CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)

CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)
Bagianku


__ADS_3

"BERHENTI!"


Arina berteriak menggelegar. Segera ia berlari ke ruang tengah dan berusaha melerai kedua pria itu, lebih tepatnya membantu Brennan.


"Papa, tolong lepaskan Brennan. Dia bisa mati jika seperti ini." Pinta Arina berusaha menarik Ayahnya yang masih mencekik Brennan.


"Biarkan! Biarkan dia mati! Itu yang Papa inginkan sekarang." Richard menepis tangan putrinya dan semakin kuat mencekik Brennan.


"Papa, aku mohon lepaskan dia. Jangan seperti ini." Wanita yang tengah hamil itu kembali berusaha menarik Ayahnya untuk melepaskan Brennan.


"Jangan coba-coba menghalangi Papa!" Richard menepis tangan Arina hingga putrinya itu jatuh terduduk di lantai.


"Auch..." Arina mengadu kesakitan.


"Astaga Arina..." Syene berlari menuruni tangga dan segera membantu sepupunya untuk duduk.


"Perutku sakit." Keluh Arina memegangi perutnya.


"Ya ampun, aku harus bagaimana? Arina tolong bertahan sebentar, Griff akan segera sampai." Syene mulai panik namun mencoba tenang.


"Syene, sangat sakit." Arina semakin mengadu kesakitan membuat Richard akhirnya melepaskan Brennan dengan kasar hingga pria yang sudah sekarat itu tersungkur di lantai.


"Sayang, kau kenapa?" Tanya Richard khawatir.


"Semua karena uncle. Jika sampai janin di dalam perut Arina kenapa-kenapa, uncle yang harus disalahkan. Egois sekali jadi orang tua." Syene yang sudah kesal pun mengomeli suami bibinya itu.


PRANGGG


"ARINA!" Arlin yang baru keluar dari dapur pun begitu terkejut dan menjatuhkan nampan beserta semua isinya. Ia segera berlari menghampiri putrinya.


"Bertahan sayang! Kau akan baik-baik saja." Arlin menggenggam tangan putrinya seraya menghapus keringat di kening Arina.


"Syene?"


"Griff, syukurlah. Kau bantu Brennan biar aku dan aunty memapah Arina. Kita harus membawa ke rumah sakit." Usul Syene.


"Tidak! Minta Jim menjemputku saja. Tolong utamakan Arina." Pinta Brennan lemah.


"Baiklah." Griffith segera menggendong Arina keluar dari mansion dan memasukkan Arina ke mobilnya.


"Sayang, kau temani Arina di belakang." Titah Griffith pada Syene.


Setelah semuanya aman, Griffith pun meluncur pergi dari mansion Richard segera menuju ke rumah sakit.


"Kenapa kau tega berbuat kasar pada putri kita? Dia sedang hamil, Ric!" Arlin memukul-mukul dada suaminya.


"A-aku tidak tahu. Aku benar-benar tidak tahu dia hamil." Richard begitu merasa bersalah. Ia menangkap kedua tangan istrinya dan memeluknya erat.

__ADS_1


"Kita ke rumah sakit sekarang." Richard menuntun Arlin keluar dari mansion meninggalkan Brennan yang terkapar lemah sendirian.


"Tuan Brenn, astaga kenapa bisa begini?" Jim segera mengeluarkan sebuah jarum suntik berisi cairan dan menyuntikkan di lengan Brennan.


"Bawa aku ke rumah sakit! Arina membutuhkanku." Pinta Brennan lemah.


"Baik." Jim segera memapah atasannya keluar dari mansion agar segera menyusul yang lainnya.


•••••


"Kenapa bisa jadi seperti itu?" Tanya Griffith memeluk Syene.


"Aku tidak tahu. Saat aku turun keadaan sudah kacau seperti itu." Jelas Syene terisak.


"Sudah, tenanglah dulu. Semoga saja Arina dan bayinya tidak kenapa-kenapa." Griffith menenangkan kekasihnya.


"Syene." Arlin segera menghampiri keponakannya dan disambut dengan pelukan dari Syene.


"Dokter masih menangani mereka di dalam sana. Aku takut jika sampai Arina kenapa-kenapa." Syene memeluk erat bibinya.


"Jika sampai putriku atau calon cucuku kenapa-kenapa, seseorang harus mempertanggungjawabkan semuanya." Geram Arlin kesal.


"Tenang dulu aunty. Percayakan semuanya pada Dokter dan yang Maha Kuasa." Griffith ikut menenangkan bibi kekasihnya.


"Apa Brenn tidak ikut menyusul?" Tanya Griffith mencari keberadaan rekan bisnisnya.


Griffith mau tak mau akhirnya diam. Ia memutuskan untuk duduk di samping Arlin dan menenangkan Arlin bersama Syene. Beberapa saat kemudian Brennan dan Jim menampakkan diri. Pria berambut ikal itu berjalan tertatih-tatih mendekati ketiga orang yang masih menunggu kabar tentang Arina.


"Untuk apa lagi kau datang?" Richard mencengkeram kerah baju Brennan, namun seperti tadi Brennan tidak ada keinginan untuk melawan.


"RIC CUKUP! BISA TIDAK KAU TEPIKAN SEJENAK EGOMU? PUTRI KITA SEDANG DALAM BAHAYA, TOLONG SEBENTAR SAJA AGAR TIDAK MEMANCING KERIBUTAN LAGI!" Bentak Arlin yang sudah sangat kesal dengan sikap suaminya.


Mau tak mau Richard akhirnya melepaskan Brennan. Griffith memberi kode padanya agar duduk di sampingnya. Brennan menurut dan duduk di samping Griffith. Ia hanya diam sambil menatap pintu ruangan penanganan di depannya.


Setelah beberapa saat, akhirnya seorang Dokter keluar dari ruangan penanganan itu.


"Suami dari Nona Arina?" Seru sang Dokter bertanya.


Tak ada yang menjawabnya termasuk Brennan yang terlihat ragu, apalagi Richard menatap tajam padanya.


"Suami atau pasangan dari Nona Arina?" Dokter itu mengulangi pertanyaannya.


"A-aku." Brennan akhirnya mengangkat tangannya dan memutuskan untuk mendekati sang Dokter.


"Bagaimana kondisi Arina dan bayi kami?" Tanya Brennan cemas.


"Kondisi Nona Arina baik-baik saja. Tapi janinnya sangat lemah, tadi kondisinya sempat memburuk karena psikis Ibunya yang sedikit menurun. Namun setelah melakukan serangkaian pemeriksaan dan kami tangani dengan benar, janinnya sudah mulai membaik. Jadi tolong untuk dijaga benar-benar kondisi Ibu dan janinnya. Jangan sampai sang Ibu stress karena akan sangat berdampak pada bayinya." Jelas sang Dokter.

__ADS_1


"Baik Dokter. Terima kasih atas kerja kerasnya." Brennan memnungkuk sopan.


"Baik, kalau begitu aku permisi. Sebentar lagi Nona Arina akan dipindahkan ke ruangan inap dan anggota keluarga bisa melihatnya." Ucap Dokter itu lalu beranjak pergi.


"Syukurlah Arina dan bayinya baik-baik saja." Syene bernafas lega dan memeluk Arlin yang juga lebih tenang.


"Benar. Arina dan bayinya baik-baik saja, itu berarti aunty akan menjadi nenek sebentar lagi." Arlin terlihat begitu bahagia.


"Ya ampun, aku juga akan menjadi aunty. Ih...terasa tua sekali." Syene terkekeh gemas.


Tak lama kemudian beberapa perawat membawa Arina ke ruangan inap. Para anggota keluarga mengikuti dari belakang.


"Yang bernama Brennan? Nona Arina hanya ingin bertemu denganmu." Ujar seorang perawat begitu mereka selesai mengurus Arina.


"Terima kasih." Brennan tersenyum ramah.


Ia tidak langsung masuk. Dengan hati bimbang, ia menatap Arlin dan Richard. Arlin tersenyum dan mengangguk padanya, sedangkan Richard menatap tajam padanya seolah bersiap untuk membunuhnya.


"Masuk saja Brennan! Sayangmu sudah mencarimu." Syene mendorong Brennan dengan menyentuh lengannya yang tertutupi lengan kemejanya.


Akhirnya pria itu melangkah masuk ke dalam ruangan inap Arina dengan perasaan tak tentu arah. Antara gugup, merasa bersalah, khawatir, semuanya bercampur jadi satu.


"Brenn!" Arina memanggilnya dan tersenyum padanya.


"Jangan bangun!" Brennan segera mencegah Arina yang mencoba untuk bangun.


"Aku minta maaf sudah membuatmu kesakitan seperti ini." Pinta Brennan merasa bersalah.


"Kemarilah." Arina menepuk tempat kosong di sampingnya. Brennan menurut dan naik ke atas ranjang kemudian duduk di samping Arina.


"Dia bilang padaku tadi, dia menyayangi Ayahnya. Dia masih ingin bertahan agar bisa dipeluk dan dicium oleh Ayahnya nanti." Arina mengangkat satu tangan Brennan untuk menyentuh perutnya.


"Benarkah?" Tanya Brennan antusias. Meski ia tahu Arina hanya mencoba untuk menghiburnya.


"Em..." Arina berdeham dan tersenyum manis.


"Brenn, aku ingin menikah di hari yang sama dengan Syene. Itu adalah mimpi kami sejak kecil." Pinta Arina tiba-tiba.


"Kau yakin?" Tanya Brennan memastikan.


"Em...aku yakin. Meski belum yakin aku juga mencintaimu, tapi aku akan berusaha untuk membuka hatiku dan menerimamu." Ucap Arina menatap dalam sepasang mata hitam Brennan.


"Terima kasih. Terima kasih, aku mencintaimu Arina." Brennan langsung memeluk Arina erat dan melupakan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


"Tapi bagaimana dengan Ayahmu?" Brennan kembali murung.


"Dia akan menjadi bagianku. Biar aku yang mengatasinya."

__ADS_1


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2