CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)

CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)
Bimbang


__ADS_3

"Kau mau ini? Atau ini?" Brennan memegang sebuah apel dan jeruk pada masing-masing tangannya.


"Tidak mau keduanya." Arina menggeleng manja.


"Lalu kau mau apa? Sayang, dari pagi kau bahkan belum makan apapun." Brennan terlihat benar-benar mencemaskan wanitanya.


"Aku ingin dipeluk." Arina merentangkan kedua tangannya sambil memasang ekspresi manja.


"Ck..." Brennan berdecak, bukan kesal melainkan ia gemas dengan calon istrinya itu. Akhirnya ia hanya menuruti keinginan Arina. Brennan memeluk Arina dan membiarkan wanita yang ia cintai itu terus mengendus aroma tubuhnya. Selama beberapa hari dirawat di rumah sakit, Arina memang sering bertingkah aneh dan manja padanya.


"Aku lapar sekarang." Arina cengengesan tanpa rasa malu apalagi perasaan bersalah.


"Aku siapkan makanan untukmu." Brennan segera menyiapkan makanan yang sudah ia beli sebelum Arina berubah pikiran. Segera setelah makanan siap, ia dengan cepat menyuapi Arina. Semua itu karena dirinya benar-benar mencemaskan wanita yang ia cintai, apalagi wanita itu sekarang tengah mengandung buah hati mereka.


"Enak sekali." Puji Arina kegirangan.


"Enak karena aku yang menyuapimu." Brennan terkekeh menggoda calon istrinya.


"Aku kenyang." Arina akhirnya menolak suapan pria yang selama beberapa hari ini sudah telaten merawatnya.


"Ini minum dulu." Brennan memberikan sebotol air mineral untuknya dan langsung ia seruput isinya hingga tersisa setengah.


"Ah..." Arina mendesah lega.


"Uh...calon pengantin mesra sekali." Syene yang baru tiba bersama Griffith langsung menggoda keduanya.


"Syene..." Arina merengek manja dan merentangkan kedua tangannya meminta pelukan dari sang kakak.


"Sudah puas berduaan?" Syene menoel hidung adiknya gemas.


"Ih...kami itu bertiga bukan berdua." Sanggah Arina sambil mengelus perutnya.


"Hah...terserah saja." Syene memutar malas kedua matanya. Jika diingat lagi, beberapa hari yang lalu adiknya ini baru menangis-nangis karena tidak menginginkan kehamilannya itu. Tapi lihatlah sekarang, Arina terlihat begitu bahagia bahkan begitu manja pada Ayah dari janinnya seolah mereka memang lah sepasang kekasih yang saling mencintai sejak awal.


"Ekhem..." Suara dehaman keras seseorang membuat suasana yang riang itu seketika menjadi terasa canggung dan kaku.


"Papa, Mama..." Arina tersenyum menyapa kedua orang tuanya. Arlin pun segera memeluk putrinya sementara Richard masih menatap tajam pada Brennan yang berdiri bak pengawal di samping Arina.


"Kau sudah makan?" Tanya Arlin lembut.

__ADS_1


"Sudah Ma, tadi Brennan menyuapiku." Arina tersenyum malu-malu.


"Baguslah." Arlin tersenyum mengelus pipi putrinya.


"Papa, apa Papa masih marah padaku? Tidak ingin memelukku?" Arina menatap Ayahnya memelas. Sang Ayah yang masih dihinggapi rasa bersalah hingga saat ini pun langsung berhambur memeluknya.


"Maafkan Papa sudah menyakitimu." Richard berusaha untuk terlihat kuat sebagai seorang pria juga kepala rumah tangga.


"Aku tidak marah pada Papa." Arina terkekeh melepaskan pelukan Ayahnya.


"Pa, aku ingin ke taman. Hanya berdua dengan Papa." Pinta Arina tersenyum manis.


"Ayo." Richard memberikan lengannya pada sang putri sebagai pegangan.


"Aku keluar dulu." Bisik Arina pada Brennan sebelum ia keluar dari ruangan itu.


"Aku yakin Arina pasti bisa meyakinkan uncle. Dan uncle Ric tidak akan bisa menolak keinginan putri kesayangannya." Syene terkekeh memeluk Arlin.


"Semoga saja Arina kita bisa membuat Richard kita luluh." Arlin menatap ke arah pintu seolah sedang menyaksikan suami dan putrinya berbicara.


"Pasti bisa aunty. Tenang saja, Arina itu selalu punya cara untuk meyakinkan uncle Ric. Aunty pasti masih ingat saat kecil uncle tidak mengizinkan kami untuk pergi berkemah padahal itu kegiatan wajib dari sekolah. Aku gagal meyakinkan uncle tapi Arina, bisa melakukan hal itu dengan baik." Syene tersenyum mengingat masa kecilnya.


"Sudahlah, kita yakin saja padanya." Syene melirik Brennan yang tampak gusar sementara Griffith justru dengan santainya berbaring di sofa.


"Ya sudah, aunty keluar sebentar untuk membeli sesuatu. Kalian tunggu saja di sini." Arina melepaskan diri dari Syene dan hendak keluar.


"Nyonya, biar aku yang mengantarmu." Tawar Brennan dan Arlin menerimanya dengan senang hati.


"Griff, kita ditinggal lagi." Syene merengek manja mendekati kekasihnya.


"Jadi? Kau ingin pulang?" Tawar Griffith santai.


"Em...nanti malam aku masih harus mengerjakan tugas." Syene menerima tawaran dari calon suaminya itu.


"Tapi sebelum itu, kita ke mansionku dulu." Griffith bangun dan menggenggam tangan Syene. Keduanya melenggang keluar dari ruangan itu berjalan menyusuri koridor menuju parkiran.


•••••


"Mereka semua di mana?" Arina bingung tak mendapati siapapun di kamar inapnya.

__ADS_1


"Mungkin sedang keluar untuk membeli sesuatu atau lainnya." Richard membantu putrinya untuk berbaring.


"Mau makan sesuatu atau buah?" Tanya Richard sambil mengusap butiran keringat di kening putrinya.


"Tidak Pa. Nanti saja kalau Brennan sudah datang." Arina tersenyum lebar pada Ayahnya.


Richard tidak bisa berkata-kata lagi. Ia seorang Ayah, dan jelas tahu arti dari senyuman putrinya. Jika sudah begini, mungkinkah Richard masih harus bersikap egois dan menahan kebahagiaan putrinya?


"Ric, Arina, kalian sudah kembali?" Arlin menghampiri kedua orang itu.


"Sudah. Mama dari mana? Sendirian?" Arina celingukan mencari Brennan dan yang lainnya.


"Tadi Mama bersama Brennan. Tapi dia masih di luar, kebetulan tadi dia berpapasan dengan rekan bisnisnya." Jelas Arina sambil mengeluarkan beberapa makanan yang sudah ia beli.


"Ma, aku ingin apel itu. Sepertinya segar sekali." Pinta Arina menunjuk beberapa buah apel di dalam kantong.


"Sebentar, Mama cuci untukmu." Arlin mengambil satu buah apel lalu segera mencucinya.


"Mau dikupas?" Tanya Arlin memberikan pilihan.


"Tidak mau." Arina menggeleng sambil tersenyum lebar.


"Ya sudah, ini." Arlin menyerahkan buah apel itu dan Arina menerimanya.


Wanita hamil itu tampak begitu bersemangat menggigit dan mengunyah buah merah itu.


"Sayang, kau sudah...kembali?" Brennan yang awalnya bersemangat, terpaksa memelankan suaranya saat mendapati Richard menatapnya tajam.


"Brenn, aku merindukanmu." Arina kembali dengan manja merentangkan tangannya untuk menagih sebuah pelukan dari Brennan.


Pria itu menurut, namun merasa tidak enak hati dengan kedua orang tua dari wanitanya itu terutama dengan Richard. Arlin hanya tersenyum bahagia melihat putrinya yang begitu manja dengan orang lain selain dengan dirinya, suaminya, ataupun Syene. Arlin juga melirik suaminya yang sebenarnya tidak suka melihat Brennan menyentuh putrinya, namun bibirnya menampilkan senyum tipis melihat senyum cerah putrinya.


"Sayang, Mama dan Papa pulang dulu ya. Besok kami akan datang lagi." Arlin menghampiri Richard dan memeluk lengan suaminya.


"Baik Ma. Papa dan Mama hati-hati." Arina tersenyum melambaikan tangannya.


"Hah..." Brennan bernafas lega setelah kedua calon mertuanya pergi.


"Kau bicara apa tadi dengan Papamu?"

__ADS_1


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2