
*Mira mengabaikan rasa sakit di hatinya, ia berusaha mengingat hari ini yang bersangkutan dengan ia dan Marcus. Dan tak lama ia ingat bahwa hari ini ia ada jadwal piting baju dengan Marcus.
"Iya pak*."
"Tunggu saya di parkiran." Mira hanya menganggukkan kepalanya dan berlalu dari sana.
Dalam hati, ia benar merutuki nasip sialnya di hari ini. Dan entah harus karna apa gadis yang ia puji puji kecantikannya menjadi benalu di hubungannya. Ia hanya berharap besar kalau Marcus tidak akan berpaling darinya, walau kenyataannya mereka lebih tepatnya Marcus belum mencintainya.
.............
"Kalian pulang ajah! "
"Ngak! Kita bakalan temenin lo buat nunggu Pak Memar di sini. "
Mira menatap satu persatu sahabatnya lalu tersenyum, "makasih." ucapnya tulus.
Para sahabatnya ikut tersenyum, lalu mereka tertawa bersama.
"Sya! " Syakila menoleh, menatap Nathan yang juga menatapnya dengan bersedekap.
"Ikut gue, bentar! " Nathan berkata dingin serta menatap Syakila datar.
Syakila menganggukkan kepalanya, tak mempermasalahkan sikap Nathan yang dingin padanya bahkan pria yang selalu hangat dan lembut padanya itu menggunakan kata 'gue'.
Syakila tahu kalau sekarang Nathan tengah kesal atau dengan mood yang tak bagus.
Lily menatap punggung Syakila dan Nathan dengan nanar, rasanya sekarang ia tengah menonton kehancuran hatinya sendiri. Hatinya begitu perih melihat sahabat nya sendiri bersama orang yang ia suk. Padahal sangat jelas jika Syakila tahu bahwa Lily menyukai Nathan. Lily mengedip edip kan matanya menghalau air mata nya yang akan jatuh, entah apa alasannya. Sakit karna melihat sahabat yang ia percayai m, dekat dan berhianat padanya atau sakit karna Nathan yang tak menganggap dirinya.
"Li! " Lily menoleh pada Hana.
"Lo ngak papa kan? " Hana memegang bahu gadis itu, lalu menatap Lily tepat dimata gadis itu.
Lily memaksa untuk tersenyum, "Lily ngak papa, Han. " tuturnya parau.
Hana mematap Lily, meyakinkan dirinya bahwa sahabat didepannya itu tidak apa apa. Setelah setengah yakin, Hana hanya menganggukkan kepalanya.
"Li, sini duduk. Ada yang mau kita omongin." Lily mengagguk lalu duduk di tengah, antara Mira dan Kiandra.
"Lily lo jujur ama kita, kalo lo itu suka sama kak Nathan." Lily menatap Kiandra terkejut.
"Jujur aja Ly. Kita udah lama perhatiin lo yang suka diam diam lirik kak Nathan. " tambah Hana membuat Lily semakin membeku.
Dalam hatinya, ia semakin sakit. Sakit karna ia yakin Syakila lah yang membocorkan soal perasaannya pada Nathan ke sahabatnya. Padahal Lily sudah mengatakan untuk tidak mengatakannya dulu, dan sekarang sahabatnya sudah tahu.
Lily benar benar malu, sangat. Malu karna dirinya yang menyukai Nathan namun tak terbalas, malu karna apa yang ia harap malah mengaharapkan orang lain. Malu karna tak bisa berjuang, dan itu semua benar benar menyakitkan bagi Lily.
Dengan pasrah Lily menganggukkan kepalanya pelan. "Gue sik gak papa, Li. Tapi gue harap lo jangan sampe salah paham sama Syakila karna dekat dengan Nathan." ucap Kiandra dengan lirih, entah mengapa ia sekarang merasa dejavu.
Lily menatap Kiandra nanar, bahkan para sahabatnya berpihak pada Syakila. Namun ia tetap mengaggukkan kepalanya.
.............................
"Apaan?" Syakila bersedekap, menatap Nathan dengan datar.
Nathan yang ditatap begitu mendengus, "gue ngak suka lo nyuruh gue buat jauhin lo, sya. "
"Itu harus!! " Ucap Syakila tegas.
"Abang gue nyuruh buat jaga dan awasin lo selama di lingkungan kampus.Kalo gue langgar bisa bisa gue di marahi bang Rafael. "
__ADS_1
"Bukan urusan gue! "
"Oh, begitu yah. " ucap Nathan dingin. Syakila menoleh padanya, menyadari kata katanya yang terlalu egois.
"Lo egois, Sya." Lirih Nathan," gue cuma mau ngejaga lo sebagai adik sekaligus orang sepesial bagi abang gue. Baru pertama kalinya abang gue percaya dan ngasih gue tugas dan baru kali ini gue mau buktiin kalu gue berguna bagi abang gue dengan berusaha ngejaga lo sebaik mungkin, tapi LO.." diakhir kalimat Nathan menaikkan oktaf suaranya tanpa sadar.
Syakila diam, tertenguh dengan perkataan Nathan. Syakila menundukkan kepalanya, bukan karna takut pada Nathan yang kesetanan tapi karna menyesali perbuatannya, menyesalai sikapnya yang egois. Yah, Syakila memang egois, sangat malahan.
Padahal sudah jelas ia tahu bahwa Nathan sangat mengidolakan kakaknya, sangat menyanjung kakak nya karna menurutnya kakak nya adalah panutan pertamanya setelah ayah nya, idolanya, dan pahlawanya. Dan apapun yang dikatakan sang kakak adalah perintah baginya.
Dan seperti yang dikatakan Nathan tadi, sang kakak baru mempercayainya tapi dengan teganya dan egoisnya Syakila malah menyuruhnya untuk tidak menjanganya dan dengan kata lain Syakila menyuruh Nathan untuk menghancurkan kepercayaan Rafael padanya.
Syakila memang baru tahu bahwa Rafael adalah kakak Nathan, tapi soal Nathan yang mengidolakan sang kakak ia sudah tahu lama.
"Maaf!! " Syakila berkata lirih, benar benar menyesali sikap egoisnya.
Nathan menghela nafas frustasi, "apa alasan lo nyuruh gue ngejahui lo? "
Syakila mendongak menatap Nathan dengan mata yang sudah berkaca kaca. Nathan menatap Syakila tak suka, tak suka jika gadis itu sedang menahan air matanya untuk tidak jatuh. Ia tahu kalau ia terlalu kasar pada gadis itu, tapi tadi ia benar benar tersulut emosi.
"Jangan menangis, Sya! " Syakila menatap Nathan lalu menganggukkan kepalanya. Tangan nya dengan cepat menghapus air mata yang jatuh di pipinya.
Nathan berdecak, benar benar tak suka melihat Syakila yang terpuruk begini. Ingin sekali tangannya menghapus air mata gadis yang sudah benar benar ia anggap adik itu. Ingin sekali jua ia merangkul dan menenangkan gadis itu. Tapi mau bagaimana lagi ia sudah berjanji pada sang kakak untuk tidak menyentuh Syakila, ia hanya ditugaskan untuk menjaganya.
"Alasannya Lily! " Tebak Nathan dengan tepat.
Syakila mendongak menatap Nathan dengan sedikit kaget, "bu..bukan."
"Humm." ralat Syakila saat mendapat tatapan tajam dari Nathan.
"Lo terlalu peduli sama sahabat lo, Sya." Nathan menatap Syakila serius, "Belum juga tentu ia peduli sama lo."
Nathan hanya diam, bingung harus mengatakan apa. Mengakui perasaannya? Ia sendiri masih bingung akan perasaannya.
"Kalo suka sama Lily, ngak papa kok. Malahan gue suka kalo kalian ada hubungan. Karna dengan begitu Lily ada yang jaga."
Nathan menatap Syakila senduh,"gue ngak tahu, Sya. Gue bingung. "
"Gue ngak bisa ngelarang lo buat peduli sama gue. Tapi gue juga ngak mau Lily salah paham ama gue karna terlalu dekat ama lo, Kak." Syakila menatap Nathan dengan lirih.
"Humm." setelah berdehem, Nathan langsung meninggalkan Syakila sendirian disana.
Syakila diam memilih memandang langit yang mendung, mungkin sebentar lagi akan turun hujan.
Syakila memegang kepalanya yang sedikit pusing karna seseorang memutar badannya. Syakila menetralkan pusing dikepalanya dengan sedikit memijitnya, lalu ia mendongak menatap seseorang yang sudah memutar tubuhnya cepat.
"Pulang! " Ucap Rafael dingin dan langsung menarik tangan Syakila membawa gadis itu dari sana.
...................
Dari kejahuan, Mira dan yang lainnya dapat melihat Marcus yang berjalan beriringan dengan Viola membuat hati Mira terasa nyeri.
Hana dan Kiandra yang melihat raut wajah senduh Mira hanya bisa tersenyum kaku saat gadis itu menoleh pada mereka. Sedangkan Lily masih hanyut dalam pikirannya sendiri.
"Ekhmmm! " Marcus berdehem untuk menyadarkan para mahasiswanya yang asyik melamun.
"Oh..emm gu..gue duluan yah, guys."
Kia, Hana, dan Lily menganggukkan kepalanya sembari melambaikan tangan pada Mira. Rasanya hari ini adalah hari yang berat untuk mereka.
__ADS_1
"Duluan! " ucap Marcus. Bagaimanapun mahasiswa didepannya adalah teman bahkan sahabat tunangannya, jadi ia setidaknya bisa bersikap sedikit ramah.
Kiandra, Lily dan Hana hanya menganggukkan kepala. Entah mengapa mereka tak yakin melepas dan membiarkan Mira pulang dengan Marcus. Tapi mau melarang tak bisa, karna bagai manapun Marcus lebih berhaka atas diri Mira.
Setelah Mira dan Marcus pergi, Lily, Hana dan Kia juga ikut berlaku dari sana.
.......................
"Kamu diapain Nathan? " Rafael mengeluarkan suara memecah keheningan yang sudah tercipta sejak mereka didalam mobil.
Syakila menoleh pada Rafael dengan raut wajah lelah, lalu ia menggelengkan kepalanya pelan. Gadis manis yang biasanya ceria, banyak ulah, bar bar, kini sedang berada dalam keadaan yang terpuruk dimana ia telah menyakiti hati seseorang yang telah menjaganya dan menganggapnya adik dan melukai perasaan sahabatnya.
Ia tahu dan sangat tahu jika Lily sangat tidak suka jika ia dan Nathan dekat. Ia tahu bahwa Lily kini tengah mempertanyakan ikatan persahabatannya dengan Syakila.
Tapi memilih antara orang yang menjagamu dan orang yang engaku jaga itu sulit. Dan Syakila tengah merasakan sulitnya itu.
Syakila menoleh pada pangkuannya yang sudah ada coklat diatasnya, lalu menoleh pada Rafael.
"Untuk mu." ucap Rafael masih dengan fokus pada jalanan.
Syakila memegang coklat tersebut, membolak balikkannya lalu membuka bungkusnya dan memakannya. 5 menit Syakila sudah menghabiskan coklatnya, entah itu karna lapar atau menghayati suasana hatinya. Setelah menghabiskan coklatnya, Syakila kembali memasang wajah murungnya. Ia menopang dagu dan menatap jalanan namun pikirinnya masih berkelana pada Nathan dan Lily.
Rafael yang tak suka melihat lion queen nya yang sedang murung dan sedih, menggeram marah. Syakila menoleh cepat pada Rafael saat mendengar geraman pria itu.
"Kakak kenapa? " Tanyanya panik bercampur khawatir. Tiba tiba Rafael mengehentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Apa Nathan berkata kasar pada mu, hah? " bentaknya membuat Syakila takut sekali gus terkejut.
Syakila menggeleng cepat, "tidak kok."
"Mengapa setelah bertemu dengannya kau menjadi murung begini? " Rafael berkata dengan nada rendah namun penuh penekanan disetiap katanya.
Syakila menundukkan kepalanya, ia hanya mengeleng kepala entah karna apa. Namun ia benar benar tak bisa berkata apa apa.
Rafael menghebuskan nafasnya pelan, ia menarik Syakila dalam pelukannya dan mengusap bahu gadisnya pelan.
"Aku hanya tidak suka lion queen ku yang kuat jadi lemah seperti ini." Rafael mengelus sayang rambut Syakila.
Syakila mendongak, "lion queen? " Beo nya menatap Rafael bingung.
"Ya, lion queen yang kuat, pemberani, tidak takut pada siapapun dan tangguh. Ia jinak dan patuh hanya pada lion king nya saja. " Rafael menatap Syakila dengan gemas karna gadis itu begitu serius mendengarkan penjelasannya.
"Oh, jadi saya ini lion queen yah, Kak? " Rafael mengangguk.
"Trus, lion king nya siapa? "
"Aku. "
Syakila menatap Rafael cengang, kemudian gadis itu bersedekap dan memutar bola mata malas.
"Kirain. " tuturnya malas.
"Jadi kamu berharap pria lain yang jadi lion king mu? " Rafael menatap Syakila tajam.
Syakila menegug salivanya kasar, lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia kemudian cengengesan, "hehehee bukan bukan. " ralatnya cepat.
.............
__ADS_1
jan lupa vote, suka, dan komen yah😉