
author pov
"""""""""""""""""""
Syakila, Hana, Lily dan Kiandra kini sedang makan malam. Namun sedari tadi mereka makan dalam diam, tak seperti biasanya dimana mereka makan sambil melempar senda gurau. Dan malam ini benar benar tak seindah malam sebelumnya.
Hana dan Kiandra tahu bahwa ada kecanggungan antara Syakila dan Lily tapi mereka memilih mendiami dan tak ikut campur dulu. Lagian pikiran mereka sedang kacau, memikirkan antara sahabat dan pengisi hati.
Kiandra yang memikirkan Mira, Syakila, dan Lily namun ia juga terbebani dengan Tiger yang menyatakan cinta padanya. Sedangkan Hana juga memikirkan kesulitan para sahabatnya dan juga memikirkan hatinya yang bingung dengan Bowo yang selalu bersikap manis tapi mereka hanya sebatas pacar boongan dan dari kebohongan itu sekarang Hana sudah terjebak karna mulai menaru hati pada Bowo. Ia takut disaat hatinya sudah yakin namun Bowo malah mengakhiri semuanya.
Selesai makan malam, mereka memasuki kamar tersendiri. Lain dengan Syakila yang memilih duduk diteras, memandangi bintang di langit. Entah apa yang dirasakan Syakila sekarang, yang pasti semuanya campur aduk. Ia merasa sangat risau, tertekan dan sedih namun juga ia merasa senang dan bahagia.
Ia sedih melihat hubungannya dengan Lily yang merenggang, risau harus memilih antara Nathan dan Lily, dan tertekan karna menahan kekecewaan nya pada Lily yang tak mempercayai dirinya sepenuhnya.
Ia merasa senang karna Rafael, sikap Rafael yang selalu mengistimewakannya, walau pria itu kadang masih menyeramkan namun sekarang Syakila sudah tak setakut dulu lagi jika bersama pria itu. Ia bahagia karna Rafael juga yang begitu lembut pada nya tadi, dari pelukan pria itu tadi Syakila tahu bahwa Rafael sangat peduli pada perasaan Syakila.
Tanpa sadar Syakila tersenyum, masih dengan kepala mendongak menatap bintang. Ia masih mengingat dengan jelas saat Rafael memeluknya, begitu nyaman dan hangat. Jujur, Rafael adalah lelaki ke tiga yang pernah memeluknya setelah ayah dan adiknya.
Dilain tempat, Lily menatap Syakila dengan mata yang berkaca kaca dari jendela. Disaat hatinya hancur begini, ia pikir Syakila akan datang dan menjelaskan semuanya atau setidaknya menenangkan dirinya. Tapi yang ia lihat kini gadis itu sedang menikmati angin malam sembari tersenyum senang. Senyuman Syakila itu membuat hati Lily yang sakit semakin menjadi jadi.
Beda dengan Lily,, Hana dan Kiandra yang melihat Syakila tersenyum malah ikut tersenyum. Bagaimana tidak?! Baru kali ini mereka melihat gadis itu sendirian seraya menikmati keheningan malam. Biasanya gadis manis itu lebih memilih berpacaran dengan game nya atau selingkuh dengan novel fantasinya dan musik nya atau malah hanya diam dengan wajah kalem menatap hamparan bintang di langit sana.
Senyum Syakila seketika pudar kala melihat Mira yang datang dengan berlari kearahnya. Syakila menautkan alisnya menatap Mira yang matanya sudah berkaca kaca.
"Mir, lo kenapa? " Tanya Syakila khawatir. Hana, Kiandra dan Lily langsung keluar dan menghampiri Mira.
"Mira kenapa? " Lily menatap Mira.
Syakila menuntun Mira masuk dan mendudukkannya di sofa.
"Mir, Lo kenapa? " ulang Syakila bertanya, kalai ini dengan nada yang sedikit dingin.
"Gue ngak jadi fiting baju! " ketus Mira namun dengan suara parau.
Para sahabatnya saling melempar pandang, "Karna? "
Mira diam, menahan gejolak dalam hatinya. Sedangkan para sahabatnya sudah menunggu gadis itu untuk mengeluarkan suara.
Mira menatap satu persatu sahabatnya dan pertahanannya goyah. Ia menangis dan memeluk Syakila yang kebetulan duduk dekat dengannya.
"Sya.." parau gadis itu.
Syakila mengusap pelan bahu gadis itu, tahu kalau Mira sekarang sedang rapuh.
Hana ikut menenangkan Mira dengan mengusap punggung gadis itu,"cerita aja sama kita Mir. Kita bakalan dengerin lo, "
Mira melepas pelukannya, ia menyekat air matanya sendiri, "tadi gue niatnya mau fiting baju, trus dijalan Pak Marcus bilang dibatalin. Dia ada urusan penting. Gue coba maklumin, trus dia ngajak gue makan tapi malah ketemu ama Buk Viola."
"Trus Buk Viola minta ditemenin beli buku dan Oak Marcus mau ajah. Gue serasa di abaiin hick..hick..,, mereka asyik bicara dan gue hick..,,kayak orang bloon. Trus pas makan hick me..mereka satu meja katanya ada yang mau buk Viola omongin sama Pak Marcus, trus hick..hick..hick gue hick makan sendiri di meja paling sudut hick..,, makanya gue pulang hick..hick sakit Sya hick dikacangin diabaiin ngak di anggap hick padahal gu..gu..gu..e kan tunangannya hick hick hick. " Mira menangis, mengeluarkan semua uneg uneg nya.
Hana, Lily, Kia dan Syakila ikut meneteskan air mata melihat Mira yang begitu terpuruk dan sedih, bersamaan mereka memeluk Mira dan menenangkan gadis itu walau mereka sendiri ikut meneteskan air mata.
__ADS_1
"Kita juga sakit Mir, lihat lo kayak gini. " tutur Kia dengan suara lirih.
"Uda yah nangis nya, Mira tenang oke. " Lily menghapus air mata Mira, sedangkan Mira hanya mengangguk dan berusaha menetralkan sakit hatinya.
Hana menyodorkan segelas air putih pada Mira dan langsung diterima gadis itu.
"Sudah tenang?" Hana bertanya setela Mira menegug habis minumnya.
Mira kembali menganggukkan kepalanya, "besok gue takut ketemu ama Pak Marcus." tuturnya dengan suara pelan.
"Gue takut dimarahi, karna gue tadi langsung pulang tanpa pamit." lanjutnya.
Syakila menghela napas, "udah sekarang lo istirahat ajah, soal Pak Marcus biar kami yang tangani." ucapnya mantap.
Mira menatap Syakila lalu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia bangkit dari duduknya dan segera masuk kedalam kamarnya.
Hana mengikuti Mira dari belakang, sedang kan Kia dan Lily juga pergi kemar mereka.
"Li.."panggil Syakila.
Lily menoleh,"i..yah." kaku nya.
Syakila menghampiri Lily, dan tiba tiba memeluk gadis itu membuat Lily yang dipeluk terkejut, "maaf!" Ucap Syakila dengan lirih.
Lily terdiam, namun dalam hatinya ia sangat senang bukan main. Kata kata inilah yang ia tunggu dari Syakila, dimana gadis itu akan meminta maat padanya dan menjelaskan semua kesalah pahaman ini.
"Maaf Li, Karna udah bikin kamu salah paham. Maaf Li, karna udah nyakitin perasaan kamu." Lily menganggukkan kepalanya lalu tersenyum hangat pada Syakila.
"Ada chet grup nih dari HMM." tukas Hana sambil mengaduk aduk jus nya.
"HMM?? Paan tuh? " Kiandra menatap Hana dengan dahi yang terlipat.
Hana menepuk jidat nya pelan, terlalu lelah menghadapi sipat ketidak pedulian sahabatnya tentang sekitarnya. Padahal Kiandra juga salah satu anak organisasi HMM, parah bukan Kiandra.
"*****!!, HMM aja ngak tahu."
Kindra menatap kesal pada Mira, "elleh, sok tau lo. Emang lo tau HMM itu apaan."
"Makanan! " jawab Syakila cepat namun asalan.
Lily mendengus, "bukan Sya, tapi Himpunan Mahasiswa Menejemen."
Kiandra ber'oh'ria, sedengkan Mira dan Hana menangguk menyetujui perkataan dari Lily.
"Salah juga tuh." Ucap Syakila membuat para sahabatnya menoleh padanya.
"Yang benar itu,Hana Mencintai Mira. Hahaha." diakhir kalimat Syakila tertawa membuat Hana, Lily dan Kiandra yang sudah serius mendengus kesal.
Mira terkekeh gelik, "bisa ajah neng. Belajar dari mana?"
"Dari wp lah. " ujar Syakila santai yang lagi membuat Kia, Hana dan Lily kembali mendengus.
__ADS_1
"Eh, Han. Trus di grup HMM ada info apa? "
"Lah cek hp masing masing dong. "
"Nanggung, lagi makan. "
"Trus gue!! " Hana menatap syok sahabatnya.
"Baca aja Han. Bacot mulu lo dari tadi. "
"Ok, iya!! "
Hana menatap sinis para sahabatnya, yang dihadiai kekehan kecil dari sahabatnya, "Kak Bima bilang kita kumpul di aula nanti jam 14.40 untuk rapat. "
"Kak Bima siapa? "
"Ketua umum HMM, dodol!! " geram Hana dengan menatap Syakila kesal.
Syakila terseyum konyol, "oke lanjut, gih."
"Trus nanti rapatnya di hadiri Pak Marcus, Pak Aril, Buk Anita dan buk Ambar perwakilan dari dosen Fakultas Menejemen."
"Buk Anita yang mana nih, Anita yang bawa matkul menejemen pemasaran atau matkul umum bahasa alien? "
"Ya buk Nita matkul menejemen pemasaran lah, buk Nita alien mah gak ada sangkut pautnya ama HMM."
Syakila yang mendapat penjelasan dari Hana hanya ber oh ria.
"Kita ikut ngak? " Hana menatap satu persatu wajah temannya.
"Males! " ucap Syakila cepat dan langsung menyerup habis jus jeruknya.
"Harus ikut! " bukan Hana yang bersuara melainkan Nathan yang baru datang bersama Tiger.
Syakila menoleh ke arah Nathan lalu mendelik tak suka. Sedangkan Hana, Mira, dan Kiandra menatap Nathan keheranan.
"Kalian harus ikut, terutama Syakila. Bukan gue yang maksa tapi Bima dan Pak Marcus sendiri. "
Nathan meletakkan surat di atas meja para gadis itu, "undangan dari HMM."
Kia langsung mengambil dan membaca surat undangan yang begitu formal tersebut, "nih undangan formal amat yah. Kagak ada bunga bunganya, warna putih kayak kunti lagih." gumannya sereya membolak balikkan undangan tersebut.
Tiger yang mendengarnya terkekeh gelik, "hahahaa Kia, kocak amat. Namanya juga acara formal ya undangannya juga formal dong. Kalo mau undangan yang pake bunga bunga sama warna warni, nanti undangan nikahan kita. "
Syakila, Mira, Hana, dan Lily terkekeh mendengar penuturan Tiger yang terselip dengan gombalan.
Kiandra menatap Tiger sebentar, sekarang rasanya didekat pria itu saja ia sudah tidak sanggup. Pasalnya karna ia yang belum menjawab ajakan pria itu menjadi pacarnya.
"Biasanya yah, yang formal itu ngebosanin. Jadi rapat nanti dipastikan juga ngebosanin. Kesimpulannya kita ngak usah ikut. " pusus Syakila dibumbuhi teori anta berantah nya. Anehnya Kia, Hana, Mira bahkan Lily menganggukkan kepalanya.
jan lupa vote, komen dan suka yahh😉
__ADS_1