
"Ah...akhirnya kelas hari ini selesai juga." Syene merangkul erat pundak Arina.
"Senangnya tiga hari lagi kita akan pergi ke Bali." Arina membalas dengan memeluk Syene.
"Benar. Aku sudah tidak sabar." Syene mengacak rambut adiknya.
"Sebentar, Papa meneleponku." Arina menghentikan langkahnya dan segera merogoh ponselnya.
"Ada apa Pa?" Tanya Arina mengernyit.
" ... "
"Baiklah, aku ke sana sekarang." Arina mengakhiri panggilannya.
"Ada apa?" Tanya Syene penasaran.
"Papa tiba-tiba mengajakku bertemu. Kau bisa pulang sendiri? Bawa motor kita saja." Arina hendak memberikan kunci motornya pada Syene.
"Tidak apa, aku juga menunggu Griff. Kau bawa saja motormu." Syene menolak kunci yang hendak Arina berikan.
"Oh, ya sudah. Kau hati-hati ya." Arina berlari kecil menuju parkiran.
"Kau juga hati-hati! Jangan ngebut." Syene sedikit berteriak dan Arina hanya memberi jawaban menggunakan kode tangannya.
"Tumben uncle Ric mengajak Arina bertemu seperti ini. Biasanya ada hal penting apapun selalunya akan dibicarakan di rumah." Gumam Syene lalu menaikkan bahunya dan melangkah keluar dari area kampus untuk menunggu Griffith.
••••••
"Ada apa ya? Apa aku melakukan kesalahan secara tidak sengaja?" Gumam Arina bertanya-tanya. Gadis belia itu sedang berhenti karena lampu merah.
Setelah lampu lalulintas menjadi hijau, ia melanjutkan perjalanannya lagi. Sepanjang perjalanan Arina bertanya-tanya dalam hati apa sebenarnya yang sudah terjadi? Tidak biasanya Ayahnya mengajak bertemu di luar secara mendadak seperti ini. Tak lama akhirnya ia sampai di depan sebuah restoran mewah yang sudah Richard beritahukan alamatnya tadi. Ia bergegas masuk ke dalam setelah memarkirkan motornya dengan benar.
"Ada yang bisa aku bantu, Nona?" Tanya resepsionis dengan sopan.
"Bisa tunjukkan aku ruangan VIP nomor tiga. Aku sudah ada janji sebelumnya." Arina menujukkan pesannya dengan sang Ayah.
"Oh, mari Nona." Si resepsionis pun keluar dari tempatnya dan segera mengantar Arina ke ruangan yang dimaksud.
"Silakan Nona." Pintu dibukakan oleh resepsionis wanita itu.
"Terima kasih." Arina pun melangkah masuk ke dalam.
__ADS_1
"Ada apa Pa?" Tanya Arina cemas.
"Duduk." Titah Richard dingin pada putrinya.
"Kau? Kenapa kau di sini?" Arina seketika menjadi kesal karena Brennan juga ada di ruangan itu.
"Arina, duduk!" Richard sedikit meninggikan suaranya. Mau tak mau putrinya itu akhirnya duduk di sampingnya.
"Katakan dia siapa?" Titah Richard datar.
"Brennan. Aku juga tidak tahu siapa dia sebenarnya dan aku tidak peduli." Jawab Arina tegas.
"Kau tidak tahu dia siapa tapi kau bisa-bisanya menghabiskan malam dan menyerahkan diri padanya?" Richard terlihat murka sementara Brennan menunduk dan tersenyum miring. Arina justru terlihat tenang meski ia tahu Ayahnya sedang marah.
"Dia yang mengatakannya?" Arina bertanya balik pada Ayahnya.
"Ya! Dan dia bilang akan bertanggung jawab atas perbuatannya. Arina, Papa benar-benar tidak habis pikir kau bisa..."
"Aki tidak melakukan apapun dengannya!" Arina langsung memotong perkataan Ayahnya.
"Arina, aku tahu sulit bagimu untuk menerima kenyataan pahit itu. Tapi aku akan bertanggung jawab untuk semuanya." Brennan hendak meraih tangan Arina yang ada di atas meja namun Arina menghindar.
"Aku tidak menyangka kau sangat licik dan pandai bersandiwara. Kau pikir aku bodoh? Kau pikir Ayahku bisa kau tipu dengan cara murahan seperti ini? Kau salah bermain-main Tuan Brennan." Arina mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor seseorang.
"Kita akan tahu dengan siapa kau menghabiskan malam dan kesucian siapa yang sudah kau renggut." Arina bangkit dari duduknya dan menarik Ayahnya keluar dari ruangan itu.
"Arghh...gadis itu kenapa begitu sulit didapatkan?" Brennan menarik kain alas meja hingga semua piring dan perabotan makan lainnya jatuh berhamburan ke lantai dan pecah.
"Aku tidak akan menyerah Arina! Lihat saja, bagaimanapun dan apapun caranya aku harus mendapatkanmu. Jika cara lembut tidak bisa, maka terpaksa dengan cara kasar." Batin Brennan bertekad.
••••••
"Kau yakin akan melakukan visum itu?" Tanya Richard khawatir.
"Mau bagaimana lagi? Ayahku yang mendidikku dari kecil sudah tidak percaya padaku hanya karena perkataan orang aneh itu. Jadi terpaksa aku harus sakit sedikit untuk membuktikan aku tidak melakukan hal bodoh itu." Jawab Arina enteng.
"Sudah, tidak perlu dilakukan! Papa percaya padamu." Richard langsung memeluk erat putrinya.
"Papa yakin? Nanti malah masih meragukanku." Arina bertanya ragu.
"Yakin. Jangan sakiti dirimu hanya untuk membuktikan sesuatu yang tidak kau lakukan." Richard mengeratkan pelukannya pada putri kesayangannya.
__ADS_1
"Ya sudah, aku akan batalkan janjiku dengan Dokter Emily." Arina mengambil ponselnya kemudian menghubungi sang Dokter untuk membatalkan janjinya tadi.
"Tapi bagaimana kau bisa mengenal Brennan Dominic?" Richard mengurai pelukannya.
"Ceritanya panjang Pa." Arina akhirnya menceritakan satu persatu tentang bagaimana ia bisa mengenal seorang Brennan pada Ayahnya.
"Tapi Griff bilang kakak Syene, sepertinya dia memiliki penyakit kelainan kulit. Dia tidak bisa bersentuhan dengan sembarangan orang." Arina mengakhiri ceritanya.
"Pantas saja tadi terlihat ragu bersalaman dengan Papa meski sudah mengenakan sarung tangan." Richard manggut-manggut seakan mengerti.
"Jika Papa bertemu lagi dengannya, jangan percaya padanya. Biar aku yang mengatasinya." Arina mengepalkan kedua tangannya.
"Kau harus berhati-hati! Bagaimanapun juga kau tetap seorang perempuan. Kekuatanmu masih kalah jika dibandingkan dengan seorang pria meskipun kau bisa bela diri." Pesan Richard.
"Tenang saja. Aku tidak akan membiarkan pria gila itu berbuat semaunya padaku. Jika aku kalah padanya maka dia akan tunduk padaku!" Sorot mata Arina yang biasanya tenang dan damai, kini menjadi tajam dan menakutkan.
"Sudah, jangan terlalu direspon. Nanti malah menambah masalah." Richard mengelus pundak putrinya untuk menenangkan.
"Ayo, kita sudah sampai." Richard mengajak putrinya turun dari mobilnya.
"Pa, aku boleh izin pergi lagi? Ada urusan yang harus aku selesaikan." Arina meminta izin pada Ayahnya.
"Baiklah, biar Jo yang mengantarmu." Richard memberi usul.
"Tidak, aku ingin pergi sendiri. Biarkan aku menyetir sendiri saja." Putus Arina.
"Em...ya sudah. Kau hati-hati." Richard terpaksa mengizinkan putrinya. Ia juga tak ingin terlalu mengekang anak-anak gadisnya.
"Terima kasih." Arina turun dari mobil dan masuk ke bagian kemudi setelah sopir Ayahnya turun.
"Aku pergi dulu, Pa." Arina melambaikan tangannya dan meluncur pergi setelah mendapat izin dari Ayahnya.
"Hah...ada-ada saja masalah putri-putriku." Richard menghela nafas dan melangkah masuk ke dalam mansionnya.
••••••
"Jangan panggil aku putri Richard Elnardo jika aku tak bisa mengatasi pria brengsek itu! Berani-beraninya dia mengatakan rumor palsu dan membuat Papa yang tidak pernah marah padaku menjadi marah padaku untuk pertama kalinya." Arina terlihat begitu marah dan mencengkeram kuat stir mobilnya.
Ia masuk ke dalam pelataran mansion Brennan dan memarkirkan mobilnya dengan rapi di sana. Arina turun dengan tatapan dan ekspresi yang tidak bersahabat. Gadis periang dan ramah itu menjadi menakutkan gara-gara seorang Brennan Dominic.
"Beritahu Tuan kalian, aku ingin bertemu dengannya!"
__ADS_1
...~ TO BE CONTINUE ~...