
"Selamat buat Hana yang tlah berhasil membuat gue jadi koki dadakan. " Syakila menyalim tangan Hana, lalu kembali mengaduk ayam kecap nya yang sebentar lagi akan matang.
Hana, Lily, Kiandra dan Mira terkekeh gelik, "ya,, kan ngitung ngitung lo belajar jadi istrinya pak Rafael. " ucap Hana dengan nada gelik.
Syakila mematikan kompor nya dan secepat kilat menoleh tajam pada Hana, membuat Hana dan yang lainnya bergidik ngeri. Setelah melemparkan tatapan tajam, Syakila kembali sibuk dengan menata masakannya.
"Akkkhh, akhiranya selesai! " Syakila menghembus nafas legah, kemudian menoleh pada Nila pemilik kantin.
"Mbak Nila, makasih ya uda minjamin dapurnya." tutur Syakila seraya melempar senyum manis nya. Nila mengangguk lalu ikut tersenyum.
"Susu stroberi nya udah selesai, Sya? " Syakila menganggukkan kepalanya sebagai jawaban untuk Mira.
"Ayok! "
.................
Mira memimpin para sahabatnya memasuki ruangan Marcus. Ia berjalan begitu hati hati, takut pesanan yang ia bawa tumpah. ia berhenti berjalan saat melihat sosok seorang wanita asing disana.
"Pelan pelan ****! "
"Lo yang pelan pelan! "
"Geser!! Jangan deket deket gue! "
"Siapa yang dekat dekat lo monyong?! "
"Astaga! Pelan pelan, ****! Minumannya tumpah."
"Tumpah dikit doang! "
Mira menoleh kebelakang, mendapatati Hana dan Kiandra yang berdebat.
"Kia sama Hana jangan ribut! Malu sama yang nonton." peringat Lily, Hana dan Kia saling berpandangan dengan tatapan tajam lalu melanjutkan langkah mereka.
"Nih, pesenen lo." ketus Kiandra dengan meletakkan pesanan Tiger dan Nathan.
"Terimakasih, cantik! " Kiandra memutar bola mata malas, sedangkan Tiger terkekeh gelik melihatnya.
Hana juga melakukan hal yang sama dengan Kiandra. "Han, makasih ya. " Hana hanya tersenyum pada Bowo kemudian berlaku dari sana.
Syakila meletakkan pesanan Atif dan Rafael dan cepat berlalu dari sana. Tak mau bertatap muka dengan Rafael.
"Kiki, pesanan saya mana? " Marcus menatap Syakila bertanya.
__ADS_1
Syakila menatap Mira yang sedang berdiam diri.
"Tuh." tunjukknya lewat dagu ke arah Mira.
Marcus menatap Mira dengan alis terangkat, yang seolah enggan bergerak dari tempatnya.
Hana menyikut pelan lengan Mira membuat gadis itu tersadar dari lamunannya. Mira menatap Marcus dan sekitarnya dengan melayangkan cegirannya lalu berjalan ke arah Marcus dan meletakkan pesanan tunangannya itu.
Tak sengaja pandangan Mira mengarah pada wanita yang duduk di samping tunangannya itu. Benar, yang dikatakan para gadis yang bergosip dikantin tadi itu sungguh benar. Karna wanita yang Mira tebak adalah dosen baru itu sungguh sangat cantik dan anggun. Tapi sepertinya Mira pernah bertemu dengan wanita itu.
"Eh, dia kan cewek yang gue tabrak di minimarket." Dewi batin gadis itu.
"Dia siapa pak? " Tanya Hana menatap wanita cantik yang duduk di samping Marcus.
Marcus menoleh sebentar pada wanita di samping nya, lalu menarap mahasiswi didepan nya dengan datar.
"Bukan urusan kalian!" Ucapnya datar.
Hana dan Kiandra saling menatap, lalu berdecak bersamaan. Sedangkan Mira hanya diam memandang tunangannya dengan dalam.
Wanita disamping Marcus itu tersenyum ramah, "perkenalkan, saya Viola dosen baru di kampus ini."
"Oh." Para gadis itu hanya ber 'oh' ria sambil mengangguk anggukkan kepala.
"Kita cuma makhluk sejenis manusia yang terperangkap menjadi mahasiswi Pak Marcus. Tapi salah satu dari kami adalah kesanyangan beliau, iya ngak Pak? " di akhir kalimat Hana menatap gelik dosennya, sedangkan Marcus cuma mengacungkan bahunya yang entah kenapa membuat Mira sedikit kecewa.
Viola tertenguh mendengar perkataan gadis itu. Viola menatap satu persatu gadis didepannya dan pandangannya berhenti pada gadis yang sedang bersedekap dan juga sedang menatapnya dengan alis terangkat.
"Benar benar angkuh." Batin Viola.
Sedangkan Syakila yang terus ditatap oleh Viaola memilih tak peduli dan mengacungkan bahunya.
"Mira!"
Mira menoleh pada Marcus, "iya?"
"Tolong belikan makanan untuk Viola! " Marcus berkata santai tak tahu akibatnya bagi Mira yang sudah merasa sakit hati.
"Umm, saya pesen ayam kecap seperti yang dimakan Rafael, tolong yah! " Viola berkata dengan ayu dan diakhir kalimat ia tersenyum ramah pada Mira.
"Itu tidak tersedia dikantin." tutur Kiandra yang sudah mulai kesal melihat Marcus yang seenak nya menyuruh Mira.
"Trus, kok Rafael bisa makan? " Viola kini menatap Kiandra.
__ADS_1
"Kak eh Pak Rafael punya mulut makanya bisa makan." timpal Syakila menatap datar Viola. Sedangkan Rafael yang sedari tadi namanya disebut memilih tak peduli karna ia tengah menikmati ayam kecap buatan gadisnya dengan kitmat. Masakan Syakila benar benar pas di lidahnya. Padahal tadi ia sempat mengira gadis itu tidak bisa memasak dan tadi memang ia hanya ingin mengerjai gadis itu dengan menyuruhnya memasakkan ayam kecap untuk nya. Tapi tak disangka hasilnya seebak ini bahkan dari tampilannya saja sudah sangat menggiurkan.
Viola menatap Syakila tak suka, tapi raut wajah nya cepat diubahnya kembali menjadi ramah, "hehe, kamu suka bercanda yah. Maksud saya jika tidak tesedia dikantin trus ayam kecap Rafael beli dimana? "
"Syakila yang buat. " Ketus Hana.
"Kalau begitu tolong buat kan untuk saya lagi. " Viola kembali tersenyum ramah.
"Ogah! " ucap Hana, Syakila dan Kiandra bersamaan.
Marcus mendengus, sedangkan Atif dan yang lainnya kecuali Rafael dan Viola, geleng geleng kepala melihat tingkah para gadis di hadapan mereka.
Syakila yang melihat Nila lewat didepan ruangan Marcus, memanggilnya, "mbak Nila!! "
Nila yang mendengar dirinya di panggil menoleh, "kamu manggil saya, Ki." Nila menghampiri Syakila, ia memanggil gadis itu dengan sebutan 'Ki' singkatan dari Kiki, panggilan nya yang sudah di sah kan oleh para penghuni kampus tersebut.
Syakila menganggukkan kepalanya, "buk dosen baru mau mesen makanan ama mbak Nila. "
Nila menganggukkan kepalanya, lalu menatap wanita cantik yang ia yakin dosen baru yang Syakila sebut, "mau pesen apa, bu? " tanya nya ramah.
"Dikantinya mbak emang ada apa ajah? "
"Ada banyak. Ada mie sop, batagor, somai, soto, gado gado, rujak, puncake, ayam gebrek, ayam goreng, ayam penyet, ayam crisspy, kentang goreng, es cendol, jus...-"
Viola langsung memotong perkataan Nila,"pesen jus alpukat ajah."
Nila menganggukkan kepalanya lalu segera mengundurkan diri.
"Kita juga mau pamit pak," Kiandra berujar.
"Humm." Marcus hanya berdehem.
"Mira! " Panggilnya.
Mira menoleh, sedang kan teman temannya berhenti di ambang pintu,"iya Pak? "
"Kamu tidak lupa kan hari ini! " Marcus berkata tanpa melirik pada Mira, membuat hati gadis itu merasa sakit.
Mira mengabaikan rasa sakit di hatinya, ia berusaha mengingat hari ini yang bersangkutan dengan ia dan Marcus. Dan tak lama ia ingat bahwa hari ini ia ada jadwal piting baju dengan Marcus.
j
j
__ADS_1
jan lupa vote, like, dan komen yah 😉