
"Dasar lemah!"
"Benar, dasar lemah!"
"Percuma kau itu kaya dan punya segalanya tapi pengecut!"
"Naik mobil saja tidak berani, dasar payah!"
Begitulah kata-kata cacian dan makian serta hinaan yang harus diterima oleh seorang Syene Addison. Gadis cantik berambut pirang, bermata biru, serta kulit putih susu itu harus mendapat perundungan setiap hari karena ia memiliki ketakutan untuk naik mobil.
Bukan tanpa alasan, Syene menjadi takut untuk menaiki mobil karena mengetahui kedua orang tuanya yang meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Sejak saat itulah Syene memiliki ketakutan itu.
Gadis yang kini sedang mengenyam pendidikan strata satu di sebuah universitas terkenal di New York pun seakan sudah kebal dengan kata-kata hinaan dari teman-temannya. Semua itu sekarang sudah Syene anggap sebagai angin lalu meski kadang ia masih suka merasa sedih.
"Kakak Syene." Seorang gadis yang sangat manis tiba-tiba merangkul Syene dari belakang.
"Arina, kau sudah datang." Syene tersenyum pada Arina Elnardo, adik sepupunya.
"Ada yang mengganggumu lagi? Ayo katakan padaku, biar aku yang mengatasi mereka." Tanya gadis bermata coklat dengan tubuh sedikit lebih pendek dari Syene itu melihat-lihat sekelilingnya.
"Sudahlah, kau itu baru satu semester di sini jadi jangan suka mencari masalah." Tegur Syene yang tahu persis bagaimana adik sepupunya itu jago berkelahi.
"Aku tidak mencari masalah. Mereka yang suka cari masalah." Tunjuk Arina pada beberapa mahasiswa-mahasiswi yang sedang menatap sinis pada Syene.
"Sudah, aku tidak apa-apa. Sekarang sebaiknya kita masuk ke kelas, jangan sampai kita ketinggalan pelajaran." Usul Syene.
"Baik kakak." Arina pun berbelok ke lorong menuju ke kelasnya sementara Syene juga sudah sampai di depan kelasnya. Setelah masuk, Syene segera duduk di kursinya.
Karena tidak ada yang mau berteman dengannya, Syene lebih sering menghabiskan waktu untuk membaca buku sementara menunggu dosen yang akan menyampaikan materi datang.
"Hei, makhluk lemah!" Ucap seorang gadis yang sangat Syene kenali suaranya kemudian merebut buku yang sedang dibacanya.
"Lina, kembalikan bukuku!" Titah Syene kesal.
"No! Jika ingin bukumu, jadilah manusia yang kuat dan tidak pengecut! Naik mobil saja tidak berani." Leonard, kembaran Lina menimpali. Keduanya merupakan sepupu Syene juga, namun sangat tidak suka dan cenderung jahat pada Syene.
__ADS_1
"Leo, aku mohon kembalikan bukuku!" Pinta Syene berusaha merebut bukunya dari tangan Leonard.
"Ups...sorry." Lina sengaja mendorong kakak sepupunya hingga jatuh tersungkur di lantai.
"Jika kau mau bukumu kembali, datang ke lapangan belakang kampus setelah selesai jam kuliah nanti! Dasar lemah!" Leonard tersenyum sinis dan pergi begitu saja bersama kembarannya meninggalkan Syene.
"Kenapa mereka jahat sekali padaku? Aku juga bagian dari keluarga mereka." Batin Syene terisak.
"Syene, kau kenapa?" Seorang Dosen wanita menghampiri Syene dan membantu gadis cantik itu berdiri.
"Ti-tidak Miss, hanya tersandung tadi." Jawab Syene berkilah.
"Lain kali hati-hati. Oh ya, Miss titip tugas ini untuk kelasmu. Jangan lupa bagikan kepada teman-temanmu!" Ujar Dosen wanita tadi.
"Ta-tapi Miss, mereka tidak akan percaya padaku. Apa tidak sebaiknya..." Syene tidak berani melanjutkan kata-katanya karena takut menyinggung.
"Ah, kau benar. Aku sampai lupa bagaimana teman-teman kelasmu memperlakukanmu. Ya syene nanti aku akan sampaikan sendiri pada mereka. Bagianmu jangan lupa dikerjakan!" Dosen wanita itu tersenyum dan keluar dari ruang kelas.
"Hanya Miss Cornelia dan Arina yang baik padaku di kampus ini. Etan, aku jadi merindukanmu." Batin Syene tersenyum miris.
"Kakak Syene..." Arina menghampiri Syene yang masih asyik dengan tugasnya.
"Arina, kau membuatku kaget saja." Syene mengelus dadanya karena kaget.
"Maaf. Ayo pulang bersama, Papa mengajak kita makan di restoran Mama." Ajak Arina bersemangat.
"Ehm, aku masih ada urusan dengan Dosen. Kau pulang saja dulu, aku nanti naik taksi atau bus saja." Tolak Syene karena mengingat bukunya yang masih ditahan oleh si kembar.
"Ck, kau ini tidak seru. Ya sudah, sampai ketemu nanti malam." Arina pun beranjak meninggalkan Syene.
"Apa mereka sudah di sana ya? Sebaiknya aku pergi sekarang." Batin Syene dan segera keluar terburu-buru dari dalam kelasnya.
Dengan langkah tergesa-gesa bahkan beberapa kali menabrak mahasiswa-mahasiswi lainnya, Syene terus berlari menuju lapangan yang ada di belakang kampusnya.
"Di mana mereka?" Syene dengan nafas terengah-engah membungkuk menopangkan kedua tangannya pada lututnya.
__ADS_1
"Mungkin aku harus mencari di dalam." Gumam Syene lantas melanjutkan langkahnya masuk ke dalam gedung yang ada di dekat lapangan tua itu.
Jantungnya berpacu sangat cepat menyadari keadaan sekitar yang sangat menyeramkan. Tembok-tembok dinding yang dipenuhi lumut serta minimnya pencahayaan membuat gedung tua yang terbengkalai itu terasa menakutkan. Syene mengeratkan jaketnya karena merasakan hawa dingin yang tiba-tiba menusuk kulitnya.
"Kenapa bisa ada mobil di sini? Mobil mereka juga masih baru-baru kelihatannya. Apa ada seseorang yang melakukan hal jahat di dalam sana?" Batin Syene menerka-nerka.
"Itu Leonard dan Lina. Aku harus mendapatkan bukuku kembali." Syene yang melihat kedua sepupunya pun lantas melanjutkan langkahnya hingga berada tepat di belakang saudara kembar itu.
"Leo, Lina, kembalikan bukuku!" Titah Syene kesal.
"Ups, dia sudah datang." Lina berbalik dengan mengangkat kedua tangannya seperti seorang buron yang tertangkap begitu juga Leonard yang mengikuti adiknya.
"Tidak perlu bercanda! Kembalikan bukuku!" Titah Syene mengulang perkataannya.
"Buku? Buku yang mana? Kami sudah lupa." Leonard berlagak seperti orang bodoh dan tidak bersalah.
"Hentikan candaan kalian! Kembalikan bukuku!" Teriak Syene kesal. Gadis itu sepertinya sudah benar-benar kehilangan kesabarannya.
"Oh aku baru ingat! Apa ini bukunya?" Lina mengambil sebuah buku dari bagasi mobil di depannya.
"Iya, benar itu bukuku. Kembalikan!" Syene hendak mengambil buku itu namun Lina menghindar dan membuangnya ke dalam bagasi mobil lagi.
"Jika benar-benar mau, ambil saja sendiri!" Ujar Leonard mendukung adiknya.
"Kau tahu aku tidak mau naik ke mobil, kenapa malah kau buang ke dalam sana bukunya?" Protes Syene kesal.
"Kau hanya perlu naik ke sini dan ambil bukumu jika memang kau sangat sayang padanya. Tapi jika tidak mau ya terserah." Tantang Lina melipat kedua tangannya di depan dada.
"Aku..." Syene tampak begitu ragu memilih.
"Naik dan ambil atau kau akan selamanya menjadi pengecut!" Ucap Leonard memaksa Syene memilih.
"Aku...."
...~ TO BE CONTINUE ~...
__ADS_1