Couple Soulmate

Couple Soulmate
61


__ADS_3

Author pov.


    "Lo ngapain di rumah Eyang gue. Mau minta sumbangan, heh? " Bowo menatap sinis pada Hana. Sedangkan gadis itu menatapnya tak suka.


"Loh, kalian sidah kenal? " Melan bertanya sembari menatap kedua nya bergantian.


"Enggak, Mah. Mungkin dia salah orang ." Ucap Hana pada Melan dengan senyum lalu gadis itu menatap Bowo dengan senyum sinis nya.


Bowo yang mendengar panggilan Hana pada eyangnya mengeryit bingung, "Ma? Lo manggil Eyang gue Mama? " mata Bowo turun ke arah tangan hana yang menggenggam koper, "trus ngapain lo bawa koper segala? "


"Bowo! Yang sopan yah sama Tante kamu. Dia ini istri Om kamu." Tegur Melan yang tak suka gaya bicara Bowo yang terkesan ketus pada Hana, menantunya.


Mata Bowo membulat, ia menatap tak percaya pada Hana dan Atif, " is..istri Om Atif? " beo nya yang di angguki oleh Melan.


Karina dan Jidan, orang tua dari Bowo datang menghampiri mereka. Karina menatap mertuanya dengan senyuman, "katanya Atif udah nikah yah Mah. Trus istri Atif mana? "


Melan tersenyum kemudian berjalan kearah Hana lalu merangkulnya, " Hana, menantu Mama yang gak kalah cantik dari kamu. Masih muda lagih, " klKarina menatap Hana dengan dahi mengeryit sedangkan Hana hanya tersenyum kakuh.


"Loh bukannya kamu pacar anak saya? " kaget Karina dengan menatap Hana tak suka.


Melan dan Rangga mengerutkan keningnya, kemudian menatap Hana meminta penjelasan. Hana menggaruk tengkuknya yang tak gatal, kemudian gadis itu menatap semuanya dengan senyum kikuk nya.


Hana membuka mulut untuk bicara namun belum sempat suaranya keluar, Syakila sudah lebih dulu mengintruksi.


"Maaf menyela pembicaraan. Tapi kapan duduknya yah? Kaki saya sudah pegal. Hehehee. " ujarnya sembari cengengesan membuat para sahabatnya mendengus.


Melan menepuk jidatnya pelan, kemudian mempersilahkan mereka duduk, "maaf yah Syaki manis. Tante lupa soalnya." Syakila hanya tersenyum maklum.


Rangga menatap Hana, "Hana, apa benar kamu pacarnya cucuk saya? " Tanyanya dengan suara tegas.


Hana menegug saliva nya kasar, "Enggak Pi,"


"Pembohong!! " ketus Bowo dengan menatap Hana tak suka.


"Hana tidak bohong. Bukannya kamu sudah memutuskannya, jadi dia bukan pacar kamu lagi. " hardik Atif yang mulai jengah dengan kelakuan Bowo.


Melan memangut mangut, "ouh, jadi kalian dulu pacaran." Hana menganggukkan kepalanya kaku.


"Kamu goda Om saya makanya dia mau nikahin kamu kan?! " Bowo menatap Hana dengan bersedekap.


Hana mengepalkan tangannya, "jangan asal ngomong yah! " Hana berdiri sambil memandang tajam pada Bowo.


"He kamu, jaga ya sopan santun mu. " Hana melayang kan tatapan tak suka pada Karina. Dengan emosi Hana kembali duduk.


Melan menghela napas frustasi, "sudah sudah. Jangan ribut lagi, malu sama tetangga. " tegurnya dengan nada sedikit tinggi.


"Tapi Mah, apa yang dikatakan Bowo itu ada benarnya. Dia pasti menggoda Atif agar Atif mau menikahinya. Secara Bowo mutusin dia karna murahan. " nafas Hana menderuh cepat menahan amarahnya mendengar ucapan sadis dari Karina. Ia berdiri dari duduknya ingin mencerca balik Karina namun tangannya terlebih dahulu ditahan oleh Kiandra dan Syakila.

__ADS_1


"Hana tidak seperti yang anda tuduhkan." Atif bersedekap sambil menatap Karina, Kakak iparnya dengan tajam.


Karina berdecak kesal, "alahh kamu ngak usah bela dia, Tif. Jika ngak ngegoda kamu trus bagaimana bisa dia nikahnya sama kamu padahal dia udah tahu kamu itu Om nya Bowo."


"Itu kehendak tuhan. " tutur Atif dengan bijak. Kemudian ia berdiri dan pergi dari sana dengan menyeret koper milik Hana.


"Mama kan sudah bilang jangan ribut lagi, Karina. Kamu ngerti ngak sih bahasa. " Melan menatap menantu pertanya dengan memperingati.


Melan menghela nafas lelah kemudian menatap Hana dengan senyum hangat milik nya, "Hana sama teman temannya istirahat yah. Pasti udah capek kan, Ayo Mama anter. " ujarnya seraya berdiri.


Hana, Lily, Kiandra dan Syakila berdiri lalu pergi mengikuti Melan.


...........


Tok'tok'tok!


"Masuk!"


Hana melangkahkan kakinya memasuki kamar Atif. Ia menatap sekelilingnya sembari berjalan ke arah Atif. Ia berhenti tepat didepan pria itu yang kini sedang sibuk dengan leptopnya, "Pak, koper saya mana yah? " Ujarnya sama sekali tidak merasa gugup ataupun takut.


Atif mendongak, menatap Hana dengan datar, "baju baju kamu sudah saya rapikan di lemari. " ujar nya santai.


Hana melotot, "lah kenapa di masukin kelemari Bapak?! Kan saya gak tidur disini. "


"Bukannya kita sudah menikah, jadi ngak papa dong kamu tidur sama saya. "


"Kalau begitu apa gunanya saya ijab in kamu tadi, kalau halalnya masih nunggu resepsi. "


Hana kian melototkan matanya, tak menyangka jika Atif sangat mengesalkan bahkan melebihi Kiandra dan Syakila. Hana menghentakkan kakinya dilantai karna kesal kemudian berjalan meninggalkan Atif menuju lemari.


Hana memasukkan kembali baju bajunya ke koper dan berjalan keluar dari kamar Atif. Hana memutar knop pintunya namun pintunya tidak terbuka karna sudah dikunci. Dengan kesal tingkat dewa Hana menghampiri Atif yang sudah tidur dengan membelakanginya.


"Pa...-" ucapan Hana berhenti karna tiba tiba Atif menariknya membuat ia jatuh diatas Atif.


Atif merubah posisi Hana menjadi di sampingnya, kemudian ia mematikan lampu lalu memeluk Hana agar gadis itu diam. Bahkan kakinya melingkar di kaki Hana karna kaki gadis itu tidak bisa diam.


"Tidur! " Ucap Atif dengan dingin membuat Bana mendengus tapi gadis itu menuruti perkataan suaminya itu.


Setelah memastikan gadis itu tidur, Atif menyalakan lampu kemudian  menatap wajah istrinya. Ia tersenyum saat menyadari jika gadis yang ia nikahi ini adalah gadis yang selalu ia hindari dulu karna suaranya yang berisik.


Ia menatap wajah Hana yang tenang, Atif kembali tersenyum saat menyadari jika istrinya tersebut memiliki paras yang cantik. Senyumnya semakin melebar saat menyadari jika ia tengah mengapit kaki gadis itu.


Rasanya Atif sangat senang, bagaimana tidak!! Karna mulai malam ini ia mendapatkan guling baru, guling yang benar benar yaman untuk ia peluk.


.................


     Hana berjalan menuruni tangga dengan menggerutu tak jelas. Ia benar benar kesal dengan Atif yang mengurungnya tadi malam dan sesuka hatinya memeluk hana.

__ADS_1


Tujuan Hana saat ini adalah dapur karna ia sudah sangat lapar. Masa bodo jika ini bukan rumahnya atau kontrakan yang biasanya ia tinggali, dalam otaknya sekarang hanya makan dan makan. Langkahnya terhenti di pintu dapur karna di hadang oleh Lily, Kiandra dan Syakila.


"Tadi malam lo dimana? " tanya Kiandra dengan memasang wajah garangnya.


"Kita nungguin lo ampe jam satu, ****. Tapi lo ngak balik balik. " Syakila bersedekap dan menyandarkan punggunnya ke dinding.


Hana melakukan hal yang sama dengan Syakila, ia bersedekap sembari menatap sahabat nya datar.


"Bodo! " ketus nya dengan kembali melangkah namun kembali dihadang oleh temannya.


"Ekhmmm." Atif yang ingin lewat namun ikut terhadang berhedem, membuat para gadis didepannya itu menoleh padanya.


Kiandra dan Lily yang menghalagi pintu, meminggir memberi jalan. Lalu dengan kompak Lily, Syakila, dan Kiandra melayangkan cengirannya pada Atif yang hanya memasang wajah datar. Kemudian Atif melewati gadis gadis  itu tanpa menoleh pada Hana, sedangkan hana memilih mengikuti Atif dari belakang sebelum dihadang oleh sahabatnya itu.


Hana menarik kursi berniat untuk duduk, namun lagi lagi ia dicegah oleh sahabat nya itu, "apalagi sihh?! " ujarnya dengan jengah.


"Kamu ngapain mau duduk. " balik Kiandra yang berkata galak padanya.


"Kamu itu menantu disini. Jadi kamu harus bantu Mami mertua mu buat masak. Trus sekalian kamu tanya tuh sama suami kamu dia mau minum apa biar kamu buatin." bisik Syakila di telinga Hana.


Hana berdecak kesal, kemudian menatap Syakila, Lily dan Kiandra malas, "males. "


Pletak!


Kiandra memukulkan sendok makan kekepala Hana sedikit kuat sampai mengeluarkan bunyi. Atif menoleh pada ke empat gadis itu kemudian menatap Hana yang mengusap usap kepalanya. Tapi Atif memilih mengacungkan bahu tak peduli.


Kiandra menatap sekelilingnya memastikan situasi sebelum ia kembali berbidik pada Hana, "jadi seorang istri itu ngak boleh malas. Jangan malu maluin kamu sama kita kita yah. "


"Kamu harus bisa saingin ibunya si Bowo brengsek itu. "giliran Syakila yang berbisik. Hana menganggukkan kepalanya dengan wajah cemberutnya kemudian berjalan ke arah Melan yang tengah sibuk memasak.


Atif yang tidak mendengar kebisingan lagi dari gadis gadis itu mendongak untuk memastikan. Ia hanya melihat Syakila, Lily dan Kiandra yang duduk dengan anteng sambil menatap ke arah ibunya dan juga Hana yang sedang memasak.


'Hana ikut masak? '  Batin Atif dengan dahi mengeryit tapi tak ayal jika ia senang melihat Hana yang membantu ibunya memasak. Setidaknya ibunya tidak sendiri lagi untuk mengurus keluarnga nya ini. Yah walau hanya sampai resepsi pernikahannya saja karna rencananya Atif akan membopong istrinya itu kerumahnya sendiri setelah resepsi.


Atif menoleh pada teh didepannya yang baru saja diletakkan Hana, "teh buat Bapak. Kata Mami Pak Atif suka minum tmTeh di pagi hari. " ucap Hana dengan senyum kemudian gadis itu menekuk kaki kanan dan sedikit membungkuk dengan kedua tangannya yang memegang sisi gaunnya untuk mempersilahkan Atif meminum teh buatannya.


Atif menaikkan alis nya melihat ke abstrakan Hana, ia menarik senyum nya lalu meminum teh buatan istri barunya itu.


"Enak! " ucapnya membuat Hana tersenyum lebar.


Hana kembali membungkuk layaknya seorang putri.


"Terima kasih, pangeran ber jas putih. " ucapnya segera berlalu dari sana dan kembali membantu ibu mertunya yang kini terkekeh gelik  melihat tingkah konyol Hana.


'Ternyata punya istri itu enak." Batin Atif yang kembali menyerup tehnya sambil menatap istrinya yang asyik memotong sayuran sambil bercoleta riah bersama ibunya.


jan lupa like, vote dan komen yahhh.

__ADS_1


semi end, wkwkwkwk..😂😁


__ADS_2