
"Yok, ikut gue! " Lily hanya mengangguk kaku.
...............
"Kiri kiri," intruksi Mira pada syakila yang tengan memijit punggungnya di kantin.
"Iya deh kanjeng, nyonya besar, buk dosen dan bla bla..." ucap Syakila dengan malas.
Mira tertawa puas, karna kini gilirannya yang membalas sahabatnya tadi, "eh Han, yang beber dong mijit kaki gue. "
"Sippp deh juragan nilai A. "
Kiandra datang dengan membawa dua jus alpukat dan dua mangkok bakso. Dengan hati hati ia meletakkannya didepan Mira. Sedangkan gadis bersurai coklat gelap itu malah bersedekap sambil menatap Kiandra kesal.
"lama amat! " protesnya.
"Banyak yang ngantri, kanjeng ratu. "
"Alesan! Bilang aja lagi pacaran. "
Kiandra memutar bola mata malas, memilih diam. Baiklah, yang dikatakan Mira tadi tidak sepenuhnya salah. Tadi memang ia masih menyempatkan berpacaran dengan Tiger sebelum memesan makanan pada Mira. Tapi kan wajar, sayang kan ada pacar tapi hidup serasa jomblo. Pacarnya mubazir dong, diambil orang ilang dong. Lagian pacar ganteng, humoris dan gentel seperti Tiger kan sayang kalo di anggurin.
"Iya iya. Akgohh salahh yang mulia ratu. " ujarnya lebay dan mendramatis.
Mira kembali mengulas senyum puasnya, ahhh rasanya bahagia sekali biasa membuat teman temannya menjadi babu eh biar lebih berpangkat dayang seperti ini. Umm, kapan lagi coba, Mira bisa merasakan kenikmatan seperti ini, dipijiti, dikipasi, dan dibeliin minuman dan makanan. Apa apa tinggal suruh, yahh walau batas waktunya cuma se jam. Intinya Mira begitu menikmatinya, apalagi tadi ia harus membersihkan rumah dan melayani suaminya dulu nah gantian sekarang ia yang dilayani bak ratu.
"Mira." panggil seorang dengan suara rendah namun terkesan dingin.
Mira mendongak mendapati Marcus yang menatapnya dengan bersedekap. Seketika senyum gadis cantik itu luntur dan dengan cepat ia bangun dari duduknya membuat para dayangnya berhenti bekerja.
"Eh, ada Bapak. " Mira melayangkan cengiran bodohnya. Soal panggilan itu memang sudah kebiasaan Mira memanggil Marcus dengan sebutan ' pak', namun ia usahakan di luar kampus untuk memanggilnya mas, yah walau lidahnya lebih sering kepeleset memanggil suaminya dengan sebutan ' pak '.
"Kamu ngapain? " tanya Marcus datar.
"Hehehee, lagi makan. Iyah makan Pak. " lagi lagi gadis itu melayangkan cengirannya.
"Boong, wong kami disiksa Pak. Dijadiin budak Pak."
"Betul Pak. Kita disuruh suruhh.."
"Mira sesuka hati Pak."
__ADS_1
"Mira perlakuin kita kayak romusa Pak."
Sedangkan Mira hanya bisa meringis mendengar keluhan sahabat nya pada Marcus. Sedangkan Marcus memilih menaikkan alisnya lalu menatap mira yang kembali melayangkan cengiran bodoh padanya.
"Benarkah?" Syakila, Hana, Lily dan Kiandra mengangguk mantap.
"Itu sih kalian yang bodoh. Nagapain mau disuruh suruh." ujar Markus yang memamatahkan kesenagan para gadis itu karna berpikir Marcus akan memihak pada mereka. Tapi nyatanya tak sesuai prediksi, Marcus sepertinya memihak pada sang istri.
"Mira, ikut saya! " ujar Marcus segera berlalu dari sana.
"Eh!" Mira berpikir sejenak lalu mengikuti langkah suaminya, meninggalkan para sahabtnya yang menghembus napas legah terlepas dari perbukan yang dilakukan oleh Mira.
...............
Sekarang Lily tengah berjalan pulang menuju kontrakan mereka setelah tadi ia belanja beberapa bahan makanan. Ia tersenyum mengingat nathan yang tiba tiba menggenggam tangannya saat di pesta pernikahan Mira. Tangan nathan begitu hangat dan nyaman baginya. Hatinya berbunga bunga saat memori Nathan memujinya terputar jelas di otaknya. Pria itu memang sangat misterius, namun ia tetap mencintainya.
Namun senyumnya luntur saat memikirkan tingkah Nathan yang selalu berubah ubah padanya. Kadang ia berpikir, bertanya entah pada siapa, apakah ia penting bagi Nathan? Mungkin ia penting bagi Nathan karna ia sahabat dari gadis yang istemewa bagi Nathan yaitu Syakila, yah, mungkin karna itu Nahtan peduli padanya.
Hati Lily terenyak memikirkan dirinya yang tak seistimewa Syakila bagi Nathan. Bolehkah ia cemburu pada sahabatnya sendiri? Ah, tanpa ditanya seperti itu pun ia sudah merasakan itu, cemburu pada Syakila yang selalu pertama bagi Nathan.
Lily mendongak saat melihat ujung sepatu seseorang didepannya, ia mengeryit manatap gadis didepannya yang kalau tidak salah pernah ia lihat. Hum, Lily ingat sekarang kalau gadis itu adalah gadis yang pernah memarahinya dikantin.
"Gue mau ngomong sama lo, ikut gue." Setelah mengatakan itu Widia berjalan terlebih dahulu.
...............
"Sebenarnya, musuh gue itu bukan lo tapi teman lo Syakila yah namanya? " Lily yang bingung untuk menjawab apa memilih diam tak menanggapi Widia sama sekali.
Sekarang mereka tengah berada di cafe.
"Gini, dulu gue pernah salah paham sama lo kalo lo mau ngerebut Nathan gadi gue. Tapi setelah gue lihat kedekatan Nathan dan teman lo si aki aki itu gue jadi tau siapa sebenarnya musuh gue. "
"Kalau tidak salah, Mathan sama teman lo pernah pacaran yahh?."
Lily mengeryit bingung, satahunya Nathan dan Syakila tedak memiliki hubungan sejauh itu. Dan ia tahu itu dari Syakila sendiri, jadi tak mungkin kan Syakilanya berbohong.
"Meraka pacaran pas masih SMA. Trus katanya teman lo itu mau balikan lagi ama Nathan makanya dia kuliah di tempat yang sama dengan Nathan."
Sekarang pikiran Lily kemana mana, terlalu pusing dengan perkataan Widia. Entah ia mempercayainya, tapi ada titik keraguan juga didalam sana.
"Sepertinya lo belum tahu. Nih, lo lihat aja sendiri. " Widia menyodorkan lembaran lembaran poto pada Lily.
__ADS_1
Penasaran Lily melihatnya poto poto itu adalah poto syakila dan Nathan yang masih SMA. Poto tersebut memperlihatkan bagaimana Nathan begitu mencintai Syakila dan Syakila yang begitu bahagia bersama pria itu. Poto itu memperlihatkan Syakila yang tersenyum bahagia di rangkulan Nathan, Syakila yang tertawa lepas dan Nathan juga terlihat tertawa, Syakila yang terlihat begitu kawatir sambil mengobati luka disudut bibir Nathan, poto mereka yang duduk di halte, poto saat Nathan menyuapkan makanan pada Syakila, poto mereka yang saling berpandangan dan masih banyak lagi. Kisarannya ada sekitar 20 poto kedekatan Syakila dan Nathan dan semua itu mampu mengiris iris hati Lily.
' Sedekat itu kah ? ' Tanyanya pada diri sendiri dalam batin.
Lily diam diam menyimpan satu poto syakila dan Nathan ke dalam tasnya. Poto yang ia simpan itu adalah poto Syakila yang tengah mengobati luka Nathan dan poto itu juga menjelaskan bahwa Syakila menyayangi Nathan terlihat dari kekawatirannya dan Nathan yang juga mendabakan Syakila terlihat dari pandangan memuja pria itu.
"Bagaimana? Sekarang lo tau kan kalo teman lo itu adalah musuh loh. Oh, hampir lupa, gue juga tau lo suka sama Nathan. Dan gue ngak nyangka lo punya teman se picik Syakila." Lily diam menahan gejolak hatinya.
"Gue emang jahat tapi gue ngak se kejam dan se picik teman lo itu yang nikung teman sendiri dan ngebohongi teman sendiri. Cihh, teman lo busuk!! " ujarnya lalu pergi dari sana meninggalkan Lily.
Lily mendongak dan satu tetes air matanya jatuh, namun dengan cepat ia menyekatnya. Ia berdiri dan pergi dari sana. Sekarang ia bingung sendiri antara mempercayai Syakila atau Widia, hatinya ragu sulit menerima kebenaran dari perkataan Widia namun hatinya begitu sakit melihat kebenaran yang tersaji didepan matanya.
Ia merogok tas nya dan mengeluarkan poto itu kembali, dan rasanya masih sama. Masih ngilu dan sesak saat melihat poto itu. Haruskah perjuangannya sampai disini saja?
Otaknya terus memutar kata kata yang perna Syakila ucapkan padanga.
'kita sahabat. '
'perjuangkan cintamu. '
'percaya itu saja. '
'semangat Lily. '
'jangan mudah ditindas. '
'gue setuju lo ama Nathan. '
'Lily. '
'maaf. '
Kata kata yang yang pernah Syakila ucapkan padanya dan beberapa menjadi penyemangat untuk nya. Namun apalah arti dari semua dari kata kata itu, jika pada nyatanya orang yang mengatakan itulah yang menghancurkannya.
'Syaki pembohong.' Jeritnya dalam hati.
Lily menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir kata kata tadi dari kepalanya yang semakin menggema.
"Aku ngak percaya." ucap nya lirih dengan mata yang kembali meneteskan air mata dan dengan cepat gadis itu hapus.
.........
__ADS_1
huaaaa...😭😫😫😭😭
Lily jangan ragukan Syaki, yahhh.