
Mira memegang pingganggnya yang sudah sangat pegal luar biasa akibat ia yang nekat ikut membantu para sahabatnya membersihkan rumahnya setelah acara pertunangannya selesai dan para tamu pulang. Bukannya istirahat seperti yang dikatakan Marcus pada nya ia malah ikut turun tangan untuk bersih bersih bersama sahabatnya.
Ia hanya tak tega jika melihat sahabatnya yang juga sudah sama sama lelah harus gotong royong membersihkan rumahnya sedangkan ia yang tuan rumah malah enak tiduran dikamarnya.
" Saya sudah bilang kamu istirahat saja! " Mira tergelonjak kaget, ia menoleh ke belakang mendapati Marcus yang bersedekap melihat kearahnya.
"Duh, Bapak ngagetin ajah." Mira mengelus dada, lalu menatap Marchus sedikit kesal.
"Ayo! " Marcus menggenggam tangannya, menarik gadis itu agar mau mengikutinya.
Mira menarik tangannya dari Marcus, "ehh, bapak mau bawa aku kemana nih? "
Marchus menatap tajam Mira, membuat yang ditatap menegug saliva kasar, "istirahat! " Marcus berkata dingin.
"Udah Mirrr! ikut calon cumi ajah. " teriak Hana yang juga sudah angkat tangan menyuruh sahabatnya itu untuk istirahat .
"Iya loh Mir. Lo istirahat aja, soal rumah lo serahkan aja ama kita kita. Besok lo bangun, rumah lo udah bersih, kinclong dan harumm." Kiandra mengacungkan dua jompolnya pada Mira seraya tersenyum lebar, berusaha meyakinkan makhluk tuhan yang keras kepala itu agar percaya.
Mira mengedip edip kan matanya, melihat para sahabatnya yang serempak tersenyum lebar dan mengacukan jempol padanya. Bahkan Nathan, Tiger, Bowo dan Rafka juga ikut ikutan.
Dengan ragu, akhirnya Mira menganggukkan kepalanya setuju ia istirahat saja.
Marcus menggenggam kembali tangan gadis cantik yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.
"Terimakasih sudah membujuknya untuk istrahat. " Para sahabat Mira hanya menganggukkan kepala seraya tersenyum.
Marcus menarik tangan gadisnya lembut lalu membawa gadis itu kekamar milik gadis itu. Sesampainya di kamar gadis itu, Marcus menyuruh nya agar langsung istirahat yang diangguki Mira.
Setelah memastikan Mira benar benar tidur barulah Marcus keluar dari kamar sang gadisnya. Ia mengunci pintu kamar gadis itu, takut jika gadis itu hanya pura pura tidur dan kembali turun kebawah untuk ikut bersih bersih.
.....................
"Anjayy, gue dari tadi capek lo malah asyik duduk." Hana menatap Rafka yang asyik duduk di tangga dengan galak.
"Ngapain gue bantu bantu, kan gue tamu." Rafka mengipas wajahnya dengan sobekan kardus yang ia temukan tergeletak di lantai tadi.
Hana yang melihat gaya santai Rafka, semakin membuatnya ingin meledak, "kalo ngak mau bantu bantu, sekarang PULANG!! " Satu tangan Hana bertengger dipinngang satunya lagi merentang mengarah pintu besar rumah Mira yang kebetulan terbuka lebar.
Rafka menghentikan aktivitasnya mengipasi wajahnya, ia menatap Hana malas lalu berdiri dari dudukannya, "ck, trus kerjaan gue apaan." ucapnya menyerah.
Hana bersedekap,"bantu bantu yang lain. Lo bisa pungutin sampah-sampah dilantai atau ngak lo bisa tolongin Nathan dan Tiger buat copotin hiasan hiasannya atau ngak ngakkatin meja meja ama kursi kayak Bowo, Kiandra dan gue atau ngak mau nyuci piring di belakang sono ama Syakila dan Lily. "
Rafka menggaruk tengkuknya yang tak gatal, pekerjaan yang Hana jabarkan tadi semuanya membuat matanya hanya mengantuk saja. Mungkin ia akan memilih mencuci piring bersama Syakila. Yah, walau terdengar sinting karna ia seorang pria yang malah memilih pekerjaan perempuan. Tapi menurutnya sekarang pdkt lebih utama dari pada gengsi dan segala peraturannya.
__ADS_1
Rafka melangkah ke dapur, tempat Syakila dan Lily memcuci piring. Rafka menelan ludahnya bukan pada tumpukan piring kotor yang mengalahkan tinggi monas, bukan juga keadaan Syakila yang terlihat semakin cantik. Tapi pada dua pria dewasa yang duduk manis dengan stay cool masing masing. Salah satunya Rafka kenal karna merupakan om dari sahabatnya Bowo.
"Eh ada Om Atif. Apa kabar om? " sapa Rafka berbasa basi.
Dapat ia lihat hanya Lily yang menoleh itupun sebentar. Padahal harapannya Syakila ikut menoleh.
"Baik." Atif berkata singkat, ia lebih tertarik dengan alasan kemunculan pemuda itu di dapur ini. Atif menatap Rafka bertanya tanya, membuat pemuda itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Kamu ngapain kesini? " Rafka menelan ludahnya kasar, menurutnya pertanyaan Atif sangat sulit untuk dijawab.
"Itu disuruh sama Hana kalau om kenal. Katanya bantuin Lily sama Syakila disini." Atif menaikkan kedua alisnya mendengar jawaban dari teman keponakannya itu.
Kemudian Atif menatap sebentar pada dua gadis yang sedang mencuci piring dan kemudian kembali pada Rafka. Tujuan Rafka untuk membantu memang sudah benar, tapi mengapa harus membantu mencuci piring bukankah itu terlalu aneh menurut Atif. Yah, karna secara umum mencuci piring itu tugas perempuan, dan lagi pula masih banyak disana yang bisa dikerjakan Rafka selain membantu mencuci piring.
Tapi sudahlah, apa peduli Atif selagi bukan ia yang disuruh mencuci piring apa masalahnya.
Melihat Atif yang sudah kembali fokus pada buku ditangannya, Rafka memilih melangkah mendekati Syakila yang sedang mencuci piring.
"Hai Syakila yang cantikk!! " sapanya yang di abaikan gadis itu.
Lily mendengus melihat Rafka yang sudah disamping Syakila, Ia yakin sekali Rafka datang hanya untuk mengganggu.
"Rafka mau ngeganggu Syaki lagi yah. Emang tadi belum jerah ama gigitan Syaki, mau nambah lagi? " Lily berkata tanpa menoleh pada Rafka, ia memilih fokus pada piring yang tengah ia sabun lalu membilasnya.
Lily menatap pada Rafka, melihat kesungguhan pria itu. Lalu kembali ia mencuci piring ditangannya, " Oh kirainn." respon gadis itu malas.
Rafka menatap serius pada Syakila yang tengah sibuk menyabun piring lalu membilasnya, setelah bersih lalu ditaruh ditempat tumpukan piring yang bersih. Mata Rafka beralih pada telinga gadis itu saat tak sengaja ia menangkap ada tali yang tersambung ke telinga gadis itu.
"Pantesan ngak dengar, orang dia pake handset." Rafka mendengus. Ia menoel bahu gadis itu, berharap kali ini mendapat respon dari Syakila. Dan berhasil.
Syakila menoleh, ia mencabut penyumbat telinganya lalu menatap Rafka bertanya tanya, "apa?"
Rafka tersenyum, akhirnya ia dapat respon dari sang pujaan hati, "ngak ada, cuma mau lihat wajah cantik adik saja." diakhir kalimatnya ia tersenyum pebsodent.
Syakila memutar bola mata jengah, ia berdecak tak mengira pria sinting ini akan menemukan nya didapur. Mata Syakila menatap pada busa lalu gadis itu tersenyum jahil.
Ia mengumpulkan busa ditangannya dan tanpa di komandoi ia mengusapkan busa ditangannya pada wajah Rafka yang bengong memandangnya. Mendapat serangan busa dari Syakila yang tak mengira sebelumnya, Rafka kaget namun tak kesal. Ia malah terkekeh gelik, kemudian ia mengambil busa juga lalu membalaskan perbuatan Syakila padanya dengan meniup busa ditangannya kewajah Syakila.
Syakila mundur kebelakang, menghindari tiupan busa dari Rafka. Tangan mungilnya meraih busa didekatnya lalu melakukan hal yang sama pada Rafka sehingga terjadi perangan busa antara mereka berdua bahkan Lily sudah bergabung di team Syakila melawan Rafka seorang diri. Sesekali mereka menertawai wajah satu sama lain yang penuh dengan busa.
Tak sadar kelakuan mereka sedari tadi di tonton oleh sang pemilik mata tajam bak elang yang siap menerjang mangsa. Rafael menggeram tak suka melihat Syakila dan Rafka. Ia berdiri dari kursinya, membuat suara decitan terdengar.
Atif mendongak menatap Rafael, ia memerhatikan sahabatnya itu yang sedang menahan amarah. Kemudian Atif menatap kearah Rafka dan dua gadis disana yang bahkan sudah berhenti bercanda dan menatap heran campur canggung pada Rafael.
__ADS_1
Syakila menghentikan perang busanya kala mendengar suara decitan kursi, ia menoleh mendapati Rafael yang menatapnya tajam. Lupa, sungguh Syakila benar benar lupa jika Rafael ada disini.
Ia yakin penyebab amarah pria itu tidak lain adalah dirinya yang asyik dengan Rafka. Syakila kini hanya bisa pasrah dan menelan salivanya kasar.
"Jangan membuat kekacauan lagi disini! " Rafael membentak tiga sejoli didepannya, namun matanya sedari tadi tak lepas pada gadis bersurai hitam yang kini tengah menundukkan kepala karna takut.
Lily menyenggol bahu Syakila, gadis imut itu sekarang benar benar takut. Sangkin takutnya, tubuh Lily sampai gemetar mendengar bentakan dari Rafael.
Tak tega melihat tiga makhuk didepannya yang menunduk takut bahkan ada yang gemetaran karna dibentak oleh sahabatnya, Atif berdiri melangkah mendekati Rafael.
Ia menepuk pelan bahu Rafael, "kau menakuti mereka, El. " peringatinya
"Biarkan saja! " Rafael berkata dingin, ia semakin menajamkan tatapannya kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Atif dan juga makhluk yang ia bentak habis habisan.
Atif menghela nafas lalu memilih meninggalkan tempat itu juga.
"Fiuhhhh." Rafka menghela nafas legah, begitu juga dengan Syakila dan Lily.
Lily si gadis imut itu memandang Syakila dengan mata memerah dan berkaca kaca, "Syakiiii! Lily takut." Lily meneteskan air matanya.
Syakila yang melihat Lily menangis, menarik gadis imut itu dalam pelukannya, "cup cup cup, Lily tenang yahhh. Pak Rafael ngak maksud marahin Lily. Mungkin Pak Rafael cuma lagi bad mood ajah, Ly." Syakila mengusap bahu Lily, berusaha menenagkan gadis itu.
Lily melepas pelukan Syakila lalu ia menghapus jejak air mata di pipinya. Sekarang ia sudah tenang berkat Syakila. Ia hanya berharap agar tidak bertemu dan dibentak Rafael kembali. Ia menyesal pernah mengagumi pria itu yang ternyata galaknya luar biasa.
"Uuu...Syaki. Rafka juga takut!! " Rafka mendramatis, ia memasang wajah sedih dan pura pura ketakutan.
"Mau gue tampol !! " Syakila mengangkat salah satu tangannya, ancang ancang jika Rafka benar ingin mendapat tampolan darinya.
Spontan Rafka menggelengkan kepalanya, lalu pemuda itu melayangkan cengirannya serta menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Syakila memilih mengabaikan Rafka yang benar benar si pengacau, ia memilih melanjutkan tugasnya mencuci piring.
.......................
**Wkwkwkwk😂😂, Syakila sama Revan cocok yahh. Kayaknya jodoh nih!😎
Atau Syakila sama Nathan ajah, juga cocok kayaknya. Kalo Hana cocok ngak sama bowo, atau Hana sama Nathan ajah. Kalo Kiandra sik, cocok banget sama Tiger. Mira dan Marcus juga cocok.
Eh, lupa!! Lily sama siapa nih yang cocok?! sama Nathan atau temannya Marcus ajah.
Kalo menurut readers, gimana nih? Sehati ngak sama author?😎😏
Ok, coment yah pendapat kalian. jangan lupa Vote juga yahh!!😁😁😁😅**
__ADS_1