CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)

CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)
Resah


__ADS_3

"Syene, sudah bangun belum?" Arlin memanggil keponakannya dengan sedikit berteriak sambil melangkah ke kamar Syene.


"Syene?" Arlin membuka pintu kamar Syene dengan perlahan.


"Astaga kau masih belum bangun juga? Bukankah kita harus ke kastil?" Arlin mendekati Syene dan duduk di tepi ranjangnya. Syene tidak menjawab, hanya menatapnya dengan ekpresi memelas sementara tubuhnya dibungkus selimut.


"Kau kena...astaga panas sekali?" Arlin terkejut saat meraba kening keponakannya.


"Kau deman Syene, sebaiknya aunty menelpon Griff untuk membatalkan pertemuan hari ini." Arlin berdiri dan hendak keluar dari kamar Syene namun tangannya ditahan oleh gadis itu.


"Jangan! Aku tidak ingin membuatnya kecewa. Aunty bantu kompres diriku saja, pasti akan turun demamnya." Pinta Syene dengan suara lemah.


"Kau yakin? Demammu itu sangat tinggi." Arlin kembali duduk dan meraba kening Syene berulang kali.


"Yakin, aunty." Syene hanya menjawab singkat.


"Ya sudah, aunty ambilkan dulu kompresnya sambil membuatkan makanan untukmu." Arlin pun keluar dari kamar Syene dan turun ke dapur.


Di dapur, ia segera menyiapkan beberapa bahan dan menghaluskannya untuk dibuat bubur. Tak lupa ia juga menyiapkan obat penurun panas dan kantong kompres.


"Sayang, kenapa masih sibuk memasak? Di mana Syene?" Richard menghampiri istrinya dan memeluknya erat dari belakang. Pria itu tidak pernah bosan untuk selalu menggoda istrinya setiap ada kesempatan.


"Ini semua untuknya. Dia demam." Jawab Arlin seadanya.


"Ya ampun anak gadis itu, apa dia terlalu gugup karena Griff akan melamarnya?" Richard terkekeh gemas.


"Entahlah. Sudah, jangan nakal dulu! Aku harus mengurus Syene lebih dulu sekarang. Seandainya Arina ada di sini, pasti dia akan heboh karena kakaknya sakit." Arlin melepaskan tangan Richard yang memeluknya dan melenggang pergi dengan nampan yang sudah ia siapkan.


"Arina..." Richard mendesah sedih dan ikut menyusul istrinya.


•••••


"Drex, apa yang ini bagus? Atau yang ini?" Griffith tampak sedang kebingungan memilih pakaian yang ingin ia kenakan.


"Tuan, keduanya sangat cocok untukmu." Drex menjawab ogah-ogahan.


"Kau ini kenapa? Aku bertanya padamu dan kau malah menjawab tidak minat seperti itu?" Griffith melemparkan pakaian yang ia pegang pada Drex.

__ADS_1


"Bukannya tidak minat Tuan. Tapi Tuan sudah menanyakan hal ini sebanyak seratus dua puluh dua kali. Dan lihat pakaian yang sudah dikeluarkan!" Drex menunjuk ke arah tumpukan pakaian Griffith di atas ranjang.


"****! Kenapa aku malah seperti anak muda yang sedang ingin kencan pertama?" Griffith menggerutu.


"Padahal kau seorang duda yang sudah merasakan pahitnya dikhianati." Drex terkekeh meledek atasannya.


"Sial kau!" Rutuk Griffith menendang kaki bawahannya namun Drex malah tertawa terbahak-bahak.


"Sudahlah Tuan, pakai saja yang membuatmu nyaman. Karena dengan kau merasa nyaman, maka kau akan lebih mudah untuk berbicara dan menyampaikan maksudmu pada keluarga besar Nona Syene." Usul Drex.


"Benar juga. Saat ini nyaman adalah yang utama. Sana! Keluar dari kamarku, aku harus segera bersiap." Griffith mengusir orang kepercayaannya.


"Habis manis sepah dibuang." Drex bersenandung dan keluar dari kamar bosnya.


"Syene, tunggu aku." Griffith segera melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap.


•••••


"Bagaimana? Apa sudah merasa lebih baik?" Arlin menatap cemas keponakannya yang sedang ia suapi bubur.


"Em...sedikit lebih baik." Syene tersenyum untuk meyakinkan Bibinya.


"Ti-tidak perlu aunty. Aku bisa sendiri." Syene menolak keras tawaran bibinya. Jelas saja ia harus menolak usul Arlin jika tak ingin wanita yang sudah membesarkannya itu salah paham saat melihat 'hasil karya' Griffith di tubuhnya.


"Ya sudah, hati-hati! Jika tidak bisa, jangan memaksakan diri. Obatnya jangan lupa diminum nanti." Arlin mengemaskan barang-barang yang harus ia bawa keluar lalu beranjak keluar meninggalkan Syene.


"Hulf...sebaiknya aku bersiap sekarang." Syene yang masih lemah pun berusaha untuk kuat demi Griffith.


Sementara ia membersihkan diri di dalam kamar mandi, ponselnya berdering berulang kali. Sayangnya tak ada yang mendengarnya hingga akhirnya ponselnya berhenti berdering. Dan dering terakhir ada bunyi pesan masuk.


Selesai dari kamar mandi, Syene segera berpakaian dan merias wajahnya yang sedikit pucat. Ia tersenyum bahagia mengingat sebentar lagi hubungannya dengan Griffith akan mengalami kemajuan. Gadis itu merias wajahnya dengan sangat cantik namun tidak menor. Selesai dengan semuanya, ia meraih ponsel dan tasnya lalu keluar dari kamar.


"Aunty, uncle, aku sudah siap." Syene menghampiri kedua orang yang sedang menunggunya.


"Wow...apa ini benar-benar putriku? Cantik sekali." Richard menghampiri Syene dan merangkulnya.


"Jangan memujinya berlebihan! Nanti dia besar kepala, Griffith bisa takut melihatnya." Ledek Arlin.

__ADS_1


"Aunty dan uncle jangan iri lagi. Kalian kan sudah melewati hal ini beberapa belas tahun yang lalu." Syene tersenyum menggoda kedua orang tua yang sudah seperti orang tuanya.


"Kau benar! Jika mengingat hari-hari itu, rasanya masih sangat ingin mencincang seseorang." Arlin menatap tajam suaminya yang tersenyum tanpa dosa.


"Sudah, sudah! aku tak ingin mendengar kisah cinta kalian lagi, saatnya kalian yang mendengar kisah cintaku. Ayo berangkat." Syene menggandeng kedua orang itu dan mereka keluar dari mansion lalu meluncur pergi ke kastil dengan mobil yang sudah Richard siapkan.


"Tapi aku sangat gugup." Gumam Syene memainkan jari-jarinya yang saling bertautan.


"Tenang saja, jangan terlalu gugup." Arlin menenangkan.


"Mungkin bermain game bisa sedikit menenangkan." Syene pun mengambil ponselnya dari tasnya.


"Banyak sekali panggilan yang tidak terjawab? Arina? Ada apa dengannya?" Syene membatin khawatir.


"Pesan, dia mengirimkan pesan untukku." Syene segera membuka pesan tersebut.


"I-ini? Bagaimana mungkin?" Mata Syene terbelalak dan ia langsung membalas pesan sepupunya. Berharap Arina akan segera membalasnya.


Dan benar saja, Arina langsung membalas pesannya. Syene yang pun segera bertanya kebenaran tentang apa yang Arina sampaikan padanya. Kebenaran yang membuat dunianya seketika terasa gelap dan kepalanya terasa berat.


"Tuhan, jangan sampai Arina kenapa-kenapa! Aku belum bisa mendatanginya sekarang." Batin Syene khawatir.


"Ada apa Syene?" Tanya Arlin yang duduk di sampingnya.


"Um..tidak aunty. Hanya ada temanku yang bertanya tentang tugas yang akan dikumpulkan nanti." Syene segera menyimpan kembali ponselnya.


"Ya ampun, kau ini. Jangan merespon hal yang tidak terlalu penting dulu. Hari ini adalah hari bahagiamu, jadi fokus saja! Jangan terkecoh pada hal lainnya." Arlin merangkul pundak Syene.


"Iya aunty." Syene tersenyum tipis namun hatinya menjadi gusar setelah bertukar pesan dengan adik sepupunya.


"Arina, semoga aku bisa segera menemui dirimu. Jangan melakukan apapun sebelum aku datang menemuimu! Kau pasti akan baik-baik saja." Batin Syene pesimis.


"Kita sudah sampai. Ayo turun." Ajak Richard begitu sopirnya menghentikan mobilnya di depan kastil.


"Iya uncle." Syene segera keluar dari mobil begitupun Arlin.


"Jangan gugup! Semuanya akan baik-baik saja, kau punya kami." Arlin dan Richard menggenggam tangan Syene dan mengapit gadis itu seolah merekalah orang tua Syene.

__ADS_1


"Aku tidak gugup lagi. Hanya khawatir pada Arina sekarang."


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2