
"Hah..." Arina menghela nafas kasar.
"Malam ini aku akan menemani dan merawatmu lagi. Meski melelahkan, tapi aku senang bisa menemanimu." Arina tersenyum tipis setelah duduk di kursi yang tersedia di samping ranjang Xander.
"Kau harus cepat bangun. Xander, aku memang marah padamu, tapi aku tidak akan pernah bisa membencimu sampai kapanpun juga." Gadis cantik itu mengusap kepala Xander.
"Aku yakin, kau juga tidak sejahat itu. Hari itu mungkin karena kau mabuk makanya tega melakukan hal jahat itu padaku." Arina berbicara tanpa peduli apakah Xander mendengarnya atau tidak.
"Hoam...aku mengantuk. Izinkan aku tidur di sini untuk menemanimu. Aku harap pamanmu dan kakakku sudah baikan sekarang ini." Arina menggenggam satu tangan Xander lalu ia sedikit membungkuk meletakkan kepalanya di samping sahabatnya.
Ia berusaha untuk memejamkan matanya. Awalnya sangat sulit apalagi dengan posisi yang sangat tidak nyaman seperti itu. Namun karena merasa lelah setelah seharian beraktivitas dan pergi ke sana-sini, akhirnya ia tertidur juga.
"Kau pasti sangat kelelahan." Brennan dengan berhati-hati menutupi tubuh Arina dengan sehelai selimut.
"Kau ternyata lebih kuat dari yang aku bayangkan." Pria itu tersenyum tipis memperhatikan Arina.
Tangannya terulur membelai wajah mulus Arina dan menyibak beberapa helai anak rambut yang menghalangi wajah gadis itu.
"Engh..." Arina melenguh pelan merasa terganggu. Mau tak mau ia membuka matanya.
"Bren, kau di sini?" Tanya Arina sambil mengucek matanya.
"Em...maaf membuat tidurmu terganggu." Brennan tersenyum dan masih setia mengelus kepala Arina.
"Sebaiknya kau tidur di sofa saja. Ayo!" Pria itu menggendong Arina untuk berpindah ke sofa.
"Brenn, bolehkah aku memelukmu?" Tanya Arina sendu.
"Tentu." Brennan menurunkan Arina di sofa yang cukup besar itu lalu dirinya juga ikut berbaring di samping Arina.
"Tidurlah." Titah Brennan menuntun tangan Arina untuk memeluknya.
Arina kembali memejamkan matanya namun air matanya malah mengalir. Brennan merasakan bajunya basah, namun ia memilih diam seolah tidak tahu dan tidak merasakan apapun.
"Air matamu saat ini akan aku gantikan dengan kebahagiaan suatu hari nanti. Aku janji." Batin Brennan yakin.
Setelah beberapa waktu, Arina akhirnya tenang. Yang terdengar sekarang hanya suara dengkuran halus darinya yang sesekali diiringi suara sesenggukan.
••••••
"Jadi apa yang mau kau bicarakan?" Tanya Syene datar pada Griffith.
"Aku minta maaf karena sudah membentakmu kemarin." Pinta Griffith menyesal.
__ADS_1
"Kau salah meminta maaf padaku! Harusnya kau meminta maaf pada Arina." Syene mendengkus kesal.
"Tapi Xander celaka karena dia." Griffith berdiri dari duduknya dan berjalan keluar ke balkon kamar. Syene melakukan hal yang sama untuk menyusul kekasihnya.
"Duduk!" Titah Syene. Mau tak mau Griffith duduk di kursi balkonnya.
"Aku tanya padamu baik-baik. Seandainya keadaan kita balikkan, Xander adalah keponakan perempuanmu dan Arina adalah adik laki-lakiku. Lalu Arina hendak melecehkan Xander, apa Xander akan tinggal diam dan membiarkan Arina melecehkan dirinya? Aku rasa tidak, dia pasti akan melawan juga. Dan kecelakaan yang Xander alami adalah bagian dari usaha Arina untuk melindungi dirinya. Xander jatuh karena tergelincir bukan didorong oleh Arina." Syene menangkup kedua pipi kekasihnya.
"Yang aku tahu Xander adalah anak baik, dia tidak mungkin melakukan itu." Griffith masih teguh dengan pendiriannya.
"Ya sudah! Xander anak baik, maka kau pilih saja dia. Kita selesai karena aku tidak mau berhubungan dengan orang yang sudah menyakiti adikku malah menuduh adikku yang bersalah sepenuhnya." Syene melepaskan tangannya dan beranjak kembali ke kamar.
"Sayang, tunggu!" Griffith berlari dan langsung memeluk Syene dari belakang.
"Baiklah, aku yang salah. Aku minta maaf, aku juga akan minta maaf pada Arina. Tapi aku mohon jangan tinggalkan aku, aku tidak bisa tanpamu." Pinta Griffith sendu.
"Em..." Syene berbalik dan memeluk erat kekasihnya.
"Kita ke rumah sakit sekarang dan aku meminta maaf pada Arina." Ajak Griffith antusias.
"Tidak! Besok saja. Tadi Brennan menghubungiku, katanya dia akan menemani Arina malam ini." Ungkap Syene.
"Kau berhubungan dengan pria itu? Keterlaluan sekali dirimu." Griffith mengangkat tubuh langsing Syene hingga gadisnya memekik karena terkejut.
Griffith membaringkan Syene dengan lembut di atas tempat tidur. Tanpa memberikan kesempatan pada Syene untuk melarikan diri, ia segera mengunci bibir kekasihnya dengan miliknya. Jika sudah begini, Syene hanya bisa pasrah dan menerima semua yang dilakukan Griffith padanya selama itu tidak melebihi batas.
"Aku mencintaimu Syene Addison." Griffith memeluk erat kekasihnya.
"Akhirnya kau mengatakan tiga kata itu juga." Syene tersenyum lebar merasa sangat bahagia.
"Tanpa mengatakannya pun kau harusnya tahu kalau aku mencintaimu." Griffith sengaja mempererat pelukannya.
"Aku tidak terima jika itu tidak keluar langsung dari bibirmu." Syene masih saja tersenyum bahagia.
"Aku mencintaimu Syene Addison! Aku mencintaimu!" Griffith menghadiahi kekasihnya dengan kecupan beruntun di wajah cantiknya.
"Aku juga mencintaimu Griff." Balas Syene tulus.
"Aku janji tidak akan membuatmu bersedih atau marah padaku lagi." Griffith terlihat takut.
"Maka bebaskan Arina! Jangan hukum dia atas kesalahan yang tidak sengaja ia lakukan." Titah Syene tegas.
"Em...akan aku lakukan besok. Jangan marah lagi." Pinta Griffith.
__ADS_1
"Sudah, aku tidak marah lagi. Sekarang tidurlah, sudah beberapa hari ini kau pasti kurang tidur karena perang dingin denganku." Syene tersenyum percaya diri.
"Terlalu percaya diri." Griffith menoel hidung kekasihnya.
"Tidak tapi kenyataannya memang begitu." Syene menaikturunkan alisnya dengan bangga.
"Baiklah baik, aku akui hal itu. Tanpamu aku benar-benar seperti kehilangan arah hidup." Griffith benar-benar enggan melepaskan kekasihnya.
"Satu lagi, kau masih berhutang satu hal padaku dan Arina." Ungkap Syene tersenyum jahil.
"Apa?" Griffith mengernyit bingung.
"Gara-gara kau, aku dan Arina tidak bisa ikut berlibur dengan keluarga kami. Jadi kau harus menggantinya nanti." ancam Syene menagih.
"Baiklah baik. Aku akan ganti kerugian kalian nanti." Griffith pasrah dengan kekasih kecilnya.
"Ya sudah, ayo tidur." Syene memejamkan matanya manja. Griffith tersenyum dan mengikuti apa mau Syene.
••••••
"Hei, bangun." Brennan membangunkan Arina dengan lembut.
"Em..." Gadis manis itu berdeham singkat saja.
"Arina ayo bangun, ini sudah siang." Brennan tersenyum melihat muka kuyu gadis belia itu.
"Lima menit lagi." Arina menghardik Brennan.
"Jika kau tidak mau bangun, maka aku akan membangunkanmu dengan cara paksa." Brennan tersenyum licik.
"Erghh..." Arina menggeram dan mau tidak mau ia pun bangun dari tidurnya.
"Sekarang ayo cuci muka dan gosok gigimu. Setelah itu kita sarapan, aku sudah membelinya tadi." Brennan menarik Arina bangkit dari duduknya. Akhirnya Arina beranjak masuk ke kamar mandi.
Belasan menit kemudian, ia keluar dengan wajah yang lebih segar.
"Ayo, makanlah." Brennan memberikan beberapa potong sandwich dan roti bakar kepada Arina.
Gadis itu duduk di samping Brennan dan menikmati makanannya dengan tenang.
"Arina, aku ingin bicara."
...~ TO BE CONTINUE ~...
__ADS_1