CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)

CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)
Ziarah


__ADS_3

"Astaga...aku sudah terlambat." Syene menggerutu sontak terbangun dari tidurnya setelah melihat jam di ponselnya.


"Kenapa aunty Arlin tidak membangunkanku?" Gadis itu segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sudah dua bulan lebih Syene sendiri tanpa Arina yang biasanya menemaninya. Rasanya segala sesuatu menjadi sangat sepi, namun ia berusaha untuk terbiasa. Bagaimanapun juga keamanan Arina lebih penting.


Beberapa menit berlalu, Syene keluar dari kamar mandi dan segera berlari kecil mendekati lemari pakaian untuk mencari pakaian yang cocok dan nyaman dikenakan. Pilihan Syene jatuh kepada sehelai kemeja oversize dan rok mini berwarna hitam. Gadis bermata biru itu segera mengenakan pakaian kemudian merias tipis wajahnya.


Setelah dirasa cukup, Syene mengambil tas selempangnya dan terburu-buru berlari keluar dari kamarnya. Ia bahkan menuruni tangga dengan tergesa-gesa hingga hampir saja menabrak Arlin yang kebetulan akan naik.


"Syene, kenapa buru-buru seperti ini?" Arlin mengernyit bingung.


"Maaf aunty, aku sudah kesiangan. Aku ingin berziarah ke makam Papa dan Mama karena hari ini tepat dua puluh tahun kepergian mereka." Syene tersenyum tipis. Masih ada pancaran kesedihan yang berusaha ia sembunyikan lewat senyumannya.


"Ya ampun, aunty juga lupa. Ya sudah kau pergi dulu nanti aunty dan uncle Ric akan menyusul, juga Opa dan Oma." Arlin tersenyum dan segera melanjutkan langkahnya menuju kamar.


Syene pun melanjutkan langkahnya.


"Woo...hati-hati! Kau ini kenapa?" Titah Etan yang hampir saja menabrak Syene di luar mansion.


"Kau masih belum pulang ke Sydney? Ini sudah dua bulan sejak kau datang." Tanya Syene bingung.


"Hari ini adalah hari penting untukmu, aku ingin menemanimu seperti biasanya dan setelah itu aku baru ke bandara." Etan tersenyum mengusap kepala Syene.


"Ya sudah, ayo." Syene menarik Etan dan keduanya bergegas masuk ke dalam mobil. Etan pun segera melajukan mobilnya menuju ke tempat di mana makam kedua orang tua Syene berada.


Sepanjang perjalanan, Syene terlihat gugup. Ia bahkan meremas ujung rok mini yang sedang ia kenakan. Etan tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang begitu menggemaskan di matanya. Tapi Etan juga penasaran apa yang membuat sahabatnya itu terlihat gugup.


"Kau kenapa?" Etan mencubit ringan pipi Syene.


"Aku gugup. Aku bingung bagaimana caranya mengatakan pada Papa dan Mama kalau aku sudah punya seseorang yang aku cintai." Ungkap Syene.

__ADS_1


"Astaga. Hanya soal itu? Itu bukan masalah yang rumit, kau tak perlu se-gugup ini!" Etan tersenyum namun tidak dengan tangannya yang mencengkeram kuat stir mobilnya.


"Atau sebaiknya aku tidak mengatakannya dulu sampai Griff punya waktu untuk pergi berziarah bersamaku?" Syene tampak bimbang sekarang.


"Nah, aku setuju dengan yang ini. Sebaiknya kau kenalkan kekasihmu itu ketika kalian punya waktu untuk berziarah berdua nantinya." Etan menjentikkan tangannya seolah ia antusias dan sangat setuju dengan perkataan teman baiknya.


"Hah...sudahlah." Syene menghembuskan nafas panjang dan kembali diam. Etan pun memilih diam daripada ia harus membahas sesuatu yang nantinya akan membuat hatinya terluka.


"Kita sampai." Etan memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang sudah tersedia khusus untuk para anggota keluarga yang ingin berziarah ke makam keluarga mereka.


Keduanya pun keluar dari mobil bersamaan. Syene terlihat bingung saat melihat ada sebuah mobil hitam yang berhenti tak jauh dari mereka.


"Bukankah itu mobilnya Griff?" Gadis berambut pirang itu bergumam bingung.


"Syene ada apa?" Etan menghampiri Syene dan merangkul pundaknya.


"Eh itu...tidak. Ayo masuk!" Syene menepis pikirannya dan segera beranjak masuk ke dalam komplek pemakaman Addison yang diperuntukkan khusus untuk setiap anggota keluarga Addison.


"Pagi pak." Syene tersenyum pada pria tua sebaya kakeknya.


"Silakan." Pria tua itu pun beranjak membiarkan Syene dan Etan.


"Pa, Ma, aku datang lagi." Syene berjongkok tepat di depan pusara kedua orang tuanya yang dijadikan satu.


"Aku merindukan kalian. Tapi tenang saja, aunty Arlin dan uncle Ric sangat menyayangiku seperti mereka menyayangi Arina. Mereka tidak pernah membedakan kami." Syene tersenyum miris seraya mengelus pusara kedua orang tuanya. Etan pun ikut berjongkok dan merangkul sahabatnya seperti seorang kekasih.


Syene menceritakan begitu banyak hal pada 'kedua orang tuanya', bahkan ketika Arlin dan Richard datang bersama Arlen dan Asyh pun, ia dan Etan masih belum beranjak. Keluarga besar itu berkumpul untuk mengenang hari kepergian Asyen dan Zerene dua puluh tahun yang lalu.


"Syen, sekarang putri kamu udah dewasa. Dia sangat pintar dan tumbuh menjadi gadis yang baik kelakuannya. Kamu dan Zerene engga perlu khawatir lagi karena dia juga sudah menemukan seseorang yang bisa menjaganya dengan baik." Batin Asyh seolah berbicara pada putra sulungnya yang sudah tiada.


"Oma, jangan sedih." Syene mendekati Asyh dan menghapus air mata sang nenek.

__ADS_1


"Oma tidak sedih, tapi bahagia melihat kau sudah tumbuh dengan baik dan menjadi seorang gadis yang berhati baik. Oma hanya sedang berdoa untukmu, berharap semua yang terbaik untukmu." Asyh mengelus pipi tirus cucu sulungnya.


"Ish, Oma bisa saja." Zerene memeluk neneknya dari samping.


"Syene, aunty dan uncle akan membawa Opa dan Oma pulang dulu ya. Sore ini ada jadwal pemeriksaan kesehatan mereka." Izin Arlin.


"Baik, aunty. Aku juga sebentar lagi selesai." Zerene tersenyum manis.


Arlin dan Richard pun beranjak bersama Asyh dan Arlen setelah berpamitan dengan Arsyen dan Zerene.


"Syene, langit sudah mendung. Apa tidak mau pulang sekarang?" Tanya Etan lembut.


"Em...ya sudah, kita pulang sekarang." Syene berdiri dan merenggangkan otot-ototnya sejenak. Keduanya pun melangkah keluar dari komplek pemakaman itu. Etan setia merangkul Syene bak seorang kekasih dan Syene pun tampak sudah biasa dengan hal itu.


"Mau makan apa?" Tanya Etan begitu mereka sudah dekat dengan mobilnya.


"Em...aku ingin makanan Jepang." Syene tersenyum malu-malu.


"Baiklah, kita akan makan makanan Jepang." Keduanya sudah berdiri di samping mobil Etan.


TETT TETT


Bunyi klakson mobil seseorang. Syene menoleh mencari sumber bunyi itu. Sepasang mata birunya terbelalak setelah menemukan asal bunyi klakson tersebut. Ia pun segera berlari kecil mendekati mobil hitam yang tak jauh darinya.


"Griff, kenapa bisa di sini?" Tanya Syene dengan jantung yang berdegup kencang entah karena takut atau karena habis berlari.


"Masuk!" Titah Griffith datar.


Mau tak mau Syene menurut dan masuk duduk di samping kekasihnya. Meninggalkan Etan tanpa berkata apapun dan ia yakin Etan akan mengerti. Griffith segera melajukan mobilnya keluar dari jalan yang agak kecil itu. Setelah di jalan raya, Griffith mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan. Syene memejamkan erat matanya tanpa berani berkata apapun.


"Apa lagi kali ini?"

__ADS_1


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2