CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)

CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)
Dewasa


__ADS_3

"Tuan, aku mohon lepaskan aku. Tadi aku hanya mengambil bukuku yang tertinggal di dalam mobil Tuan." Pinta Syene pada Griffith yang tengah memilih pakaian di dalam ruang ganti khusus di kamarnya.


"Pakai ini dan bersihkan dirimu di dalam kamar mandi!" Griffith melemparkan beberapa helai pakaian pada Syene dari dalam ruang ganti.


"Ti-tidak perlu Tuan, aku bisa membersihkan diri di rumahku nanti. Aku pulang dulu." Tolak Syene dan bergegas hendak keluar dari kamar itu.


"Jangan membangkang selama aku masih berbaik hati denganmu!" Ucap Griffith datar membuat Syene mengurungkan niatnya untuk kabur.


"Aku tunggu dua puluh menit! Lebih dari itu, aku yang akan turun tangan membersihkan dirimu!" Titah Griffith yang kini sudah merebahkan dirinya di atas ranjang.


Mau tak mau Syene akhirnya masuk ke dalam kamar mandi membawa pakaian-pakaian yang Griffith berikan padanya tadi. Di dalam kamar mandi Syene segera membersihkan dirinya dengan terburu-buru mengingat waktu yang diberikan Griffith sangat sedikit. Lima belas menit berlalu, Syene akhirnya selesai juga dan keluar dari kamar mandi.


"Dia tampan sekali. Baru kali ini aku melihat pria setampan ini setelah uncle Richard." Batin Syene memperhatikan Griffith yang memejamkan matanya.


"Kau bisa memasak?" Tanya Griffith tiba-tiba.


"A-aku tidak bisa eh..maksudnya aku bisa tapi tidak lihai." Jawab Syene gugup.


"Masakkan sesuatu untukku! Jika rasa masakanmu lezat, maka aku akan membawamu pulang ke rumahmu. Jika tidak enak, maka kau akan tetap tinggal di sini selamanya!" Griffith bangkit dari dan menggenggam tangan mungil Syene lalu menarik gadis itu dengan lembut keluar dari kamarnya.


"Ya ampun, baru kali tanganku dipegang oleh seorang pria. Jantungku rasanya akan meledak sebentar lagi." Batin Syene memperhatikan tangannya yang digenggaman Griffith.


"Masak apapun yang kau bisa!" Griffith melepaskan Syene di depan lemari pendingin sementara ia duduk di kursi minibar dapurnya.


"Saatnya tunjukkan kehebatanmu Syene!" Gumam gadis berambut pirang itu dengan bersemangat.


Ia pun mulai memilih bahan-bahan apa saja yang akan ia masak untuk Griffith. Setelah mendapatkan semua bahan-bahan yang diinginkan, Syene pun segera mengeksekusi semua bahan masakannya. Sementara Syene fokus memasak, Griffith serius memperhatikan setiap pergerakan Syene. Pria bermata emerald itu tidak sedikitpun mengalihkan pandangannya ke tempat lain.


"Dia benar-benar membuatku gila hanya dengan menatapnya saja. Aku harus bisa memilikinya seutuhnya." Batin Griffith mulai menyusun strategi di dalam otaknya.


"Tuan, silakan dicoba." Syene meletakkan sepiring makanan yang sudah ia masak di depan Griffith.


"Ini apa?" Tanya Griffith memperhatikan makanan yang terlihat sangat menggoda di depannya.


"Nasi goreng Indonesia. Semoga Tuan suka dengan rasanya." Gadis bermata biru itu tersenyum sangat manis pada Griffith.

__ADS_1


Tanpa banyak kata Griffith pun menyendok nasi goreng di depannya dan menyantapnya. Tidak ada kata-kata apapun yang keluar dari mulutnya selain anggukan kepala dan tangannya yang terus menerus menyendok makanannya.


"Astaga, aku menghabiskannya tanpa bertanya padanya apakah dia sudah makan atau belum?" Griffith mengomel di dalam hati menyadari kebodohannya.


"Sudah habis, apa kau tidak mau makan?" Tanya Griffith basa-basi.


"Aku tidak lapar. Jika aku lapar tadi pasti sudah membaginya menjadi dua piring." Jawab Syene jujur.


Griffith diam menunggu tanda-tanda Syene berbohong. Sayangnya beberapa menit berlalu, gadis itu tak kunjung menampakkan tanda-tanda kebohongan Perutnya pun tidak berbunyi keroncongan sama sekali.


"Aku sudah selesai, kau mau pulang sekarang?" Tanya Griffith menjadi lebih lembut. Syene langsung mengangguk semangat.


"Sebentar, barang-barangmu masih di kamar." Pria berambut sebahu itu segera berlari ke kamarnya untuk mengambil barang-barang Syene.


Beberapa menit berlalu, Griffith kembali dengan tas dan buku-buku milik Syene. Griffith menyerahkan semuanya pada Syene.


"Oh iya, aku Griffith kau bisa memanggilku Griff." Ucap Griffith mengulurkan tangannya.


"Aku Syene." Syene menerima uluran tangan pria di depannya.


"Berapa umurmu?" Tanya Griffith penasaran.


"Muda sekali. Selisih enam belas tahun denganku. Ayo..." Griffith kembali menggenggam tangan Syene dan membawa gadis yang baru ia kenal itu keluar dari rumahnya.


"Tuan Griff, em..sebaiknya aku pulang sendiri. Aku bisa jalan kaki." Tolak Syene ketika Griffith hendak menuntunnya masuk ke dalam mobil. Griffith mengernyit memperhatikan gelagat Syene yang menjauh dari mobilnya dan bertingkah seperti orang ketakutan.


"Baiklah, kita akan menggunakan motor." Griffith berjalan ke samping rumahnya dan tak lama kemudian ia kembali sambil mendorong sebuah motor besar berwarna hitam.


"Pakai ini agar aman." Griffith memasangkan helm pada Syene.


"Ayo naik." Ajak Griffith begitu ia sudah naik ke atas motornya. Syene menurut dan naik dengan berhati-hati.


"Pegangan yang erat! Oh ya, kau tinggal di mana?" Tanya Griffith sebelum menjalankan motornya.


"Aku tinggal di ... " Jawab Syene malu-malu.

__ADS_1


"Baiklah, pegangan yang erat!" Griffith menghidupkan mesin motornya dan tak lama kemudian ia pun melajukan kuda besi itu meninggalkan rumahnya


Sepanjang perjalanan keduanya diam tanpa obrolan apapun. Syene memeluk erat tubuh kekar Griffith karena Griffith membawa motornya dengan kecepatan cukup tinggi. Griffith diam-diam tersenyum dibalik helmnya yang menutupi wajah tampannya.


"Kita sampai." Gumam Griffith berhenti di depan sebuah mansion.


"Ah iya, terima kasih Tuan Griff." Syene turun dari motor itu.


"Untukmu saja! Jadi lain kali jika aku ingin jalan denganmu, kau bisa membawa helm sendiri." Griffith menampilkan senyum terbaiknya.


"Terima kasih." Syene membungkuk sopan.


"Kalau begitu aku masuk dulu." Syene melambaikan tangannya dan dibalas oleh Griffith. Ia pun berbalik dan berlari kecil masuk ke dalam mansion.


"Gadis itu...aku benar-benar tidak akan melepaskan dirinya! Dia harus menjadi milikku!" Batin Griffith yakin. Ia pergi meninggalkan mansion mewah itu setelah Syene sudah benar-benar masuk.


"Ekhem...siapa itu? Dan kenapa baru pulang larut malam begini?" Tanya sebuah suara berat yang sudah sangat Syene kenal itu.


"Uncle Richard, itu aku em..." Syene kesulitan menjawab.


"Kau mulai keluyuran dengan seorang pria?" Tanya Richard menyelidik. Ia tentu tak ingin anak yang sudah ia rawat dan didik dengan baik tumbuh menjadi anak nakal apalagi Syene seorang gadis.


"Bukan. Ceritanya cukup panjang uncle. Jadi tadi aku mengambil bukuku yang tertinggal di mobil pria itu dan aku terjebak di dalam mobilnya lalu pingsan. Lalu aku terbawa sampai ke rumahnya dan dia membawaku pulang lagi." Jelas Syene.


"Lalu bagaimana bukumu bisa ada di dalam mobilnya? Kau sudah pergi dengannya sebelum itu?" Tanya Richard curiga.


"Tidak uncle, aku berani bersumpah." Syene agak ketakutan.


"Pasti kau dikerjai lagi jika bukan oleh teman-teman satu kelasmu maka oleh si kembar jahat itu!" Tebak Arina yang keluar dari kamarnya menghampiri Ayahnya dan Syene.


Syene hanya menunduk sedih enggan mengangguk ataupun menggeleng.


"Anak-anak itu benar-benar keterlaluan! Ya sudah, kalian segera istirahat ini sudah malam. Dan Syene ataupun kau Arina, Papa tidak akan melarang kalian berteman dengan siapapun atau dengan seorang pria sekalipun. Tapi ingat, jaga diri kalian! Jangan lakukan hal-hal yang merusak masa depan kalian!" Peringat Richard pada kedua putrinya.


"Baik Pa, Papa tenang saja." Arina merangkul Syene dan beranjak ke kamar mereka.

__ADS_1


"Anak-anak gadisku sudah mulai beranjak dewasa."


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2