
"Syene ...." Seluruh anggota keluarga yang ada di sana pun segera masuk ke dalam ruangan inapnya menghampiri Syene yang masih terbaring lemah. Hanya Griffith dan Drex yang tidak kelihatan.
"Opa, Oma ... Uncle Ric, aunty ...." Syene tersenyum tipis melihat kedatangan keluarganya.
"Akhirnya kau bangun, sayang. Kau membuat kami takut." Sang nenek memilih duduk di kursi yang tersedia di samping ranjang seraya mengelus kepala cucunya.
"Maaf ...." Lirih Syene pelan.
"Sudah, tidak apa. Yang penting sekarang kau sudah siuman dan kau akan baik-baik saja." Timpal Arlen yang ikut mendekati cucu sulungnya.
"Arina di mana? Dia pasti sedang mengerjakan banyak tugas sekarang." Syene sedikit celingukan mencari keberadaan sepupunya.
"Tugas? Arina sedang ...."
"Maaf, tapi biarkan aku memeriksa pasien lebih dulu." Ujar seorang Dokter memotong perkataan yang hendak Arlin lontarkan.
"Silakan Dokter." Keempat orang itu memberikan tempat untuk Dokter agar bisa leluasa melakukan pekerjaannya. Sang Dokter pun dengan sigap memeriksa kondisi Syene dengan alat-alat yang ia bawa.
"Apa kau mengenal mereka siapa?" Tanya Dokter pria itu tersenyum manis.
"Mereka keluargaku. Nenek, kakek, bibi, dan pamanku." Jawab Syene yang masih lemah. Dokter itu hanya mengangguk pelan.
"Kondisi Nona Syene sepertinya sudah baik-baik saja. Kekhawatiranku sepertinya tidak terjadi karena dia dapat mengingat kalian dengan baik. Kalau begitu aku permisi." Sang Dokter pun pamit keluar dari ruangan itu.
"Syene, apa kau ingat apa yang menyebabkan dirimu mengalami kecelakaan seperti itu?" Tanya Richard pelan. Sepertinya ada yang mengganggu pikiran pria itu.
"Itu karena ...." Syene memejamkan matanya dan memegangi kepalanya. Gadis itu berusaha mengingat apa yang telah terjadi sebelumnya. Kemudian ia mengangguk lemah.
"Yang aku ingat saat itu aku keluar dari sebuah Spa kecantikan setelah melakukan perawatan tubuhku. Kemudian aku menaiki sebuah taksi. Tapi sopir taksi itu ternyata adalah ... aku kurang ingat dia siapa tapi sepertinya aku mengenalnya. Aku meminta untuk turun tapi dia malah berbelok ke arah jalanan yang sempit dan ... di sisi-sisi jalan itu terdapat jurang." Syene menghentikan ucapannya dan memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Sudah, jangan diingat dulu. Kau harus pulih dulu untuk mengingat semuanya." Larang Asyh saat melihat cucunya seperti sangat kesakitan.
"Sayang, akhirnya kau sadar juga." Griffith yang baru kembali pun segera berhambur memeluk kekasihnya yang masih terbaring lemah.
"K-kau siapa?"
__ADS_1
Seketika ruangan itu menjadi hening seolah tak berpenghuni. Keempat orang itu saling memandang seolah mempertahankan hal yang sama. Begitu juga dengan Griffith yang dibuat terkejut dengan pertanyaan calon istrinya.
"Aku Griff, calon suamimu. Pria yang kau cintai, apa kau lupa?" Griffith terlihat bingung dan sorot matanya mulai tajam.
"Tapi aku tidak mengenalmu." Syene menatap serius lawan bicaranya.
"Syene, dia benar kekasihmu. Kalian bahkan sebentar lagi akan menikah." Arlin mencoba menjelaskan kebenaran itu.
"Tidak mungkin, aku tidak mengenalnya sama sekali." Syene kembali memegangi kepalanya.
Gadis itu memejamkan matanya dan terlihat menahan rasa sakit. Drex yang berdiri di ambang pintu pun segera berlari untuk mencari Dokter lagi. Hati Griffith kembali kacau, kekasihnya sadar namun tidak mengenalnya.
"Apa kau sedang bersandiwara agar bisa menutupi kesalahanmu, Syene?" Bisik Griffith di telinga gadisnya.
"A-aku ... aku sungguh ...."
"Tolong biarkan aku memeriksanya lagi." Sang Dokter kembali dengan raut wajah khawatir.
***
Kepalanya masih terasa pusing, kedua matanya pun masih berkunang-kunang saat ia mulai memandangi sekelilingnya. Hingga beberapa saat kemudian ia menyadari keberadaan Brenner yang tertidur dengan posisi duduk di sampingnya.
"Aku di mana? Ini surga atau neraka? Ke-kenapa Brenn bisa bersamaku?" Gumam bertanya-tanya. Pandanganku masih tidak begitu jelas hingga ia belum sepenuhnya sadar bahwa ia sedang ada di rumah sakit.
"Hem ...." Brennan tiba-tiba berdeham dan tersadar dari tidurnya.
"Sayang, kau sudah bangun? Syukurlah ... sebentar, aku akan memanggil Dokter." Brennan beranjak dari tempat duduknya dan segera berlari keluar.
"Aku masih hidup." Gumam Arina lagi seraya memegangi perutnya.
Beberapa menit kemudian Brennan kembali bersama seorang Dokter. Dokter wanita itu segera memeriksa kondisi Arina. Brennan pun menunggu dengan cemas hasilnya.
"Well, kondisi fisik Nona Arina secara keseluruhan mulai membaik. Aku harap kondisi psikisnya pun demikian." Ujar Dokter itu lalu beranjak pergi.
"Sayang, kau bangun juga. Aku sudah sangat ketakutan tadi." Brennan duduk kembali, meraih tangan Arina dan menggenggamnya erat.
__ADS_1
"Pergi Brenn! Tinggalkan aku sendirian! Aku kotor, aku tak pantas lagi bersamamu." Hardik Arina datar berusaha menyembunyikan rasa sakit pada batinnya.
"Tidak! Aku tidak akan pergi ke mana pun. Kau tetap Arinaku, tidak ada yang akan berubah di antara kita. Kau tetap wanita pilihanku tidak peduli apapun keadaanmu." Brennan menatap dalam sepasang mata coklat itu.
"Pergi Brenn! Pergi! Aku sudah hina! Aku kotor!" Arina mulai meninggikan suaranya.
"Tidak! Sekalipun kau mengusirku, aku tidak akan ke mana pun. Aku akan tetap di sini dan menjagamu." Pria itu sama kerasnya dengan wanitanya.
"Aku mohon tinggalkan aku ... jangan kotori dirimu dengan wanita em ...." Ucapan Arina terhenti karena Brennan mengunci bibir mungil yang tampak pucat itu dengan bibirnya.
Kecupan halus hingga ******* sedikit kasar ia berikan pada kekasih hatinya yang cerewet itu. Brennan tidak memberi celah sedikitpun pada Arina untuk menolak apalagi melawanku.
"Aku tidak akan pernah pergi ke mana pun tanpa dirimu!" Tegas Brennan menekan setiap perkataannya. Arina yang masih dalam mode kaget pun hanya bisa diam tanpa berkata-kata.
"Nyonya Brennan, sebaiknya sekarang kita kembali istirahat. Aku masih sangat mengantuk." Ujarnya. Ia kemudian naik ke atas ranjang Arina dan berbaring di sampingnya. Tak lupa ia juga menarik Arina ke dalam dekapannya.
"Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak lagi. Aku mencintaimu, dan tidak peduli apapun keadaanmu. Jangan menghakimi dirimu sendiri." Titah Brennan dengan tenang.
"Maafkan aku. Aku tidak bisa ...." Bibir Arina kembali diserang oleh prianya.
"Semakin banyak kau bicara, maka aku akan semakin nakal. Jangan memancingku." Ancam Brennan pada kekasihnya meski ia tahu kondisi Arina tidak memungkinkan untuk ia melakukan hal itu.
"Terima kasih Brenn." Arina menyembunyikan wajahnya pada dada bidangnya.
"Sekarang tidurlah lagi. Kau perlu banyak istirahat agar bisa cepat pulih."
"Brenn, bagaimana dengan bayi kita?" Tanya Arina khawatir.
"Dia masih berada di tempat yang seharusnya. Di rahim Mommynya dan menemani Mommynya hingga Papanya datang menjemput mereka. Sekarang dia sedang istirahat karena kelelahan." Brennan menjawab sambil mengelus perut rata wanitanya.
"Sekarang tidurlah. Aku benar-benar sangat mengantuk, setelah tidur nanti aku akan temani kau bicara apa saja. Tapi sekarang ayo kita istirahat dulu." Lanjut Brennan memejamkan matanya seraya memeluk erat Arina.
"Terima kasih Brenn."
...~ TO BE CONTINUE ~...
__ADS_1