas lo ke gue.  Hehehehe.." tambahnya.


Hana langsung menatap Syakila yang sudah memasang tampang konyolnya.


"Syaki!!! " pekik gadis itu merengek.


"Sedekah Mir!! " peringat Syakila dengan senyum yang sangat menyebalkan bagi Hana.


"Sudah." jengah Viola, lalu ia menoleh pada Marcus dan langsung memasang wajah anggunnya, "biar aku ajah yang urus mereka."


Marcus menatap Viola menimang nimang, "baiklah."

__ADS_1


Viola langsung mengembangkan senyumnya, sedangkan para gadis itu langsung mendesah protes. Ingin protes tapi apalah daya.


jan lupa like, vote dan komen.😁☺️😉


__ADS_2