CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)

CRAZY LOVE 2 (Obsesi Pria Dewasa)
Tidak Lebih Penting


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


"Xander, kenapa kau masih belum bangun juga? Kenapa kau jadi malas seperti ini?" Arina menggenggam tangan Xander.


Sudah dua bulan berlalu dan itu sudah Arina lakukan setiap hari. Setiap saat ia selalu berharap dan berusaha membangunkan sahabatnya. Bukan lagi karena rasa bersalahnya melainkan rasa sayangnya untuk Xander. Gadis itu sepertinya benar-benar sudah melupakan segala rasa sakit hati dan kekecewaannya pada seorang Xander.


"Xander, bangunlah! Bukan hanya aku tapi banyak orang yang menantikan dirimu. Bahkan Ibumu terbang dari Australia demi dirimu. Apa kau tidak kasihan padanya?" Tidak putus asa, gadis itu masih saja berusaha untuk membangunkan sahabatnya.


"Sayang?" Arlin memanggil putrinya dengan lembut.


"Mama? Kenapa Mama bisa datang?" Arina berdiri dari duduknya dan menghampiri Ibunya.


"Mama membawakan makanan untukmu. Papa yang memasaknya, tapi karena dia harus buru-buru keluar kota jadi dia hanya bisa mengantarkan Mama sampai di depan rumah sakit tadi." Jelas Arlin sambil menyusun makanan yang ia bawa untuk putrinya.


"Sudah dua bulan ini Mama dan Papa juga kak Syene selalu repot karena diriku." Arina menunduk merasa bersalah.


"Hei, kami tidak pernah merasa repot. Yang kau lakukan itu adalah kebaikan dan kami sudah seharusnya mendukung." Arlin merangkul dan memeluk putrinya kesayangannya.


"Sudah, ayo makan dulu. Nanti malah jadi tidak enak. Papamu memasak makanan Indonesia untukmu, dia mati-matian belajar dari Oma demi dirimu." Arlin mengambil beberapa sayur dan lauk beserta nasi untuk Arina.


"Em, terima kasih Ma." Arina menerima dan langsung menyantap makanan yang dibawakan Arlin dengan lahap.


"Rasanya enak meski sedikit asin." Arina terkekeh membayangkan bagaimana kerasnya sang Ayah yang tidak bisa memasak makanan Indonesia malah harus memasak untuknya.


"Sudah Mama bilang, tapi mau bagaimana lagi Papamu juga baru belajar. Selama ini dia hanya tinggal makan, memasak pun dia hanya bisa memasak makanan barat." Arlin setia mengelus kepala Arina.


"Tidak apa. Hanya perlu mengurangi sedikit garam saja." Arina melanjutkan makannya.


Selesai makan, Arlin menyusun dan menyimpan kembali rantang makanannya.


"Mama mau langsung pulang? Kalau mau pulang, pulang saja Ma. Arina bisa sendiri di sini." Arina tersenyum meyakinkan Ibunya.


"Mama akan menemanimu di sini, tenang saja." Arlin duduk lebih santai di samping Arina.


"Aku lelah. Tapi aku tidak bisa menyerah." Arina kembali memeluk Ibunya.


"Istirahatlah sejenak. Bahkan robot juga bisa rusak jika kita menggunakannya tanpa henti." Arlin 'menceramahi' putrinya.

__ADS_1


"Iya. Aku tahu." Arina pasrah karena memang sudah dua bulan ini dia selalu kurang istirahat.


"Bren tidak datang? Kemarin dia mendatangi Papa dan Mama lalu mengatakan kalian sudah menjalin hubungan." Tanya Arlin penasaran.


"Dia itu membuat keputusan sepihak. Aku tidak pernah menerimanya sebagai kekasihku." Jawab Arina kesal.


"Saran Mama, jika tidak suka dengan seseorang, maka jangan terlalu menanggapinya. Jangan sampai membuat orang itu terlanjur berharap padamu." Pesan Arlin.


"Aku juga sudah sering bilang padanya, tapi mau bagaimana lagi? Dia itu pemaksa. Membayangkan hidup bersama seorang yang suka memaksakan kehendak, aku tidak bisa." Arina melepaskan diri dari Ibunya.


"Em...ya sudah, Mama pulang dulu ya. Mau ke kastil untuk menjenguk Opa dan Oma. Mereka sedang tidak sehat dan aunty Asyana sedang di sana untuk merawat mereka." Pamit Arlin.


"Em, Mama hati-hati. Nanti setelah Griff datang, aku akan segera menyusul ke sana." Arina mengangguk. Sang Ibu pun pergi meninggalkannya sendiri.


"Xander, aku lelah. Aku tidur dulu sebentar ya." Arina merebahkan tubuhnya di sofa dan menutup matanya. Perlahan ia pun mulai menjelajahi alam mimpinya.


Beberapa saat berlalu. Gadis itu terlihat gelisah dan tidak nyaman dengan tidurnya. Ia bahkan terlihat berkeringat seperti seseorang yang sedang mimpi buruk. Mulutnya komat kamit mengatakan hal yang tidak jelas.


"XANDER!" Arina berteriak histeris dan sontak terbangun dari tidurnya.


"Arina, kau kenapa?" Syene menghampiri adiknya dan memeluknya.


"Tidak, dia baik-baik saja. Justru dia sudah sadar." Ungkap Syene sambil mengusap punggung Arina yang bergetar.


"Sungguh?" Arina melepaskan pelukannya dan menatap Syene lalu Xander yang sedang di periksa Dokter dan didampingi Griffith.


"Em. Tadi saat kami sampai dia terlihat menggerakkan jari-jarinya. Lalu tiba-tiba detak jantungnya menjadi sangat cepat. Griff memanggil Dokter dan ketika Dokter sampai, Xander juga membuka matanya." Syene menjelaskan.


"Xander..." Arina beranjak dan melangkah menghampiri sahabatnya itu.


"Kau sudah sadar?" Ia menggenggam tangan Xander dan menatap wajah pucat pemuda itu.


"A..ri..na.." Xander berusaha menyebut nama Arina dengan terbata-bata.


"Sudah, jangan banyak bicara dulu. Kau baru saja sadar, tenangkan dirimu dulu." Arina mengelus kepala Xander.


"Kami akan segera kembali untuk memberikan laporan mengenai kondisi Tuan Xander." Ucap sang Dokter dan keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


"Akhirnya kau sadar Xander. Kau membuatku takut." Arina tersenyum bahagia.


"Ma...af." Xander kembali berusaha bicara.


"Sudah. Jangan pikirkan apapun! Kau harus sehat dulu." Titah Arina gemas dengan tingkah lelaki itu.


"Arina, jika kau mau pulang sekarang silakan. Biarkan kami yang menjaga Xander." Griffith mengusir halus calon adik iparnya.


"Kau benar. Aku harus ke kastil untuk melihat keadaan Opa dan Oma. Xander, maaf tapi aku harus pergi." Arina segera mengambil tasnya dan beranjak meninggalkan ketiga orang itu.


"Akhirnya kau sadar juga." Griffith tersenyum bahagia melihat keponakannya.


••••••


"Oh ayolah, kena kau tidak bisa hidup seperti ini?" Arina berusaha mengengkol motornya.


"Arina, ayo ikut denganku. Ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu." Brennan yang baru datang langsung menariknya pergi.


"Tidak bisa Brenn. Aku harus ke kastil menemui kakek nenekku." Arina meronta untuk melepaskan diri.


"Itu bisa lain hari. Ayo, aku ada sesuatu yang spesial untukmu." Brennan menuntun Arina masuk ke dalam mobilnya.


"Brenn cukup! Kakek dan nenekku sedang tidak sehat. Kau tidak jauh lebih penting dari keluargaku. Mereka keluargaku!" Arina membentak Brennan dengan penuh amarah. Brennan terdiam menyadari kesalahannya. Arina hendak keluar dari mobil namun Brennan menahannya.


"Aku akan mengantarmu." Pria itu menuntun Arina duduk kembali dan ia melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit.


Sepanjang perjalanan Arina diam enggan berbicara dengannya meski beberapa kali ia bertanya duluan tentang ini dan itu. Ia bahkan memalingkan wajahnya menatap ke luar jendela. Brennan akhirnya menyerah dan memilih fokus menyetir. Tak berselang lama akhirnya keduanya sampai di depan kastil itu.


"Aku temani." Tawar Brennan lembut.


"Pergilah!" Arina turun dari mobil dan langsung berlari masuk ke kastil.


"Kau salah lagi Bren! Dasar payah!" Brennan merutuki dirinya.


•••••


"Bisa-bisanya mereka tertawa di saat seperti ini." Batin Arina kesal saat melihat kedua sepupu kembarnya cekikikan di ruang keluarga.

__ADS_1


Tidak ingin berdebat, akhirnya ia segera melangkah ke kamar Arlen dan Asyh.


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2