
"Sya, kamu kenapa? Trus Kia mana? " Tanya Lily penasaran dengan Syakila yang tiba tiba datang dengan wajah yang ia tutup tutupi.
.......
Syakila meneoleh kesekelilingnya, memastikan orang yang ia hindari berada jauh darinya, "ada Rafael, jadi gue tunda buat ngejar Kia. " guman gadis itu pelan.
Hana dan Lily hanya ber 'O' ria. Mereka berdua sama sama menatap sekeliling, mencari sosok Rafael yang ditakuti oleh Syakila.
"Ly, please. Lo yang kejar Kia. " mohon Syakila pada Lily. Gadis imut itu menganggukkan kepalanya dan segera berlalu dari sana.
"Han, kita pulang ajah yuk." ajak Syakila kemudian, Hana hanya menganggukkan kepalanya. Gadis cantik itu tahu kalau Syakila sedang dilanda takut jika harus bertemu dengan Rafael.
Syakila berdiri, ia berjalan dengan tangan yang berusaha menutupi wajahnya. Sedangkan Hana hanya mengikur dari belakang.
"Han! " Hana menoleh saat mendengar namanya dipanggil. Sedangkan Syakila hanya diam ditempat tanpa berniat memutar tubuhnya, karna letak meja Rafael berada di belakang.
"Hai." Sapa Hana kaku pada Bowo, ia benar benar tak tahu jika pemuda itu berada di cafe yang sama dengannya.
Bowo terkekeh, "Kaku amat, Han. " ucapnya.
Hana tercengir bodoh, salah tingkah pada Bowo, "hehehhe, elo disini juga yah."
Hana merutuki dirinya yang bertanya dengan konyolnya. Jelas Bowo disini, jika pria itu dikampus maka pria itu takkan bisa bertemu dengan Hana kan.
Bowo kembali terkekeh, lalu menarik tangan Hana membawa gadis itu ke meja dengan penghuni dua orang dewasa.
"Om kenalin, pacarnya Bowo." Bowo memperkenalkan Hana pada Om nya yang tak lain adalah Atif.
Sedangkan Hana hanya bisa tersenyum kikuk, diperkenalkan sebagai pacar padahal nyatanya hanya sandiwara. Ia bahkan lupa pada Syakila yang masih diam ditempat.
Bowo mempersilahkan Hana untuk duduk membuat gadis itu kembali tersenyum kikuk. Kemudian Bowo ikut bergabung dengan duduk disamping Hana.
"Om nya Bowo, Atif. " Atif mengulurkan tangannya yang dibalas oleh Hana.
"Hana, Om. " ucap gadis itu memperkenalkan diri, kemudian gadis itu lagi lagi tersenyum kikuk.
'Anjay, om nya Bowo ganteng banget. Duh hayati bisa gagal fokus nih, pilih om nya atau ponakan yah, Eh. ' Batin Hana menjerit histeris, terpesona akan kegagahan dan senyuman Atif.
Hana menatap pria disamping Atif. 'Loh, pak Rafael. Kalo gini ceritanya, gue berasa lagi di kerumuni cogan, ****. Satu tampan tampan manis, satu lagi tampan tampan kalem, satunya lagi tampan tampan hot but psycho. Kurang tampan tampan serigalah nih. ' Dewi batin gadis itu kembali.
"Oh ya, Han. Kamu di sini sendirian?" Seketika Hana pemukul keningnya saat mendengar pertanyaan Bowo padanya. Sungguh ia benar benar lupa pada Syakila.
Hana langsung menoleh pada Syakila yang tengah berdebat dengan seorang wanita dewasa.
"Duh, gilak. Syaki!! " teriak Hana setengah menjerit. Hana bahkan mengabaikan ketiga pria tampan yang menatap nya dengan mengeryit.
Gadis itu segera berdiri dan menghampiri sahabatnya yang tengang membuat onar.
Rafael menaikkan alisnya melihat Syakila yang menguap memandang malas pada sepasang kekasih yang berdebat di depan.
.......
Syakila mendengus, sepertinya sahabatnya Hana benar-benar melupakannya. Tiba tiba seorang wanita menabraknya.
"Eh," Syakila oleng dan tak sengaja menyenggol meja disampinngnya.
Syakila ingin mengejar dan memaki orang yang menabraknya, namun diurungkannya. Karna ia juga harus meminta maaf pada penghuni meja yang ia senggol membuat pria penghuni meja itu terkena tumpahan juice.
"Duh, maaf mas. Ngak sengaja," Syakila memintaa maaf, ia memasang wajah bersalah.
"Ngak papa kok, dik. " Ucap sang pria sambil melap kemejanya yang terkena tumpahan juice.
Syakila meraih tissu di tasnya lalu memberikannya pada pria di hadapannya sebagai tanda maafnya dan rasa bersalahnya.
Tiba tiba Syakila kembali terdorong kebelakang, "Dasar pelakor! " teriak seorang wanita tepat dihadapannya.
Syakila mengeryit, tak paham maksud wanita dihadapannya.
"Kamu kecil kecil ****** yah. Dasar pelakor tak tahu malu." ucap wanita itu kesetanan, mengabaikan dirinya yang sudah jadi pusat perhatian.
Syakila mengedip edipkan matanya, terlalu heran dengan makhluk didepannya itu.
'ini cewek jadi jadian apa alien yah. Kok datang langsung kayak minta di tonjok.' Syakila membatin.
"Mbak ngomong sama saya? " Tanya Syakila dengan tampang polos membuat kekesalan dan amarah wanita itu bertambah.
Wanita itu menggeram, "iya. Saya ngomong sama siapa lagi kalo bukan sama kamu."
__ADS_1
"Ya, mana saya tahu mbak mau ngomong sama siapa." Syakila mengacungkan bahunya, menatap wanita didepannya konyol.
"Ck. Saya peringatkan sama kamu yah jangan pernah berusaha buat ngerebut pacar saya." Wanita itu mengangkat jari telunjuknya tepat didepan wajah Syakila.
Syakila memasang wajah datarnya, tanda ia dalam mode senggol bacot, " maaf mbak salah orang. Saya bukan tipe cewek yang suka sama kekasih orang. Dan tolong telunjuknnya dikondisikan. " Syakila meraih telunjuk gadis itu dan dengan gerakan cepat ia memutarnya membuat wanita itu menjerit kesakitan.
"Argkkk." wanita itu menjerit. Syakila melepaskan telunjuk wanita itu lalu menatap korbannya dengan datar.
"Dasar gadis gila. Benar benar kurang ajar, pelakor. " teriak wanita itu kuat kuat tepat diwajah Syakila.
Syakila berdecak, ia beralih pada jus jeruk di meja sebelahnya. Gadis manis itu mengambil jus tersebut mengabaikan pemilik nya lalu ia menegugnya membuat pemilik jus itu melogo bahkan wanita didepannya juga ikut melogo tak percaya dengan kelakuan Syakila. Padahal wanita tadi mengira ia akan disiram oleh gadis didepannya itu.
"Sory mbak haus, " ucap Syakila lalu kembali meneguk jus jeruk tersebut sampai tandas, "oke lanjut mbak marah marah nya." Lanjutnya setelah meletakkan gelas jus tadi ke tempat ia menemukannya.
Pria yang kemejanya kotor karna Syakila angkat bicara,"maaf dik pacar saya salah paham sama adik,"
"Apa? Salah paham katamu, jelas jelas tadi aku lihat kamu sama ****** cilik ini lagi berduaan. Pake acara lap lap-an lagih." Syakila memutar bola matanya jengah. Jadi perempuan didepannya itu marah marah padanya hanya karna insiden tadi.
Syakila tak habis pikir, ia di marahi habis habisan hanya karna memberi tissu pada pacar wanita didepannya itu. Jengah melihat wanita dan pria yang dihadapannya yang berdebat, Syakila memasang earphone nya.
"Sayang, kamu salah paham. Tadi adik ini tidak sengaja menumpahkan jus di kemeja aku. Jadi sebagai permintaan maaf nya ia menawarkan tissunya padaku. " jelas pria itu sesuai fakta.
Sang perempuan melipat tangan didada, "alah, itu alasannya saja. Saya tahu jenis perempuan seperti dia itu cuma mau ngegoda kamu."
"Dia tidak menggoda aku, terjadi insiden kecil yang membuatnya menumpahkan jus ke kemejaku." Jelas pria itu berusaha meyakinkan sang pacar bahwa tadi hanyalah kesalah pahaman.
"Kamu membela dia? " tunjuk wanita itu pada Syakila yang sedang menguap. Melihat tingkah Syakila yang menurutnya tak tahu tata krama, wanita itu menatap sinis pada Syakila. Sedangkan yang ditatap malah tak peduli.
Syakila yang melihat Hana berjalan dan mendekat kearahnya segera membuka penyumbat telinganya. Ia segera memegang Hana dan mengajaknya pulang, "pulang yuk!."
Hana melotot tapi tetap melangkahkan kakinya mengikuti Syakila.
"Hei gadis sialan. Urusan kita belum selesai. Jangan kabur kamu. " teriak wanita itu, Syakila berusaha mengabaikannya namun perkataan wanita itu selanjutnya membuatnya berhenti dan berbalik.
"Dibayar berapa kamu sama pacar saya, hah." teriak wanita itu lantang, membuat pengunjung cafe seluruhnya menatap pada mereka.
Syakila berjalan menghampiri sang wanita yang brani meneriakinya. Ia berhenti tepat di samping sebuah meja membuat penghuninya menatap Syakila keheranan.
"Mas makasih ya minumannya. Maaf tadi langsung ngambil tanpa izin, soalnya tadi saya haus banget." pemuda itu hanya menganggukkan kepalanya, tak mengira jika Syakila malah menghampirinya bukan pada wanita yang sudah bisa dikatakan mempermalukannya.
Syakila mengeluarkan uang berwarna pink dan memberinya pada pemuda pemilik jus jeruk tadi, "ini mas, sebagai ganti minumannya. "
"gak usah." ucapnya lalu berusaha tersenyum ramah walau lebih terlihat pada senyum tak enak.
Dengan gerakan cepat, Syakila mengantongi duitnya kembali lalu ia tercengir, "makasih mas baik hati. " ucapnya.
"Cih, wanita penggoda." Syakila yang mendengarnya spontan menoleh, menatap wanita didepannya taksuka.
"Tadi kamu ngegoda pacar saya sekarang kamu malah ngegoda pria lain, dasar." ucap wanita itu sakartis.
Syakila berdecak, "duh mbak, gila jangan disini dong. Sekalian jangan ngajak-ngajak. Kasian pemilik cafe nya, punya pengunjung gila, stess berat kaya mbak."
Wanita itu melotot, menatap Syakila horor. Sedangkan para pengunjung cafe terkekeh dan tertawa mendengar respont dari Syakila.
"Kamu ngatain saya gila?! " wanita tanpa nama itu menatap Syakila marah.
Syakila menganggukkan kepalanya polos, "iya."
Plak!!!
Syakila tertoleh kesamping karna mendapat tamparan keras di wajahnya. Hana membulatkan matanya sembari menatap Syakila meringis lalu menatap wanita yang menampar sahabat nya itu marah.
Sedangkan Rafael spontan berdiri saat melihat pujaan hatinya ditampar wanita tadi. Rafael mengepalkan tangannya kuat, rahangnya mengeras menahan emosinya yang ingin mengambil ahli tubuhnya. Rafael berniat menghampiri wanita tersebut untuk memberinya pelajaran namun ia mengurungkan niatnya saat Syakila mendongak.
Syakila mendongak, ia menatap wanita didepannya yang masih emosi dengan datar, "lumayan." Ujarnya sembari menggosok pipinya yang panas akibat tamparan wanita tersebut.
Wanita tersebut berdecak sembari menatap Syakila sinis. Menurutnya gadis didepannya ini adalah gadis kurang ajar, bar bar, serta tak tahu diri yang pernah ia lihat.
Tiba tiba dengan gerakan cepat Syakila menampar gadis dengan kuat.
Plak!
Wanita tersebut tertoleh kuat karna mendapat tamparan dari Syakila. Bahkan tubuhnya bergeser dan hampir terjatuh, untung pacarnya sigap menahan tubuhnya.
Syakila berjalan mendekati wanita itu, ia menatap wanita tersebut tajam. Kemudian gadis itu mencekram pipi wanita itu dengan kuat, "orang tua saya aja ngak pernah nampar saya." Syakila berkata dengan nada marah.
Tadi ia sudah diam dan membiarkan wanita itu mengoceh, memakinya serta mempermalukannya. Tapi jika wanita itu main fisik, maaf Syakila bukan orang yang tepat untuk diladeni. Emosi gadis itu akan cepat naik jika sudah bermain fisik seperti tadi.
__ADS_1
Syakila menghempas wajah wanita itu kemudian mundur beberapa langkah sembari menatap lawannya dengan tajam.
"Kurang ajar! " maki wanita tersebut masih tak jerah dengan tamparan Syakila.
"Ya, saya emang kurang ajar makanya saya masih sekolah." Maki Syakila balik.
Wanita tersebut menggeram marah, " kamu kurang ajar karna didikan orang tua kamu yang ngak baik. "
Syakila mengepalkan tangannya kuat, jika orang tuanya sudah dibawa bawa maka jangan salahkan ia yang berubah menjadi pembunuh.
Ayolah!! Hal paling sensitif bagi seorang anak itu jika menyangkut tentang orang tuanya, bukan?!
Syakila yang sudah sangat marah mendorong wanita itu kuat membuat wanita tersebut jatuh. Bahkan pacar wanita tersebut ikut terjatuh sangking kuatnya dorongan dari Syakila.
Syakila kemudian menghampiri wanita itu kemudian menjambak rambut wanita tersebut dengan kuat. Syakila memilih jambak jambakan ya karna lawannya wanita bukan pria.
Hana yang melihatnya hanya diam dan meringis dengan wanita yang dijambak oleh Syakila. Tapi Hana sama sekali tak ada niat untuk menghentikan Syakila. Menurutnya itu pantas, karna wanita tersebut telah merendahkan orang tua Syakila.
Syakila harus menghentikan aksinya, karna tubuhnya yang tertarik menjahui wanita tersebut.
Syakila menoleh pada Rafael~ orang yang menariknya menjahui wanita tersebut.
Perlahan emosi gadis itu menguar saat melihat Rafael yang menatapnya tajam.
Wanita tanpa nama itu berdiri dibantu oleh pacar nya, kemudian ia menatap Rafael dengan bola mata yang hampir keluar.
"Pa..Pak Raf..Ra..Pak Rafael." Gagunya karna sangking syok melihat bos nya ada sini.
Rafael diam sembari menatap wanita tersebut dengan tajam. Meski tak mengenalnya tapi Rafael yakin jika wanita tersebut merupakan salah satu karyawannya.
"Udah Pak, pecat saja!! " ujar Hana yang memahami situasi dengan tiba tiba.
"Maafkan saya dan pacar saya Pak. Tapi mohan jangan pecat kami! " pria, pacar wanita tersebut menatap Rafael memohon.
"Pecat, pecat, pecat, " sorak Hana dengan semangat.
Rafael mengabaikan Hana dan kedua insan yang telah berhasil melukai ratu nya. Rafael mengalihkan tatapannya pada pada gadis manis nya yang terlihat sudah mulai tenang.
Rafael berdecak marah saat melihat bekas tamparan di wajah gadis nya. Tangan nya terulur untuk mengelus wajah gadis itu dengan lembut, "nanti setelah pulang dari sini langsung kompres pipi mu ini."
Syakila hanya mengangguk patuh, ia menatap pria berwatak dingin itu dengan mengedip edipkan matannya.
Wanita tanpa nama itu menatap Rafael dan gadis bar bar itu dengan bergantian. Ia menegug salivahnya kasar, "Di..dia pacar Ba..Bapak?! "
Syakila menoleh, ia menatap malas wanita yang sudah terlihat panik itu. "Memangnya kenapa?! Mau protes?! " Syakila menatap tak suka pada wanita tersebut.
Wanita tanpa nama itu menegug salivahnya kembali, kemudian dengan wajah panik dan pucat ia menatap Syakila, "maaf, maaf so..soal yang tad..tadi. Sa..saya ta..di cuma salah paham."
Syakila berdecak malas, tak menanggapainya. Pas ajah udah begini wanita tersebut baru mengaku salah, tadi dia kemana?!
"Maaf kan saya dik, maafkan pacar saya juga. " Syakila melirik pria tersebut kemudian menganggukkan kepalanya. Setidaknya Syakila masih menghargai sikap gentelman dari pacar wanita tersebut yang mau meminta maaf.
Setelah meminta maaf, kedua sejoli itu berlalu. Syakila menatap punggung wanita tersebut dengan mata menyipit, berusaha untuk menandai wanita tersebut. Rencananya jika ia bertemu kembali dengan wanita tersebut, ia ingin memberinya pelajaran agar mulut lemes wanita tersebut ngak asal bicara. Enak saja wanita tadi mengatai didikan orang tuanya diragukan.
Syakila menghela nafas, ia menatap Hana kemudian sekelilingnya. Syukurlah keadaan cafe ini tidak terlalu ramai. Pengunjungnya hanya terdiri dan tersisah pria yang jus nya ia minum, Atif, Bowo, Hana, Rafael, ia sendiri dan beberapa siswa SMA terlihat dari seragam yang masih mereka kenakan.
Piuhh!! Untung saja.
Menyadari sesuati Syakila melotot, menatap horor pada sang adik yang juga menatapnya datar.
"Mati! " gumannya pelan sambil memukul jidatnya.
Hana menghampirinya, "kenapa? "
"Ada Harun and the geng." Syakila menegug salivanya kasar.
.............
**asyik asyik!!! ada yang jambak jambakan. Wkwkwkwk..😂😂😂
Jujur, author sih lebih suka nonton cewek yang jambak jambakan dari pada nonton cowok yang adu jotos. Kalo nonton cewek jambak jambakan, rasanya seru gituh, ngeri ngeri sedap gitu. Wkwkwk..😂😁
ya!! asal bukan author yang jambak jambakan yah.
eh, btw. Readers ada ngak yang pernah kayak si Syaki, di tuduh tuduh gitu sampe ngajak ribut trus jadi pusat perhatian?!
muda mudahan ngak yahh!!☺️
__ADS_1
Oke, jan lupa vote dan comen yahh!!😁
machi😍😍😎**