
"Biasanya yah, yang formal itu ngebosanin. Jadi rapat nanti dipastikan juga ngebosanin. Kesimpulannya kita ngak usah ikut. " pusus Syakila dibumbuhi teori anta berantah nya. Anehnya Kia, Hana, Mira bahkan Lily menganggukkan kepalanya.
"Terserah kalian. " Ucap Nathan datar.
"Eh, Nathan mah jangan didenger, lempengg. Kalian datang ajah, denger denger kotak makanannya gede trus satu orang dapat dua. " Ucap Tiger yang mendapat antusias dari para gadis yang sudah ia anggap sahabat itu.
"Kita ikut!!"
"Biar formal tapi berkah."
"Biasanya yang formal banyak ilmunya."
"Jiwa anak anak kos ku meronta ronta!"
Dan kalimat terakhir yang berasal dari Syakila membuat semuanya tertawa renyah, menyisahkan Nathan yang hanya tertawa pelan.
.................
"Nasi kotak, kami datang! " guman Syakila pelan saat mereka melewati pintu masuk ke aula kampus.
Dan para sahabatnya hanya terkekeh geli, menanggapi ketidakwarasan Syakila yang semakin menjadi jadi.
"Ramai! " guman Lily pelan, dan mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang sudah disediakan disana.
Hana mendudukkan dirinya disamping Lily dan begitu seterusnya. Sedangkan Nathan dan Tiger duduk diseberang mereka. Karna ada nya istilah satuan terpisah dimana laki laki dan perempuan duduk bersebrangan untuk menjaga ketertiban saat acara berlangsung.
Marcus, Aril, Ambar dan Nita selaku perwakilan dosen menempatkan diri dengan duduk di depan para mahasiswa. Bima selaku ketua umum KMM, Widia selaku sekretasis umum dan Clara sebagai bendahara umum mengambil tempat di barisan paling depan. Sedangkan Rafael juga ada disana, duduk tepat ditengah tengah para dosen yang kehadirannya menjadi tanda tanya bagi Syakila dan para sahabatnya.
"Karna semua sudah lengkap maka kita akan mulai rapatnya." Bima berkata lantang dangan pengeras suara di tangannya
Acara rapat pun dimulai, Marcus menjelaskan alasan dan tujuan rapat mereka dimana alasannya untuk membahas masalah perlombaan bazar yang diadakan dikampus untuk seluruh fakultas dan tujuannya untuk membentuk tim bazar yang akan mengikuti perlombaan.
Syakila menguap, matanya bahkan sudah tidak kuat menahan kantuk, "kapan sik Nasi kotaknya datang." ucapnya dengan suara pelan karna menahan kantuk.
"Hu uu. Boring gueh disini, rapat nya terlalu formal kayak acara seminar proposal ajah. " tambah Hana.
"Betul!! Pake ngundang dosen segala, padahal kalo ngomong gitu doang gue yakin Kak Bima juga bisa. "
"Iyah, kalian bicara aja terus. Gak usah nyadar kalo kalian lagi di perhatiin para dosen. " Seketika Hana, Syakila, dan Kindra menoleh pada Mira dan kemudian menoleh kedepan mendapati para dosen yang memang benar sedang menatap mereka dengan raut wajah berbeda.
"Ada pertanyaa? " Marcus menatap seluruh mahasiswa. Menunggu 15 detik namun tidak ada yang bertanya.
"Baikalah jika tidak ada yang bertanya, kita lanjut saja dengan pembagian tim."
Ambar berdiri, "untuk pembagian tim, kalian yang bagi atau kami para dosen? "
"Kami!!" . "Dosen!!!" Teriak mereka semua beda pendapat.
"Dosen."
"Kita ajah."
__ADS_1
"Dosen!!!!"
"Kita ajah, woi!!"
Bima berdiri, "Oke, cukup!! Diharapkan untuk semuanya agar diam dan tenang. "
Para anggota rapat memilih diam dan tenang sesuai intruksi dari Bima. Lalu Bima mengembalikan kuasa pada Para dosen agar mengambil keputusan.
"Baiklah, untuk mahasiswa yang ingin menentukan tim sendiri silahkan mulai dari sekarang. Dan untuk mahasiswa yang ingin kami para dosen yang menentukan tim silahkan tulis nama dikertas selembar lalu antar kedepan. "
"Ingat!! Setiap anggota tim paling banyak berjumlah 10 orang. "
"Siappp!!! "
Semua mahasiswa sibuk menentuka tim dan juga menulis nama bagi yang memilih obsi kedua. Beda dengan Mira dan para sahabatnya yang memilih diam dan santai dengan menonton para mahasiswa yang sudah kocar kacir kesana kemari mencari tim.
Syakila menghela napas lelah, "membosan kan! Pap." ucapnya lalu mengelus perut ratanya, "kapan yahh penantian gue pada nasi kotak berakhir. " tuturnya melemas.
Hana menguap lebar lebar, "lo resek kalo lagi lapar!" tukas nya asal asalan.
"Sudah! Makan dulu sanah! Ada mi ayam spesial! Pok pok pok pokkkk. " Kiandra yang mulai boring ikut ikutan gila dadakan.
Namun keboringan mereka hanyut setelah melihat pembagian nasi kotak. Dengan cepat Syakila, Hana, Kiandra, Mira dan Lily mengantri paling depan.
Mahasiswa yang melihat tingkah konyol para gadis yang sudah terdaftar sebagai famous kampus itu menyorakinya, "wuuuuuuuuuuu! "
Hana melototkan matanya, menatap tajam kepada mahasiswa yang menyorakinya.
"apaa?"ucapnya dengan wajah galaknya.
"Lo bilang kita ngak mampu? " Kiandra mendelik ke arah Widia.
Widia menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum remeh, "iya! Lo sama tiga teman lo itu benar benar ngak mampu. Sampe mau makan ajah harus berharap dari nasi kotak geratis. "
Mira dan Kiandra sama sama bersedekap, lalu menatap datar pada Widia, "lo hitung semua nasi kotak yang ada disini berapa, trus lo jumlahin pengeluaran lo dan minta uangnya sama gue. " ucap Mira sembari menatap widia tajam, kemudian berlalu dari hadapan gadis itu.
Kiandra tersenyum lebar pada widia, kemudian mengikur pada Mira. Sedangkan Widia ditempatnya menggeram marah, tak suka dengan para gadis itu.
Syakila, Lily dan Hana keluar dari antrian setelah mendapat apa yang mereka inginkan. Dengan mata yang berbinar dan senyum yang merekah, mereka berjalan beriringan ke arah Mira dan Kiandra yang menunggu mereka di tempat duduk meraka tadi.
Widia yang sudah sangat dan teramat kesal pada para gadis itu, ingin membalaskan rasa malunya dan hinaan Mira padanya. Ia menatap geram pada Syakila, Hana dan Lily yang terlihat sangat senang. Saat ketiga gadis itu melewatinya, dengan sengaja ia menjulurkan kakinya membuat Syakila yang lewat jadi tersandung.
Syakila jatuh kelantai dengan lutut yang terlebih dulu mencium kasar marmer, sedangkan nasi kotak ditangannya terlempar sedikit jauh darinya dan isi dari nasi kotak itu berserakan kemana mana.
Lily dan Hana menatap syok pada Syakila yang jatuh dengan posisi yang tak enak dilihat. Sadar dari rasa syok mereka, buru buru Lily dan Hana membantu Syakila berdiri.
"Kayak gembel, heh. " ejek Widia dan segera berlalu dari sana.
Syakila mengepalkan tangannya, matanya menatap tajam pada nasi yang berserakan dilantai yang berasal dari nasi kotak yang ia bawa. Syakila sangat tidak suka jika ada orang yang menjadikan makanan sebagai lelucon atau mainan saja, karna diluar sana masih banyak orang yang makan. Jadi jika tak berniat memakannya, setidaknya jangan membuangnya dengan percuma cuma.
Hana yang geram langsung menarik rambut Widia dari belakang. Membuat widia meringis dan mengadu kesakitan.
__ADS_1
"Auuu, sakitt!! Lepasin, dasar wanita jadi jadian! Lepasin ngak! Argggh lepasin." teriak Widia yang di abaikan oleh Hana. Untung saat ini anak organisasi atau anggota rapat sudah banyak yang pulang setelah pembagian nasi kotak. Yang tersisah hanya ada para dosen yang sedang diskusi, dan beberapa mahasiswa yang memilih menyantap nasi kotaknya di sana.
"Apa apan kalian! Hana! Lepaskan tangan mu dari rambut nya." Bentak Marcus. Hana menurut dan melepaska tangannya yang menarik kuat rambut Widia.
"Kalian apa apaan, hah? Ribut didepan umum, sudah tidak punya malu kalian? Kalian sudah mahasiswa bukan anak SMA lagi tapi kelakuan kalian lebih kekanakan dari siswa SMA. " Ambar yang baru datang langsung memarahi Widia, Hana, Syakila dan Lily.
"Ini lagih, main keroyokan. Merasa hebat yah kalian." Tambah Ambar dan kali ini memancing emosi ketiga gadis itu.
"Kalo ngak tau apa apa jangan sok marah deh buk! " Ucap Kiandra yang baru datang bersama Mira, Nathan, Bima dan Tiger dengan menahan kesal.
Marcus menghela napas, berurusan dengan para gadis alias mahasiswinya itu akan sangat sulit. Jika satu orang di marahi maka empat orang lagi akan menjadi temeng, satu orang yang disalahai empat orang yang memerangi, satu orang yang dikatai empat orang yang meledakkan granet dan ia harap jangan sampai para gadis itu meledakkan nuklirnya.
"Tenang dulu, Kiandra. Ibu Ambar juga tenang dulu. Kita bicarakan dengan kepala dingin. Oke! " Ucap Aril dengan bijak, dan yang lainnya menganggukkan kepalanya.
Aril menyuruh mereka untuk duduk dan membicarakannya dengan baik baik. Dengan bersamaan mereka berjalan menuju bangku disana, meninggalkan Syakila yang berjalan dengan pelan karna menahan nyeri serta ngilu pada lutut nya.
Rafael memang sedari tadi hanya diam, namun pengawasannya tak pernah lepas dari Syakila. Termasuk saat gadis itu yang meringis kesakitan saat tak sengaja berjalan cepat.
"Dasar sok kuat! " Guman Rafael pelan dengan menatap tajam Syakila.
"Jadi apa masalah kalian? " tanya Marcus to the point.
"Dia ngedorong Syakila, Pak! " sambar Hana langsung.
"Lalu kau menjambaknya, begitu? " Sinis Ambar, yang entah kenapa terlihat berpihak pada Widia.
"Kakak ini juga menghina Syaki, buk! " Lily berkata dengan suara imutnya yang entah kenapa membuat Nathan gemas sendiri pada gadis itu.
"Dan kita sebagai sahabat ngak terima kalau Syaki di gituin. Wajar saja jika Hana ngejambak Widia. " Tambah Mira.
"Wajar katamu! " Ambar mendelik tak suka pada Mira, dan menatap sinis pada Syakila yang memilih diam sedari tadi.
Kia menatap begitu sinis pada Ambar, tak peduli jika itu dosen. Toh Ambar tak masuk ke raungan mereka, jadi ia tak perlu khawatir pada nilai, "dari tadi gue perhatiin ibu bela Widia mulu, padahal jelas jelas dia yang salah duluan."
"Ouh jelas!! Jelas saya bela Widia, dia keponakan saya dan saya tau bagaimana sikap keponakan saya ini. Dia itu baik dan ramah, ngak mungkin berbuat seperti yang kalian tuduhkan. Tak seperti kalian yang urak urakan dan bar bar, jadi wajar suka main keroyokan. "
Marcus menggeram marah, bagaimanapun Ambar sudah lancang mengatai mahasiswi kesayangannya. Apalagi calon istrinya termasuk orang yang dikatai Ambar membuat emosinya menaik dua kali lipat, "buk Ambar!! Jaga bicara anda!! " ucap Marcus dengan nada yang tinggi.
"Loh pak Marc...-"
Marcus langsung memotong kalimat Ambar, "ingat Ambar, saya bisa melaporkan anda pada pemilik kampus ini karna anda sudah mengatai dan memfitnah mahasiswi saya. Dan jangan lupa kalau pemilik kampus ini ada disini. "ucap marcus dengan nada dingin.
Ambar memilih diam dan menciut, ia menatap Widia lalu mengajaknya berlalu dari sana.
"Dan untuk kalian ber lima, jika kalian ingin membuat onar setidaknya lihat kondisi dan situasi dulu. Tahu tempat dan diri, jangan bersikap bodoh dan sok kuat. " Marcus menatap tajam pada Mira, Hana, Lily, Kiandra dan Syakila.
Saat pandangannya bertemu dengan Mira, gadis itu langsung membuang muka membuat Marcus mengeryit tapi tak mempermasalahnnya.
"Kita pulang! " ucap Syakila yang masih menahan kesal atas perlakuan Widia padanya tadi. Apalagi tadi Marcus sedikit berkata kasar pada mereka membuat mood nya semakin jelek saja. Dan ia juga masih belum lupa pada air mata Mira semalam karna dosen didepannya itu.
Mira, Hana, Lily dan Kiandra yang sudah tahu kalau gadis itu tengah berada dalam mood yang kurang baik berdiri, dan ikut melangkah. Nathan dan Tiger juga ikut berdiri tak ingin para gadis yang sudah mereka anggap sahabat itu kenapa napa.
__ADS_1
...............
jan lupa vote, suka, dan komen yahh😉