
"Arina!" Syene segera menghampiri Arina yang sedang duduk melamun di atas ranjang Brennan.
"Kau datang juga akhirnya. Maaf merepotkanmu, tapi ini sangat..."
"Kau apakan adikku?" Syene memotong perkataan Brennan dan langsung memukuli pria itu dengan tasnya.
"BERHENTI MEMUKULIKU!" Bentak Brennan seketika membuat Syene berhenti.
"Aku hanya membawamu adikmu pulang ke sini karena dia tadi hampir diperkosa. Dan pria bejat itu tidak sengaja tergelincir ke jurang saat hendak menyerang adikmu." Brennan menatap tajam Syene yang ngos-ngosan setelah memukulinya.
Tanpa merespon pria itu lagi, Syene menghampiri adiknya yang tidak berekspresi apapun. Ia naik ke atas ranjang dan duduk di samping Arina lalu memeluk gadis malang itu. Sedangkan Brennan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
"Kau akan baik-baik saja sekarang." Syene mencoba menenangkan Arina.
"Aku membunuh, Syene. Aku membunuh Xander. Aku harus bagaimana?" Arina akhirnya bersuara.
"A-apa? Jadi Xander yang sudah mencoba menyakitimu?" Tanya Syene begitu terkejut dengan apa yang ia dengar.
"Aku takut. Aku tidak ada niat membunuhnya. Dia...dia yang..." Arina tidak sanggup melanjutkan kata-katanya malah menangis pilu memeluk erat Syene.
"Sudah, jangan berpikir yang tidak-tidak. Biarkan polisi yang mengungkap kebenarannya." Syene juga memeluk erat adiknya.
"Xander, jika ingin mati lebih baik kau mati saja! Jangan hidup lagi untuk menyakiti adikku!" Batin Syene dengan sorot mata penuh amarah.
PRANGGG
Mendadak terdengar suara seperti benda jatuh dari dalam kamar mandi. Arina sontak kaget dan reflek melepaskan diri dari Syene kemudian langsung berlari ke kamar mandi.
"Brenn?" Arina begitu kaget melihat Brennan terduduk di samping bathup dengan beberapa bagian wajah dan tangannya terlihat seperti melepuh. Pria itu juga kelihatan seperti susah bernafas.
"Kau kenapa?" Tanya Arina cemas.
"Jim, panggil Jim." Pinta Brennan seperti menahan sakit yang teramat sangat.
"SYENE, TOLONG PANGGILKAN JIM!" Arina berteriak dari dalam kamar mandi dan ia yakin Syene pasti sudah mendengarnya.
"Kenapa tiba-tiba seperti ini?" Arina mencoba memeriksa keadaan Brennan. Sesaat ia melupakan kesedihan dan ketakutannya, menjadi perhatian dan peduli pada Brennan. Entah karena pria itu sudah membantunya sedikit tadi, atau ada penyebab lainnya.
"Di bawah tidak ada yang namanya Jim. Pelayan sudah menghubunginya tapi kata pelayan, ia sedang di TKP untuk memberi keterangan pada polisi." Syene juga terlihat tak kalah panik.
"Bagaimana ini?" Gumam Arina sementara tubuh mungilnya sudah dipeluk erat oleh Brennan.
__ADS_1
"Sebaiknya kita papah dia keluar dulu." Syene hendak mendekati kedua orang di depannya namun Brennan segera mencegahnya.
"Tolong jangan dekati aku! Biarkan Arina yang bersamaku di sini." Pinta Brennan lemah.
Syene terlihat kesal sekaligus cemas. Ingin marah tapi sepertinya keadaan Brennan memang sangat parah. Akhirnya gadis itu diam dan menuruti apa yang Brennan inginkan setelah mendapat anggukan dari Arina.
"Keadaan seperti ini Arina malah harus menenangkan dia. Benar-benar merepotkan." Batin Syene kesal. Yang ia khawatirkan adalah kondisi psikis Arina saat ini.
Setelah beberapa saat akhirnya Brennan lebih tenang. Beberapa bagian kulitnya yang tampak melepuh tadi juga perlahan memudar namun belum hilang sepenuhnya.
"Kau sudah bisa keluar?" Tanya Arina menjadi lebih lembut. Brennan hanya mengangguk. Perlahan Arina memutuskan untuk memapahnya keluar dari kamar mandi. Syene memilih menjauhi Brennan, bukan karena jijik tapi karena takut pria itu akan kumat lagi.
"Kau istirahat dulu. Aku akan membuatkan sesuatu untukmu." Arina membantu Brennan duduk bersandar di ranjangnya.
"Arina, aku tidak butuh makanan untuk saat ini. Tolong temani aku saja." Brennan mencekal lembut pergelangan tangan Arina.
"Sebaiknya aku keluar." Syene mengambil tasnya dan beranjak keluar dari kamar itu.
"Apa sungguh sesakit itu?" Tanya Arina yang kini sudah duduk di samping Brennan dan membiarkan pria itu memeluknya erat.
"Sangat sakit. Tolong bantu aku! Aku hanya ingin sembuh dan hidup normal seperti orang-orang di luar sana." Pinta Brennan terdengar menyedihkan.
"Baiklah. Aku akan membantumu hingga kau sembuh." Arina membelai rambut Brennan berharap bisa sedikit memberi ketenangan untuknya.
"Tidak perlu. Aku tidak membantu apapun, hanya membawamu pergi dari tempat itu." Brennan masih setia memeluk Arina dan memejamkan matanya.
"Kau jangan terlalu banyak berpikir! Jim akan menyelesaikan semuanya untukmu." Titah Brennan lembut.
"Aku tidak masalah jika harus dipenjara karena kejadian ini." Suara Arina terdengar bergetar.
"Kau tidak akan ke mana-mana selain tinggal di sisiku. Jangan takut." Suara Brennan justru terdengar lebih tegas dari sebelumnya.
"Ponselku berbunyi, tolong kau jawab untukku." Brennan memberikan ponselnya pada Arina. Arina segera menggeser ikon hijau pada layar ponsel Brennan.
"Ha-hallo?" Arina sedikit takut.
" ... "
"Ini, Jim ingin bicara denganmu." Arina menyerahkan ponsel itu kepada pemiliknya.
"Ada apa?" Tanya Brennan terdengar kesal.
__ADS_1
" ... "
"Ck...kenapa tidak mati saja?" Gumam Brennan setelah panggilan itu berakhir.
"Ada apa?" Arina terlihat khawatir.
"Pria bangsat itu sudah ditemukan. Dia sudah dilarikan ke rumah sakit, aku akan ke sana sekarang." Ungkap Brennan tidak suka.
"A-aku akan ikut." Arina menahan Brennan yang hendak beranjak.
"Jangan memaksakan diri jika tidak bisa." Tangan Brennan terulur mengelus rambut panjang Arina.
"Aku bisa." Arina mengangguk yakin.
"Baiklah." Brennan menggenggam tangan Arina dan menuntunnya keluar dari kamar.
"Di mana kakakmu?" Brennan celingukan mencari Syene.
"Mungkin dia juga sudah ke rumah sakit karena sudah mendapat kabar dari Griffith." Arina menunduk sedih.
"Jadi pria bangsat itu masih ada hubungannya dengan Griff?" Brennan terlihat tak terima. Ia kembali menuntun Arina hingga masuk ke mobilnya.
"Dia adalah keponakan Griffith." Jawab Arina menunduk.
"Bagus sekali. Sekali bangsat tetap akan bangsat. Dia berusaha menyakitimu dan kakakmu adalah kekasih pamannya. Apa dia sengaja untuk merusak hubungan baik kalian?" Brennan berceloteh panjang lebar karena kesal.
"Aku tidak tahu. Tapi aku siap menerima apapun hukuman yang akan aku terima nanti." Arina memalingkan wajahnya menatap ke luar jendela.
"Kau tidak akan dihukum. Tidak ada yang akan menghukummu untuk kesalahan yang bukan bersumber darimu." Brennan meraih satu tangan Arina dan menggenggamnya erat.
"Maafkan aku Syene. Aku sudah mengacaukan kebahagianmu." Batin Arina menitikkan air mata.
Menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, Arina dan Brennan akhirnya sampai di rumah sakit. Keduanya segera turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah sakit. Di depan tadi Jim sudah menunggu keduanya. Brennan menggenggam erat tangan Arina untuk meyakinkan gadis itu bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Dari kejauhan Arina sudah bisa melihat keberadaan Griffith dan Syene yang duduk berjauhan. Tatapan Griffith sangat tidak bersahabat, tidak seperti biasanya ramah dan hangat. Yang ada sekarang hanya kemarahan. Syene yang melihat kedatangan Arina pun langsung menghampiri adiknya.
"Jangan takut, semua akan baik-baik saja." Syene merangkul adiknya sementara Brennan sedikit menjauh dari keduanya.
"Apa dia marah?" Tanya Arina berbisik.
"Dia marah, tapi itu semua bukan salahmu!" Syene menenangkan adiknya tanpa peduli Griffith menatap tidak suka pada mereka.
__ADS_1
"Keluarga pasien?"
...~ TO BE CONTINUE ~...