
"Tunggu sebentar." Syakila hanya menganggukkan kepalanya, Rafael turun dan segera berlalu.
Syakila menatap punggung tegap Rafael yang memasuki sebuah mini market. Kalau dilihat dan diperhatiakan, Rafael semaki tampan saja setiap harinya. Tapi sayang, bagi Syakila Rafael tetap sama, king of the es dan tuan psycho.
Rafael kembali dengan menenteng tas plastik dan menyerahkannya pada Syakila. Tanpa mengatakan apapun, pria beriris gelap itu melajukan mobilnya. Syakila menatap Rafael heran lalu beralih pada plastik yang rasanya dingin di atas pangkuannya.
Penasaran, Syakila memeriksa isinya. Syakila membulatkan matanya melihat isi plastik tersebut. Ia menatap binar pada dua cup es krim berukuran sedang.
Ia tersenyum senang, walau bukan es krim vanilla tapi setidaknya ia bisa makan es krim. Ia menoleh pada Rafael yang fokus pada jalanan, ia menatap Rafael dengan raut wajah girang nya,"ini untuk aku yah? " tanyanya sebatas basa basi.
Rafael menoleh dan menatap Syakila yang masih memperlihatkan senyum lebarnya yang benar benar manis dimata Rafael.
"Humm. " ia hanya berdehem sebagai respon, lalu kembali fokus pada jalanan.
"Wahh, makasih banyak Kak Rafael.c" ucap Syakila kegirangan. Ia bahkan sampai memeluk es krim nya karna terlalu senang.
Rafael melirik Syakila dari ekor matanya. Ia tersenyum saat melihat gadisnya yang begitu sangat senang hanya karna di beri es krim saja. Rafael juga merasa senang, karna baru kali ini Syakila menunjukkan raut bahagia saat bersamanaya, biasanya gadis itu lebih banyak kaku dan gugup.
.........................
Hana turun dari mobil Bowo, begitu pula dengan sang pemilik mobil. Hana menatap pintu kontraknya sebentar, lalu membuka pintu mempersilahkan Bowo untuk masuk terlebih dahulu.
" Li, Kiandra mana? Kata Syaki, Kiandra udah di kontrakan." tanya Hana pada Lily yang kebetulan berada di ruang tengah. Hana duduk di samping gadis imut itu, ia melirik pada Nathan yang juga tengah berada di sana.
"Hai kak." sapa nya ramah. Nathan menoleh pada Hana, menatapnya datar, "hai." balasnya.
Hana tersenyum, maklum dengan kelakuan Nathan yang selalu datar dan lempeng.
"Lily ngak tahu. Tadi Lily pulang, kontrakan sepi ngak ada orang. " Lily menjawab pertanyan Hana tadi, lalu gadis imut itu mengalihkan perhatiannya pada Bowo.
"Hai kak Bowo." sapanya berusaha ramah.
Bowo tersenyum ramah, "Hai juga, Li." balasnya.
Lily kembali menatap pada Hana, "trus Syaki mana?."
Brakk!!
Spontan semua menoleh pada pintu, melihat Syakila yang terburu buru dan segera berlari ke arah dapur. Menyimpan es krim pemberian Rafael padanya.
"Panjang umur!! Yang lo tanya udah pulang." ujar Hana memutar bola mata jengah melihat kelakuan abstruk Syakila.
Syakila berjalan ke arah mereka dengan senyum yang begitu lebar, membuat yang melihatnya bertanya tanya ada gerangan apa dengan gadis manis itu.
"Syaki kenapa, Kok senyum senyum?! " Lily menatap Syakila yang sudah duduk di samping Nathan.
"Lagi seneng ajah." Syakila masih tersenyum, menatap siapapun dengan senyum manis nya.
Hana menaikkan alis nya,"ngak biasanya lo pulang di antar pak Rafael senang begini. Biasanya lo pucat, keringat dingin, gemetar, oon, begoan ...-"
"Gila, konyol, bodoh , idup lagi. " potong Syakila, menatap Hana sebal.
Hana tertawa, begitu juga dengan Lily dan Bowo. Sedangkan Nathan hanya tersenyum gelik.
Kiandra datang dengan Tiger, membuat mereka yang tertawa berhenti. Mereka menatap dua sejoli itu, menunggu reaksi dari keduannya.
Syakila menggaruk kepalanya yang tak gatal, tak mungkin kan mereka memulai drama didepan Bowo, Nathan dan Tiger yang baru datang.
Tiger dapat merasakan suasana yang sangat canggung, ia yakin sahabat dari Kiandra tidak enak dengan Kiadra sendiri.
"Lah, pada tegang begini. Yang datang cogan sama cecan loh. " tuturnya berusaha mencairkan suasana.
__ADS_1
"Hahaha.iya iya. Cecan ama cogannya cocok lagih. " Timpal Syakila, membantu Tiger mencairkan ketegangan yang tercifta diantara mereka.
"Alhamdulillah!! dapat restu juga dari sahabatnya cecan. " Tiger kemudian menatap Kiandra dengan tersenyum lebar.
Kiandra menatap Tiger, sumpah sekarang ia sangat malu. Ia memukul bahu Tiger salah tingkah.
"Dih cecan nya salah tingkah. " Kiandra menatap pada Syakila dengan raud wajah cemberut, malu karna gadis manis itu terus menggodanya.
"Hahahaa, Kiandra malu ****. " timpal Hana. Kiandra menatap Hana kesal, tapi dalam hatinya ia senang karna gadis itu masih mau mengajaknya berbicara bahkan bersenda gurau.
"Kiandra blushing. " ujar Lily membuat mereka semua tertawa terbahak bahak, sedangkan Kiandra menutup wajahnya dengan tangan karna malu.
Tiger terkekeh, "Kiandra kalo lagi blushing tambah cantik yah. "
"Cieeee. "goda Hana, Lily dan Syakila bersamaan.
"Duh, bentar lagi kita bakalan dapat pj nih. " Hana berhenti tertawa, lalu mengibas ibas tangan didepan wajahnya karna sedikit kegerahan.
Syakila beranjak dari dudukannya, kemudian ia kembali dengan membawa es krim pemberian Rafael tadi.
"Nih, kita makan sama sama. " ia menaruh satu cup di meja beserta sendok yang sudah hitung sesuai jumlah mereka.
Syakila membuka penutup es krim di tangannya, lalu memakannya. Hana juga membuka penutup es krim yang Syakila letakkan dimeja, lalu menyuapkannya ke mulutnya. Yang lainnya juga melakukan hal yang sama kecuali Nathan yang memilih mengamati Syakila dalam diam.
Hana menatap Syakila, "wu! rakus. Makan satu cup es krim sendiri doang. "
Syakila melayangkan cengirannya dan kembali melanjutkan aktivitasnya menyantap es krim nya.
"Bagi! " Syakila menatap Nathan dengan alis terangkat.
"Itu." tunjuk Syakila pada ea krim yang di meja.
"Oke oke. Li, sini. Kita makan es krim ini ajah. Biar adil gitu." ajak Syakila pada Lily, karna ia tahu Lily akan sedih dan sakit hati bila ia dan Nathan berdekatan.
Nathan mengeryit, namun tak menolak jika Lily ikut bergabung dengan nya dan Syakila.
Syakila memerhatikan Lily yang kaku dan Nathan yang terus mencuri curi pandang pada Lily, "Lah, gue serasa nyamuk." ujarnya.
"Hahaha sadar diri juga lo. " Hana tertawa mengejek Syakila.
"Lo kan saudaranya nyamuk aedis, Sya. " timpal Kiandra, Syakila mendengus.
"Jomblo mah bisa apa!! " Syakila berkata dengan nada lirih. Hanya sebatas gaya nya saja, bukan benar benar lirih.
Hana kembali tertawa, kali ini tertawa terbahak bahak membuat yang lain menatapnya keheranan, " hahahaaa, jomblo?? yang ngaku ngaku pacarnya Pak Rafael di cafe siapa yah? " ia tertawa menatap Syakila yang membelalakkan matanya.
"Jomblo mu dipertanyakan, Sya." tambahnya membuat Syakila berdecak kesal.
"Emang tadi di cafe ada yang ngaku ngaku jadi pacarnya Pak Rafael? " Kiandra menatap Hana, menuntut penjelasan.
Hana menatap Syakila dengan senyum jahil yang merekah di wajah cantiknya, membuat Syakila menegug salivanya kasar.
"Iya, dan orang ya itu si Symmmmm..-" dengan gerakan cepat Syakila membekap mulut Hana membuat gadis itu tak bisa menyelesaikan kalimatnya.
Hana memukul mukul tangan Syakila yang membekap mulutnya cukup kuat membuat Syakila melepas bekapannya.
"Apaan sik Sya. Hampir mati gue di bekap ama lo. " Hana menatap Syakila kesal.
"Mana tangan lo asin lagih. " Hana me-lap mulutnya yang bahkan sudah mati rasa karna Syakila yang terlalu kuat membekap mulutnya.
Syakila melotot menatap Hana horor, namun tak lama senyum jahil terbit di wajahnya, "tadi gue habis bersihin kotoran ayam di teras dan gue baru ingat kalo gue belom cuci tangan. "
__ADS_1
Hana membelalak bahkan mulutnya sampai terbuka lebar. Ia menatap Syakila garang, "SYAKILA!!!!!" teriaknya menggema di seluruh ruangan.
Syakila tertawa lalu berlari menghindari Hana yang mengejarnya. Mereka berlari kesana kemari dengan Syakila yang tertawa dan Hana yang memasang raut kesal karna Syakila yang begitu sulit untuk ia tangkap.
Sedangkan Lily, Kindra, Bowo, Tiger bahkan Nathan tertawa menyaksikan Syakila dan Hana.
.................
"Maaf, Han. Tadi bukan maksud gue buat nyakitin perasaan lo. Cuma gue takut ajah lo dimanfaatin sama Bowo." Kiandra berkata lirih, menatap Hana dengan wajah yang merasa bersalah.
Hana tersenyum, ia mendekat pada Kiandra dan memeluk gadis itu, "gue juga minta maaf, Ndra. Gue ngak terbuka sama kalian."
Kiandra dan Hana sama sama melepas pelukannya dan mereka tersenyum legah karna kesalah pahaman diantara mereka sudah terselesaikan.
"Dalam persahabatan tidak ada kata maaf dan terima kasih, yang ada hanya saling mendukung dan menasehati. " Hana, Kiandra dan Lily spontan menoleh pada Syakila yang sedang tiduran sambil menatap pada buku nya.
Hana menatap binar pada Syakila, ia begitu terharu dengan perkataan gadis itu, "Sya! gue terharu banget. " ucapnya setengah menjerit.
"Hu' uuu, kata katanya sederhana tapi dalam. Terharu! " Kiandra berkata dengan nada merengek, menatap Syakila begitu mengagumi.
Syakila menoleh pada sahabatnya yang sedang menatapnya dengan tatapan berbinar dan kagum, "lah, kalian kenapa?? " ia mengeryit menatap sahabatnya bingung.
Hana mengedip edipkan matanya, "terharu!"
"Sama kata kata bijak Syaki." tambah Lily.
Syakila memundurkan wajahnya kala menatap temannya, heran dengan kata kata Lily. Ia mengingat ingat apa yang tadi ia katakan sehingga sahabatnya sampe ada yang baper dan terharu, "oh itu. Kata kata tadi dari penggalan novel ini. " katanya sambil menunjukkan novel yang ia baca.
Lily, Hana, dan Kiandra saling bertukar pandang dan kemudian mendengus menatap Syakila berang. Padahal tadi mereka sudah sangat terharu, tahu tahunya Syakila cuma membacakan penggalan novel.
"Sakarep mu lah, adinda capek!! " Hana mendramatis dan berlalu.
"Ck, php lo. " tukas Kiandra dan menyusul Hana.
Lily menggelengkan kepalanya, ia memilih tetap ditempatnya dan bermain sosmed yang akhir akhir ini jarang ia kunjungi.
"Ly, " Lily menoleh pada Syakila yang tetap fokus pada bacaannya.
"Lo suka yah sama kak Nathan? " Lily membelalakkan matanya, menatap Syakila tak percaya. Bagaimana gadis itu tahu, ia menyukai Nathan? Lily berdehem, menetralkan detak jantungnya yang berdeguk kencang karna kaget dengan pertanyaan Syakila.
Syakila menutup bukunya kuat membuat Lily tergelonjak kaget, lalu ia menatap Lily dengan alis terangkat, "Jujur aja Li!"
Lily menatap Syakila yang bersedekap, "i..i..iya, " Syakila tersenyum.
"Tapi jangan kasih tahu yang lain yahh, Lily malu. " Syakila mengangguk dan tersenyum.
"Itu hak lo buat kasih tahu mereka. Gue seneng kok kalo lo sukanya ama Kak Nathan. Karna gue tahu dan sangat yakin dia pria yang baik dan cocok buat lo. " Lily tersenyum kaku mendengar perkataan Syakila.
"Ngak usah kawatir dan salah paham ama hubungan Kak Nathan dengan gue. Karna kita cuma sebatas teman, atau bisa dibilang teman tapi kakak adek." tambah Syakila.
Lily mengangguk ragu, ia menatap Syakila sedikit kaku," Syaki! Lily boleh nanya ngak?" Syakila menganggukkan kepalanya.
"Hubungan Syakila dulu sama kak Nathan apa? Karna Lily lihat, Kak Nathan sangat perhatian banget sama Syaki." Lily menatap takut pada Syakila, takut jika gadis yang merangkap jadi sahabat nya itu mengatakan yang dapat mematahkan harapannya untuk memiliki hati Nathan.
Syakila terkekeh kecil, lalu menatap Lily gelik, "hehee, kita dulu cuma temanan doang. Ummm, sempat sik Kak Nathan ngungkapin perasaan ama gue, tapi gue bukan nolak sik juga bukan nerima. Cuma pada saat itu yang gue lihat Kak Nathan bukan suka sama gue sebagai cewek, tapi dia suka gue karna gue saudaranya. Lagi pula gue ngak ada perasaan sama Kak Nathan selebih dari rasa sayang karna dia sahabat sekaligus seorang kakak bagi gue. Intinya kak Nathan ngak benar benar suka sama gue, dia cuma salah mengartikan perasaannya dia yang nganggep gue adik, karna yang gue tau juga kak Nathan pengen punya adik cewek. " Jelas Syakila.
Lily tersenyum, berharap apa yang dikatakan dan dijelaskan Syakila tadi adalah benar dan bukan karangan saja. Dan ia yakin Syakila tidak mungkin membohonginya.
...............
jan lupa vote dan comen yahhh😁😅
__ADS_1