
"Keluarga pasien?" Seorang Dokter keluar dari ruangan operasi.
"Aku." Griffith segera menghampiri Dokter itu.
"Bagaimana keadaan keponakanku?" Tanya Griffith cemas.
"Maaf harus menyampaikan kabar buruk. Pasien mengalami pecah pembuluh darah di otaknya setelah mengalami benturan yang cukup keras. Hal ini sudah dipastikan akan membuat pasien mengalami koma." Jelas sang Dokter.
"Koma? Tidak! Kau harus bisa menyelamatkan Xander." Griffith mencengkeram kerah leher Dokter itu dan memojokkannya ke dinding.
"Kami sudah berusaha semampu kami. Semua sudah ditentukan oleh yang Kuasa." Dokter pria itu tampak tenang dan tidak ingin melawan. Bagaimanapun juga ketenangan keluarga pasien adalah yang terpenting saat ini.
"Tuan Griffith, mohon tenang dulu." Jim berusaha membantu sang Dokter melepaskan diri.
"Semua gara-gara kau!" Griffith melepaskan Dokter pria itu dan beralih hendak menyerang Arina.
"Berhenti di sana Griff!" Titah Syene datar membuat Griffith otomatis menghentikan langkahnya.
"Kau tidak perlu menambah ketakutan Arina! Kenapa kau tidak bertanya tentang kejadian sebenarnya? Dari tadi kau hanya menyalahkan Arina tanpa bertanya yang sebenarnya terjadi. Kenapa?" Tanya Syene kesal dan menarik Arina berlindung di belakangnya.
"Dia sudah menyebabkan keponakanku koma!" Griffith menunjuk Arina penuh amarah.
"Ya, itu benar! Tapi apa tindakan keponakanmu yang hendak memperkosa adikku bisa dibenarkan?" Syene menantang kekasihnya.
"Xander tidak mungkin melakukan itu!" Bentak Griffith tak terima.
"Tapi kenyataannya adalah dia melakukanya!" Seorang pria berpakaian seragam kepolisian mendekati mereka yang ada di sana.
"Hasil olah TKP sudah kami dapatkan. Sebelum Tuan Xander Akayama tergelincir dan terjatuh ke jurang, sempat ada tanda-tanda penyerangan dan perlawanan di bukit itu." Jelas anggota kepolisian itu tanpa mengenalkan dirinya.
"Tidak! Xander anak yang baik, dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu." Griffith seketika menjadi frustrasi karena kebenaran yang ada.
"Nona Arina, jika sudah siap kau bisa ke kantor polisi untuk menjadi saksi dan memberikan keterangan lebih lanjut kepada kami." Polisi itu tersenyum hangat pada Arina.
"A-aku tidak mau." Arina semakin berlindung di belakang Syene.
"Kenapa tidak mau? Kau takut ada yang pihak yang akan menyakitimu nanti? Tenang saja, kami mempunyai kewajiban untuk melindungi para saksi dan korban." Petugas kepolisian yang tidak diketahui namanya itu menatap Griffith dengan tatapan sengit.
"Aku tidak mau." Arina tetap menggeleng dan menolak untuk menjadi saksi.
"Em...tapi jika kau berubah pikiran, kau bisa datang langsung ke kantor polisi dan temui Adam di sana." Polisi itu berbalik dan beranjak pergi.
__ADS_1
"Kau masih ingin menyalahkan adikku? Buka matamu Griff! Aku tidak tahu apa yang membuatmu begitu mempercayai keponakanmu itu adalah anak yang baik, tapi kenyataan tetaplah kenyataan." Syene berbalik dan menarik Arina pergi dari hadapan Griffith.
"Aku harap kau tidak membuat keputusan yang salah Griff! Kau sudah mengetahui kebenarannya, Arina yang menjadi korban keponakanmu dan Arina adalah adik kekasihmu. Pikirkan baik-baik jika kau tidak ingin menyesal kemudian hari." Brennan yang sedari tadi diam pun akhirnya bersuara. Setelah mengatakan apa yang ingin ia katakan, dirinya dan Jim pun beranjak meninggalkan Griffith sendirian.
"ARGHHH!" Griffith mengerang frustrasi dan mengacak rambutnya karena frustrasi.
"Kenapa? Kenapa semuanya jadi kacau seperti ini?" Gumam Griffith kehilangan akal.
"Maaf Tuan, tapi keponakanmu sudah dipindahkan ke ruang perawatan." Seorang perawat menunduk takut.
"Em..." Griffith hanya berdeham dan pergi meninggalkan perawat itu.
••••••
"Syene, aku ingin kembali ke rumah sakit." Pinta Arina menunduk.
"Untuk apa? Untuk disalahkan oleh Griffith? Tidak perlu Arina! Tidak perlu!" Syene seketika kesal pada adiknya yang biasanya melindungi dirinya, sekarang malah menjadi rapuh seperti ini.
"Ada yang harus aku bicarakan dengannya. Aku mohon." Arina mengangkat kepalanya dan menatap mata kakaknya.
"Tapi..."
"Aku janji akan baik-baik saja." Arina menangkup wajah kakaknya yang sudah memerah karena kesal.
"Janji." Arina menautkan jari kelingkingnya pada jari Syene.
"Kau pulang saja dulu. Nanti aku akan pulang sendiri." Arina mencoba tersenyum untuk menambah keyakinannya.
"Ya sudah, kau baik-baik ya!" Syene melangkah perlahan meninggalkan Arina.
Setelah Syene pergi, Arina berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah sakit.
"Arina, kenapa masih di sini?" Tanya Brennan yang berpapasan dengannya.
"Ada yang mau aku bicarakan dengan Griffith." Jawab Arina jujur.
"Apa? Kau ingin mengatakan jika kau yang bersalah? Tidak perlu Arina! Kau tidak bersalah. Kau hanya membela diri dan keponakannya jatuh itu sebuah kecelakaan." Brennan memegang kedua pundak Arina dan menatap dalam mata gadis itu.
"Bukan. Aku tahu jatuhnya Xander adalah ketidaksengajaan. Tapi aku akan tetap bertanggung jawab untuk masalah ini." Arina melepaskan tangan Brennan dari pundaknya.
"Lalu bagaimana denganku? Bagaimana dengan janjimu padaku?" Tanya Brennan tak terima dengan keputusan Arina.
__ADS_1
"Aku akan tetap memegang janjiku padamu. Aku akan siap selalu ada setiap kali kau membutuhkanku. Tapi aku tidak mau lari dari tanggung jawabku, meski kalian terus mengatakan aku tidak bersalah." Arina dengan yakin menatap mata tajam Brennan.
"Aku temani." Brennan hendak meraih tangan Arina namun gadis itu menghindar.
"Biarkan aku sendiri. Ini masalahku dan aku yang akan menyelesaikannya sendiri." Arina berlalu pergi meninggalkan Brennan dan Jim.
"Tuan, sebaiknya untuk saat ini kita mendukung apa yang ingin Nona Arina lakukan. Biarkan dia lebih tenang dulu dengan caranya, baru setelah itu kita ambil tindakan untuk membantunya." Usul Jim.
"Kau benar. Mungkin sebaiknya begitu." Brennan akhirnya melangkah pergi meninggalkan rumah sakit bersama Jim.
••••••
"Paman Griff!" Panggil Arina dengan suara bergetar.
"Pergi!" Titah Griffith dingin.
"Aku perlu bicara denganmu." Ujar Arina berusaha tenang.
"Aku bilang pergi!" Griffith kembali mengusir Arina.
"Aku minta maaf atas kejadian ini. Tapi sungguh aku juga tidak ingin semua ini terjadi." Arina tetap berbicara meski Griffith mengusirnya.
"Aku bilang pergi sebelum aku menyakitimu!" Suara Griffith meninggi.
"Aku bersedia menebus kesalahanku dengan cara apapun juga." Arina kembali berbicara.
Griffith mendadak bangki dari tempat duduknya dan berbalik. Ia mendorong Arina dan memojokkan adik kekasihnya itu ke dinding. Arina memejamkan mata merasakan takut sekaligus sakit pada bagian pinggangnya.
"Lalu kau pikir tanggung jawabmu itu bisa mengembalikan keadaan Xander seperti semula?" Tanya Griffith mencengkeram rahang Arina.
"Mungkin tidak bisa. Tapi setidaknya aku tidak lari dari hal ini." Arina meringis merasakan perih pada rahangnya karena ulah kuku-kuku Griffith.
"Lalu dengan cara apa kau mau bertanggung jawab?" Griffith melepaskan tangannya dengan kasar.
"Aku akan merawat Xander hingga dia sadar." Tegas Arina.
"Ck...aku mampu membayar dokter spesialis untuk merawat dan menjaganya." Tolak Griffith.
"Setidaknya ada yang bisa aku lakukan. Aku tidak ingin merasa bersalah setiap waktu ketika mengingat kejadian itu." Arina tetap bersikeras dengan keputusannya.
"Baiklah jika itu maumu! Kau rawat dia sampai dia sembuh jika kau sanggup!" Griffith beranjak meninggalkan Arina di dalam ruangan itu.
__ADS_1
"Aku pasti mampu."
...~ TO BE CONTINUE ~...